Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
bonchap 09


__ADS_3

Etika dan kesopanan Fadlan masih terlihat jelas ketika ia memberikan jaketnya pada Marisa.


Bukan hanya untuk menangkal hawa dingin, melainkan untuk menutupi bagian atas tubuh gadis itu yang terbuka.


Sesaat kemudian Marisa mulai bisa beradaptasi, ia kini memilih duduk di tepian gazebo.


Sekali lagi Fadlan menunjukkan sikap baiknya. Ia mengambil kain untuk menutupi bagian paha Marisa yang hanya memakai celana piyama pendek di atas lutut.


"Apa nih? " Marisa tersentak begitu Fadlan menaruh kain itu di atas pangkuannya.


"Itu namanya kain sarung~ "


"Iya tahu, buat apa? " solot Marisa. Belum selesai Fadlan bicara namun ia main potong perkataannya begitu saja.


"Buat nutupin itu tuh, " menunjuk paha dengan mulutnya.


"Gak enak dilihatnya, mengundang, "


senyumnya kembali menyeringai.


"lo udah jadi dokter tetep manis ya kayak baru ABG ," celetuknya asal. Tapi memang benar adanya.


Banyak yang mengatakan jika Marisa terlihat lebih muda dari usianya saat ini.


Tanpa merespon apapun Marisa berbaur dengan bau alkohol. Biarkanlah asal kekesalannya mereda. Marisa ingin tetap disini. Dan entah magnet apa yang menarik dirinya hingga ia tidak berkenan untuk pulang. Kembali ke Villa.


Di tengah kegalauannya Marisa melihat gitar yang berdiri di pojok gazebo itu.


Ia meminta pada salah satu teman Fadlan yang duduk paling dekat dengan benda tersebut untuk mengambilkannya.


"Lo bisa main gitar? " tanya Fadlan.


"Sedikit ,dulu. Tapi lupa. "


Fadlan disini memang sedang berkumpul dengan maksiat .Tapi mulutnya tidak berbau minuman setan itu sama sekali. Dia tidak minum atau dia belum minum ?


Melihat Marisa yang hanya tertegun saat mendongak ke atas, menatap serius. Ia yang masih berdiri di hadapannya .Fadlan mengerti.


"Tenang aja gue gak mabok. Lo gak perlu takut. Kita di sini emang berandal, tapi kita gak pernah bikin onar. Justru nongrong kayak gini buat jaga-jaga .Kita nih lagi ronda. "


Ronda.


Marisa menelisik ke seluruh sisi dimana ada banyak botol minuman. Seakan menanyakan, apa ini tidak mabuk tapi ada banyak minuman di sini ?


"Yang mau ambil .Tapi yang enggak juga gak maksa. Gue suka minum tapi jarang. Kalau gue minum gue bisa gak pulang dua hari ke rumah. "


tutur Fadlan tanpa diminta ia bercerita.


"Kenapa? " Marisa melempar pertanyaan polos namun tangan dan matanya ia fokuskan ke gitar dan jemarinya mulai menari-nari di atas alat musik itu.


"Bisa ditebas bokap leher gue pake golok." teman-temannya yang tengah asik bermain kartu pun tergelak.


"Payah !" cetus Marisa membuat Fadlan mendelik.


"Berandalan masih takut golok? " olok Marisa menohok.


"Tapi kok lo beda banget ya sama Haz ?" Marisa mulai menemukan feel di tengah aktivitasnya bermain gitar. Ia mulai melantunkan nada-nada indah.


"Beda lah, kembar gak harus sama,


kan? "

__ADS_1


Iya juga sih !


" Mungkin dua cerminan yang berbeda, satu umi satu abi. " Fadlan mengatakan itu sambil terkekeh.


"Masa sih, gak yakin aku ustadt Yunus dulunya kayak lo. "


Lantunan gitar mengiringi perbincangan keduanya. Tanpa gangguan keempat teman Fadlan. Marisa mulai banyak tanya.


"Ya iyalah, emang bukan bokap gue yang tingkahnya amburadul. Tapi nyokap. "


Marisa kembali mendongak. Fadlan yang tadi menarik bangku kecil dan kini duduk di depannya. Ia yang bahkan tidak sungkan berbagi cerita tentang orangtuanya.


"Umi Nara? " Marisa terhenyak.


"Becanda, lo! "


Mustahil, umi yang nampak kalem dan lemah lembut itu .Dia yang ternyata dulunya mantan pembalap liar. Tomboy dan urakan.


Dia yang ternyata juga seorang pilot wanita. Luar biasa.


Hebat !


Marisa mengerjap kecil, mencoba meyakini apa yang ia dengar.


"Serius lo ! "


Fadlan mengangguk yakin.


"Udah lah banyak tanya lo, mending main gitar terus nyanyi. "


Marisa pun mulai bersenandung. Mengalirkan seluruh perasaannya yang kini tengah dilanda kekalutan .


