
Sesembunyi-sembunyi nya menyimpan bangkai,sewaktu-waktu tercium jua.Begitulah masa lalu seorang wanita penuh dendam seperti Rahma.
Pernikahannya yang baru seumur jagung itu kandas lantaran keluarga Ahmad tidak merestui mereka.
Tidak mau menerima bayi yang Rahma kandung sebagai bagian dari keluarga mengingat Rahma hamil diluar nikah,Ibu Ahmad menuduhnya hamil oleh banyak pria,mengusir wanita malang itu saat perutnya mulai membesar ,memisahkan ia dari suaminya.
Harus hidup terlunta-lunta tanpa sahabat, kerabat ,apalagi orangtuanya juga sudah tiada.
Rahma melahirkan putranya seorang diri saat itu,kelahiran prematur yang di karenakan pendarahan hebat serta membuat bayi nya dalam keadaan kritis.
Satu minggu setelah ia melahirkan di sebuah klinik bayi kecil itu masih belum bisa keluar dari dalam tabung inkubator.
Biaya yang harus Rahma tanggung cukup besar membuatnya terpaksa menemui ayah dari bayinya.
Namun,apa yang dia dapatkan?
Kenyataan pahit saat menginjak kembali rumah itu sudah ramai dihiasi janur kuning.
Pria itu sudah menikah lagi bahkan tanpa memikirkan bagaimana nasibnya.
Saat itu Rahma berhasil menemui Ahmad dan menceritakan semuanya.
Tapi Ahmad sama sekali tidak menggubris lantaran terlalu takut pada orangtuanya.
Sakit hati yang mendalam membuat Rahma depresi ia sempat di rawat oleh pemilik panti asuhan yang merasa kasihan terhadapnya.
Rahma melupakan bayinya sendiri,meninggalkannya di klinik begitu saja sampai dua bulan kemudian Rahma baru bisa mengingat semuanya.
Saat dia kembali menemui putra malang itu sudah tiada.Seorang suster mengatakan ia di adopsi sepasang suami istri yang kebetulan tengah memeriksakan diri di klinik itu.
Rahma berusaha mencari putranya ke kota hingga ia bertemu dengan Santoso.Tak butuh waktu lama mereka saling mengenal dan akrab satu sama lain.Merasa ada kecocokkan sampai keduanya memutuskan untuk menikah.
Rahma tak menyembunyikan statusnya dari Santoso ia berterus terang jika dirinya pernah menikah namun Rahma selalu menghindar setiap kali laki-laki yang telah sah menikahinya itu membahas tentang mantan suaminya.
Saat pernikahan Santoso sendiri,Ahmad sebagai sahabat datang bersama sang istri.Seperti takdir yang memisahkan mereka dan seperti Rahma yang tak ingin Santoso tahu takdirpun berpihak padanya.Ahmad tidak menemukan mempelai wanita dari sahabatnya itu,Rahma baru kembali dengan wajah pucat setelah Ahmad meninggalkan tempat.
Ia melihat laki-laki itu keluar menggandeng wanita barunya.
Lalu apakah disini Ahmad yang bersalah?
Atau tetap Rahma yang bersalah.
Bagaimana mungkin 30 tahun lebih Santoso tidak mengetahui hal ini.
Tidak pernahkah mereka dipertemukan ?
"Aku kehilangan bayi ku karena laki-laki itu.Dan kau menikahkan putraku dengan putrinya?"
Menunjuk Santoso dengan cucuran airmata.
"Kau masih membenci adikku,apa kau juga tidak bisa menerima Divya setelah tahu dia putrinya?"
Rahma terdiam menatap pilu,bagaimanapun ia sudah merasa Divya seperti putrinya.
"Aku tidak menyangka jika kau saudara Ahmad,pria itu ~"
Disaat bersamaan Rita datang bersama Rudi dan juga Shila.
"Pria itu apa Rahma !"
Gertak Fram tidak terima.
"~Pria itu yang menghancurkan hidupku,menjauhkan aku dari putraku"
__ADS_1
Rahma menangis sesenggukan,ia jatuh terkulai di atas lantai.
"Kau yakin dia sepenuhnya bersalah?"
Rahma kembali mendelik dengan tatapan nanar namun menyiratkan ketidaksukaan.
"Ahmad menganggapmu pergi tanpa alasan,karena itu dia setuju menikah lagi setelah tiga bulan kepergian mu,selama tiga bulan Ahmad terus mencari mu, kau tahu? Tidak"
Fram mulai tersulut meski nada bicaranya masih terdengar santai.
