
Queen sedang berjalan gontai memasuki mansion bersama dengan dad Arsen setelah seharian terkurung didalam perusahaan. Seharian penuh Queen bekerja bersama dengan Devika. Bahkan untuk makan siang dan malam saja dia makan didalam ruang kerja nya.
Ternyata apa yang dad nya katakan benar jika perusahaan Global Grup mengalami sedikit masalah. Perusahaannya sedikit mengalami masalah diakibatkan oleh oknum yang tiba-tiba menyerang Perusahaan. Menjatuhkan dalam kurun waktu satu malam, akan tetapi karena perusahaan Global Grup memiliki fondasi yang kuat, sehingga dapat diatas oleh dad Arsen, akan tetapi masalah kecil yang mengiringi masalah itu jelas muncul.
"dad aku naik dulu" ucap Queen pada dad Arsen.
Dad Arsen tersenyum dan mengangguk, ia juga mengelus surau lembut anak nya "beristirahatlah! kamu bekerja keras hari ini"
Queen mengangguk.
"istirahat yang cukup karena besok kamu harus kembali lembur" seloroh Dad Arsen.
Queen memanyunkan bibirnya mendengar perkataan dari dad Arsen. Hal itu membuat pria paruh baya yang masih terlihat segar dan tampan meski sudah terlihat garis halus pada wajahnya yang menunjukan jika usianya tak lagi muda tergelak melihat reaksi anaknya. Dad Arsen mengacak rambut Queen dengan gemas "setelah masalah ini selesai dad akan memberikan apapun yang kamu mau" rayunya.
"aku juga mau dad"
Dad Arsen dan Queen membalik badan saat mendengar suara seseorang.
Pria paruh baya itu menatap malas anak bungsunya yang baru saja pulang "dari mana saja kau baru pulang?!"
Gerrell meringis dan mendekati dad nya itu "aku habis main dad, lagian ini baru jam sembilan malam dad"
Unyel-unyel lengan dad Arsen agar dad nya itu tidak marah lagi.
Queen menatap jijik adiknya itu, yang sedang berusaha menenangkan dad mereka dengan cara yang menggemaskan.
"kalau kamu selalu pulang malam dan tidak belajar seperti Gerald, dad akan mencabut semua fasilitas yang selama ini kamu dapatkan!!" ujar dad Arsen dengan tegas membuat Gerrell segera menjauhi lengan dad nya itu.
Queen menahan senyumnya melihat wajah kecut Gerrell karena ternyata dad Arsen tidak mempan akan rayuan Gerrell barusan "dasar bocah bodoh! kau pikir dad mirip dengan mom yang akan luluh hanya dengan wajahmu yang imut itu"
Gerrell mengangguk "baik dad" jawabnya pasrah.
"kalian berdua masuklah kedalam kamar dan beristirahat!"
"Yess dad" jawab Queen dan Gerrell bebarengan.
Dad Arsen berjalan meninggalkan kedua anaknya, dia sendiri juga sangat lelah dan ingin cepat beristirahat. Dia juga sudah merindukan istrinya.
"dari mana saja kau?" tanya Queen, mereka berdua sedang berjalan menaiki tangga bersama.
"main lah"
"main atau pacaran?" tanya Queen dengan sedikit ketus.
"pacaran? sorry dorry strawberry ya kak! tidak ada dalam kamus seorang Gerrell untuk berpacaran sekarang, aku hanya akan fokus ke karirku, kau tahu kak jika dalam dunia entertainment sedang menantikan seorang bintang" ujarnya penuh dengan percaya diri sembari menepuk dadanya.
Queen menggeleng mendengar kepercayaan diri seorang Gerrell "hmm.."
"Ck.. kakak menyebalkan sekali sih, kenapa hanya bereaksi seperti itu" gerutu Gerrell.
"kakak lelah Rel"
Gerrell yang tadi tidak terlalu memperhatikan wajah Queen sekarang menoleh dan dapat dia lihat wajah lelah Queen. Gerrell baru saja sadar jika kakak dan dad Arsen pulang sudah semalam ini "apa masalahnya sangat rumit?"
Queen menoleh kearah Gerrell sehingga netra miliknya bertemu pandang dengan milik Gerrell "cukup rumit, tapi bisa kakak dan dad atasi kok"
Gerrell mengangguk "kalau begitu sana cepat mandi dan segera beristirahat, aku takut sekali nanti kakak tidak cantik lagi karena stress akan pekerjaan kantor"
Queen tersenyum dan mengangguk, sebelum berbelok menuju kamarnya Queen menyempatkan diri untuk mengusap kepala Gerrell.
