
''Sayang"
Suara seraknya,tercekat.
Mengusap lembut helaian rambut yang selalu tercium harum, nan maskulin.
Kali ini tidak.Haris begitu berantakan bahkan sepertinya ia baru saja terpejam beberapa detik yang lalu.
Setelah sebelumnya,ia pun melakukan hal yang sama.
Mengusap rambut panjang bergelombang milik wanitanya.
Wanita yang teramat dicintainya.
Ia terduduk lesu disamping tubuh Divya dengan airmata yang terus mengalir.
Ada desir rasa takut menyergap rongga hati membuat nafasnya terasa sesak.
"Sayang"
Ini bukanlah mimpi,suara lembut itu nyata.Bukan halusinasi semata.
"Hei,kamu tidur?"
Bahkan belaian lembut itu juga nyata bukan mimpi yang membawa harapan semata.
Haris ,pria itu berusaha kembali ke alam kesadarannya,beberapa kali mngerjapkan mata demi mengumpulkan sebagian nyawa yang baru saja terbang.
Menggenggam tangan yang mengusap rambutnya,lantas ia mendongak.
Menatap lekat wajah Divya dengan sudut matanya yang masih berlinang.
Manik coklatnya menatap nanar yang berubah binar ketika mendapati senyuman yang teramat ia rindukan akhirnya kembali terukir.
Bibir manis serta hidung mancung kesayangannya yang tertutup oksigen,masih bisa menampilkan sedikit saja rasa lega di hati yang tadi terasa sesak.
"Kau sudah bangun,sayang ?"
Membalas senyuman itu dengan menciumi punggung tangannya berulang-ulang.Tak lupa ada kalimat-kalimat syukur yang ia panjatkan dengan penuh ketulusan.
"Iya.Kamu nangis sayang? Jangan nangis,kenapa nangis?"
Hapus airmata-mu,aku merasa tersayat melihat itu.
Bagaimana seorang Presdir bisa menangis? Walau pada akhirnya akupun mengakui jika suamiku juga ternyata manusia biasa. Divya kembali mengulas senyum.
Dan kali ini ia mengusap lembut pipi suaminya yang basah karena airmata.
"Kau tidak pantas menangis,sayang"
"Aku pantas menangisi mu,kau tidak bangun dari enam jam yang lalu.Bagaimana aku bisa tenang coba !"
Bagaimana aku bisa tenang kalau melihat istriku seperti mayat hidup.Kau mengingatkanku kejadian tiga tahun lalu.Haris kembali menghujani Divya ciuman dan kali ini bukan hanya di tangan melainkan juga di seluruh bagian wajahnya.
Pria itu menekan tombol panggilan darurat agar dokter segera datang.
"Mau apa,aku baik-baik saja.Untuk apa panggil dokter ,sayang. Kalau dokter yang aku butuhkan ada disini"
Dengan senyumnya yang sedikit nakal,bahkan kata-kata itu~
~Untuk apa panggil dokter ,sayang.Kalau dokter yang aku butuhkan ada disini~
"Oh no !!!"
__ADS_1
"Hei kenapa begitu reaksinya?"
Divya membelalak tak percaya dengan reaksi berlebihan yang di tunjukkan Haris.
Pria itu terus mengatakan tidak dengan menggeleng-gelengkan kepala,ditambah gerakan telunjuknya.
Tingkah yang di luar dugaan Divya.
Astaga sayang kamu tuh kenapa sih.
Wanita itu hanya mampu memejamkan mata demi menghirup udara sesak.Bibirnya pun menahan tawa.
"Buka matamu!"
Wajah takutnya kembali muncul.Ah bahkan memejamkan mata juga bukan solusi yang baik.
Dokter datang dengan tergesa.Ia langsung memeriksa Divya ketika Haris memberi komando.Pria dengan tingkah setengah gila itu terus mengoceh.
"Periksa dengan baik,dokter !"
"Haris tenanglah" Salah satu dokter itu merasa Haris berlebihan.
"Bagaimana aku bisa tenang,bodoh !!"
Bukannya tenang Haris justru mengeluarkan kata-kata kasar terhadap dokter yang memeriksa istrinya itu.
