
"tuan muda. Nona.."
Louis menoleh saat dirinya dipanggil oleh salah satu anak buahnya. Dia melihat jika anak buahnya itu memberikan isyarat melalui tatapan matanya jika gadis yang sedang berusaha ia cari sudah ditemukan.
Louis berjalan menuju kearah belakang, dimana disana ada sebuah taman. Dia berhenti saat melihat gadis cantik yang ia cari-cari tengah duduk dikursi taman. Matanya lurus memandang taman bunga yang tak terawat itu. Bahkan ada beberapa pot yang kosong, kemungkinan jika bunga yang tumbuh di sana telah mati.
Ehem
Queen menoleh kesumber suara, dia melirik sekilas siapa yang berdehem dibelakang tubuhnya.
"kukira kau kabur"
Queen hanya berdecih dan kembali menatap kedepan "bagaimana caranya aku kabur dari pulau terpencil ini" gumamnya yang dapat didengar oleh Louis.
Louis berdiri disisi kursi, dia melirik gadis cantik yang kembali diam. "bagaimana kau tahu jika ini adalah pulau terpencil?" tanyanya yang merasa penasaran. Dia juga penasaran bagaimana caranya gadis ini bisa kabur dari ruang penyekapan.
Queen menoleh kesamping sehingga tatapan matanya bertemu dengan manik Louis. Hanya sebentar karena Louis segera memutus kontak mata tersebut.
Sepertinya dia tak bisa terlalu lama menatap manik indah milik gadis tawanannya ini. "jadi benar ya? aku hanya menebaknya saja sih sebenarnya" ujar santai Queen.
Louis mendengus dan kemudian menarik lengan Queen. "ayo kembali kedalam! bagaimana bisa seorang tawanan malah menikmati keindahan taman seperti ini."
"jangan menyentuhku!" sentak Queen sembari menampik tangan Louis. Dia tak suka disentuh oleh pria asing ini.
"turuti kemauanku atau aku akan membuatmu pingsan lagi" ancam Louis dengan suara rendah baritonnya.
Queen menghentakkan kakinya ketanah, dia menoleh dengan pandangan yang mengiba "aku tidak suka berada ditempat pengap itu! kau itu gila ya membuat gadis cantik sepertiku berada ditempat lembab dan gelap seperti itu!"
Louis tertegun mendengar protesan gadis cantik ini, apalagi rengekannya cukup membuat Louis kaget.
Bagaimana bisa gadis ini sama sekali tak takut, apalagi sekarang ia sedang protes dan merengek jika dia tak suka berada ditempat penyekapan. "mana ada tawanan yang merengek sepertimu! ayo atau mau benar-benar kubuat pingsan!" kembali menarik lengan Queen.
"memangnya aku ini tawanan?" tanya Queen dengan wajah yang polos. Dia berdiri dan menghadap tubuh tegap dan tinggi pria yang tadi membiusnya.
"kau kira?"
"aku kira kau membawaku dan hendak menjual ku.. Aku yakin sekali jika aku dijual harganya pasti fantastis" ucap Queen.
Louis menatap aneh gadis yang ada dihadapannya. Terlebih lagi, apa yang baru saja ia ucapkan sungguh konyol sekali. Dia jadi heran, kenapa bisa Darren menyukai gadis ini.
plak
"aw.." pekik Queen saat keningnya ditepuk oleh Louis.
"kau bicara melantur seperti itu, seperti nya kau belum sadar seratus persen" ucap pria tampan itu. Terdengar kesal dan jengah ketika ia harus menghadapi gadis absurd dan sedikit gila yang ada didepannya ini.
__ADS_1
"sakit sialan!" umpat Queen sembari mengusap keningnya yang memang terasa sakit.
"Kau merengek seperti bayi. Sungguh jelek sekali"
Mata Queen melotot saat dikatai jelek. Dia tak terima "kau.."
Menghela nafasnya panjang agar ia tak terlalu emosi. Setelah cukup tenang dia tersenyum dihadapan Louis.
"kenapa tersenyum seperti itu bayi jelek?!" bentak Louis.
Queen hanya terkikik, dia maju satu langkah sehingga jarak antara dirinya dan pria yang tak tahu siapa namanya ini semakin terkikis. Tangan Queen dengan iseng mengusap dada bidang pria ini "tuan.. Sebenarnya aku mengira jika kau membawaku kesini karena kau menyukai ku loh~"
Greb
Tangan nakal Queen dicekal oleh Louis, tatapan datarnya sungguh tak membuat nyali Queen menciut. Dia bahkan dengan berani menatap lekat mata Louis. "kenapa? kau tak menyukai gadis cantik seperti aku?" kembali menggoda.
"dia sepertinya kesal sekali" batin Queen senang saat melihat amarah Louis yang mulai terpancing.