Gerrell mengusap kepala yang tadi diusap oleh kakaknya, usapan tangan Queen selalu terasa hangat. Sama seperti tangan kedua orang tuanya "padahal aku Ingin memberikan hasil penyelidikan ku tentang mafia Paris, tapi melihat kakak yang sangat lelah aku tidak tega, nanti dia begadang untuk menyelidiki dan tidak akan beristirahat" batinnya berseru, saat melihat pintu kamar Queen sudah tertutup, Gerrell juga pergi ke kamar.
***
Queen menjatuhkan tubuhnya keatas pembaringan, dia melepaskan sepatu heels yang dia kenakan menggunakan kaki. Heels tersebut jatuh keatas lantai.
Matanya terpejam, dia mengistirahatkan tubuhnya sebentar sebelum membersihkan diri.
Setelah cukup, Queen beranjak dan segera masuk kedalam bathroom.
Queen mengisi bathtub sampai penuh dan menuangkan aromaterapi. Agar tubuhnya menjadi rileks dan nyaman, Queen akan berendam.
Sebelum masuk kedalam bathub, Queen menyalakan musik agar dia tidak terlalu bosan saat berendam nanti.
Hampir setengah jam lamanya Queen berendam, sampai air yang semula hangat menjadi dingin. Queen menyudahi mandinya dan membilas tubuhnya menggunakan shower.
Queen keluar dari bathroom sudah mengenakan jubah handuk dan handuk kecil yang melilit rambutnya yang basah.
Saat hendak pergi kedalam walk in closet, terdengar suara ponsel dari dalam tas yang dia letakan diatas sofa.
Queen merubah arah jalannya dan kemudian duduk diatas sofa, dia mengambil ponsel dan melihat layarnya.
Queen menekan icon hijau saat melihat ternyata itu adalah panggilan video.
"Queen" sapa seseorang dari balik panggilan video tersebut. Seorang pria yang tampak tersenyum pada Queen saat ini. Dia adalah Darren.
"Hay tuan.." ucap Queen sembari tersenyum.
"kau baru mandi?"
Queen mengangguk "ya, aku baru pulang bekerja" ujarnya, dia menyenderkan tubuhnya disandaran sofa. "kau kenapa tuan?"
Darren menggeleng dan membuang muka kesamping "tidak papa"
Queen menyernyitkan keningnya "ada apa dengan wajahmu?"
__ADS_1
"bisakah kamu memperbaiki jubah handuk mu itu?"
Queen menunduk, dia melihat saat ini jubah handuk nya sedikit merosot sehingga bahunya yang putih sedikit tereskpose, dan lagi belahan dada jubahnya juga lumayan turun kebawah. Queen terkesiap dan segera memperbaikinya "oh astaga.. kenapa bisa melorot?" ujarnya. Lalu dia kembali menatap kamera dimana Darren masih melengos kesamping.
pfftt
Gadis itu hampir tertawa saat melihat wajah Darren yang tampak memerah "kenapa kamu melengos seperti itu tuan? padahal aku saat ini benar-benar tidak mengenakan apapun, aku telan-jang tuan"
"Queen!!"
"hahahaha.." tawa Queen meledak melihat wajah Darren yang semakin memerah.
"kau jangan memancingku Queen! ingatlah aku adalah lelaki dewasa yang normal!"
"baiklah, baiklah.. aku tidak akan menggoda mu lagi, ada apa memanggilku? bukankah kamu sedang bekerja sekarang?" ujar Queen, karena perbedaan waktu kemungkinan sekarang ditempat Darren masih sore.
Darren tampak mengangguk "aku memang sedang bekerja, tapi aku merindukanmu"
"dasar bucin"
"bucin? apa itu?"
"bukan apa-apa, itu hanya nama makanan saja" ujar Queen sembari menahan tawanya.
"kau tampak lelah Queen?"
"ya.. aku baru saja pulang bekerja, aku memang lelah sekali, aku butuh bahu untuk bersandar sekarang"
"aku akan datang jika kamu mau" ucapnya dengan cepat. Jika mengenai Queen Darren paling peka.
"hehehe aku hanya bercanda tuan" ujarnya sembari cengengesan.
"tapi aku serius" ucap Darren, dia benar-benar serius kali ini.
Queen tersenyum tidak menjawab, lalu gadis itu menguap lebar sekali.
"kamu lelah sekali ya? kalau begitu cepat ganti baju dan keringkan rambutmu terlebih dahulu baru tidur"
Queen mengusap air mata yang ada diujung matanya setelah tadi menguap, gadis itu mengangguk "kalau begitu aku tutup dulu ya?"
Darren mengangguk.
"bye... i love you"
Tut
Dengan cepat Queen mematikan telefon nya, dia terlalu malu setelah mengungkapkan perasaannya.
drreet
Mata Queen terbelalak "istri?" lalu kepala nya menggeleng "dasar bucin" ujarnya pelan.
Setelah itu Queen bergegas memakai baju dan mengeringkan rambutnya. Dan sebelum tidur Queen mengeringkan rambutnya mengenakan hairdryer agar dia tidak demam mengingat besok ia harus kembali bekerja.
