
Sedalam-dalamnya lautan manusia masih bisa menyelami dan mencapai dasarnya.Namun,berbeda dengan hati manusia,tidak ada satu orang pun yang akan tahu bagaimana isi hati dari orang lain.Hanya dirinya dan tuhan yang tahu.
Segala sesuatu bisa saja berubah,entah dengan alasan yang pasti ataukah hanya alasan yang dibuat-buat.
Itulah yang terjadi.Marisa enggan pulang ,ibu sudah membujuknya untuk kembali tinggal di Desa,meninggalkan hirup pikuk yang penuh sesak ,udara Ibukota.
Kenapa memaksaku meninggalkan Haris ? Itu yang jadi pertanyaan Marisa.
Ibunya sendiri enggan menjawab.
Sudah berhari-hari sejak ibu pulang,tak ada kabar apapun yang Marisa terima dari sang calon mertua.Padahal,biasanya Mama Haris akan menelpon sekedar menanyakan kabar atau meminta Marisa datang mengunjungi rumahnya.
Ini tidak.
Apa benar beliau tidak bisa terima kalau aku ini hanya anak angkat?
Tapi apa salahnya?
Atau karena ayah mantan narapidana?
Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benak Marisa,sore ini ia menatap datar layar ponselnya.Masih berharap ada seseorang yang menghubungi lewat benda pipih itu.
Derrrtt
Sedetik kemudian,menunjukkan nama yang ia tunggu sedari kemarin tak ada kabar.
"Haris !"
Berbinar matanya menatap tulisan di layar.
"Siap-siap ya aku jemput kamu,kita makan malam di tempat biasa"
Isi pesan yang dikirim Haris sontak membuat Marisa hampir lompat kegirangan,ia bergegas masuk kamar mengganti pakaian lalu berhias di depan cermin.Memoles wajahnya sedemikian rupa.
"Jangan berlebihan kau jadi aneh ! Aku tidak suka kamu terlalu cantik.Hapus lipstik mu ! Nanti banyak yang melirikmu, kau sengaja ya mau menggodaku dandan seperti itu atau mau buat aku cemburu kalau nanti banyak mata keranjang yang menatap mu !"
Deretan perkataan yang sering Haris lontarkan setiap mereka hendak pergi tiba-tiba kembali berputar di otak Marisa.
"Ah jangan pakai lipstik ya padahal aku suka,warnanya kan bagus"
Menilik riasannya di depan cermin.
"Tuh,kan bagus" Memiringkan wajahnya.
"Ah tapi nanti Haris ngoceh,kan ribet ya.Dia mah aneh"
Menghapus kembali polesan di bibirnya.
"Aku di cemburui? Ada-ada saja,siapa yang melirikku coba.Aku yang cemburu tahu,apalagi kalau ada perempuan yang ternyata kenal bahkan ngaku-ngaku pernah deket sama kamu "
Gerutu Marisa yang masih berkutat dengan aktivitasnya berhias sambil sesekali melirik jam menanti kedatangan pangeran berkudanya yang tampan.
Sekian menit kemudian,suara pintu di ketuk dari luar menandakan sang pujaan hati telah datang.
"Hai !!"
"Aku pikir kamu lagi nangis?"
Haris sudah masuk dan duduk di sofa kecil,di samping pintu.
"Kenapa?"
"Nunggu aku lama"
"Sini !!"
Tangannya meraih pinggang Marisa agar ia duduk dipangkuan Haris.
"Tadi sedikit macet,kamu cantik"
"Udah tahu !"
"Hahaha,basi ya ?"
__ADS_1
"Apanya?"
"Kata-kata aku"
"Gak juga"
Marisa tersipu malu.
"Mau minum?"
"Gak !"
"Berangkat sekarang ?"
Tanya Marisa.
"Sebentar"
"Kenapa sih,ngeliatinnya gitu banget.Ada yang aneh ya?"
"Kalau aku boleh milih ,aku lebih baik nahan laper dan begini aja sama kamu"
Haris makin mempererat pelukannya ,Marisa dengan dres putih selutut nampak anggun dan selalu cantik di mata Haris.
"Enak aja ! Aku yang gak mau"
Mencebik kesal.
Percayalah itu hanya pura-pura.
"Kenapa?"
Semakin menatap lekat wajah wanita pujaan hatinya.
"Tuh denger tidak cacing di perutku sudah minta diisi,sayang.Laper"
Dengan wajah lucunya berhasil membuat Haris tergelak.
