QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
murah besar


__ADS_3

Suara klakson terus terdengar sepanjang perjalanan. Umpatan demi umpatan orang-orang layangkan pada pengendara mobil yang mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan.


Mobil yang dikendarai oleh Darren itu melesat dengan kecepatan yang tinggi. Menyalip dan bahkan ia dengan berani menerobos lalu lintas.


Darren mengendarai mobil seperti orang yang kesetanan. Ia injak pedal gas sampai hampir menyentuh bagian pijakan bawah.


Ia tak mengindahkan suara klakson dari mobil-mobil lain karena satu pikiran nya saat ini adalah agar ia cepat sampai direstoran tempat dimana Queen makan bersama dengan seorang pemuda.


Jika mengingat foto yang tadi ia lihat, hatinya benar-benar terasa panas dan amarah kembali naik. Darren mencengkeram kuat kemudi dan sesekali memukulnya karena merasa kesal. "breng-sek!!"


ckiiit


Mobil berhenti tepat didepan pintu masuk. Tanpa memarkirkannya terlebih dahulu, Darren segera keluar dari dalam mobil dan segera berjalan cepat memasuki restoran. Anak buah yang mengikutinya pasti akan membereskan kekacauan yang ia perbuat demikian juga dengan mobil yang ia parkir sembarangan.


Darren terus berjalan memasuki restoran. Satu tempat yang akan ia tuju yaitu lantai tiga dimana tunangannya berada. Dimana Queen tengah makan malam bersama dengan seorang pemuda.


Darren sampai dilantai tiga, ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Queen. Matanya bertambah tajam dan tangannya terkepal dengan sangat erat sampai urat-uratnya menonjol saat melihat Queen tengah duduk disamping seorang pemuda.


Ia dapat melihat dengan jelas wajah pemuda itu yang tampak terus menatap gadisnya. Tatapan yang sangat lembut yang terkesan mendamba. Darren bisa menyimpulkan sendiri jika pemuda itu memang menyukai tunangannya itu "breng-sek!! bocah sialan itu cari mati" batinnya menggeram karena bertambah emosi.


Apalagi saat melihat pemuda tersebut hendak mengusap bibir Queen dengan tissue. Hatinya kembali panas dan bergejolak. Amarahnya hampir memuncak sekarang. Mungkin jika diibaratkan saat ini Darren seperti sebuah gunung yang hampir meletus.


Wajahnya kian memerah karena marah sekaligus cemburu.


Dengan sedikit berlari, Darren akhirnya sampai dimeja tempat Queen duduk.


greb


"apa yang mau kau lakukan?!" tanya Darren dengan suara rendahnya. Ia mencengkeram tangan Bara dengan sekuat tenaga sampai membuat pemuda itu meringis karena terasa sakit.

__ADS_1


Bara mendongak sampai melihat siapa yang saat ini tengah menyakitinya.


deg


Tatapan mata pria ini sangat menakutkan membuat Bara terpaku. Begitu dingin dan tajam. Bara dapat melihat jika pria ini sedang marah. Tapi apa yang membuatnya marah? Dia masih bertanya-tanya dalam benaknya.


Queen yang juga terkejut akan kedatangan Darren segera berdiri dari duduknya. Dia segera mendekati Darren dan mengusap tangan Darren agar ia melepaskan tangan Bara karena ia melihat Bara yang semakin meringis menahan sakit.


Akan tetapi tidak bagi Mom Emily. Ia tampak santai dan asik memakan desert sembari menatap anak dan calon istrinya yang sedang bersitegang. Wajah Queen yang biasanya ceria berubah menjadi pias.


Dia tidak terlalu terkejut melihat kedatangan Darren karena tadi ia melihat salah satu anak buah Darren yang memfoto Queen saat tengah berdiri disisi Bara. Karena hal itulah ia sengaja mengizinkan pemuda itu saat meminta bergabung untuk makan malam bersama mereka "kita lihat bagaimana Darren murka. Aku juga cukup jengah melihat tatapan mata pemuda itu" batinnya berucap.


"anda siapa?" tanya Bara sembari berusaha melepaskan tangan Darren. Dia berusaha mengingat wajah pria yang tengah mencengkeram tangan nya ini, sangat familiar tapi ia lupa.


"aku adalah tunangan gadis yang kau pandangi sedari tadi" ucapnya dengan penuh penekanan disetiap katanya . Ia sedang menandai miliknya. Agar pemuda ini tahu diri dengan tidak mendekati Queen lagi "sudah puas menatap gadisku hmm?"


