
Pagi hari semua aktivitas kembali di mulai,Divya sudah bangun pagi-pagi sekali.Mandi dan berganti pakaian.
Perlahan ia mengusap kepala Haris.
Haris menggeliat demi merasakan tangan halus menyentuh dan mengusap mahkota-nya,menyisir rambutnya dengan belaian yang selalu ia rindukan.
"Heumm"
Geliat Haris merentangkan kedua tangannya ke samping.Beberapa kali mencoba mengumpulkan kembali sukma-nya yang tertinggal di alam mimpi.Dilihatnya ada bidadari cantik yang kini tengah duduk di sisinya dengan senyuman paling indah .
Senyum yang selalu sukses membuatnya merasa tenang dan bahagia.
"Sudah lebih baik,sayang ?"
tanya Divya mengusap bahu Haris.
"Tentu ! Aku pasti baik-baik saja ada kamu yang rawat aku,kan"
"Eum,gitu ya"
Divya kembali mengulum senyum.
"Gombal banget sih.Mandi gih ! Aku udah siapin airnya"
Haris bangun dari posisinya,ia kini duduk di sisi Divya,memeluk wanita baik hati itu erat.Dengan manja Haris menyandarkan kepala di bahu Divya.
"Gak boleh ya gombalin istri sendiri,heum "
Haris menempelkan dagunya di pundak Divya.
"Gak boleeeh !!!"
Suara cempreng itu Haris hapal,sudah beberapa minggu ini mengusik gendang telinganya.Suara cerewet khas Marisa kecil putrinya yang selalu jahil.
"Gak boleh,ayah jangan nyender-nyender ih,awas !"
Usir Marisa yang naik begitu saja ke atas tempat tidur,mendorong Haris dan memisahkan kedua orangtuanya .Gadis cantik itu duduk di antara Haris dan Divya.
"Ica sayang anak ayah kamu kok jahat banget sih sama ayah,"
Haris pura-pura terisak pilu.
Memeluk Marisa dengan erat,mencubit dan mengelitikinya sampai anak itu tertawa terpingkal-pingkal.
"Ampun ayah ampun !"
Gelak tawa nya selalu mampu mengusir kepedihan di hati Haris.
Rasanya masih seperti mimpi saat terbangun dari tidur lantas ada seorang anak kecil memanggilnya ayah.Terlebih menjahilinya seperti saat ini.Jujur jika ini hanya sebuah mimpi maka ia tak ingin terbangun dari tidurnya,biarkan ia bermimpi lebih lama lagi.
Tapi tidak ! Ini nyata.
Benar-benar nyata.
"Cemburuan kamu Ca !"
"Ini hukuman buat anak yang suka cemburu plus gangguain terus bunda sama ayahnya"
Lagi Haris mengelitiki Marisa.
"Kayak siapa ya cemburuan nya"
ledek Divya menggoda suaminya itu.
"Eh mirip kamu kan?" timpal Haris sambil terkekeh geli.
"Enak aja,mirip ayahnya tahu !"
dengus Divya tidak terima.
"Suruh ayahnya mandi Ca,bau itu kamu gak kebauan apa ?"
__ADS_1
seru Divya beranjak menuju meja rias sambil menutupi hidung.
"Iya ih pantesan bau,ayah jorok.Bangun tidur itu mandi jangan gangguin bunda tahu"
Gerutu Marisa bersungut-sungut.
"Hei sayang ayah tidak mengganggu bunda,bunda kamu yang nahan ayah disini,gak bolehin ayah mandi.Gimana dong ?"
Haris memasang ekspresi wajah pasrah.
"Bohong Ca,ayahmu itu bohong"
timpal Divya tidak terima.
"Hei kalian ! Kenapa jadi ribut sih !"
Marisa dengan tingkah lucunya bertolak pinggang sambil setengah duduk di atas kasur.
"Ica sayang ayah mau tanya. Kamu mau punya adik,kan?"
Haris tersenyum nakal sambil memegangi pundak Marisa.
Melirik wajah Divya dari balik cermin.
Wajahnya yang mulai bersemu merah .
"Mau punya adik gak?"
Haris mengulang pertanyaan yang sama.
"Sayang!"
Divya yang merasa terganggu dengan ucapan Haris membalikkan posisi duduknya menghadap mereka berdua yang tengah membicarakan sesuatu tentang adik.What .Adik !
"Kenapa ? Bener, kan ? Aku tanya Ica dia mau punya adik atau tidak"
Haris mengedipkan matanya,menggoda Divya.