"Ok !"
Tidak akan ada makan malam sebelum Haris mendapat satu ciuman dari wanitanya.
Ah wanitanya ya?!
"Sayang,maaf ya akhir-akhir ini aku sibuk.Aku jadi sedikit cuekin kamu"
Ucap Haris kini sudah berada di dalam mobil,ia mengemudikan kendaraannya sendiri menuju sebuah resto.
"Sedikit ?"
Marisa mencebik, "Ini terlalu banyak untuk kau bilang sedikit tuan Haris"
Dengan tangan terlipat di depan dada.
"Hahaha,gadisku kalau ngambek tambah cantik"
Mencolek jahil dagu gadisnya.
Menggoda Marisa adalah hal paling menyenangkan,melihat rona merah di pipinya itu sungguh menggemaskan.
Hari ini akan aku tebus semua waktu yang terbuang karena kesibukan-ku,terimakasih untuk selalu ada bersama-ku.
Batin Haris,ia tersenyum sendiri melirik Marisa di sampingnya.
Sampai di depan Resto, entah ini biasa atau memang sudah direncanakan,pelayan sigap menyambut dua orang anak manusia yang sedang dimabuk cinta.Begitu keluar dari mobil,bak pangeran Haris membukakan pintu lalu menuntun Marisa masuk ke tempat khusus.
Ia memapah Marisa yang berjalan dengan penutup mata melingkar di kepalanya.
Haris membuka penutup mata itu begitu sampai di tempat yang disulap sedemikian rupa menjadi tempat yang begitu indah.
Menakjubkan.
Lilin dan bunga-bunga menghiasi meja.
__ADS_1
"Happy Anniversary sayang "
"Waw !! Ini !"
"Indah !"
"Kamu ingat"
Marisa nampak takjub dengan pemandangan yang ada di hadapan matanya.
Ia masih tertegun menatap lurus.
"Tentu,sayang "
Meraih jemari Marisa menuntunnya duduk di kursi.
"Mana mungkin aku lupa"
Tersenyum penuh kebanggaan,melihat kembali binar di mata Marisa yang tadi sempat redup.
"Aku pikir kau lupa?" Gadis itu tersenyum bahagia.
"Sekarang katakan padaku ! Apa yang kau pikirkan,heum?"
"Apa? "
"Kau sedang memikirkan sesuatu kan? Ayo katakan !"
"Ih ini sejak kapan kamu jadi peramal,sok tahu !"
"Sejak aku mengenal-mu".
Haris terkekeh geli.
"Dasar !" Kembali mencebik kesal.
Merekapun larut dalam suasana penuh suka cita,Marisa tak lagi memikirkan perubahan sikap Rahma sang calon ibu mertua. Untuk sejenak ia melupakan semua kemelut di dalam benaknya.
***
"Marisa !"
Haris tertegun menatap wanita cantik dalam balutan dress putih selututnya yang nampak anggun,pas di tubuh rampingnya.
Kenangan seakan kembali saat melihat pemandangan indah di hadapan matanya sekarang.
"Marisa ?"
"Eum..." Haris nampak gugup,ia beberapa kali mengusap tengkuknya sendiri.
"Kau panggil aku apa tadi ?"
Wanita itu perlahan berjalan menghampiri Haris yang masih berdiri mematung di samping tempat tidur,ia baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono-nya.
"Hei...Tuan tampan,kau panggil aku apa tadi !" Bahkan langkah kakinya seakan mengintimidasi.
"Sekali lagi aku mau dengar !"
Dengan bertolak pinggang ia terus merangsek, mengikis ruang gerak Haris.
"Maaf ,sayang " Senyum bersalahnya sudah ia tunjukkan.
"Heum" Masih tak mau berhenti,hingga Haris terperangkap,ia yang berjalan mundur seiring wanita itu terus maju mendekat.
Bukk punggung Haris menabrak tembok di belakangnya tepat di samping nakas.
"Sayang,maaf. Habis kau pakai baju itu sih"
"Apa ? Ada masalah dengan bajuku ?"
Melirik baju yang ia kenakan,dengan sengaja mengibas-ngibaskan rok di hadapan Haris.
"Divya sayang,I'm so sorry !"
__ADS_1
"Kau sedang merindukan Marisa?"
Divya melingkarkan tangan di leher Haris.Bicara dengan nada dibuat-buat.Seperti seorang wanita penggoda, membuat laki-laki di hadapannya nyaris tak dapat menelan salivanya sendiri.