
Queen yang fisik dan mentalnya sudah terlatih dibawah pelatihan gengster sejak kecil. Tubuhnya akan bereaksi dan perlindungan dirinya akan secara alami meningkat saat merasa dirinya terancam oleh bahaya. Sudah sejak dini ia menjalani kehidupan yang penuh dengan bahaya sehingga kewaspadaan nya akan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan orang lain.
Karena itulah saat tangannya tiba-tiba saja ditarik secara kasar dan keras tubuhnya langsung sigap dan kewaspadaan yang sudah terlatih langsung menunjukan taring.
Queen dengan gerakan kilat memelintir tangan asing yang memegang lengannya kemudian ia berbalik sembari melayangkan kakinya lalu dengan keras menendang perut orang tersebut sampai jatuh tersungkur kelantai.
Orang yang tadi memegang tangannya tidak menyangka akan mendapatkan reaksi agresif Queen, ia hanya bisa pasrah saat tubuhnya jatuh setelah ditendang oleh gadis cantik itu. Dia tidak bisa menghindar karena gerakan cepat Queen. "auch" dia kemudian mengerang dan memegang perutnya yang terasa sakit.
"ya ampun. Sayang!" pekik Queen saat mengetahui jika orang yang baru saja ia tendang adalah tunangannya sendiri. Dia membelalakkan matanya karena masih shock.
"kamu mau membunuh suamimu ya?" melihat wajah terkejut Queen Darren menambahkan "apa kamu tidak berniat untuk membantuku berdiri?" keluh Darren dengan suara datar.
Queen segera berjongkok dan menarik tangan Darren dan membantunya untuk segera berdiri "kenapa kamu tiba-tiba saja mengagetkanku? aku refleks karena merasa terancam. Maaf ya"
Darren hanya berdecak "ck. Kalau orang lain yang kamu tendang pasti sudah pingsan dibuat olehmu"
"pasti sakit ya? maaf ya" dia kembali meminta maaf sembari mengelus perut Darren. Wajahnya terlihat sangat menyesal. Bukan tanpa alasan Queen begitu waspada, setelah dirinya diculik dan diselamatkan oleh Darren Queen merasa ada orang yang selalu mengikutinya dari jauh sehingga saat ada yang tiba-tiba saja mengagetkannya kendali Queen langsung rontok.
"Tidak sakit" ucap Darren sembari menyingkirkan tangan Queen dari perutnya, ia merasa malu karena bisa dijatuhkan oleh gadisnya.
Darren menoleh dan menatap Gerrell yang sejak tadi menertawakannya begitupun Jonathan sang asisten yang ikut dengannya terlihat berusaha dengan keras menahan tawanya "awas kalian berdua!" geramnya berucap.
Jonathan menggeleng khawatir "saya tidak melakukan apapun tuan" ucapnya pias, dia merasa jika tuannya akan melampiaskan kekesalannya padanya.
"kau kira aku tidak melihatmu tertawa tadi?! gajimu bulan ini aku potong! Lalu kau bocah!" ucapnya sembari menatap dan menunjuk Gerrell.
Sedangkan yang ditatap langsung diam dan pias.
"kita bicarakan nanti saja." ucap Darren sembari tersenyum penuh makna.
Gerrell langsung memelas "maaf kakak ipar.. Aku sangat menyesal telah mentertawakan mu. Tapi tadi itu sungguh lucu dan aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Benar kan tuan Jo?" ucapnya sembari menatap Jonathan.
Jonathan hanya melengos "jangan bawa-bawa aku!" ujarnya dengan kesal, dia kesal karena bulan ini gajinya harus dipotong dan Gerrell berusaha menyeretnya lagi. Bisa-bisa nanti tuan Darren tidak akan menggajinya.
Gerrell hanya mendengus karena Jonathan tidak mau diajak kerja sama.
__ADS_1
"sudah-sudah.. jangan ribut lagi." ucap Queen menghentikan perdebatan "kenapa kamu kemari? katanya sibuk"
Darren menatap wajah cantik dan lembut Queen, saat ini wajah itu terlihat masam mungkin karena ia yang tiba-tiba membatalkan janjinya "maaf karena tadi tidak bisa menjemputmu. Tapi aku sekarang akan mengantarmu pulang" ujarnya dengan nada lembut, tak seperti saat berbicara dengan Jonathan dan Gerrell tadi.
Terdengar pengumuman jika penumpang pesawat diharapkan untuk segera masuk kedalam pesawat karena sebentar lagi pesawat akan segera lepas landas.
"aku pergi dulu" ucap Queen sembari menatap wajah tampan Darren. Mata biru yang seperti bisa menenggelamkan nya itu menatap manik matanya dengan tatapan lembut. Saat melihat tatapan itu entah kenapa Queen merasa hatinya bergejolak dan detak jantungnya langsung berdetak dengan kencang.
