
Ini sudah dua hari semenjak Kenan mengabari bahwa anaknya sakit dan lelaki itu sampai saat ini belum datang langsung kepada Queen lagi. Bahkan mengirimkan pesan pun sangat jarang.
Queen mendesah pelan saat dia menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Queen merasa bosan tetapi sangat malas untuk keluar. Memang, sejak dua hari yang lalu juga dia memilih untuk berdiam diri di apartemen.
Urusan kerjaan dia kerjakan di sini, tidak langsung datang ke toko roti.
Queen bingung harus melakukan aktivitas apalagi. Selama dua hari ini dia sudah mencoba semuanya, sampai bosan sendiri.
Sembari mencebikkan pipinya, perempuan itu berganti posisi jadi tengkurap. Matanya menatap ponsel yang tergeletak begitu saja di dekat bantal.
Queen jadi mengingat bahwa dia bertukar nomor WhatsApp dengan Verrel. Katanya sih demi menjaga silaturahmi saja, tetapi ... Queen agak tidak yakin dengan alasan itu.
Mata Verrel saat melihatnya menunjukkan berbagai macam ketertarikan kepada Queen.
Perempuan itu meraih ponselnya, lalu dia menonton acara kartun di YouTube sebelum akhirnya berdecak keras.
"Bosen banget, sih!" serunya sembari memejamkan mata sekilas.
Setidaknya kalau ada Kenan, mungkin rasa bosannya akan sedikit berkurang. Maka dari itu Queen pun beralih ke WhatsApp. Dia tersenyum sangat tipis saat melihat kontak Kenan.
Sepertinya sudah cukup Queen membiarkan Kenan mengurusi keluarganya.
Queen:
Aku bosen banget sendirian di apart :(
...••••...
"Kata Dokter sih Aia udah mendingan, Ma. Tapi masih belum dibolehin pulang."
Mama Kania mengangguk-anggukkan kepalanya saat mendengar penuturan Nanda yang baru kembali dari ruangan Dokter yang menangani cucunya.
__ADS_1
Setidaknya Alaia sudah mendingan, dan itu cukup melegakan untuk semua orang yang sedari kemarin cemas.
"Syukurlah, setidaknya cucu Mama ini udah mendingan." Mama Kania tersenyum sembari mengelus dahi Alaia.
Nanda mengangguk. Dia beralih ke sofa untuk membereskan berkas-berkas Kenan yang berserakan di sana. Bahkan laptop pun masih dalam keadaan nyala dan terbuka.
"Kenan mana, Ma?" tanya Nanda.
"Lagi ke kantin dulu tadi izinnya mah," jawab Mama Kania tanpa menatap ke arah Nanda.
Pandangannya gini sedang terfokus pada notifikasi chat yang muncul di layar ponsel Kenan, kebetulan sedang menyala.
Tubuhnya sangat kaku sekarang. Pikirannya jadi berkecamuk. Bukan kah itu Queen mantan Kenan? Queen yang tak lain adalah anak dari temannya, David.
Astaga ... sejak kapan mereka kembali berhubungan seperti itu?
Mama Kania sebisa mungkin berusaha tetap tenang. Dia harus berpikir jernih terlebih dahulu dan meminta penjelasan dari Kenan tanpa melibatkan Nanda.
Kenan sudah mempunyai Nanda dan dua anak.
"Ma? Mama?"
Mama Kania tersentak. Dia mendongak dan menemukan wajah Nanda. Mama Kania pun berusaha untuk tersenyum dan bersikap santai, untuk tidak membuat mantunya curiga.
"Kenapa, Nan?"
"Nanda mau nyusul Kenan ke kantin boleh, Ma? Nanda agak laper hehe."
Mama Kania pun mengangguk lalu mengizinkan Nanda pergi ke kantin.
Selama berjalan di koridor, sebetulnya Nanda merasa sangat was-was. Dia takut jika Gara akan kembali terlihat di sekitar sini.
__ADS_1
Kemarin Gara memakai jas putih, dan sepertinya dia memang menjadi salah satu Dokter di Rumah Sakit ini.
Jujur, Nanda tidak akan pernah siap untuk bertemu dengan lelaki itu lagi. Sakit hatinya sangat besar.
Saat sampai ke kantin, rupanya Kenan sedang duduk di salah satu meja sembari makan. Nanda pun memesan makanan terlebih dahulu sebelum akhirnya bergabung dengan Kenan.
Awalnya tidak ada yang membuka pembicaraan sama sekali. Mereka sama-sama diam. Jenis diam yang memang agak mencekam, mengingat bahwa kemarin-kemarin mereka selalu ribut.
Tetapi tak lama kemudian, Nanda membuka suara terlebih dahulu.
"Makasih ya, Ken."
"Buat apa?"
Nanda tersenyum. "Buat stay sama aku dan anak-anak di sini."
Kenan sedikit terpaku. Ada sesuatu yang menyentil dadanya hingga rasa sakit juga tak enak itu menyebar ke seluruh relung hati.
"Kamu gak perlu bilang makasih. Itu anak kita. Kalau salah satu dari mereka sakit, aku berkewajiban buat jagain."
Nanda mengangguk setuju. Dia menunduk hanya untuk melihat tangannya yang sedang mengaduk makanan.
Nanda ingin sekali memberitahukan Kenan bahwa Gara ada di sini. Tetapi, entah kenapa tenggorokannya terasa tertahan untuk menceritakan hal tersebut.
Biarlah, mungkin Gara juga tidak akan peduli lagi kepadanya. Hubungan mereka sudah lama kandas.
"Makan yang banyak, kamu agak kurusan."
Nanda tersentak kaget ketika mendengar penuturan Kenan yang tidak terduga-duga. Tanpa bisa ditahan, senyum pun terbit di bibirnya.
Dia langsung menghabiskan makanannya dengan semangat. Kenan yang melihat itu hanya bisa tersenyum sembari lanjut menghabiskan makanannya.
__ADS_1