
Queen membelalakan matanya saat melihat Darren tersenyum kearah seorang gadis. Senyum yang biasanya jarang muncul sekarang muncul didepan gadis lain. Hal itu semakin membuat Queen emosi.
Saat ia membuka pintu dengan paksa, Darren dan gadis itu menoleh kearah pintu. Sehingga ia dapat melihat dengan jelas rupa gadis tersebut.
"Lihat.. benar bukan kalau dia sedang berduaan dengan seorang gadis?"
Suara Edgar terdengar berbisik didekat telinga Queen. Dia mulai memanasi gadis yang sejak tadi tidak tenang akibat dari ucapannya. Apalagi melihat Darren yang tampak nyaman berada disisi gadis yang ia ucapkan membuat Edgar semakin bersemangat menabahkan bumbu agar kemarahan gadis ini meledak.
Namun entah kenapa reaksi Queen berubah. Awalnya dapat Edgar lihat kilat amarah dan kecemburuan namun setelah melihat sendiri bagaimana dekatnya Darren dengan gadis itu Queen malah berubah jengah. Lalu menatap jengkel Edgar.
"apa? Aku bicara yang sebenarnya. Kamu lihat sendiri bukan?" Ini bukan rekasi yang Edgar inginkan. Seharusnya Queen mengamuk dan setidaknya memukuli Darren untuk melampiaskan emosinya. Tapi kenapa justru reaksinya malah sebaliknya? Gadis ini menatapnya tajam dan seperti ingin mengulitinya hidup-hidup.
"Kenapa aku sebodoh ini mempercayai pria jelek sepertimu?" keluh Queen sembari memijit pelipisnya pelan. Harusnya ia tahu jika Darren hanya mencintainya.
"hah?"
"Kau mau merusak hubungan kami?"
Edgar menggeleng dengan panik "tidak kok"
"Lalu kenapa kau mau membuat aku dan Darren bertengkar?" aura kemarahan langsung muncul setelah mengucapkan kata-kata tersebut.
Saat Queen hendak mendekati Edgar, tubuhnya ditahan oleh tangan besar dan kokoh. Tangan tersebut melingkari perutnya kemudian menarik tubuh Queen kebelakang sampai membuat punggung Queen menempel pada tubuh bagian depan orang tersebut.
"Apa yang sedang kalian bicarakan? kenapa terus berbisik-bisik didepan pintu?"
Suara dalam itu membuat Queen meremang. Apalagi dia berucap didekat telinga Queen. Queen menoleh dan mendapati wajah tampan Darren yang ada disisi wajahnya.
"Kalian datang bersama?"
"hmm"
Setelah mendengar jawaban dari Queen, Darren mengecup pipi Queen sekilas lalu menatap tajam Edgar. "Ternyata temanku berani membawa kekasihku pergi bersama. Aku cemburu loh~" setelah berucap seperti itu. Darren meletakkan dagunya diatas pundak kekasihnya. Dia menunggu jawaban dari Edgar.
__ADS_1
"Ah. Jangan salah paham. Aku hanya mengantarnya kemari."
"Cih. Bahkan aku yang menyetir barusan" Queen berucap ketus. Menampik ucapan Edgar dengan cepat.
Edgar gelagapan saat melihat aura Darren bertambah gelap. Apalagi sekarang Darren memelototinya. "bukan begitu. Tadi aku yang mau menyetir. Tapi dia dengan keras kepala ngga mau."
"Itu karena kau membuatku kesal."
"Kau saja yang cemburuan!"
"Cemburuan?" tanya Darren.
"Iya. Dia bilang kalau kamu sedang berduaan dengan gadis lain didalam mansion" gerutu Queen. Namun saat melihat siapa yang ada didalam mansion Queen bisa bernafas lega.
Darren menatap Edgar dengan kesal.
"Aku benar kan? Kamu lihat sendiri bukan kalau Darren sedang bersama dengan seorang gadis?"
Darren yang merasa kesal akan interaksi mereka berdua memberi isyarat pada anak buahnya. "Gantung dia diatas pohon!"
Mata Edgar terbelalak mendengar perintah Darren "A-apa maksudmu Ren? Aku hanya bercanda padanya saja kok"
"Kau kemari hanya membuatku kesal. Dan kau hampir membuat kesalah pahaman diantara aku dan Queen." geram Darren berucap.
