QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
mansion utama


__ADS_3

Darren memasuki mansion milik tunangannya dengan perasaan dongkol. Bukan karena dia takut pada binatang kecil tersebut, tapi ia jijik dan sedikit trauma.


Darren geli sekaligus takut pada binatang tersebut, karena dulu ketika ia kecil, Darren pernah dikerjai oleh teman-temannya dengan cara memasukan cacing kedalam bajunya. Al hasil sampai sekarang ia merasa jijik dan juga geli pada hewan kecil tersebut.


Membayangkan saja sudah semenakutkan itu, apalagi jika membayangkan kembali bagaimana cacing itu bergerak ditubuhnya.


Darren mengelijang sembari memegang tengkuknya yang merinding.


bruk


Karena tidak terlalu memperhatikan jalan ia bertabrakan dengan seseorang. Darren terkesiap dan dengan sepontan menarik tangan seseorang yang hampir saja jatuh.


"maaf aunty" ucapnya dengan suara pelan saat mengetahui orang tersebut adalah mom dari kekasihnya.


"kenapa kau berjalan seperti itu Darren? apa kau habis melihat hantu?" gerutunya sembari berdiri dengan tegak. Dia sampai mengusap bajunya padahal tidak kotor sama sekali.


Darren menggeleng dengan raut wajah datarnya.


"eh tunggu-tunggu.. kenapa kau berkeringat? kau habis ngapain Darren?" tanya mom Valey tampak menyelidik.


"saya habis berlari" ujarnya dengan suara masih datar.


Mom Valey memutar bola matanya mendengar jawaban calon menantunya "ish.. kenapa wajahmu seperti itu Darren? padahal aku sudah memiliki dua kenapa nambah satu lagi?" gerutunya terdengar nelangsa.


Darren yang tidak mengerti ucapan mom Valey hanya menyernyitkan kening dan menatap bingung wanita paruh baya ini "maksud aunty?"


Mom Valey tergelak "maksudnya kenapa kau tampan sekali? Queen benar-benar pintar mencari kekasih" ujarnya berdalih, padahal tadi ia mengeluh akan ada satu pria dingin lagi dimansion ini nantinya.


drreet drreet


Mom Valey terkesiap saat ponsel yang sedari tadi ia pegang bergetar, dia mengangkat tangannya dan terkesiap kaget "ahhkk-- astaga" pekiknya membuat Darren kaget.


"ada apa aunty?"


"ssssttt" mom Valey berdesis sembari meletakan jari telunjuknya didepan bibir agar Darren diam lalu ia menggeser icon hijau keatas dan langsung menempelkan benda pipih itu ketelinga.


Darren hanya menghela nafasnya panjang melihat kelakuan calon mertuanya itu.


"iya.. aku sudah ada dijalan ini. Kalau dia tidak mengaku benturkan saja kepalanya kedinding"


Darren membelalakan matanya saat mendengar ucapan mom Valey, dia menatap tidak percaya akan apa yang baru saja dia ucapkan. "apa aku salah dengar ya? membenturkan ketembok?"


Mom Valey menoleh ke arah Darren, dia sedikit terkesiap karena lupa jika Darren masih berada disana " maaf ya Darren aunty lupa jika sudah terlambat.." ujarnya sembari tersenyum kaku.


"kau mencari Queen bukan? dia belum bangun agaknya" ujarnya sembari memasukan ponselnya kedalam jass putih yang ia kenakan. Tadi ia buru-buru mematikan sambungan telefon nya.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu tersenyum lalu..


plak plak


"aunty hanya sedang bercanda dengan seseorang" ucapnya sembari memukul bahu Darren saat ia melihat wajah Darren tampak menyelidik.


"kalau begitu aunty pergi ya? bye bye Darren.." Dia melambaikan tangan kearah Darren sembari berlari kecil.


Wanita paruh baya itu masih aktif dan energik diusianya sekarang.


Darren menatap cengo calon mertuanya itu "sepertinya aku masuk kedalam keluarga yang sangat aneh" batinnya setelah melihat mom Valey sudah tidak terlihat lagi.


Calon mertuanya terlihat misterius gerak geriknya.


Meski ia tahu jika wanita paruh baya itu baik, tapi sifat dan karakternya sama persis seperti Queen. Sulit untuk ia tebak.


Darren berbalik badan, dia kembali berjalan masuk kedalam mansion.


"selamat pagi tuan"


Darren disapa oleh seseorang, pria tua itu menunduk dengan hormat.


"ada yang bisa saya bantu tuan?"


