
Mom Valey menatap tajam pasangan kekasih yang saat ini duduk dihadapannya. Anak dan kekasihnya itu telah memukuli seorang pemuda yang saat ini ia tangani. Hal itu membuat kepalanya berdenyut ngilu.
Apalagi kalau ia juga mendengar bahwa orang tua dari korban hendak melaporkan hal ini pada pihak berwenang.
Darren melirik Queen sesekali, dia merasa tidak nyaman sekali ditatap seperti itu oleh wanita paruh baya ini. Bukan karena takut melainkan bingung dengan keadaan yang sekarang tengah ia alami. Bahkan mom dari pemuda yang ia pukuli tadi tidak seseram mom Valey saat ini.
Queen yang melihat kekasihnya tampak tak nyaman hanya bisa menahan tawanya.
*dug*
Darren yang mengetahui jika Queen meledeknya melalui tatapan mata mengejek, menyikut lengan kekasihnya itu dengan pandangan yang kesal.
Queen menghela nafasnya panjang "baiklah.. sepertinya ini harus segera diakhiri" batinnya berucap.
"ehem" Queen berdehem, dia menatap mata momnya yang saat ini masih menajam. "astaga.. menyeramkan sekali" batinnya berucap lalu kembali membuang muka kesamping. Dia benar-benar merasa takut.
Beberapa kali Queen menghela nafasnya agar tidak takut lagi. Walau bagaimana pun baiknya mom Valey, jika ia sudah marah tetap saja terlihat menyeramkan. Bahkan daddy nya saja selalu kalah telak jika momnya sudah mengeluarkan tanduknya "mom.. Rambutmu cantik sekali, kemarin jadi pergi kesalon dengan mami Tata ya?" ucap Queen mencoba mengalihkan suasana canggung ini dengan cara memuji. Buat momnya senang dulu baru bisa berdalih nanti, itu adalah rencananya.
Setelah itu Queen tersenyum layaknya mentari pagi. Sangat hangat dan cerah. "sangat cantik, aku juga ingin pergi kesalon itu, apa mom mau mengantarku kalau senggang?"
Mom Valey memegang rambutnya, memang benar dia kemarin menghabiskan waktunya untuk memanjakan dirinya bersama sahabat sekaligus kakak iparnya "mom tidak ada waktu!!"
"aish.. mom ketus sekali" batin Queen kembali ciut, padahal tadi ia melihat binar senang diwajah momnya meski hanya sekilas.
"jangan berani-berani mengalihkan pembicaraan Queen!" ucap mom Valey, hampir saja ia terlena akan ucapan Queen. Kalau sampai ia terlena, ia akan melupakan amarahnya dan berakhir menceritakan kegiatannya kemarin.
"astaga mom.. jangan menatap kami seperti layaknya kami seorang tersangka kenapa" gerutu Queen sembari melipat tangannya didepan dada saat mata mommy nya kembali menyalang.
"kalian memang tersangka! kalian habis bersenang-senang kan? sampai membuat seorang pemuda terkapar tak berdaya"
Queen menghela nafasnya panjang "mom salah"
"lalu?" tanya mom Valey, dia menyandarkan tubuhnya agar lebih santai. Matanya melirik Darren yang tampak biasa saja, wajahnya masih datar dan tanpa ekspresi. Pemuda itu memang pandai menutupi raut wajahnya.
"dia adalah korban dari kesalahpahaman antara kami" ucap Queen akhirnya berkata jujur.
"kesalahpahaman apa?! dia menatapmu dengan memuja! aku tidak suka! kamu adalah milikku Queen!" ucap Darren langsung memotong perkataan Queen. Dia menekan kata-katanya.
Mom Valey menarik sedikit sudut bibirnya "dia posesif sekali.. sama seperti seseorang" batinnya berucap.
"tapi dia--"
__ADS_1
"tidak ada tapi-tapi.. Kau itu milikku!"
Queen menghela nafasnya pelan "iya iya baiklah.. aku milikmu" ucapnya sembari mendengus tapi saat melihat Darren melotot Queen meringis kan giginya lalu ia mengusap lengan Darren dengan lembut. Jangan sampai nanti dia bertambah marah.
Sebenarnya Queen juga tahu jika Bara memang menatapnya dengan tatapan yang sangat lembut, dia bukan gadis bodoh yang tidak tahu perasaan Bara padanya masih ada. Tapi kejadian kemarin terjadi begitu saja, apalagi disana ada aunty Emily sehingga ia tidak bisa menghindari Bara.
"ingat Queen! kamu itu adalah milikku, jadi hanya aku yang boleh menatapmu seperti itu! bocah kepa**t itu akan mati jika melakukan hal itu lagi" ujar Darren dengan suara yang dalam, tatapan matanya mengartikan keseriusan akan apa yang ia bicarakan. Dia tidak main-main dengan ucapannya.
"sruuupuuut"
Queen dan Darren menoleh kesumber suara, dimana seorang wanita paruh baya yang tak lain tak bukan adalah mom Valey yang tengah menyeruput coffee nya.
"ah.. kenapa berhenti? lanjutkan perdebatan kalian, mom sangat senang melihat perdebatan semacam ini, seperti drama yang ada di televisi. Tapi ini versi live nya"
"ini menyenangkan dan menurunkan amarah mom. Ayo lanjutkan! Bahkan mom punya pop corn disini" menunjuk pop corn yang ada diatas meja.
