
Darren mengikuti Tuan Arsen keluar dari ruang kerja pria paruh baya itu. Dia menatap bahu lebar tuan Arsen yang masih terlihat bidang meski usianya tak lagi muda. "sepertinya tuan Arsenio sangat hebat ketika muda" batinnya berucap.
Sebenarnya bukan hanya muda, pria paruh baya itu masih sangat hebat dibidang ilmu bela diri. Pria itu juga masih terus berolahraga sehingga tubuhnya tetap segar dan kuat.
Kalau diadu dengan Darren pun Tuan Arsenio sudah pasti masih bisa mengimbangi kekuatan pria muda itu.
"Jangan menatapku seperti itu."
"eh---" Darren terkejut saat tiba-tiba saja tuan Arsenio berbalik dan menatapnya tajam. "sa-saya tidak menatap anda" bohongnya.
"ck.. kau kira aku tidak tahu?" ucapnya dengan suara dingin. Tuan Arsenio tentu saja tahu mengingat ia memiliki insting dan pertahanan diri yang begitu kuat. Dibawah dunia bawah membuat Arsenio menjadi pria yang penuh kewaspadaan, saat merasa dirinya diperhatikan dia akan langsung mengetahuinya.
Darren hanya bisa menghela napas berat, dia merasa lelah menghadapi pria yang sejak tadi membuatnya sakit kepala.
Pria yang sebelumnya selalu berbicara seadanya dan selalu dingin saat dia membahas bisnis akan berubah sedrastis itu. Darren tidak menyangka jika tuan Arsenio akan sangat cerewet dan menyebalkan saat mengetahui dia menjalin hubungan dengan puterinya.
"Sudah sana kau pulang. Wajahmu membuatku kesal saja!" tanpa berbasa-basi tuan Arsenio mengusir calon menantunya.
Darren lagi-lagi menghela nafasnya, dia mencoba bersabar agar rencananya berjalan dengan lancar. Kali ini ia akan terus mengalah. "Saya permisi,Daddy"
Mata Arsenio membelalak mendengar kata terakhir yang Darren ucapkan. "Daddy Daddy kepalamu! cepat kau pergi atau aku akan menyuruh seseorang untuk menyeretmu keluar"
Darren tergelak melihat calon mertuanya marah, dia membungkuk sekilas lalu berjalan keluar.
"eits.. mau kemana kau?!" Arsenio memegang kerah baju bagian belakang Darren. Menahan langkah kaki pemuda itu.
"saya mau pulang"
Tuan Arsenio berdecak "ck.. pintu keluarnya ada disana!" menunjuk kearah yang benar melalui dagunya.
"Ini jalan yang benar. Queen adalah rumahku" ujarnya dengan gelak kecil.
Saat mendengar Darren tergelak, Arsenio semakin jengkel "ck.. berhenti bicara omong kosong!" setelah berucap dia mendorong pelan tubuh Darren. "Pastikan bocah sialan ini pergi dari mansion ini" ucapnya pada salah satu anak buah yang saat ini tengah berjaga.
Seseorang yang Arsenio ajak bicara mengangguk "baik tuan"
Melihat Darren yang sudah digiring anak buahnya untuk pergi, dad Arsen menghela nafas kemudian melangkah menuju lift. Dia akan kembali kekamarnya.
Sesampainya dikamar, Dad Arsen langsung melendoti istrinya yang sedang mengerjakan sesuatu dileptop. "aku lelah" gumamnya.
Mom Valey yang merasa suaminya ingin diperhatikan menghentikan kegiatannya. Menyimpan data yang sedang ia imput sebelum ia tutup "aku akan siapkan air hangat untuk berendam" ucap mom Valey lembut, dia usap pelan rambut halus suaminya.
"nanti saja. Aku sangat merindukanmu"
"ck.. Sudah umur berapa kamu sayang? kamu sangat manja seperti balita"
Dad Arsen berdecak "sayang, aku sudah memberikan keputusan" meski ia baru diberi tahu oleh Darren rencananya, Dad Arsen sudah lebih dahulu diberi tahu oleh Queen. Mom Valey juga sudah mengetahuinya, namun kedua orang tua Queen itu belum memberikan jawaban.
"bagaimana? kamu setuju kan? Darren anak yang baik sayang"
"cih.. anak baik apanya. Dia selalu menjawab ucapanku dengan gaya yang sangat menyebalkan"
__ADS_1
Mom Valey tergelak. Suaminya ini selalu mencari celah calon menantunya itu, agar dad Arsen bisa berbicara pada Queen untuk mempertimbangkan keputusannya untuk berumah tangga dengan Darren.
Namun yang selalu membuat Dad Arsen kesal adalah calon menantunya itu tanpa celah. Hal itu juga yang selalu membuat Dad Arsen merasa kesal karena tak berhasil, dan saat hasil yang ia inginkan tak dia dapatkan dad Arsen hanya mampu mengeluh pada istrinya.
Mom Valey merasa suaminya ini over protective pada anak-anaknya. "lebih baik kamu berendam agar otot-otot tubuhmu mengendur dan lebih rileks. Jangan mulai menggerutu deh, aku juga lelah"
Dad Arsen mendengus dia menegakkan tubuhnya. Dia tatap wajah cantik istri yang sudah menemaninya puluhan tahun itu. Dad Arsen menggenggam tangan mom Valey kemudian mengecup punggung tangan istrinya beberapa saat.