Alis Queen menukik saat tadi sekilas ia melihat raut sedih bercampur marah diwajahnya. Bahkan tangannya terkepal erat saat ia mencoba merayunya.
Queen memang hanya usil saja, kalaupun pria ini mudah tergoda dia bisa dengan mudah menghadapinya. Bila perlu dia akan memutus keturunan pria ini jika ia berani macam-macam padanya.
"kau wanita murahan memang pantas berada disisi Darren!" geram berucap lalu dia menyergah tubuh gadis cantik ini.
"dasar wanita merepotkan! kalau masih memukuliku akan kubanting kau kelantai" pekik galak Louis.
Queen membeku, dia tak berani bergerak karena ucapan pria pemarah ini bisa saja ia realisasikan. "awas kau nanti! kalau saja aku tak sedang menunggu Darren datang. Sudah ku sleding kakinya dari tadi. Aku bahkan belum balas dendam soal kain yang bau itu!" batinnya berucap. Dia belum melupakan soal kain bau yang digunakan oleh Louis untuk membekap mulutnya. Dia memang gadis pendendam.
"good girl"
Anak buah Louis yang melihat hal itu menahan tawanya, mereka heran dengan anak dari bos besar yang biasanya dingin dan datar sekarang seperti kehilangan kendali pada gadis cantik yang menjadi tawanannya.
Tuan muda Louis bahkan beberapa kali membentak dan meluapkan emosinya. Ini diluar kebiasaannya.
**
Bruk
Louis menjatuhkan tubuh Queen keatas tempat tidur.
"baji-ngan! tubuhku sakit sialan!" pekik Queen memekik, dia menatap kesal pria yang tampak biasa saja setelah ia maki-maki itu.
Queen duduk dan membetulkan rambut dan bajunya yang sedikit berantakan. "eh--" Queen terkejut saat menyadari jika ia tak berdaya ditempat penyekapan. Ini adalah sebuah kamar yang cukup luas dan mewah.
Queen kembali menatap Louis yang saat ini terlihat mendatarkan wajahnya "wah.. ternyata kau baik juga ya tuan. Aku memang tak suka sekali berada di ruang lembab tadi" ucapnya terdengar Semarang setelah Louis berbaik hati memberinya kamar yang layak.
__ADS_1
Louis hanya diam, dia membalik badannya hendak pergi.
"tunggu.."
Louis menghentikan langkah kakinya. Dia hanya diam menunggu ucapan gadis ini.
"siapa namamu? Dan kenapa kau menculikku tuan?" tanya Queen berpura-pura bertanya. Padahal ia sebenarnya sudah tahu.
"jangan banyak bicara! dan jangan kabur lagi atau aku akan mematahkan kakimu itu!"
Queen mencebikkan bibirnya, dia mencekal tangan Louis saat melihat pria itu hendak melangkah pergi "tunggu dulu.."
"apa lagi..?" ucapnya menggeram, dia sedang berusaha bersabar menghadapi gadis ini. Ternyata gadis ini sungguh merepotkan sekali.
"aku lapar tuan"
Louis menghela nafasnya kasar. Dia memanggil anak buahnya, menyuruh nya untuk mengambilkan makanan untuk gadis tawanan ini.
Setelah makanan terhidang, Queen menatapnya dengan berbinar. "ayo makan bersama tuan" tawar Queen dengan riang.
Louis menggeleng. Menolak tawaran gadis cantik ini.
"kau tidak mau makan, apa kau meletakkan racun dimakanan ini?"
Louis menatap tajam gadis yang terlihat curiga padanya. Lagian mana bisa dia meracuni gadis ini? kalau dia mati apa yang akan ia gunakan untuk menekan Darren nanti.
"baiklah aku percaya. Jangan melototi aku seperti itu" Queen memilih segera makan saja. Perutnya memang terasa lapar.
"tuan"
Louis yang sedang memperhatikan gadis tawanannya ini makan terkejut saat anak buahnya masuk dan memanggilnya. Dia bertanya melalui tatapan matanya.
Saat anak buahnya melirik Queen, dia paham jika hal yang akan disampaikan berhubungan dengan gadis ini.
Louis menjentikkan jarinya. Lalu anak buah Louis membisikkan sesuatu yang membuat mata pria itu terbelalak kaget. "jangan bercanda kau!"
Anak buah Louis mudur mendengar bentakan Louis. Dia takut. "saya serius tuan"
Louis berdiri dari duduknya. Dia hendak pergi dari kamar itu. "kau jaga gadis kecil ini. Jangan sampai kabur atau kepalamu akan menjadi gantinya!"
Anak buah Louis mengangguk. Dia menelan saliva susah payah saat melihat aura membunuh dari tuannya itu "ba-baik tuan"
Queen tidak peduli. Dia meneruskan makanan yang enak ini "bodo amat! aku mau mengisi perutku yang kelaparan dari tadi"
**
__ADS_1