
Keesokan harinya Marisa sudah bangun pagi-pagi sekali. Dengan memakai pakaian olahraga ia sedang bersiap. Mengikat tali sepatunya. Tiba-tiba Anita datang memeluknya dari samping.
Anita terisak di balik pundak Marisa.
Ia terus meminta maaf soal kejadian semalam. Ia mengaku tidak bisa mengendalikan diri sampai tega mendorongnya.
"Aku minta maaf ya,Cha ? Soal semalam. "
Anita menyandarkan dagunya di bahu Marisa.Wajah sembabnya terlihat memohon. Tangannya melingkar di tubuh Marisa.
"Aku yang minta maaf sama kamu, sayangku. " dengan nada gemas Marisa mencubit pipi Anita, sahabat terbaiknya. Mengusap airmata di pipi nya. Anita yang selalu ada untuknya . Bagi Marisa persahabatan mereka tidak mudah goyah hanya karena seorang laki-laki.
"Gara-gara aku, kamu sakit hati, kan. "
Marisa menoleh.
"Gak, bukan gara-gara kamu. Kamu juga kan gak tahu soal perasaan aku, perasaannya Reno juga."
Marisa memang tidak pernah tahu perasaan Reno terhadap dirinya. Namun tentang apa yang Anita rasakan pada Reno sudah bisa Marisa tebak.
Karena hal itu pula ia sengaja tak berani berharap lebih. Marisa selalu berusaha untuk tidak terbawa perasaan saat Reno begitu baik dan selalu ada untuknya .
"Oh ya, dia ada, kan?"
"Heum... " Anita mengangguk.
"Kamu semalam kemana, Cha?
Ayah kamu nelpon loh. Dia marah-marah sama Reno. "
Tuan Haris semalam memang menelepon .Beliau sudah pasti murka.
Mendengar hal itu Marisa segera mengeluarkan ponsel dari dalam saku.
Ia mengirim pesan pada ayahnya. Marisa berjanji akan pulang sore nanti.
Setelah itu Marisa pamit pada Anita untuk mengambil mobil di pesantren.
Walaupun Anita nampak bingung, ia tidak berniat menjelaskan apapun.
"Aku akan jelaskan nanti, kenapa mobilku ada disana siap-siap saja kita balik ke Jakarta sore ini. "
Saat Marisa mengatakan niatnya balik.Ketiga temannya yang lain sudah ada di sana.
Ia hanya melirik mereka sekilas lalu pergi.
Di sepanjang perjalanan Marisa mengingat apa yang dikatakan Fadlan semalam.
" Lo suka sama Hazlan, kan. Kalau iya, pastiin secepatnya sebelum dia ~"
Marisa sempat memotong perkataan Fadlan. Namun ,ia mengatakan nya lagi sesaat sebelum Fadlan kembali pulang setelah mengantarnya ke Villa.
Sebelum Haz berangkat ke Kairo minggu depan. Dia bakal kuliah disana untuk waktu yang cukup lama.
Marisa tentu kaget mendengar hal itu.
Ada hal yang membuat Marisa malu juga semalam. Hanya karena mendengar suara benda jatuh ia bahkan sampai refleks memeluk Fadlan.
Memalukan!
__ADS_1
Bagaimana kalau dia cerita sama Haz. Soal semalam. Auto malu abis aku.
Sesampainya di depan pesantren Marisa mengenakan selendang yang semula ia lingkarkan di pundaknya, menutupi kepala.
Marisa melangkah mantap.
Namun, saat melihat mobil mewahnya itu tengah menjadi pusat tontonan para santri dan santriwati. Ia teringat sesuatu. Haz, pasti akan bertanya mengapa mobil nya ada di sini. Lalu jawaban apa yang akan Marisa berikan.
Bodoh!
Dengan mengizinkan Fadlan membawa mobilnya kesini itu akan membuat Haz tahu apa yang di lakukannya semalam.
Marisa menepuk jidat.
Menggaruk kepala tak gatal. Meratapi kebodohannya sendiri.
Benar saja Marisa nampak gugup menjawab saat Haz mempertanyakan hal itu. Dan yang lebih sialnya lagi ada Fadlan juga sekarang membuat keadaan semakin serba salah.
Sambil berlalu melewati Marisa, Fadlan seakan sengaja berbisik di telinganya .
"Gugup banget sih, kayak ketahuan selingkuh aja. " Fadlan dengan gaya nya berlalu meninggalkan Marisa yang masih mematung. Haz, dia hanya mengernyit tidak mengerti .
Kurang ajar, FADLAAAN!!
