
"QUEEN!"
Kenan yang sedang menyisir rambut Queen pun terlonjat kaget ketika mendengar teriakan tersebut. Otomatis Kenan dan Queen menoleh bersamaan ke arah pintu kamar Kenan yang sekarang tengah terbuka lebar dengan menampakkan dua orang gadis yang masih memakai seragam sekolah mereka.
"Dea, Givani!"seru Queen riang, gadis itu bahkan hampir berlari ke arah mereka jika saja Kenan tidak menahan bahunya agar tetap duduk. Kaki Queen masih sakit.
Dea dan Givani berlari ke arah Queen, mereka memeluk Queen dengan sangat erat. Kenan hanya bisa tersenyum tipis, dia berharap dengan adanya kedua teman Queen, keadaan gadis itu akan semakin membaik.
"Queennya Givaniiii! Lo tau kan bahwa gue paling seneng liat karakter lo yang ceria? Nah! Dan lo juga tau kan kalau gue bakal sedih banget liat karakter lo yang sedih dan murung kayak beberapa hari yang lalu,"ujar Givani sambil melepaskan pelukannya. Dea juga melakukan hal yang sama.
Queen tersenyum tipis, matanya sudah kembali berkaca-kaca. Kenan dan Kania benar. Masih banyak orang yang perduli dan selalu berada di dekatnya, Queen tidak sendiri.
"Kenapa jadi lo yang nangis sih, Giv?"tanya Queen ketika melihat mata Givani mengeluarkan air mata.
"Ya abis! Gue ngerasa bersalah banget sama lo, Queen. Gue minta maaf karena gak hadir ke tempat pemakaman Mama lo, gue juga gak ada waktu lo lagi butuh-butuhnya dukungan dari sahabat-sahabat lo. Gue minta maaf banget,"lirih Givani dengan wajah bersalah.
Queen tersenyum, gadis itu menggeleng pelan sambil menghapus air mata di kedua mata indah Givani.
"Gak papa. Lagian gue tau kok lo lagi pergi ke Jakarta sama orang tua lo. Jangan nangis."
"Udah Giv jangan nangis. Lagian tujuan kita kesini buat ngehibur dan seneng-seneng sama Queen!"seru Dea tiba-tiba.
Givani tersenyum lebar, dia kemudian menghapus air matanya. Dea benar, tujuannya kesini itu untuk menghibur sahabatnya yang sedang berduka. Harusnya Givani menyemangati dan menghibur Queen, bukannya malah nangis seperti ini.
"Gimana keadaan kaki lo, Queen?"tanya Dea penasaran.
Queen memiringkan bibirnya, dia menatap telapak kakinya yang masih di baluti oleh perban. Dia meringis dalam hati ketika tidak merasakan apa pun saat serpihan vas itu menancap di telapak kakinya.
"Paling lusa udah sembuh, dan udah bisa jalan lagi kayak biasa,"sahut Kenan sambil mengusap rambut sedikit basah milik Queen.
"Lo udah mandi?"tanya Givani pada Queen.
"Udah. Kenapa?"tanya Queen dengan alis yang mengerut.
"Lo... dimandiin sama siapa?"tanya Givani.
Mata Queen mengerjap pelan, lemotnya sedang kambuh. Kenan hanya bisa memutar bola matanya malas, dia tahu bahwa Givani sedang menggoda Queen.
"Tenang! Sahabat kalian ini di mandiin sama pembantu gue,"ujarnya malas.
Dea dan Givani saling pandang, mereka terbahak. Queen hanya bisa mengerutkan keningnya,merasa tidak mengerti dengan keadaan di kamar ini.
"Lah, kenapa lo jawabnya sewot gitu sih Ken? Kenapa sih?"tanya Dea jahil.
"Ya siapa tau aja kan, kalian ngira gue yang mandiin Queen."
__ADS_1
"Kita gak mikir gitu loh, Ken!"seru Givani sambil tertawa.