"Maafkan sikapnya dokter Intan"
Kali ini Divya benar-benar dibuat malu dengan tingkah yang di tunjukkan suaminya.Untunglah dokter Intan itu bukan orang asing bagi mereka.
"Gak pa-pa biasa itu.Dia takut banget kehilangan kamu"
Senyum tulusnya lah yang selalu ia pancarkan yang membuat hati tenang.
"Kau pikir APA!! Aku mempekerjakan istriku sampai dia pingsan begitu?
Membebani pikirannya hingga dia stres,BEGITU ?!
Nyata-nya diagnosa-mu itu yang salah Intan !!"
Apa itu tuan Haris,kau seperti manusia tidak berpendidikan.Ucapanmu seperti orang bodoh yang sedang ketakutan.
Bukan hanya Divya,tiga orang dokter termasuk Intan yang sedang memeriksa istrimu,ditambah dua suster yang sibuk mencatat saja sampai geleng kepala mendengar itu.
"Dokter juga manusia Haris !"
Haris berdecih,senyumnya meremehkan .Membuat kepala Divya semakin pening.
Dimana kak Rudi,kenapa dia tidak muncul disaat seperti ini.
"Manusia bodoh !"
"CUKUP !!! Cukup,cukup.Hentikan ! Kau ini~ "
Mata Divya menatap jengah,apa tidak berlebihan,tidak keterlaluan sayang.
Sorot matanya menggambarkan isi hatinya.
"Jangan seperti itu ! Aku belum mau pergi darimu.Jadi,tenanglah aku baik-baik saja"
Wanita beruntung yang bisa mendapat perhatian berlebih.Benar-benar berlebihan itu mencoba menenangkan pria dengan tingkah seperti singa jantan yang mengamuk karena kehilangan betinanya.
***
__ADS_1
Semua pemeriksaan Divya berjalan dengan baik setelah suasana hati Haris melunak.
Ia terduduk disamping Divya dengan terus mengukir senyum.
"Akhirnya kau pulang hari ini,sayang"
Tiga hari berlalu, setelah melewati masa pemulihan Divya akhirnya diizinkan pulang.
Sebenarnya itu sudah harus terjadi kemarin,kalau saja Haris mau mengerti.
Ia masih merasa takut,sampai harun menambah satu hari lagi untuk pemeriksaan final.Sebelum ia merasa yakin dan puas .Tiga hari itu mungkin juga terasa kurang.
"Kau benar-benar sudah kuat,kan? Atau setelah ini kita ke luar negri periksakan lagi kondisi-mu.Kau tahu dokter disini tidak kompeten"
"Sayang!!"
Dengarkan,Haris masih saja mencela.
"Jangan begitu" Memakai jurus rengekan mungkin bisa membantu.
"Kau itu tidak sopan ya? Bagaimana pun mereka dokter loh.Sekolahnya tidak sembarangan"
Selanjutnya yang Divya lakukan ialah berakting. Mencoba bersandiwara di hadapan Haris sang suami.
"Aku tidak mau pulang"
Mata yang berangsur mulai teduh itu kembali mendelik.
"Selamanya !"
"Kamu ~!"
Baru kata itu, Divya kembali bersuara.
"Sebelum kamu minta maaf atas sikapmu terhadap para dokter dirumah sakit ini.Aku tidak mau pulang"
Pengucapan kalimat terakhir dengan sedikit dipertegas.
"Hei kau ini kenapa sayang,sikapku wajar, bukan ? Aku takut kamu kenapa-napa,kan ?"
Ah haruskah aku meminta maaf. Intan sahabatku dia sudah tahu sifatku.Semua dokter disini bahkan aku yang memberinya tempat bekerja.
Memangnya siapa yang membangun rumah sakit ini kalau bukan Papa-ku.
Dan tentunya tidak akan berjalan jika bukan karena kerja kerasku.
Begitulah Haris.
Sifat kekanakan dan seenaknya masih tak bisa dirubah.
***
Hai..hai readers terimakasih sudah setia menunggu Rahasia di balik Perjodohan terus Up episodenya.
Maafkan segala keterbatasan diri.
Selamat membaca.
Tinggalkan jejak kalian
Like,komen,Vote nya
Untuk semua terimakasih banyakš¤
__ADS_1