Hal itu tak luput dari pandangan mata tajam Darren. Pria ini bertambah menggeram saat melihat Queen ditatap lagi oleh pemuda ini.


bug


"ahhhk-- uhuk uhuk" Bara terbatuk setelah Darren memukul perutnya. Sangat sakit sekali sampai Bara mengeluarkan sedikit darah dari mulutnya.


"ahhhk-- jangan sayang" Queen ikut memekik saat melihat Bara tersungkur dibawah.


Beberapa orang pengunjung mulai ramai dan menatap kearah mereka saat ini. Bahkan beberapa dari mereka mulai mendekat bersiap untuk merekam momen ini. Mengeluarkan ponsel untuk merekam apa yang akan terjadi selanjutnya.


"pergi kalian semua!!" pekik Darren. Hal itu membuat semua pengunjung restoran berteriak dan lari terbirit-birit. Mereka ketakutan dan tidak jadi penasaran.


Apalagi anak buah Darren yang ikut memelototi mereka semua. Mengambil ponsel yang akan mereka gunakan untuk merekam. Kemudian membantingnya. Kejadian ini sungguh sangat menakutkan bagi mereka. Dan karena hal itulah mereka memilih untuk segera pergi dari pada nantinya ikut terlibat dan terkena masalah.

__ADS_1


Jika dilihat dari penampilan dan tempramen Darren, sudah pasti mereka tahu jika Darren bukan orang biasa. Karena hal itulah semua pengunjung merasa takut sekali.


Darren kembali menyergah Bara, ia mencengkeram kerah baju yang ia kenakan "kau sangat lancang dan berani menatap tunanganku dengan tatapan menjijikan seperti tadi. Rasakan akibatnya!" tangan Darren kembali terangkat, saat ia ayunkan hendak memukul Bara tiba-tiba tangannya dicekal oleh seseorang. Hal itu membuat Darren menggeram.


Darren menoleh kearah samping, ternyata yang memegang tangannya adalah Queen. Gadis itu menatap dirinya dengan tatapan yang sendu. "Lepas Queen!" ucapnya dengan tegas. Darren melengos kesamping Karena takut goyah setelah melihat tatapan mata Queen saat ini.


"tidak... jangan pukuli dia kumohon" ujar Queen memohon. Ia akan merasa sangat bersalah jika Bara kenapa-kenapa. Walau ia bukan sosok yang penting untuknya, tapi ia adalah salah satu teman Queen. Gadis itu tentu tidak tega melihat Bara dipukuli seperti itu.


"kau bahkan membelanya sekarang. Apa kalian berselingkuh?!"


Queen memelototkan matanya. Bagaimana bisa Darren berfikiran seperti itu "tidak! aku hanya tidak mau kamu memukulnya sayang"


Darren yang sudah terlanjur emosi, bertambah marah saat Queen membela pemuda ini. Tangan yang awalnya mencengkeram baju Bara ia lepaskan. Lalu tangan yang satunya ia gunakan untuk menyingkirkan tangan Queen. "kalian! pegang Queen sekarang!" ujar Darren pada anak buah yang sedari tadi mengikutinya.


Queen dibawa mundur beberapa langkah oleh anak buah Darren.


bug bug bug


"ahhk.. jangan sakiti dia" pekik Queen. ia merasa bersalah ketika melihat Bara dipukuli oleh Darren. Queen menoleh kearah mom Emily yang hanya diam "aunty"


Mom Emily menoleh kearah Queen "kenapa?"


"bantu Bara aunty.. dia bisa mati" ujar Queen sembari memelaskan wajahnya.


Mom Emily menghela nafasnya panjang. Apalagi melihat Darren yang masih memukuli Bara dengan sekuat tenaga "aunty tidak bisa menghentikan dia saat sedang marah Queen. Hanya kamu yang bisa melakukan sesuatu agar pemuda malang itu terselamatkan"


Queen terdiam, ia yang melihat tatapan tajam seorang Darren tadi merasa sedikit gentar. Lalu memikirkan kata-kata yang terlontar dari mulut mom Darren barusan "hanya aku?"


Lalu Queen menoleh kearah Darren dan Bara. Meski ia melihat Darren yang begitu mendominasi, tapi sesekali Bara menghindari pukulan dari Darren. Mencoba membela diri meski ia tahu jika Bara tidak akan berhasil mengingat bagaimana kuatnya seorang Darren.

__ADS_1


__ADS_2