"Memangnya cara buat punya adik itu gimana,Yah ?"
"Tuh kan dipertanyakan,udah dong jangan bahas itu di depan anak kecil.Kamu tuh ! Ica tuh pinter loh,nanti kalau dia ngelantur ngomong yang enggak-enggak sama yang lain,malu tahu !"
dengus Divya lagi,memberenggut.
"Kamu mandi cepetan aku harus ke kantor"
pungkas Divya mengakhiri drama pagi hari ini.
"Lagi ? Setelah aku ada disini kamu mau ke kantor,sayang"
Haris tiba-tiba melompat turun dari atas tempat tidurnya.
"Ya iya dong" jawab Divya enteng.
"Kalau aku gak ngantor terus siapa yang urus semuanya ?"
Ia bahkan balik melempar pertanyaan.
" Ya aku,aku kan udah disini aku bisa balik kerja,kamu di rumah aja,ok!"
perintah Haris dengan telunjuk terangkat memperingatkan.
Divya menghembuakan nafas panjang,melihat tingkah Haris yang kekanakkan.Tapi syukurlah setidaknya dia sedikit melupakan kenangan tentang Fram.
"Ya sudah sana mandi !"
"Ica ayo kita keluar,anak bunda belum sarapan kan?"
ajak Divya pada putrinya.
"Iya bunda ayo !"
__ADS_1
Marisa menyambut uluran tangan bundanya sambil menjulurkan lidah ke arah sang ayah.
Haris yang di tinggal di kamar pun lantas segera mandi setelah kepergian Divya dan putri mereka.
Setelah mandi dan bersiap Haris datang menuruni tangga.Ia memegang dasi di tangan kirinya.
"Sayang "
Divya mengerutkan kening demi melihat dasi itu.
"Seperti biasa,sayang "
Haris mengerti arti tatapan istrinya,ia sengaja membawa dasi itu untuk meminta Divya memasangkannya.
"Ya ampun kamu tuh.Sarapan dulu lah.Ini nanti saja"
Lantas Divya meraih dasi itu menyimpannya di sandaran kursi makan.
Tuan besar menggeleng-gelengkan kepala melihat itu,putranya masih saja tidak bisa memakai dasi sendiri bahkan setelah ia menjadi seorang ayah.
"Apa ayah selalu begitu ? Merepotkan bunda ku dengan memintanya memasangkan dasi"
"Oh tuhan,memasang dasi saja ayah tidak bisa"
gerutu Marisa kecil bersungut-sungut.
"Ayahmu itu memang payah,sayang"
ledek Rahma.
Mereka pun larut dalam suasana ceria di meja makan.
Pagi ini Rahma meminta Haris untuk membatalkan jadwalnya.
Ia berniat mengajak Haris ke suatu tempat.
Haris yang di desak pun terpaksa pasrah dengan permintaan ibunya.
Menjelang siang di tempat inilah mereka semua berada.
Pemakaman !
Nisan bertuliskan nama Frambudi Ibrahim itu nampak penuh dengan taburan bunga di atasnya.
Terang saja saat Haris datang bersama Divya, Papa Santoso juga Mama Rahma plus si cerewet Marisa yang tak mau di tinggal di rumah,
sudah ada Rita ,bersama Dimas dan seorang wanita disana.Bukan Ameera.
Siapa dia ?
Haris tidak mengenalnya.
Tanpa mempertanyakan kehadiran wanita itu Haris mulai berjongkok di samping makan Fram.Ia berdo'a begitu hikmat.Matanya mulai sedikit berlinang.
Sekarang hanya seuntai do'a yang bisa ia panjatkan untuk mereka yang sudah lebih dulu menghadap sang Illahi.
Disini di tempat ini bukan hanya Haris yang larut dalam kesedihan,Divya juga tengah sibuk menabur bunga serta do'a di makam ayah dan ibunya yang terletak di samping makam Fram.
Divya tersenyum ketika mendapati adik laki-lakinya menyentuh bahu.
"Dimas "
"Iya kak"
"Gimana keadaan istri kamu sekarang ?" tanya Divya perhatian.
"Eum,sudah lebih baik" jawab Dimas acuh.
"Istri ?"
Haris yang mendengarkan perbincangan adik dan kakak itu bangkit lalu menghampiri istri dan adik iparnya.
__ADS_1
Ia sekilas melirik wanita yang tengah berdiri di samping tante Rita.
Gadis kira-kira seumuran Ameera itu mungkin yang di maksud Divya sebagai istri Dimas.