Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Sekretaris baru part 2


__ADS_3

Sudah sepuluh menit berlalu dari sejak Haris memasuki ruang kerjanya untuk pertama kalinya lagi setelah ia koma.


Aktivitasnya kini hanya membolak balikan berkas di atas meja.Mengusak file tak berdosa itu dengan tatapan kesal hingga kusut tak beraturan.


Pikiran ia seakan melayang kemana-mana.Perkataan Divya tadi sukses membuatnya terlihat kesal.


"Sekretaris Divya cowok ! Ganteng"


Sorot mata tidak suka Haris mengarah ke sofa dimana ada Divya disana tengah duduk memerhatikan tingkah dan ekspresi wajahnya.


Haris yang kini mengetuk-ngetuk meja dengan ballpoint sementara Divya tersenyum penuh arti.


Sesaat kemudian Divya berjalan menghampiri Haris,berjalan memutar dan berdiri di belakang kursi tempat dimana Haris duduk.


Mengusap dan memijat pundak suaminya perlahan,Divya melingkarkan sebelah tangan di leher Haris dan menyandarkan dagu-nya di bahu Haris sambil berbisik.


"Kenapa sayang?"


Berbicara di samping telinga Haris membuat laki-laki itu sedikit melirik tanpa bicara sepatah kata pun.


"Hei,kenapa sih ?"


Divya menggerakkan halisnya,dengan wajah memberenggut.


"Gak ada !"


"Gak ada?"


Divya mengulang perkataan singkat Haris.


"Iya gak apa-apa"


jawab Haris masih acuh.


"Mana dia.Sekretaris mu !"


tanya Haris kemudian yang membuat Divya mengukir senyum di bibirnya.


Senyum misterius itu tercetak di balik punggung Haris .


Jadi seperti inilah tuan muda kalau cemburu,gelisah tidak karuan.


"Sebentar lagi,dia masih nyiapin berkas laporan dulu,kamu kesini mau lihat itu kan ? Hasil kerja keras ku"


Jawaban Divya tentu saja menyisakan senyum sinis di bibir Haris.


"Jadi orang seperti itu yang kamu pilih sebagai sekretaris ? Lamban"


Dengan kesal Haris melempar ballpoint di tangannya,lalu menghempaskan kembali punggungnya ke sandaran kursi.


"Hei sayang ,dia tidak lamban.Kau yang tiba-tiba minta datang ke kantor sore ini"


"Jadi kan tidak sempat menyiapkannya. Hari ini dia juga cuti,makanya baru datang saat aku mengabarinya kalau kau mau kesini tadi"


Haris menatap Divya yang berjalan ke depan meja kerjanya dengan pandangan tidak biasa.


Meja kerja yang selama empat tahun ini menjadi singgasana sang ratu di hadapannya.


Tidak lama kemudian suara dari balik pintu terdengar ,membuat Divya menoleh begitu pun Haris,ia terperangah lalu memposisikan duduknya dengan tegap.

__ADS_1


"Itu pasti dia !" seru Divya antusias.


"Kau siap sayang ?"


Divya menahan tawa setelah mempersilahkan orang itu masuk ke ruangannya.Telebih melihat ekspresi wajah Haris yang ketus.


Seakan dia tengah mengatkan betapa senangnya kau mendengar dia datang.


Dan ya !


Laki-laki muda nan tampan itu masuk,ia berjalan menghampiri Haris dengan langkah mantap tanpa keraguan.


Dan benar baru saja dia menyapa tuannya itu,Haris justru hampir


melayangkan tinju.


"Kau !!"


Kepalan tangan Haris mengudara,namun ia justru menepuk pundak laki-laki itu dengan diiringi gelak tawa dan hembusan nafas kasar.


Divya pun ikut tergelak sambil menggelengkan kepala.


Bodoh Haris siapa laki-laki yang ia cemburui.


Muda nan tampan.Mungkin Divya sudah lebih memilih dia sebagai selingkuhannya selama Haris terbaring lemah,itu akan jadi pertimbangan Divya jika saja yang menjadi sekretaris pengganti Rudi itu bukan~


"Dimas,ya ampun.Huh !"


Haris mengusap wajahnya dengan bodoh.Pria tampan itu Dimas adik iparnya sendiri.


Dia bahkan tengah bingung,terpaku melihat kakak dan kakak iparnya justru menertawakan kedatangannya.