Mendapatkan perlakuan hangat seperti itu membuat wajah mom Valey memerah "aih.. kamu membuat aku malu"
Dad Arsen tersenyum, dia menatap irish sendu istrinya dengan tatapan sayang "aku mencintaimu"
"aku tahu"
"Sayang, aku sudah memberikan izin pada pemuda menyebalkan itu"
Mom Valey tersenyum "aku tahu suamiku tidak akan mempersulit anaknya"
"ini aku lakukan demi my princess" ucap dad Arsen sembari tersenyum. Meski ia sering kali menggerutu, namun untuk kebahagiaan anaknya dad Arsen tak akan egois. Apalagi pemuda yang baru saja ia ajak bicara adalah satu-satunya kandidat yang pas untuk menjaga puteri kecilnya.
Mom Valey segera memeluk tubuh besar suaminya.
drret ...
Ditengah pelukan hangat istrinya, dad Arsen meraih ponsel yang ada disaku jasnya saat merasakan getaran. Dia melihat jika anak buahnya yang menelfon. Karena tahu jika ada hal yang mendesak Arsen segera mengangkat telepon tersebut "katakan!"
"tuan Darren masuk kedalam kamar nona tuan"
Braakk
Mom Valey yang terkejut segera melepas pelukannya, dia menoleh kearah ponsel yang sudah hancur berkeping-keping akibat terbentur tembok. "ada apa sayang?"
"pemuda itu kurang ajar! tidak mendengarkan ucapanku!" dad Arsen segera berdiri dan keluar dari kamar.
Melihat suaminya yang pergi dalam keadaan kesal, mom Valey segera menyusul.
**
Braak
Sesampainya didepan kamar Queen, dad Arsen langsung menendang pintu sampai pintunya rusak.
"Lepaskan puteriku sekarang!!" pekik dad Arsen dari ambang pintu saat melihat anaknya sedang dipeluk oleh Darren. Pasangan itu tengah duduk diatas tempat tidur.
Mom Valey yang penasaran mengintip melalui celah badan suaminya. "wow..."
Reaksi mom Valey mendapatkan lirikan tajam dari suaminya.
"hehehe.. Mereka manis kan sayang?"
"diam kamu!"
__ADS_1
Mom Valey menutup mulutnya dengan tangan lalu melengos karena suaminya semakin menajamkan tatapan matanya.
Dad Arsen menjentikkan jarinya, memberi kode pada Darren agar pemuda itu mendekat.
"calon menantu kita sangat hot" bisik mom Valey saat melihat Darren berjalan mendekat dengan begitu gagah karena postur tubuhnya yang besar dan menjulang tinggi. Hal itu lagi-lagi membuat dad Arsen melirik tajam dirinya "tapi tidak lebih hot dari sayangku dong. Kamu yang paling hot dan sexy sayang" tambah mom Valey memuji suaminya agar dad Arsen tak marah.
"dad"
pfffttt
Mom Valey hampir tertawa mendengar Darren yang memanggil suaminya 'dad' kalau saja suaminya tidak menggeram sudah pasti ia tertawa terbahak.
Mendengar panggilan menyebalkan itu membuat Dad Arsen menatap tajam Darren.
"kenapa? Saya sedang berlatih memanggil anda Daddy, benar kan mom?" tanya Darren sembari menoleh kearah mom Valey.
Mom Valey mengangguk "benar" jawabnya dengan bersemangat. Tapi detik berikutnya mom Valey merengut karena suaminya menyikut lengannya. Melihat apa yang ia katakan selalu salah, mom Valey memilih untuk menjauhi suaminya dan kemudian mendekati Queen.
"pulang kau sekarang!" lagi dan lagi dad Arsen mengusir Darren.
"saya memang mau pulang"
"ck.. alasan! kalau aku tidak kemari kau pasti akan tidur disini" melihat Darren hendak menyanggah ucapannya dia segera melanjutkan ucapannya "jangan mengelak, aku tahu persis bagaimana pikiran dan seringai lelaki seperti mu"
"Saya kesini cuma mau berpamitan dengan Queenku"
"cih.. Queenku apanya. Sudah sana pulang, atau aku akan menarik kembali kata-kata ku tadi"
"eh jangan-jangan.. saya benar-benar ingin berpamitan dengan Queen" ujar Darren sedikit panik.
"mom.. lihatlah calon suamiku, ganteng dan gagah bukan?" bisik Queen pada momnya sembari menonton perdebatan kedua pria itu.
"mana ada! suami mom yang paling gagah" ucap mom Valey tidak mau kalah.
"Suami mom sudah tua, lihatlah calon suamiku masih sangat fress" dengan bangga Queen berucap.
"ck.. kau kira Darren buah?" ketus mom Valey menjawab.
"iya.. Dia seperti buah, sangat manis. Aku ingin sekali memakannya" ucap Queen sembari tersenyum.
"oh astaga.. otakmu sudah rusak Queen" ucap Mom Valey sembari menatap iba anaknya.
"Ishk.. aku seperti ini juga meniru tingkah mom"
Mom Valey terperangah "really? berarti otak kita sama tidak warasnya ya?"
Queen mengangguk dan kemudian menepuk tangan momnya yang mengajak dirinya tos. Setelah itu mereka tertawa bersama.
Kedua pria yang awalnya berdebat hanya menonton ucapan absurd kedua wanita itu, mereka kemudian saling tatap.
"Darren.. Selamat ya, kau sebentar lagi akan memasuki keluarga aneh ini"
__ADS_1
Darren hanya mengangguk pasrah sembari menatap kedua wanita yang sedang tertawa konyol itu.