QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
kakek Keith


__ADS_3

Setelah memastikan mobil milik Queen keluar dari area mansionnya. Darren yang diberitahu oleh salah satu anak buahnya jika kakeknya ingin berbicara segera pergi kekamar yang dihuni oleh sang kakek. Ia berdiri didepan pintu kemudian mengetuknya.


tok tok tok


Terdengar sahutan dari dalam kamar membuat Darren segera meraih handle pintu dan menariknya kebawah. Setelah itu Darren mendorongnya perlahan.


Matanya ia edarkan untuk mencari dimana keberadaan kakek Keith. Dapat.. ia melihat kakeknya tengah duduk dikursi tunggal depan jendela. Menatap keluar jendela yang viewnya langsung kearah taman.


Kakinya melangkah menuju kearah kakeknya duduk, berdiri dengan gagah disisi kursi yang sedang digunakan oleh pria tua tersebut "ada apa?" tanyanya tanpa berbasa-basi terlebih dahulu. Itu adalah sifat Darren seperti biasanya yang selalu to the poin pada hal apapun. Hanya pada gadisnya lah ia selalu bersikap lembut dan manja.


Kakek Keith melirik Darren sekilas, lalu kembali menatap kedepan. "kau tidak sebodoh itu Darren. Jadi kakek rasa kamu sudah mengetahui apa yang akan kakek bahas kali ini"


Darren menghela nafasnya, dia memang tahu jika kakeknya pasti akan membahas mengenai penyerangan kemarin. "paling tidak aku diberi kursi untuk duduk kan? apa aku boleh duduk dipangkuan kakek?"


Kakek Keith terkesiap mendengar ucapan Darren yang terdengar tidak lucu sama sekali "kamu mau membuat tulang kakek patah ya bocah tengik?"


Darren menarik sebelah sudut bibirnya sedikit sekali. Lalu ia mengambil kursi dan meletakan disisi kakek Keith.


"pemandangan dari kamar ini sangat bagus. Kamu memang mengerti selera kakek Ren"


"jangan berbasa-basi lagi kek, aku lelah ingin mandi dan beristirahat sekarang"


Meski terdengar menyebalkan tapi ada nada rengekan disetiap ucapan Darren yang membuat pria tua itu tidak bisa memarahinya. Walau bagaimana sifat Darren, ia adalah cucunya yang ia sayangi "ceritakan semua yang ingin kakek dengar!" ujarnya memerintah dengan tegas.


Darren mengangguk dan segera menceritakan semuanya, dari awal ia yang diikuti selama pergi bersama dengan Queen. Darren tidak menyangka jika orang-orang suruhan musuhnya sangat banyak sehingga ia hampir saja terbunuh jika saja Queen tidak datang menolongnya.


"Queen?" tanya kakek Keith dengan alis mengkerut.


"ya.. dia membawa anak buah dan kedua adiknya untuk menolongku"


Kakek Keith mengangguk sekarang, ia menatap wajah Darren yang saat ini tengah tersenyum setelah bercerita mengenai Queen. Padahal ia ingin bertanya lebih lanjut mengenai Queen, tapi melihat raut wajah Darren saat ini ia malah ingin menggodanya.


plak

__ADS_1


"aww--" pekik Darren saat kepalanya dipukul oleh kakek nya sendiri. "kek.." keluhnya terdengar menggeram saat mengucapkannya. Kalau saja pria tua ini bukan kakeknya, ia akan membalasnya. Tapi sayangnya ia tidak punya keberanian, selain karena kakek Keith adalah kakeknya sendiri Darren selalu merasa takut padanya sebenarnya.


Karena dari dulu kakeknya sangat tegas dalam membimbingnya. Apalagi saat perusahaan dad Edward yang hampir saja bangkrut, kakek Keith menggembleng dirinya dengan sangat keras. Entah itu mengenai perusahaan atau pun fisik.