"Bukan begitu maksudku-- ah lepaskan" ucapan Edgar terpotong dan berubah pekikan saat tubuhnya tiba-tiba saja melayang dan dipanggul seperti karung beras oleh anak buah Darren. "Breng-sek kau! Aku baru saja makan sialan!" ucapnya sembari memukul punggung anak buah Darren.
Queen menghela nafas melihat tingkah Edgar, saat hendak melepaskan tangan Darren yang melingkari perutnya. Tangan kokoh itu malah semakin erat memeluknya. "Lepasin"
"no!" Darren mengeratkan pelukannya lalu mengusal dipotongan leher Queen "apa yang Edgar ucapkan benar?"
"apa?" tanya Queen berpura-pura bodoh. Dia mendorong wajah Darren menjauh dari lehernya. Dia mulai geli karena nafas hangat Darren menyapu lehernya.
"Kamu cemburu.."
__ADS_1
"Tidak"
"Bohong. Kamu pasti cemburu buta sampai cepat-cepat kemari" ucap Darren sembari menahan senyum. Mendengar ucapan Edgar barusan membuat hatinya cukup senang.
"Tidak" ucap Queen keras kepala "aku hanya penasaran saja dengan gadis yang Edgar maksud" tambahnya.
Darren tergelak mendengar sanggahan tersebut. Dia mengeratkan pelukannya dan tidak mau bertanya lagi. Melihat reaksi Queen saja dia sudah mengetahui kebenarannya. Darren merasa senang.
"ehem. Apa kalian akan terus berpelukan didepan pintu?"
Queen terkesiap saat mendengar suara seseorang. Dia melepaskan pelukan Darren kemudian berbalik badan. Dapat Queen lihat gadis cantik yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan jengah. Gadis itu cukup cantik dengan menggunakan celana jeans dan kaos polos lengan pendek yang memperlihatkan perut serta pusarnya. Jika melihat fashion yang ia kenakan, dapat Queen simpulkan jika gadis yang ada dihadapannya ini adalah seorang gadis tomboy. Apalagi ada pearcing disudut alisnya yang menambahkan kesan badgirl pada gadis ini.
Begitupun dengan gadis yang ada didepan Queen. Dia memperhatikan penampilan gadis yang tadi dipeluk oleh Darren baik-baik. Satu kesan pertama saat melihat sosok yang ada disisi Darren adalah cantik. Meski hanya menggunakan baju sederhana, tak menutupi kecantikan alami gadis yang saat ini menatapnya penuh penilaian. Wajahnya yang lembut itu sangat cocok bersanding dengan Darren yang memiliki aura kuat.
"Perkenalkan. Dia Daniela. Adikku" ucap Darren mengenalkan adiknya pada Queen.
"Aku tahu." jawab Queen. Dia sudah mendapatkan segala informasi mengenai Darren sehingga ia tahu jika Darren memiliki adik perempuan yang menggeluti dunia entertainment. Lebih tepatnya seorang penyanyi sekaligus aktris yang cukup terkenal di Paris.
Karena hal itu juga yang membuat Queen langsung lega saat melihat sosok Daniela lah yang bersama dengan Darren . Kemungkinan kalau ia tak melihat Daniela Queen akan mengamuk dan menghajar kekasihnya ini tadi.
Daniela memutar bola matanya jengah "Aku kekamar dulu. Kekasihmu ini jelek dan menyebalkan kak"
"hey!" pekik Queen tidak terima, dia menatap penuh permusuhan calon adik iparnya setelah gadis itu mengejeknya.
Setelah berhasil membuat kekasih kakaknya kesal, Daniela pergi begitu saja. Tapi sebelum itu, Daniela menyempatkan diri untuk menatap remeh gadis yang sepertinya seumuran dengannya itu.
Saat Queen hendak menyusul Daniela, Darren menahan perut Queen. Memeluknya dari belakang lagi "abaikan dia sayang. Ayo ikut denganku untuk menyapa kakek"
"Adikmu menyebalkan!"
"Aku tahu. Dia memang gadis menyebalkan dan egois" Darren sama sekali tidak menutupi sedikit pun sifat adiknya itu. Dia melepaskan pelukannya lalu menarik tangan Queen masuk kedalam mansion untuk menemui kakek Keith.
Queen hanya mengikuti ucapan Darren. Sejujurnya ia merasa jengkel melihat tatapan meremehkan Daniela tadi, sepertinya ia akan mendapatkan adik ipar yang sangat menjengkelkan. Dia hanya berharap calon adik iparnya itu tidak mempersulit dirinya.
__ADS_1