***
Sudah beberapa hari Queen bekerja dengan sangat keras, perusahaan sudah benar-benar stabil dan kembali normal.
"Devika.. apa jadwalku setelah ini?" tanya Queen pada asistennya.
"Anda ada makan siang bersama klien, untuk membahas kerja sama"
Queen mengangguk "setelah itu?"
"nanti malam nona dan tuan Arsenio ada perjamuan makan malam, bukan perjamuan tapi lebih tepatnya pesta perayaan pembukaan perusahaan cabang milik tuan Tama" ucap Devika yang meralat ucapannya yang tadi keliru.
"uncle Tama?"
Devika mengangguk "benar"
"perusahaan uncle Tama benar-benar berkembang pesat akhir-akhir ini"
Devika mengangguk membenarkan "benar nona, yang saya dengar nona Viona juga mulai belajar bekerja di perusahaan "
"really?"
Devika mengangguk "benar nona"
"itu adalah tindakan eksploitasi anak!" ujar Queen saat mengingat jika Viona masih dibawah umur.
Tapi Queen tiba-tiba saja terkesiap "tapi aku juga saat bekerja di perusahaan masih dibawah umur, berarti dad Arsen juga sama kan?" ujarnya dengan cengo.
Devika tersenyum canggung, mau mengiyakan tapi takut salah bicara. Jadi dia memilih untuk diam saja. Cari aman.
"aissh... yang penting mental anak tidak terganggu tidak masalah sih, apalagi jika itu keinginan anaknya sendiri" pada akhirnya Queen memilih untuk membela uncle Tama karena mengingat dad nya juga sama. Lagian Gerald juga sudah mulai belajar di perusahaan. Dan itu juga oleh keinginan nya sendiri.
**
Queen berjalan dengan Devika hendak pergi makan siang bersama dengan klien. Mereka berjalan bersisian. Saat berada dilobi semua orang mengangguk dan menyapa Queen.
Wajah Queen yang sangat cantik membuat siapa saja akan terkesima dan terpesona akan rupa Queen. Jika dilihat Queen adalah sosok sempurna wanita.
Pesona yang luar biasa itu benar-benar membuat para karyawan pria yang masih melajang atau bahkan sudah memiliki pasangan ingin sekali memilikinya. Tapi jika dilihat dari drajat, mereka akan minder terlebih dahulu sebelum mendekati mengingat Queen adalah putri dari seorang pengusaha sukses.
Mereka pada akhirnya hanya mengidolakan sosok cantik Queen, mereka akan sangat senang jika tanpa sengaja berpapasan dengan sosok cantik yang menurut mereka adalah gadis tercantik yang pernah mereka temui.
__ADS_1
Queen memasuki mobil setelah Devika membukakan untuknya "terimakasih"
Devika tersenyum dan mengangguk, satu yang dia suka dari nona Queen selain ketegasan dan integritas nya dalam bekerja, gadis cantik yang memiliki jarak usia hampir lima tahun dibawahnya ini memiliki attitude baik. Hal ini lah yang membuat Devika betah bekerja bersama dengan nona mudanya ini.
Mobil melesat membelah jalanan yang lumayan ramai, tapi masih lancar. Mereka menuju restoran yang sudah ditentukan oleh Devika atas perintah Queen. Klien mereka mengikuti saja kemauan dari Devika mengingat perusahaan mereka yang sangat besar itu mau bekerja sama dengannya saja itu adalah hal yang menguntungkan dan memberi muka mereka ke siapa saja.
Devika keluar dari mobil setelah mobil berhenti, dia yang akan membukakan pintu untuk Queen dia urungkan karena gadis yang adalah atasannya ini sudah lebih dahulu membuka pintu mobilnya sendiri "maaf nona saya terlalu lambat, seharusnya saya membukakan pintu untuk anda"
Queen tersenyum "sudahlah Devika.. aku bisa sendiri kok, tanganku masih sehat" ujarnya dengan wajah yang ceria. Hal itu membuat Devika tersenyum dan bernafas dengan lega.
Queen tidak mau di ratukan, tapi Devika yang memang adalah bawahan Queen sadar diri, jika Queen adalah atasan sekaligus puteri dari bos besarnya. Mana berani dia berbuat seenaknya.
Queen berjalan masuk dengan langkah penuh percaya diri kedalam ruangan VIP yang dimana didalam sana sudah ada dua orang yang menunggu "maaf saya terlambat tuan William"
Seseorang yang dipanggil William itu terkesiap dan langsung berdiri, dia menatap wajah Queen dengan begitu intens. Ini pertama kalinya William bertemu dengan Queen karena biasanya yang bertemu dengannya adalah Devika.
"tuan! tolong kendalikan mata anda!" bukan Queen yang menegur melainkan Devika.