Dimas masih mematung,ia menyerahkan berkas laporan yang susah payah ia kerjakan namun mendapat sambutan tidak terduga seperti ini.


"Kalian juga ngetawain aku ,ya? Ada yang aneh ?"


Dimas menilik penampilannya sendiri,ia terburu-buru tadi hingga tidak sempat memperhatikan apa yang ia kenakan,sudah benar atau ada yang kurang.Atau mungkin ada yang salah hingga kedua orang di depannya tertawa begitu keras.


Tapi,tidak ada yang aneh menurutnya.


Ia mengenakan pakaian yang baik,dasi juga rapih.Rambut keren,lagi celana dan sepatunya pun benar ada pada tempatnya,tidak ada yang terbalik atau tertukar.


Dimas yang masih bingung akhirnya memberi isyarat pertanyaan pada kakaknya itu.


Divya menunjuk Haris dengan memanyunkan bibirnya.


"Cemburu" ucap Divya tanpa suara.


Sementara Haris sudah kembali fokus dengan berkas laporan kinerja selama empat tahun terakhir ini,berkas yang baru saja Haris terima dari Dimas.


Ia tidak memperhatikan apa yang di lakukan istri dan adik iparnya itu.


"Kenapa?"


Dimas mengerutkan dahi,melempar pertanyaan tanpa suara.


"Kakak ipar mu cemburu pada mu sayang"


Haris mendelik,

__ADS_1


"Dia pikir Sekretaris baru yang kakak maksud bukan kamu"


"Memang kakak mengatakan apa?"


tanya Dimas.


"Kakak mu bilang Sekretaris barunya jelek dan gak keren"


dengus Haris menyandarkan tubuhnya di sofa.


Dimas tergelak kecil ia mengerti sekarang,kak Divya-nya mengatakan hal yang sebaliknya dari apa yang di katakan Haris.


"Segitu-nya sih kak "


ucap Dimas terkekeh.


Haris hanya tersenyum tipis dan kembali memfokuskan diri.


"Jadi selama aku sakit kalian mendapat banyak tender,lalu ini cabang baru juga di Bali"


tanya Haris,menyingkab satu persatu file tersebut.


"Heum,iya sayang di Swiss juga kemarin,yang ini kan berkasnya,Dim?"


Divya menunjuk dan menanyakan itu kepada sang adik.


"Iya yang itu kak"


jawab Dimas sembari menunjuk map yang sama yang di tunjuk kakaknya.


Haris mengakui kerja keras istrinya memang luar biasa,dia pintar dan juga ulet padahal jika Divya mau ada banyak anak buah yang bisa mengerjakan semua itu.


Namun Divya memilih turun tangan langsung di bandingkan harus selalu mengandalkan orang lain.


Dimas Ibrahim pun begitu,setelah lulus kuliah dan sejak hobby-nya di tentang keluarga ia paham bagaimana dirinya harus bisa maju bukan hanya karena pengaruh keluarga kakak dan kakak iparnya.


Dimas sosok laki-laki yang cerdas dan bertanggungjawab setidaknya itulah yang di nilai Divya dari sang adik.Pertimbangan itu pula yang membuat Divya mengangkatnya sebagai Sekretaris baru-nya dan itu atas persetujuan ayah mertuanya,Tuan Santoso.


Ia juga tidak ingin gegabah,terlebih Dimas adalah adiknya.Tidak ingin membuat mertuanya salah paham dengan memasukannya ke perusahaan.


Kinerja Dimas membuktikan jika ia layak di pertimbangkan.


Setelah ini ,setelah Haris kembali terserah dirinya.Semua keputusan ada padanya.Divya tidak akan memaksa jika Dimas ingin hidup mandiri tanpa bayang-bayang kesuksesan Haris.


Dimas sosok yang bertanggungjawab.


Benar !


Meski dengan begitu ia harus merelakan perasaannya sendiri.


Lalu apa yang menyebabkan ia menikahi gadis muda yang bahkan usianya saja masih di bawah Ameera adik bungsunya.


"Dim,berapa lama kamu menikah?"


Haris membuka perbincangan di luar jalur pekerjaan,ia begitu penasaran dengan kehidupan adik iparnya ini.


Sementara Dimas terlihat enggan menjawab jika bukan karena Divya yang memintanya mengatakan sejarah kehidupannya selama Haris tak ada.


Biarlah semua menjadi CCTV bagi Haris agar ia tidak terlalu buta akan apa yang telah ia lewatkan.

__ADS_1


__ADS_2