Queen melongo mendengar ucapan mom Valey, dia menatap arah jari dari mom Valey, sejak kapan momnya asik makan popcorn? dan dari mana asalnya juga? perasaan saat ia masuk, Queen sama sekali tidak melihatnya.
Begitupun dengan Darren, dia bukan heran akan apa yang dilakukan oleh wanita paruh baya itu, melainkan ekspresi wajahnya yang sekarang sudah berubah. Sudah tak seseram tadi, bahkan sekarang dia tampak santai dan biasa saja "mood wanita memang susah diperkirakan"
"ada apa dengan wajah kalian? hahaha.. lucu sekali"
Apalagi melihat satu popcorn langsung melayang menuju keningnya setelah tadi melihat mom Valey melototi dirinya.
"kalau bicara dengan orang tua yang sopan!"
"maaf mom" ucap Queen sembari mengusap keningnya, tidak sakit tapi ini memalukan sekali. Ia dapat melihat bibir Darren yang berkedut tadi. Pasti pria ini sekuat tenaga menahan tawanya. "menyebalkan sekali"
"apa kalian tahu jika kalian itu tampak sangat manis?" tanya mom Valey mengutarakan pendapatnya tentang hubungan Queen dan Darren.
"manis? kami berdebat mom bilang ini sangat manis?" Queen menatap tidak percaya momnya itu.
"Ya begitulah jika dilihat dari sudut pandang mom" ucap mom Valey santai.
"Dan mom sudah menangkap garis besar permasalahan kalian. Jadi mom tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Kalian bisa belajar dari permasalahan ini baik-baik. Queen !! kamu jangan terlalu welcome dengan pria lain, ingatlah jika kamu sudah memiliki tunangan yang sekeren ini" ucap mom Valey sembari menunjuk Darren.
Darren mengangguk setuju dengan ucapan wanita paruh baya ini. Wajahnya tampak senang karena dibela oleh calon mertuanya.
"meski keren jangan berbuat seenaknya sendiri dengan memukuli seseorang apalagi didepan umum! ini negara hukum dan bukan negaramu juga! jangan sampai kau ditendang dari negara ini karena kau main hakim sendiri" ujar mom Valey dengan ketus.
Wajah Darren yang awalnya senang berubah menjadi kecut. Yang awalnya ia di junjung tinggi sampai kelangit tiba-tiba ia dihempaskan dengan sangat keras sampai membentur tanah. Sungguh perasaan ini sangat menyebalkan sekali. Dia mendengus setelah itu.
__ADS_1
"hahaha" tawa Queen pecah saat melihat perubahan raut wajah Darren.
"dan perlu kamu ingat Darren, jangan sesekali mengekang gadis berandal ini atau nanti dia akan bertambah liar dan pergi melarikan diri"
"mooom" rengek Queen yang tidak terima akan ultimatum mom nya itu.
Darren menoleh dan menatap gadis yang tengah merengek itu. Tapi apa yang dikatakan olehnya ia itu memang benar.
"jangan merengek Queen! mom bicara yang sebenarnya" ucapnya tanpa memikirkan perasaan anaknya.
Queen memanyunkan bibirnya dan melengos kesamping.
"mom memaklumi kelakuan kalian sekarang, tapi lain kali jika hendak menghabisi seseorang setidaknya carilah tempat yang aman"
"hah?" sekarang Darren yang melongo mendengar ucapan mom Valey.
"hahaha.. mom bercanda Darren. kalau begitu kalian berdua pergi sana!"
"mom mengusir kami?" tanya Queen.
"mom masih ada kerjaan, kalian berdua disini mengganggu" ucap mom Valey, dia berdiri dari duduknya lalu berjalan kearah meja kerjanya untuk bekerja kembali.
"mengganggu apanya? padahal mom yang menyuruh kami kemari" gerutu Queen yang tampak tidak terima dikatai mengganggu.
Darren berdiri dari duduknya, dia menarik tangan Queen agar ikut berdiri juga "kalau begitu kami pergi dulu aunty, selamat siang" Darren membungkukkan tubuhnya, lalu melirik Queen yang hendak protes kembali. Tangannya terulur untuk mendorong kepala Queen agar ikut menunduk juga.
"ishh.. dia mom ku! jadi aku tidak perlu terlalu formal pada-- hmmp.."
"diamlah.." ujar Darren sembari menutup mulut Queen dengan tangannya.
Mom Valey kembali melipat mulutnya kedalam, dia menahan tawa melihat kerandoman pasangan ini "kalian mau pergi kemana setelah ini?"
"kenapa memangnya?" tanya Queen setelah berhasil menyingkirkan tangan Darren dari depan mulutnya.
"tinggal dijawab saja apa susahnya"
"mom kepo sekali. ini urusan anak muda mom tidak perlu tahu! bye momku sayang" ucap Queen sembari menarik lengan Darren keluar dari ruang kerja mom Valey. Tidak lupa ia melambaikan tangannya dan memberikan flying kiss dari jauh sebelum benar-benar keluar dari ruangan ini.
Mom Valey hanya bisa menggeleng melihat tingkah anaknya itu.
**
__ADS_1