"Ahmad menolong mu,dia tidak menjauhkan putra mu darimu.Apa kau tahu itu? Tidak."
Rita memegang lengan suaminya yang sedari tadi menuding Rahma.
"Sudah waktunya"
Bisik Fram melirik istrinya.
"Aku yang mengadopsi putra mu dari klinik,kau menelantarkannya begitu saja selama dua bulan.Untung saja Ahmad masih ingat dimana kau melahirkan bayi itu dia memberitahu ku dan aku datang kesana bersama Rita"
Panjang lebar penjelasan Fram membuat Rudi yang tengah kebingungan menyaksikan keributan ini mendongak,matanya sukses membulat sempurna demi mencerna perkataan ayahnya.
"Kau tidak pernah jauh dari anakmu seharunya kau bisa merasakan itu"
"Tolong ku mohon bersihkan hatimu dari membenci adikku"
Fram mengatupkan kedua tangannya di hadapan Rahma.
"Sampai kapan kau membenci ayah dari putra mu sendiri"
"Haah,haaah haaah"
Nafas Rahma tersenggal-senggal.
"Haris,Haris sayang dimana Divya?"
"Dia pergi Mam,semua ini karena ini"
Haris menjatuhkan dua lagi foto yang sama,foto Ayah dan Ibu Marisa yang tak lain Foto orangtua tua Divya juga.
Serta surat yang terbang mengenai kaki Santoso.
Santoso meraih itu dan membacanya.
"Jadi Marisa itu Clarisa putri Ahmad?"
"Kau tega melakukan kejahatan seperti ini Rahma !"
"Ini kau lihat ini !"
Santoso juga melempar berkas perkebunan ke hadapan Rahma.
"Aku bersalah aku minta maaf"
"Kau membunuh putri sahabatku !"
"Tidak !"
Sergah Rahma cepat,ia menggelengkan kepala menyangkal.
"Tidak !"
Meremas rambutnya sendiri.
__ADS_1
"Bukan aku yang membuatnya celaka,bukan aku !"
Mulutnya terus meracau .
"Bukan Om !"
Suara Rudi membuat semua menoleh ke arahnya.Ia yang sedari tadi terdiam mematung di samping Shila yang terus mengusap punggungnya.
Helaan nafas panjang serta tangannya yang menyeka sudut matanya Rudi kembali bersuara.
"Ini !"
Rudi menyerahkan selembar kertas pada Santoso.
"Itu undangan persidangan Laras,aku sudah bereskan akar permasalahan,dia sudah mengakui semua kejahatannya.
Dia yang menyuruh anak buah tante Rahma menembak ban mobil yang dikendarai Marisa saat itu."
Tangis Rahma pecah seiring Rudi terus bicara,itu yang terjadi bukan dia yang melenyapkan Marisa,bukan.Bukan dia pelakunya.Namun,dia yang harus terus dihantui rasa bersalah.
"Tante di minta datang sebagai saksi"
Pungkas Rudi.
***
Sementara itu di tempat lain Divya tengah terduduk di lantai matanya sembab karena tangis yang tak henti-hentinya.
Mengapa Divya harus terjebak cinta yang salah ?
Inikah karma dari perbuatan orangtuanya,ataukah semua memang kesalahannya sendiri.
Divya mengacak seluruh isi ruangan mencari apa saja yang bisa menenangkan pikirannya.Tempat lusuh dan kumuh itu sudah satu tahun kosong tak berpenghuni.
Rumah yang ia tinggalkan sejak ayahnya tiada.
Matanya terus memandangi tumpukkan kertas dan album foto.
Satu lembar yang menarik perhatiannya.
( Kau bidadari yang tuhan turunkan untuk menemui-ku.
Mengisi kekosongan hati,menemani setiap detik yang sunyi.
Vero-ku yang manis,aku tak pandai berkata-kata
aku juga tidak mengerti hubungan semacam apa ini.
Kita dekat namun terhalang tembok
besar perbedaan.
Aku pergi untuk kembali,tunggulah aku datang lagi kepadamu.
Untuk mengikis tembok besar itu.
Untuk menghilangkan segala perbedaan itu.
Aku mencintaimu dalam diam gadisku.
Kejarlah impianmu maka aku akan mengejarmu kelak.
(Pranando)
__ADS_1
Airmata Divya jatuh bercucururan kala melihat bukti dari perkataan Nando,mengapa baru hari ini ia tahu semua ini, bahkan ini sudah terlambat.
Terlambat !