Karena latihan beratnya itulah yang membuat tubuh Darren sekarang sangat kekar dan sexy. (banyak roti sobeknya guys hehehe)


"kau membayangkan apa barusan hah? pasti duapuluh satu ples kan?" ujar kakek Keith dengan wajah penuh tuduhan dan cemoohan.


Hal itu membuat Darren mendengus "ck.. kakek sudah tua tapi pikirannya kotor! aku mana ada berfikiran seperti itu"


"Wajahmu itu tidak bisa menipu kakek Ren!"


Darren menghela nafasnya lelah "terserah kakek saja" ucapnya yang malas mendebat ucapan kakeknya yang suka sekali mengusilinya.


"benar kan apa yang kakek ucapkan! kakek bisa saja melaporkan mu pada tuan Arsenio" ancamnya dengan wajah yang serius.


"keeeek...."


Kakek Keith jadi berfikir jika Queen pasti selalu menggoda Darren sehingga ia mau membuka hatinya padanya. Karena pria yang dingin seperti ini hanya akan mencair jika berdekatan dengan gadis yang ceria dan hangat.


Dan lagi, Darren yang awalnya malas meladeni Jane yang dijodohkan oleh mommy nya pada akhirnya bersikap tegas setelah Queen berdiri disisinya. Sudah lama sekali jika ia tak menyukai Jane yang terasa hanya baik didepan saja. Wajahnya yang cantik menutupi sifat jelek dan busuknya. Wanita yang berbulu domba seperti itu membuatnya muak.


"kau akan membiarkan si breng-sek itu tetap hidup tenang? kakek rasa dia sudah sangat keterlaluan dengan menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawamu" tanya kakek Keith setelah tawanya reda.


"aku sudah kehabisan kesabaran menghadapi dia. Jadi nanti setelah pulang akan kuhabisi dia. Apa boleh kek?"


"kakek saja sudah kehilangan kesabaran. Jadi lakukan apapun yang kau mau Ren"


Darren menyeringai setelah kakeknya mengizinkannya, "kalau begitu, aku kembali kekamar kek"


Kakek Keith menoleh kearah Darren. Cucunya itu sudah berdiri dari duduknya "bagaimana keadaan Daniela Ren? kakek sudah sangat merindukannya"


"biarkan dia bebas untuk sementara. Nanti saat uangnya habis pasti pulang"

__ADS_1


Kakek Keith mengangguk ragu "tapi kakek melihatnya terlalu bebas Ren"


"aku menjaganya dari jauh kek. Jangan khawatir. Aku pergi" setelah berucap seperti itu, Darren berjalan menuju pintu. Saat hendak menutup kembali pintu kamar kakeknya, pria tua itu memanggil namanya sehingga ia mengurungkan niatnya.


"Ren"


Darren kembali membalik badannya, ia menatap kakeknya dengan alis yang mengkerut.


"kau tidak berniat untuk mencium pipi kakekmu ini Ren?"


brak


"hahahaha" tawa kakek Keith kembali pecah saat Darren membanting pintu kamarnya "bocah kurang ajar" ucapnya disela-sela tawanya ayang masih menggema. Sikap kurang ajar Darren malah terlihat lucu karena ia memang sengaja membuatnya kesal.


**


Darren berjalan dengan menuju kamarnya.


dreet dreet..


Ponsel yang ad didalam saku bergetar, sembari membuka handle pintu kamarnya. Darren meraih ponsel yang ada didalam saku. Alisnya menyernyit melihat pesan dari salah satu anak buah nya.


"restoran XX lantai tiga" begitulah isi pesan disertai dengan satu foto yang tiba-tiba membuat rahang Darren mengeras. Ponselnya ia rem-mas dengan kencang. Sampai keluar otot-otot yang menyembul.


braaak


"breng-sek" pekiknya sembari melempar ponsel nya sekuat tenaga. Sampai membentur tembok dan hancur seketika.


Matanya nyalang dan menajam lalu berjalan dengan cepat keluar dari mansion.


***


Jangan lupa like komen dan kasih bunga2 guys..

__ADS_1


__ADS_2