"kalau begitu ayo" ucap Darren sembari menggandeng tangan Queen.
"eh? tunggu dulu..."
"Ayo Queen, atau nanti kita ketinggalan pesawat. Atau kamu mau memakai pesawat pribadiku saja?" tanya Darren dengan raut wajah seperti biasanya. Datar dan tanpa ekspresi.
"bukan itu maksudku. Kamu ikut aku pulang?"
Darren menghela nafasnya panjang lalu mengangguk sebagai jawabannya. "kau handle semuanya!" ucapnya sembari melirik Jonathan.
"baik tuan"
Gerrell mendengus "mana ada siput seganteng aku" setelah berucap Gerrell berjalan cepat mendahului sepasang kekasih itu.
Jonathan menatap punggung ketiga orang yang sedang berjalan bersama "pekerjaan ku bertambah banyak" ucapnya nelangsa. Tuannya pergi seenaknya dan dirinya yang pasti akan menghandle semua pekerjaan Darren . Belum lagi nanti pasti dia akan diomeli oleh tuan Keith karena membiarkan Darren pergi. Kehidupannya yang tenang perlahan pergi meninggalkan nya. Sungguh kasihan.
***
Queen menatap wajah Darren saat mereka sudah duduk didalam pesawat. Mereka duduk bersisian "kenapa tiba-tiba?"
Darren yang sedang menatap kedepan menoleh "aku hanya belum rela jauh darimu"
"Kamu harusnya lebih bertanggung jawab, kenapa malah meminta kak Jo untuk menghandle semua pekerjaanmu?" keluh Queen.
"Jangan membahas pekerjaan, aku bisa mengerjakannya dimanapun aku berada. Tapi kenapa sepertinya kamu keberatan jika aku ikut denganmu?" tanya Darren.
"Bukan begitu. Aku hanya tidak mau merepotkan mu"
__ADS_1
"Aku tidak repot" ucap Darren dengan cepat.
"Jangan mengkhawatirkan hal ini sayang, aku bisa menghandle semuanya." sambung Darren sembari menatap mata Queen, dia berusaha untuk menenangkan.
"terserahlah" ucap Queen pasrah.
"Sayang.. Suamimu ini sangat kompeten dan profesional dalam bekerja"
Queen menatap malas Darren "kamu luar biasa angkuh" semakin lama mengenal Darren, Queen semakin mengetahui sifat sebenarnya pria ini.
"Banyak yang bilang begitu" jawab Darren terlihat tidak peduli.
"Dan kamu bukan suamiku"
"Sebentar lagi" ucapnya tidak peduli, kemudian Darren menjatuhkan kepalanya diatas pangkuan Queen "aku mengantuk.. Aku tidak tidur semalaman" ucapnya sembari memejamkan matanya.
Queen menghela nafas lelah, dia tahu jika Darren harus menyelesaikan pekerjaannya dahulu dan merelakan jam tidurnya hanya untuk bisa pergi bersamanya. Hatinya sebenarnya merasa dicintai namun dia juga merasa Darren tidak perlu melakukan hal ini. Queen merasa kasihan.
Setelah berfikir cukup lama, Queen mengangkat tangan kemudian dia letakan diatas kepala Darren, ia mengelus lembut rambut halus milik Darren. Hanya beberapa kali usapan itu Darren benar-benar tertidur. Nafasnya terdengar teratur.
Queen menatap wajah polos Darren yang ada di atas pangkuannya. Dia menatap wajah tampan itu dengan tatapan yang sulit didefinisikan. Wajah yang dihiasi tatapan tajam itu terlihat seperti bayi saat tertidur, sama sekali tidak terlihat dinginnya kutub Utara.
Queen mengusap pipi Darren, Queen merasa dirinya semakin mencintai Darren tanpa berdaya. "sial.. aku jatuh semakin dalam" batinnya menggerutu. Dia menjatuhkan kepalanya disandaran kursi dan kemudian memejamkan matanya.
sstt.. ssstt..
Queen membuka mata dan menoleh kesumber suara. Dia melihat Gerrell yang sedang memperhatikan dirinya.
"kaki kakak akan kebas, aku akan membantumu meletakan kepalanya kebantal" ujar Gerrell pelan. Pemuda yang biasanya semaunya sendiri itu sepertinya juga tahu jika Darren benar-benar kelelahan sampai tidur senyenyak itu dan dia berusaha untuk tidak membangunkannya.
Queen menggeleng pelan "nanti saja" ucapnya dengan gerakan bibir dan tanpa mengeluarkan suara.
Gerrell terlihat mendengus tidak setuju namun tidak bisa berbuat apa-apa karena kakaknya itu memelototi nya, dengan dongkol Gerrell kembali duduk dan mengabaikan pasangan bucin itu.
***
__ADS_1