"Kalian lagi bahas apaan sih? Mandi? Tadi gue mandi di bantu Bi Alpa kok,"ucap Queen sambil menggaruk pipinya.
"Yang lemot harap diam sebentar!"ujar Dea.
Queen mengerucutkan bibirnya, dia kesal dengan ujaran Dea yang seakan-akan tengah mengejeknya.
"Yang pada jomblo mending keluar aja dari kamar gue sekarang!"balas Kenan sambil merangkul bahu Queen.
Dea dan Givani mendengus. Kenan terlihat menyebalkan saat dia berseringai melihat reaksi kedua sahabat pacarnya.
"Lo yang keluar! Kita di sini mau ngobrol sama Queen, kita mau kangen-kangenan dan lo sementara di bawah sama temen-temen setres lo,"usir Dea dengan tangan yang mengibas-ngibas bermaksud untuk mengusir Kenan.
"Oke, karena gue waras jadi gue ngalah,"ucap Kenan sambil berdiri.
Cowok itu mengambil ponselnya yang berada di samping tubuh Queen, dia mencium kening Queen dengan senyum mengejek pada Dea dan Givani yang melotot horor padanya.
"DASAR ABANG-ABANG MESUM LO! KELUAR SANA!"
...||||...
Pria itu menatap jendela besar di ruangan kantornya yang menampilkan pemandangan kota Los Angeles pada malam hari. Tubuhnya tampak tegap dengan balutan jas mahal yang seperti di rancang khusus untuk dirinya sendiri.
Tok, tok, tok!
"Masuk!"
Seorang pria berusia 29 tahun bernama Gleen itu menatap punggung tegap atasannya. Di tangannya terdapat berkas-berkas yang di minta oleh atasannya tersebut.
"Permisi Tuan, maaf jika saya mengganggu Tuan yang sedang bersantai malam ini,"ujarnya dengan nada orang bule. Dia memang orang New York tapi dia fasih berbahasa Indonesia.
Pria itu berbalik badan, dia menampilkan wajah datar dan dinginnya kepada Gleen dan semua orang. Pria berusia 41 tahun namun masih terlihat tampan itu menyimpan kedua tangannya di saku celana, tubuhnya dia sandarkan di kaca jendela.
"Tidak masalah. Saya juga tidak sedang bersantai."
Gleen mengangguk sopan, pria tampan bertubuh jangkung itu menatap atasannya. Dia tahu bahwa atasannya ini sedang merasakan kesedihan yang mendalam, tapi dia tidak mau menunjukkan kesedihannya di depan Gleen.
"Berkas-berkas yang anda inginkan sudah saya selesaikan Tuan. Ini,"ucap Gleen sambil menyodorkan dua amplop berisi berkas-berkas.
Pria itu menerimanya dengan tatapan yang masih dingin, dia berjalan ke kursi kebesarannya yang berada di tengah-tengah ruangan. Gleen hanya mengikuti dan duduk di hadapan atasannya ketika atasannya itu menyuruh dia duduk lewat kedikan dagunya.
Hening beberapa saat, pria itu membaca serius tulisan yang berada di atas kertas. Gleen jelas sekali melihat ada luka dan kepedihan di dalam mata tajam atasannya.
"Syukurlah dia baik-baik saja,"gumam pria itu sambil sedikit tersenyum. Dia menyimpan dua kertas di atas mejanya.
__ADS_1
"Apa anda tidak akan bertindak?"tanya Gleen memberanikan diri. Dia memang bisa di bilang sudah di anggap Adik sendiri oleh atasannya ini.
Pria itu memiringkan bibirnya, dia menyatukan kedua jari-jarinya sambil menyenderkan tubuhnya di punggung kursi.
"Selama dia baik-baik saja, saya tidak akan dulu bertindak."
"Tapi dia butuh anda, Tuan David."
Pria bernama David itu terdiam. David Hardian Lucas, seorang pengusaha sukses dan sangat kaya raya di beberapa negara. Saat ini dia menempati posisi pertama di LA sebagai pengusaha otomotif dan properti yang sukses. Gedung-gedungnya sangat tinggi, siapa pun yang melihatnya akan menambakan bekerja di dalam gedung tinggi itu karena gaji yang sangat besar juga fasilitas yang di berikan oleh perusahaan tersebut.