Pria tua itu mendongak sebentar, sepertinya ia sedikit keberatan.


"kenapa? kau tidak mau? biar ku cari sendiri" ucap Darren, ia hendak meninggalkan pria tersebut.


"tunggu tuan.. Mari saya antar" ujarnya dengan sopan, dia berjalan terlebih dahulu. Mendahului Darren yang tengah menatapnya dengan tajam.


"siapa kau?" tanya Darren saat ia sedang berjalan mengikuti pria tua ini. Mereka tengah berjalan menaiki tangga menuju lantai dua.


Pria tua yang tampak masih segar dan sehat itu melirik Darren sekilas "saya pak Tyo.. kepala pelayan disini tuan"


Darren mengangguk "apa tuan Arsenio sudah berangkat bekerja?"


"sudah"


Darren mengangguk kembali lalu ia kembali acuh, sampai pada saat mereka sampai didepan sebuah pintu Darren menoleh kearah pak Tyo "kau boleh pergi" ujarnya memerintah.


Pak Tyo hanya mengangguk "tolong tetap buka pintunya" ucapnya sebelum ia meninggalkan Darren yang tengah menatapnya tidak suka.


"cih.." Darren berdecih dan segera masuk kedalam kamar Queen tanpa ragu. Dia menoleh kearah pintu "larangan adalah perintah!"


brak

__ADS_1


Darren mendorong pintu dengan sedikit kencang sampai membuat gadis yang ada diatas pembaringan terkesiap.


"apa yang kau lakukan Nila?! mau ku goreng kau hah?!" pekik Queen terdengar kesal karena tidurnya terganggu.


"siapa Nila?" tanya Darren dengan bergumam, dia berjalan mendekati tempat tidur. Darren berdiri disisi ranjang, memperhatikan wajah gadis yang ternyata kembali tertidur setelah memaki orang yang bernama Nila.


"ck.. tidur jam berapa dia sebenarnya? padahal sekarang sudah hampir pukul sembilan" ucapnya sembari mengangkat pergelangan tangannya untuk melihat jam mewah yang melingkar dipergelangan tangannya.


Darren naik keatas tempat tidur, dia ikut tiduran disisi Queen. Pria tampan ini memperhatikan wajah polos Queen "cantik" pujinya melihat wajah Queen yang tidak dipoles oleh make up sama sekali. Wajahnya terlihat cantik dan imut.


Tuing Tuing


Darren menoel-noel pipi Queen membuat gadis itu bergumam tapi matanya masih saja terpejam.


"bangun"


Darren menarik sudut bibirnya saat Queen bahkan tidak menghiraukan ucapannya, lalu dengan sekali gerakan ia berpindah tempat. Darren menindih tubuh Queen dan mengungkungnya.


cup cup


Darren mengecup pipi Queen "bangun sayang" ucapnya lagi.


Queen yang merasa terusik mulai membuka matanya perlahan, matanya menyernyit karena cahaya ruangan yang mulai memasuki kornea matanya.


klip klip


Queen mengedipkan matanya beberapa kali lalu kembali terpejam "hehehe kenapa ada siwajah dingin disini?" ucapnya terdengar tidak terlalu jelas.


Darren membelalakan matanya "siwajah dingin?" tanyanya dengan suara bariton nya.


"iya.. tunanganku yang tampan tapi wajahnya dingin. Kalau aku disisinya rasa-rasanya aku selalu ingin bersin" Queen menimpali ucapan Darren sembari terkikik.


haciiiu


Queen menutup mulutnya saat tiba-tiba saja ia bersin "duh.. malah bersin benaran. Padahal aku hanya membicarakannya" ujarnya sembari mengusal hidungnya yang terasa gatal.


Darren menatap jengah Queen "kalau dingin pakai selimut ini" pekiknya sembari menyelimuti Queen sampai menutupi wajahnya.


Queen terkesiap dan segera terduduk. Dia menatap wajah Darren. Matanya kembali mengerjap beberapa kali "tuan? kau disini?" tanyanya dengan suara sedikit parau. Selimut yang tadi menyelimuti tubuh Queen sudah melorot kebawah.


gluk


Darren sampai menelan ludah, padahal tadi ia sedang marah. Akan tetapi melihat bagaimana moleknya tubuh Queen yang hanya dibalut baju tidur tipis membuatnya menegang.


Queen yang melihat arah tatapan mata Darren terbelalak "kaaaaau... pria mesuuum!!" pekiknya sembari memukuli wajah Darren menggunakan bantal.

__ADS_1


__ADS_2