QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
butik


__ADS_3

Satu minggu setelah keputusan kedua orang tua Queen yang menyetujui rencana Darren. Kedua calon mempelai disibukkan dengan kegiatan mempersiapkan pernikahan. Memilih desainer ternama untuk membuatkan baju pengantin untuk keduanya. Mereka juga mempercayakan acaranya pada wedding organizer yang sangat terkenal agar acara yang akan diselenggarakan tak lama lagi berjalan dengan lancar.


Darren sendiri sudah menghubungi keluarganya dan mereka semua sangat bahagia akan kabar gembira tersebut. Mereka semua akan datang kenegara Queen satu minggu sebelum pernikahan diadakan.


Yang tak kalah heboh adalah semua keluarga mom Valey dan semua sahabat-sahabat dad Arsen. Mereka dengan bahagia menyambut hari bahagia Queen dan Darren.


**


Meninggalkan kebahagiaan para keluarga, disebuah ruangan yang cukup nyaman pasangan yang sebentar lagi akan mengikat janji pernikahan tengah memperdebatkan sesuatu.


"aku maunya yang ini" tunjuk Queen pada gambar gaun pengantin yang cukup menyita perhatiannya.


Yah.. Mereka saat ini sedang berada disebuah butik milik desainer yang akan membuatkan gaun pengantin untuk keduanya. Dengan katalog ditangan Queen, mereka sudah duduk diruangan itu hampir dua jam lamanya namun gaun yang hendak Queen pakai belum juga mendapatkan persetujuan dari Darren. Katalog-katalog yang butik ini miliki pun sudah diobrak abrik dan begitu berantakan hampir memenuhi meja.


"Jangan yang itu. Itu jelek sekali" komentar Darren tanpa merasa tidak enak hati karena sang desainernya masih setia duduk tak jauh dari mereka berdua.


Darren masa bodo meski pria yang terlihat begitu stylish itu beberapa kali memutar bola matanya saat Darren dengan seenak jidat mengomentari hasil rancangan gaunnya.


"oh astaga.. Aku merasa menyesal sudah mengajakmu kemari" gerutu Queen sembari merebahkan pinggangnya kesandaran sofa. Queen benar-benar merasa lelah.


plok plok


Queen menoleh kesumber suara dimana desainer gaunnya menepuk tangannya dua kali meminta untuk diperhatikan. Pria itu berdiri dari duduknya setelah beberapa lama dicueki oleh pasangan itu hanya untuk berdebat.


Queen menatap pria yang terlihat begitu cantik dengan wajah glowing itu.


"Sebenarnya model seperti apa yang anda inginkan tuan?" tanya pria itu. Dia sudah duduk bersebrangan dengan Darren dan Queen. Mereka hanya terpaut oleh meja.


Darren mencoba berfikir dan membayangkan gaun seperti apa yang akan cantik dipakai oleh calon istrinya.

__ADS_1


"Oh ayolah tuan.. Tidak perlu terlalu pemilih. Tubuh calon istri mu akan cocok memakai gaun model apapun"


Darren menatap tajam pada pria cantik yang saat ini terlihat memperhatikan lekukan tubuh istrinya. Dia menarik tubuh Queen mendekat.


"Nona.. Calon suamimu sangat posesif"


Queen tertawa mendengar gerutuan pria itu "hahaha... Dia memang sangat cemburuan. Tapi aku menyukainya" setelah berucap Queen memeluk tangan yang sedang melingkari perutnya. Mendapat pelukan hangat dari Queen, Darren melengkungkan sedikit bibirnya. Dia tak lagi kesal.


Melihat kebucinan pasangan muda itu membuat pria itu menghela nafas "keserasian kalian membuatku iri" ucapnya hanya untuk berbasa-basi agar kliennya senang.


"Kalau begitu kak Morgan harus segera mencari pasangan" ucap Queen menimpali ucapan pria yang ternyata bernama Morgan itu.


Pria itu angkat bahu cuek "belum ada yang pas untuk ku. Kalau nona Queen memiliki kenalan yang lumayan tampan aku mau sekali"


Mata Queen terbelalak mendengar ucapan Morgan " tampan? ka-kau?" dia segera menarik Darren mendekat. Jangan sampai calon suaminya terjerat oleh pria itu.