Pria yang sedari tadi tampak terpesona pada Queen terkekeh pelan "maaf nona, saya begitu lancang menatap anda yang sangat cantik ini"
Queen menatap jengah seorang pria yang cukup tampan itu "meski kau tampan, tapi kau tidak ada apa-apanya dengan tuan Darrenku!" batinnya menggerutu. Sungguh dia tidak suka sekali ditatap seperti itu oleh William.
"maaf nona telah membuat anda kurang nyaman, silahkan duduk" ujarnya dengan sopan saat melihat wajah Queen yang tampak berubah.
Queen tampak acuh dan langsung duduk di sofa yang bersebrangan dengan pria yang sok akrab tersebut.
"dia sangat cantik" batin William. "dan sangat anggun"
dug
William melotot saat seseorang yang duduk disisinya menendang sepatunya dari bawah, dia melotot "kau itu asistenku! jangan kurang ajar!" bisiknya terdengar kesal.
"maaf tuan, jika anda terus bersikap seperti ini akan saya laporkan pada tuan besar, jika anda menggoda perwakilan dari perusahaan Global Grup"
William melototkan matanya "dasar perusak kesenangan orang! akan ku potong gajimu nanti"
"potong saja!"
"ehem"
Queen berdehem saat melihat pria yang ia ketahui bernama William itu berbisik-bisik bersama dengan seseorang yang duduk disisinya. Queen tersinggung akan sikap keduanya yang mengabaikannya begitu saja. Berbisik-bisik seperti itu bukankan dia akan salah paham jika mereka sedang membicarakannya?
"apa kalian berdua akan terus mengobrol sendiri? apa saya disini mengganggu?"
"ah.. tidak nona Karren yang cantik" William menutup mulutnya yang begitu sialan itu berbicara seenaknya. "maaf"
ehem
"mari kita bahas pekerjaan kita saja nona" ujar William dengan berwibawa setelah berdehem untuk menguasai dirinya.
Queen pada akhirnya mengangguk dan kemudian membahas kerja sama antara mereka. Mereka mengobrol dengan serius.
Tanpa mereka sadari, hampir satu jam berlalu. William mendongak dan memperhatikan Queen. Sungguh menurutnya nona Karren ini selain cantik juga sangat pintar. Dia tegas tapi masih terlihat anggun. "memang benar-benar gadis idaman"
Devika yang menyadari William terus memperhatikan nona mudanya melotot kan matanya.
Hal itu membuat William mendengus dan melengos kesamping "asisten nona Karren ini benar-benar menyebalkan sekali" batinnya menggerutu.
dreet dreet
Queen yang merasa ponsel yang dia taruh disaku blazer yang ia kenakan bergetar segera mengambilnya, dia menyernyit melihat panggilan telefon dari Gerrell. Perasaannya menjadi khawatir karena adiknya itu tidak pernah menghubunginya dijam segini.
"saya angkat telefon sebentar tuan"
William mengangguk "silahkan" ucapnya mengizinkan.
Queen mengangguk dan kemudian berdiri, dia berjalan menjauhi mereka bertiga. "ada apa Rel?"
"gawat kak!"
"gawat kenapa? jangan berteriak seperti itu bodoh!"
"maaf kak, ini sangat gawat sekali. Kau tahu kak! ada seseorang tua bang-ka yang datang melamarmu sekarang, dia ada di mansion!"
Queen terbelalak "apa?!"
"tampaknya dad juga menerima mereka dengan sangat baik, kak cepatlah pulang! sebelum dad dan mom menerima lamaran dia. Sungguh kak dia sudah tua sekali"
"yang benar saja Rel! kau tidak menipuku kan?"
"aku tidak akan berbohong untuk hal serius seperti ini, kak sepertinya dia yang menolong dad ketika kemarin perusahaan kita bermasalah"
Queen memijat pangkal hidungnya "kakak pulang sekarang!" gadis itu segera berjalan mendekati Devika kembali.
"maaf tuan William, saya tiba-tiba saja ada urusan mendadak saya harus pulang, Devika tolong ya?"
Devika mengangguk "baik nona"
Queen meraih tas nya dan segera pergi dari sana.
William menatap punggung Queen yang semakin menjauh "ada masalah apa ya?"
"jangan pernah penasaran dengan urusan nona ku!"
William menatap malas wajah wanita yang ada didepannya saat ini, wajahnya benar-benar jutek dan tampak galak sekali. Meski wanita ini juga cantik tapi jika dibandingkan dengan Karren, Devika tidak ada apa-apanya. "senyumlah nona.. kamu cantik tahu"
__ADS_1
William mendengus karena bukannya tersenyum, Devika justru semakin jutek padanya "aishh.. menyebalkan sekali" gerutunya, lalu dengan sedikit malas William kembali membahas kerja mereka.