"Semalam aku keluar cari angin Haz, terus gak sengaja ketemu Fadlan, dia nemenin aku pulang.Nganterin maksud aku. Terus ."
"Terus? "
"Terus ya karena aku gak tega biarin dia pulang jalan kaki, jadi aku minta dia bawa mobilku kesini."
"Tapi dia gak berbuat macam-macam sama teteh, kan. Maaf saudara kembar aku kadang suka seenaknya. "
"Gak kok, Fadlan juga baik sama seperti kamu. Ya walaupun agak gituh, "
Marisa tersenyum geli.
Marisa dan Haz mengobrol cukup lama setelah menghadiri pengajian. Menanyakan soal keberangkatannya ke Kairo. Lalu ia juga pamit untuk pulang ke Jakarta nanti sore.
Hanya satu yang tidak Marisa katakan. Yaitu, soal perasaannya pada Haz, ia belum sepenuhnya yakin.
Marisa juga tidak ingin jika itu akan mempengaruhi konsentrasi nya belajar nanti.
Menimba Ilmu di negri orang untuk waktu sekitar empat tahun.
" Kamu sendiri yang kuliah kesana, Haz? Fadlan? " tanya Marisa.
Mereka mengobrol di taman sembari memerhatikan para santri yang tengah belajar.
"Iya teh? " jawab Haz.
"Fadlan ,dia milih buat kuliah
di Jakarta. " imbuhnya lagi.
"Oh gitu, kirain dia juga ikut ke Kairo. "
ucap Marisa.
"Mana mau Fadlan kuliah disana, teh"
__ADS_1
Haz, terkekeh kecil.
***
Hazlan, pemuda berusia 19 tahun yang entah memiliki magnet apa hingga Marisa begitu tertarik.
Wajahnya yang ke arab-arab'an ia dapatkan dari sang ayah. Ustadt Mahesa Yunus.
Di pesantren tadi Marisa sempat terkagum-kagum ketika ia memberikan ceramah di hadapan para santri. Masya allah. Beda sekali dengan yang ia lihat semalam.
" Mungkin dua cerminan yang berbeda. Satu abi satu umi. " lalu perkataan Fadlan semalam lah yang kembali berputar di memori otaknya.
Marisa bahkan sampai mencari jawaban dengan memerhatikan sosok umi Nara yang terlihat kalem.
Sama seperti seorang ibu pada umumnya.
Mantan badgirl?
Kurasa tidak ada yang janggal, dia mirip dengan adiknya.Yaitu tante Adara.
Sama -sama kalem.
***
Siangnya Marisa sudah kembali berada di Villa. Bersiap dengan mengemasi barang-barangnya. Memastikan tidak ada yang tertinggal disana.
"Semalam kamu darimana, Cha? "
Shintia menanyakan itu sambil terus beberes barang bawaan.
"Gue, keluar aja, cari angin. "
Ada Reno dan yang lainnya juga di sana ikut mendengarkan.
"Kata Anita lo tidur di sofa ya, emang pulang jam berapa? "
"Jam dua kayaknya. Oh ya, semalam lo yang nyelimutin gue ya ,Nit? Thanks. "
"Enggak kok, semalam aku udah tidur. Aku gak tahu kamu pulang jam berapa. "
Marisa menatap satu persatu temannya.Ia mendapati Reno yang terdiam dengan senyum tipisnya ketika tatapan mata Marisa mengarah. Itu cukup menjadi jawaban bahwa dialah yang tahu kepulangannya semalam.
"Makasih. " ucap Marisa datar. Yang hanya mendapat anggukan kecil sebagai jawaban Reno. Ada banyak hal yang ingin dia tanyakan tapi, ah entahlah Reno merasa tidak berhak menanyakan apapun.
Ia cukup tahu diri.
Semalaman Reno menunggu Marisa pulang. Ia begitu khawatir.
Namun, rasa khawatirnya berubah cemburu tatkala melihatnya pulang dengan pemuda itu.
Bahkan saat Marisa memeluknya. Hati Reno begitu sakit. Ia sampai tidak berani lagi sekedar menyambut Marisa pulang.
Reno pergi masuk kamar. Dan keluar lagi membawa selimut saat Marisa sudah terlelap di atas sofa.
" Gue juga nemuin ini, di selimut pas beresin tadi. " Shintia menyodorkan sesuatu yang ia temukan di sofa.
Jaket Fadlan, ya ampun kenapa Marisa sampai lupa kalau niatnya ke pesantren tadi juga untuk mengembalikan itu ke yang punya.
Marisa menepuk jidatnya sendiri menyadari kebodohannya.
__ADS_1