Ia menghabiskan waktu hanya dengan obrolan ringan yang tidak bermakna sama sekali. Dengan diselingi lantunan lagu dari suara merdunya.


Beri aku jalan yang indah.


Ijinkan ku lepas penat ku. "


"Hmhmhm... " Mengingat lirik.


"Tuk sejenak lelap di bahumu. "


***


Malam itupun Marisa pulang dengan di temani Fadlan. Ia yang menyetir dan mengantarnya pulang karena keadaan sudah larut malam. Pukul satu empat puluh Marisa meninggalkan tempat asing yang menahannya bersama Fadlan dan teman-temannya.


Sebelumnya Fadlan lah yang menawarkan diri untuk mengantarnya pulang.


"Suara lo bagus juga tadi. "


"Heum, " Marisa yang tengah menyandarkan punggungnya di jok mobil hanya menjawab asal.


"Lo ngantuk ya? "


"Enggak ! " jawab Marisa sambil mengerjapkan mata mengusir rasa kantuknya.


"Jangan tidur ntar gue khilaf lagi, bahaya kan. "


Fadlan melirik Marisa penuh arti.


Tangannya cukup lihai mengendalikan kemudi. Melajukannya dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


"Coba aja kalau berani! "


"Nantangin, Gak gue becanda. Masih inget dosa gue." ucapnya dengan tangan menggaruk tengkuk lehernya sendiri.


Perjalanan menuju Villa mereka tempuh hanya lima belas menit saja, mengingat tempat di mana ia kabur tadi memang tidak jauh.


"Ngomong-ngomong sampe sekarang gue belum tahu siapa nama lo ?" tanya Fadlan.


"Marisa, panggil aja Icha. "


jawab Marisa. Ia yang memilih menampar jendela mobil dengan tatapan sayu. Memikirkan apa yang akan ia katakan jika bertemu Reno dan Anita nanti di Villa.


"Teteh Icha ya?"


goda Fadlan menirukan panggilan yang saudara kembarnya berikan.


"Heum terserah !"


Setelah itu tak ada obrolan lagi hingga mobil berhenti di gerebang Villa.


Cukup lama Fadlan mengamati Marisa, ia yang tidak segera turun dan wajahnya yang terlihat khawatir.


"Ada apa? Kita udah nyampe, gak mau turun?"


Fadlan sudah membuka shielbelt -nya dan membantu Marisa melepaskan miliknya juga.


"Eum, i iya. " ia nampak gugup ketika Fadlan mendekatkan wajahnya.


"Biasa aja gugup banget sih, cuman mau bantu lo ngelepas ini. " ucap Fadlan sambil senyum-senyum.


Dan entah sudah semerah apa wajah Marisa.


"Lo suka sama Hazlan kan, pastiin secepatnya kalo iya sebelum dia~"


"Dia apa? Siapa juga yang suka. Gue boleh ya pacaran sama yang seumuran atau yang lebih muda, tapi itu mereka yang mau. Gue terima aja. Kasian! "


ketus Marisa.


Sementara ia tengah memikirkan bagaimana jika nanti berhadapan dengan sahabatnya di dalam sana .Justru Fadlan , dia hanya menambah beban dan kekesalannya saja.


Marisa keluar dari mobil, begitupun dengan Fadlan. Ia turun dan mengekor di belakang Marisa.


Sudah gadis itu katakan sebelumnya jika ia bisa masuk sendiri namun Fadlan ingin memastikan Marisa sampai depan pintu dengan aman.


Fadlan hendak belalu pulang ke pesantren tempat tinggalnya. Marisa menyuruh dia membawa pulang mobil miliknya .Meski jarak Villa ke pesantren tidak terlalu jauh akan tetapi waktu yang hampir beranjak pagi tak memungkinkan bagi Marisa membiarkannya pulang berjalan kaki.


"Lo perhatian banget sih sama aku ,teh


Icha. " senyum menyebalkannya itu membuat Marisa mengurut kening.


Apalagi saat dia memanggil namanya dengan sebuta 'teh' tidak seperti saat Hazlan yang menyebutnya Marisa akan berbinar.


" Gak usah kegeeran, gue ngelakuin itu karena lo seumuran adik gue. Dan ya supaya gue punya alasan buat ke tempat Haz besok sebelum pulang ke Jakarta. " Marisa tak ingin mengakui apapun. Sementara ini ia hanya merasa berkata apa adanya.


"Ow ok! "


Fadlan pun berlalu dengan senyum mencibir.


"Ati-ati, jangan lo jual mobil gue! "


teriak Marisa setelah Fadlan berlalu beberapa langkah di depannya, kembali menuju mobil.

__ADS_1


Dan Fadlan yang mendengar itu seketika mengangkat dua ibu jarinya.


__ADS_2