
"bagaimana ini? Bara bisa mati jika aku tidak bertindak dengan cepat" batin Queen dengan wajah yang panik.
"oh ayolah otak.. bekerjalah sekarang!"
"sial.. kenapa bisa buntu sih?! dasar otak bodoh! disituasi yang sangat genting seperti ini malah tidak mau bekerja sama" batinnya terus menggerutu. Dia bahkan mengumpati otaknya sendiri.
Lalu tiba-tiba saja kilatan kejadian antara mom dan daddy nya saat sedang bertengkar terputar dikepalanya. Pertengkaran-pertengkaran itu akan berakhir dengan--?
Queen terkesiap saat mengingat hal tersebut. Sesuatu yang sering kali ia lihat ketika orang tuanya tengah berdebat bahkan bertengkar hebat "sial.. kenapa tidak terpikirkan sedari tadi"
Gadis yang tangannya sedang dipegang oleh anak buah Darren menampik tangan mereka. Ia menendang perut kedua orang tersebut sampai terjengkang kebelakang "sorry" ucapnya setelah melihat kedua orang tersebut tampak kesakitan. Mereka tidak siap akan serangan Queen yang tiba-tiba sehingga mereka tidak sempat menghindarinya.
Queen berjalan menuju Darren. Menarik tangannya dengan kuat sampai membuat pria yang saat ini tengah menggila itu berbalik badan. Saat Darren berdiri dengan tegap. Queen melingkarkan tangannya dileher Darren. Sedikit menariknya lalu ia berjinjit dan kemudian menabrakkan bibirnya kearah bibir Darren.
Darren yang terkejut tampak membelalakkan matanya saat Queen mencium bibirnya secara tiba-tiba. Dia benar-benar tidak menyangka dan kaget bukan main.
Queen dengan berani menatap mata Darren dan terus me-lu-mat bibirnya dengan begitu intens. Mengul-um bibir bawah dan atas Darren juga secara bergantian.
"kenapa dia diam saja? apa cara ini tidak berhasil?" batinnya berucap. Bukankah Daddy nya akan luluh jika mom Valey melakukan hal ini. Tapi kenapa pria ini tidak? lalu dia harus bagaimana untuk menurunkan amarah Darren?
Queen menurunkan intensitas ciuman tersebut. Queen hendak menarik wajah dan tangannya karena merasa cara ini tidak berhasil.
Tatapan mata Darren yang awalnya menajam lama kelamaan melembut, saat Queen hendak menjauh Darren justru menarik tengkuk Queen untuk memperdalam ciuman tersebut. Menarik pinggang ramping Queen agar lebih dekat dengannya. Mendekap tubuh Queen dengan begitu posesif.
Queen adalah miliknya. Tidak ada yang boleh mengambilnya darinya.
Darren selalu merasa ketakutan, takut jika gadisnya ini pergi dari sisinya. Sama seperti beberapa tahun yang lalu. Saat seseorang pergi meninggalkannya begitu saja tanpa adanya kejelasan.
Rasa amarah Darren semakin menurun saat mereka masih bertautan bibir. Ciuman tersebut meleburkan rasa resah yang tadi sempat mendera hatinya. Apalagi gadisnya ini berinisiatif untuk menciumnya, didepan pemuda yang telah terkapar dilantai akibat ulahnya. Hal ini membuatnya merasa tenang sekaligus senang.
__ADS_1
Bara yang tadi hampir kehilangan kesadaran membelalakan matanya saat melihat Queen dan orang yang mengaku sebagai tunangannya itu berciuman dihadapannya. Didepan matanya. Tangannya terkepal erat melihat hal itu.
Hatinya terasa panas dan tanpa ia bisa cegah Bara cemburu melihat hal itu. Padahal ia awalnya sudah merelakan jika Queen menolak perasaannya. Tapi melihat gadis yang ia sukai berciuman dengan pria lain hati nya terbakar api cemburu.
Kalau saja tubuhnya tidak sakit Bara pasti akan memisahkan mereka sekarang. Pandangan Bara semakin kabur saat melihat dua orang yang masih saling menukar saliva itu. Dan.. kesadarannya benar-benar hilang beberapa saat kemudian. Tubuhnya terasa sakit semua apalagi wajahnya yang membengkak akibat pria yang mengaku sebagai tunangan Queen memukulinya tanpa ampun.
Mom Emily yang melihat Queen dengan gerakan cepat menarik anaknya lalu menciumnya menghela nafasnya dengan panjang. Arti saran yang ia berikan dengan kata-kata ambigu pada Queen memang mengisyaratkan jika Queen harus melakukan sesuatu pada Darren. Salah satunya adalah mencium anaknya itu.
Mom Emily yang merasa sedikit canggung melihat adegan tersebut berdiri dari duduknya. Dia memilih untuk pulang dan bersama dengan suaminya dari pada nanti melihat hal yang lebih dari sekedar berciuman. Ia akan memberikan waktu untuk kedua orang itu untuk saling memahami dan menyelesaikan masalah mereka.