"Saya belum siap bertemu dengan dia. Saya... entahlah! Saya hanya sedang menentukan waktu yang pas untuk bertemu dia lagi,"ucap David dingin.
Gleen menghela nafasnya pelan. Dia tahu seberapa perihnya luka yang di pendam oleh David seorang diri selama 8 tahun ini. Bercerai bersama istri yang sampai sekarang masih di cintai olehnya, menjauh dari anak satu-satunya yang sekarang tengah sangat di rindukan oleh David. Bukannya tidak mau bertemu anaknya, David hanya tidak siap jika anaknya nanti bertemu dengannya hanya menampilkan ekspresi benci serta marah kepadanya.
"Dan dia sedang terpuruk, Tuan. Dia sedang merasakan kepedihan dan kesedihan yang amat sangat dalam karena kehilangan Ibunya yang sangat dia cintai. Dia sendirian."
David menatap tajam Gleen yang sekarang tengah menatap marah kepadanya. Pria muda itu cukup muak dengan tingkah David yang ******** karena sudah pesimis jika anaknya akan membenci bahkan marah pada pria itu jika mereka bertemu.
"Kamu bilang dia tidak sendiri. Ada teman-temannya, dan kamu bilang dia untuk sementara waktu tinggal di tempat pacarnya."
"Dan anda tidak marah sama sekali anak gadis anda menginap bahkan tinggal di tempat pacarnya? Oh, Tuhan! Jika saja bukan anda yang menggaji saya dengan gaji fantastis mungkin sekarang saya sudah berani memukul kepala anda itu Tuan."
David menaikan satu alisnya. Gleen hanya bisa berbicara, dan tidak bisa melakukannya. Pria muda itu jelas tidak ingin mencari masalah lagi karena Gleen pernah tahu rasa sakitnya tangan kanan tertembak karena dia melalaikan tugas yang di berikan oleh David. David itu berbahaya.
"Kamu terus mengoceh, mau gaji kamu saya pot–"
"Bahkan anda tidak ingin tahu siapa pacar anak gadis anda itu!"
David terdiam. Dia memang tidak ingin tahu siapa laki-laki yang menjadi kekasih anaknya di sana.
"Anda terkesan sangat tidak perduli Tuan. Anda memang memantau dia, anda memang mengirimi dia uang bulanan yang besar tapi lewat orang suruhan anda. Tapi sayang, anda tidak memberikan kasih sayang yang nyata pada anak anda itu. Apa anda sudah masuk ke dalam kriteria laki-laki sempurna seperti apa yang di katakan oleh orang-orang di luar sana?"kata Gleen tajam namun masih dengan nada sopan.
David hanya menatap Gleen dengan datar dan dingin, dia tidak bisa membalas semua ucapan Gleen. Dia merasa ucapan Gleen semuanya benar, dia memang belum memberikan kasih sayang yang banyak kepada anaknya.
"Siapa pacar dia?"tanya David pelan.
Gleen tersenyum, dia berdiri lalu mengangguk sopan kepada atasannya.
"Maaf sekali Tuan. Untuk hal yang satu ini, saya harap Tuan cari tahu sendiri. Satu pesan saya Tuan. Tolong, anda buktikan kepada diri anda sendiri bahwa memang anda itu orang yang bertanggung jawab serta sempurna dengan cara memberi kasih sayang kepada anak anda, dan menjaga dia dengan nyata selayaknya Ayah yang menjaga putrinya dengan sangat baik. Queen membutuhkan sosok Ayahnya yang telah lama menghilang, gadis itu butuh dukungan dari Ayahnya."
...||||...
**OMG, i love Gleen xixi.
Karakter dia di sini bisa bikin jatuh cinta. Oh ya, Queen ternyata anak dari orang kaya dong😂**
__ADS_1