Tak bisa Queen pungkiri jika Morgan sangat tampan, dengan kulit wajah yang sangat putih dengan dihiasi sorot mata yang begitu lembut membuat penampilannya terlihat begitu menawan, terlihat sisi feminim meski hanya sedikit. Penampilan Morgan seperti seorang pendeta suci yang memiliki paras yang terlihat bak seorang malaikat.


Queen menoleh kearah Darren yang sepertinya terlihat biasa saja setelah mendengar fakta mencengangkan tersebut. Mendengar sendiri dunia yang awalnya cukup tabu untuk nya menumbuhkan perasaan unik yang cukup menggelitik akalnya. Dia sekarang mencondongkan tubuhnya kearah meja untuk memperhatikan lebih teliti Morgan karena merasa begitu penasaran.


Namun saat Queen hendak mengeluarkan suaranya Darren kembali menarik tubuh Queen agar menempel padanya kembali "fokuslah pada urusan kita saja" tegur Darren agar Queen tidak terpecah fokus pada orang lain.


Queen melirik Darren lalu mengangguk setuju. Dia tidak mau mencampuri atau terlalu kepo pada kehidupan orang lain. Meski jiwa bergosip nya meronta ingin dipuaskan, Queen memilih untuk diam saja dan kembali membuka katalog gaun kembali.


"Sayang, aku benar-benar menyerah untuk memilih gaun-gaun ini. Apa yang aku suka selalu kamu tolak" gerutu Queen sembari menutup buku yang ada dihadapannya.


Darren menghela nafas, bagaimana ia bisa setuju dengan semua gaun yang Queen pilih jika semua gaun tersebut memamerkan lekuk tubuh Queen. Belahan dada yang terlalu rendah atau punggung yang terekspos sempurna membuat Darren kesal jika semua tamu undangan yang hadir akan melihat keindahan tubuh istrinya.


Morgan yang awalnya hanya diam memperhatikan tiba-tiba saja merasa terkejut ketika tatapan mata calon mempelai pria yang ada dihadapannya secara mendadak menatap manik matanya, tatapan matanya penuh dengan intimidasi dan aura dingin seperti menyelimuti pria tersebut. Untuk sejenak Morgan sampai lupa caranya bernafas dan diam membeku.

__ADS_1


"Kuserahkan masalah gaun ini padamu!" ucap Darren dengan tegas.


gluk


Morgan menelan salivanya susah payah lalu mengangguk "ada pertimbangan lain mengenai model tuan?" dengan takut Morgan berucap. Dia takut nantinya salah membuat gaun dan kliennya kecewa dengan hasil rancangannya.


"Jangan sampai semua tamu melihat kulit cantik yang tidak seharusnya mereka lihat"


"eh?" Morgan berkedip beberapa kali karena merasa sedikit aneh.


"kau tak paham?!"


Morgan mengangguk dengan cepat "paham, saya paham tuan"


"good! Ayo pulang sayang~" Ucap Darren sembari menggandeng tangan Queen untuk membantunya berdiri, mereka berjalan bergandengan tangan saat keluar dari dalam butik.


Setelah mengantar kedua kliennya keluar dari butik, Morgan menjatuhkan tubuhnya kesofa dengan lunglai.


"Anda baik-baik saja tuan?" tanya salah satu pegawainya.


"ambilkan aku air, aku seperti hampir mati"


setelah berucap dan menerima satu botol air mineral dingin dari salah satu karyawannya. Dia meminum hampir separuhnya.


Morgan membuang nafasnya dengan panjang, rasanya ia seperti mati rasa saat tatapan tajam milik kliennya tadi seperti hendak memakannya hidup-hidup. Tatapan yang seperti serigala lapar itu hampir membuat Morgan terkena serangan jantung. Kilat tajam itu masih terngiang-ngiang padahal pria itu sudah menghilang dibalik pintu sejak tadi.


Dan petunjuk absurd kliennya itu membuat Morgan cukup pusing sekarang "Jangan sampai semua tamu melihat kulit cantik yang tidak seharusnya mereka lihat?" gumam Morgan meniru ucapan tuan Darren tadi.


"ck.. model apa itu hah? apa aku harus menutupi seluruh tubuh istrinya dengan kain?"

__ADS_1


Mengingat bagaimana bucin dan posesif nya tuan Darren, Morgan mulai bisa memperkirakan model seperti apa yang diinginkan oleh kliennya tersebut.


Morgan mulai mengambil alat tulis dan kertas untuk menggambar desain setelah menganalisis setiap kata-kata yang terlontar dari mulut tuan Darren.


__ADS_2