Langkah kakinya berjalan menuju salah satu anak buah Darren. Para anak buah Darren memang sangat pengertian, karena mereka semua membalik badannya saat tahu jika hal itu tidak baik untuk mereka lihat.
plak
"eh- nyonya besar" ujarnya terkejut saat mom Emily menepuk lengannya.
"kalian bawa pemuda itu kerumah sakit! pastikan dia ditangani oleh dokter profesional. Jangan sampai kejadian ini mempengaruhi reputasi Darren" Wanita paruh baya itu mendongak dan matanya dengan awas memperhatikan sekeliling "hapus semua rekaman kamera pengawas itu! dan kau dan semua teman-temanmu pergilah dari sini"
"salah satu dari kalian, antar aku pulang!" ujarnya lalu berjalan meninggalkan ruangan tersebut dengan gaya yang elegant tanpa menoleh lagi kebelakang.
"Darren memang karakternya sama dengan Daddy. Jadi.. akan sangat mudah untuk membuat amarahnya reda. Setelah ini pasti Darren akan sangat merepotkan" batin mom Emily menggerutu.
***
bruk
Pengawal Darren sedikit melempar Bara keatas brangkar rumah sakit setelah tadi membawanya dari restoran menuju rumah sakit terdekat.
Seorang dokter terkesiap kaget melihat hal itu. Dia menatap tajam pria sangar yang saat ini tengah menatapnya juga.
__ADS_1
"tolong dia dok" ucapnya dengan suara datar.
"kenapa kau melempar dia?! tidak lihat dia tampak kesakitan?" tanya Dokter sedikit ketus. Dia menatap tajam anak buah Darren tersebut dengan pandangan sinis.
"tadi tanganku tergelincir" ucapnya berdusta dan terdengar malas. Karena faktanya ia memang sedikit melempar tubuh Bara.
Dokter wanita itu kembali menggeram "apa kau kira aku buta?! aku melihat kau melemparnya tadi" ujarnya masih mengomel.
"sabar dok. Cepat selamatkan dia dok, takutnya terjadi sesuatu" ucap suster yang memang berada disana juga. Ia dengan sigap mengalihkan perhatian dokter wanita ini agar tidak terjadi kekacauan.
"kalau begitu usir pria menyebalkan ini. Kalau dia masih disini, rasanya aku ingin sekali menyuntiknya dengan jarum yang paling besar!"
Anak buah Darren terbelalak mendengar ucapan dokter tersebut. Tanpa diusirpun ia segera berlari meninggalkan IGD sembari bergidik ngeri sembari membayangkan apa yang diucapkan oleh dokter wanita tersebut. "dokternya menyeramkan sekali" gumamnya pelan sembari menutup pintu ruang IGD tersebut.
"Dokter Valerie" ujar seorang suster saat melihat dokter yang tadi mendebat seorang pria tengah menatap kesal pintu ruang IGD. Agaknya ia masih merasa marah melihat orang yang seenaknya sendiri.
Yah.. wanita tersebut adalah dokter Valerie, mommy dari Queen yang baru saja selesai melakukan operasi pada pasiennya tadi. Dia berada di IGD untuk membahas sesuatu dengan dokter jaga malah ia terkejut melihat seseorang yang datang dan langsung melempar seorang yang tampak pingsan keatas pembaringan.
"oh aku melupakan pemuda ini" ucap wanita paruh baya ia. Ia berjalan mendekati ranjang kemudian meringis melihat wajah pemuda ini yang tampak begitu mengerikan. Wajahnya bengkak dan lebam. Sudut bibirnya tampak robek dan terlihat darah yang hampir mengering disana.
Ia mengecek tekanan darah dan detak jantungnya. Ia juga mengecek kedua mata Bara dengan teliti "dia hanya pingsan. Tapi untuk memastikan apakah ada luka lain dibadan nya. Tolong buka pakaiannya sus!"
Suster itu mengangguk dan menjalankan perintah dokter pemilik rumah sakit ini. Ia menggunting baju bagaian atas Bara.
Valey meringis melihat luka lebam diperut dan dada pemuda malang ini "astaga.. siapa yang dengan tega menganiaya kamu nak? kasihan sekali" ucapnya terdengar lirih. Dia jadi melow karena teringat memiliki dua putra yang sangat ia sayangi. Dia pasti akan sangat sedih jika anaknya sampai seperti ini.
Valey menoleh kearah suster yang tengah membersihkan wajah Bara "sus.. lakukan rontgen segera. Takutnya tubuh bagian dalam pemuda ini ada masalah"
"baik dok" ucapnya lalu menuruti perintah dari Valey..
__ADS_1
**
Jangan lupa like dan komen.. 🤗