
"Jadi bagaimana keadaanmu sekarang,sudah lebih baik" Mama Rahma membuka percakapan pagi ini.
Sudah hampir satu minggu setelah Divya keluar dari rumah sakit.
Hari ini jadwal check-up yang kedua kali.
"Sejauh ini baik-baik aja Ma,hari ini aku mau ke rumah sakit sama mba Shila,sekalian dia juga mau check-up kandungannya"
Penuturan Divya mengenai janjinya dengan Shila untuk pergi ke rumah sakit,bersama-sama.
"Yah,hari ini.Mama pengennya temenin kamu loh,apalagi ada Shila juga.Tapi, Mama sudah ada janji sama temen arisan Mama"
Nampak jelas gurat kecewa di wajah Rahma,entah karena alasan apa tiba-tiba ia bersikap seolah-olah kesehatan Divya adalah hal paling penting bagi dirinya saat ini,atau karena Shila juga akan ke rumah sakit bersama menantunya itu,sejauh ini Rahma memang dekat dengan Shila.Beberapa kali dia selalu menyebut jika Shila juga menantunya dan anak yang di kandungan itu cucu pertamanya.
"Mama tumben" Seloroh Haris yang sama herannya.
"Segitu perhatiannya sama Divya"
"Loh gak boleh memangnya ya?"
Protes Rahma.
"Ya gak apa-apa aneh aja"
"Jangan gitu sayang" Ucap Divya.
"Haris memang susah buat di bohongin,selalu curiga begitu" Papa Santoso terkekeh, ikut menimpali.
"Kamu minta vitamin yang bagus sama dokternya ya,Mama pengen cepet punya cucu dari Haris" Dengan tegas dan sedikit penekanan Rahma mengucapkan kalimat itu.
"Iya Ma" ~ "Ma..!"
Keduanya mengeluarkan suara bersamaan,jika Divya mengiyakan keinginan Mama,berbanding terbalik dengan Haris yang selalu tidak suka Mama bersikap seperti itu .
Lagi-lagi Rahma menyinggung masalah cucu,Haris takut jika Divya merasa berkecil hati.
"Loh kenapa sih,Ris "
Mama mendelik,apa salahnya benarkan lebih baik dia menginginkan Divya hamil daripada berpisah dengan putranya.
Masih untung Rahma mau mengubah sikap dinginnya kepada Divya tidak seperti di awal pernikahan mereka.
Namun,bagaimana pun,Rahma tetaplah Rahma yang kadang kata-kata dia selalu seenaknya saja tanpa memikirkan perasaan orang lain.
"Bagus Mama mau punya cucu dari istri-mu ini,atau kamu mau sebaliknya? Mama bilang kalau Mama gak mau punya cucu dari dia,begitu?"
"Rahma !!"
Santoso yang sedari tadi diam mendengarkan argumen yang mereka bicarakan,pun akhirnya tersulut.
"Sudah,cukup.Bukan begitu maksud putra-mu,bagaimana pun kau harus menjaga perasaan menantu kita"
Papa mencoba menjadi penengah diantara mereka.
Haris yang jengah menyimpan sendok kasar,mengakhiri sarapan padahal makanannya baru masuk beberapa sendok saja.
Memilih pergi meninggalkan meja makan,Haris menaiki anak tangga bersamaan dengan datangnya Rudi bersama Shila.
Kedua orang yang baru saja tiba di kediaman Santoso itu berpapasan dengan Haris di ujung tangga dan melihat wajah kesal Haris.
"Sayang "
__ADS_1
Shila menyikut lengan Rudi.
"Heum"
"Kau lihat itu,Haris kenapa ya? Mukanya ditekuk begitu"
Rudi mengedikkan bahu.
Shila sempat berhenti,
menatap punggung Haris hingga ia masuk kedalam kamar.
Lalu melanjutkan lagi langkahnya mengikuti Rudi sampai di meja makan.
"Pagi Om,Tante ! " Seru Shila menghampiri Rahma memegang pundaknya.
"Pagi sayang ! Ya ampun tante kangen" Rahma menyambut Shila,mencium pipi kanan kiri.
"Pagi Divya!"
Kali ini mengalihkan pandangannya kepada Divya,gadis itu nampak tertunduk sambil mengaduk-ngaduk makanan di hadapannya.
"Hai mba~"
"Kita jadi ke rumah sakit bareng,kan?"
Bukan itu sebenarnya yang ingin Shila tanyakan.
Tapi,sudahlah mempertanyakan hal yang mustahil dijawab hanya buang-buang waktu saja.
"Ayo duduk kalian juga makan" Ajak tuan Santoso kemudian.
"Kita udah sarapan tadi Om"
Kali ini Rudi yang bicara.
"Haris,dia tidak makan?" Bertanya dengan hati-hati.
"Sudah kok" Divya melirik piring bekas suaminya itu makan tadi,makanan yang bahkan masih banyak,tak sampai setengahnya ia habiskan.
"Aku ke kamar dulu ya"
Seru Divya disambut anggukkan dari Rudi ,Rahma melirik kepergian menantunya dengan sudut mata penuh arti.
Di kamar,Haris tengah bersiap untuk berangkat ke kantor saat Divya masuk.
Ia masih berusaha memakai dasi,Divya yang mengerti sigap membantunya.
"Sayang "
"Heum"
Tanpa mengubah ekspresi wajahnya Haris menatap pantulan diri di depan cermin.
"Kamu jangan gitu sama Ma~"
"Berhenti bersikap terlalu baik,aku gak suka kamu didesak terus seperti itu !"
Potong Haris,menyela ucapan istrinya.
"Tapi Mama gak desak aku kok"
__ADS_1
"Kamu pikir aku gak tahu? Kamu gak perlu hitung berapa kali Mama bilang mau cepet punya cucu dari kamu.Aku udah tahu.Dan harusnya Mama tuh bisa jaga perasaan kamu"
"Sayang,hei...aku gak apa-apa.Aku gak pernah masalah.Lagian itu wajar,kan.Seorang ibu pengen menantunya cepet ngasih cucu.Bener apa kata Mama,aku bahagia loh Mama bisa terima aku seperti sekarang ini.Sungguh !!"
Divya memang sangat-sangat bahagia jika Mama mertuanya itu menerima dia,apa lagi penuturannya yang ingin sekali mendapat cucu darinya itu sungguh di luar dugaan mengingat sikap Mama di awal pernikahan mereka.
"Aku takut kamu tersinggung"
Menangkup kedua pipi Divya,menatap manik bening yang selalu meneduhkan itu,lekat.
"Tidak,sama sekali,sayang"
Senyumnya yang selalu membuat Haris begitu tenang.
"Kamu mau berangkat kantor,kan? Ayo aku antar ke bawahSini tasnya aku yang bawa"
"Heum...Kamu yakin gak mau aku antar ke rumah sakitnya"
"Gak usah sayang aku kan sama mba Shila"
Merekapun berjalan menuruni tangga,Haris merangkul pundak Divya.
"Aku boleh jenguk Melodi?"
Hati-hati Divya mengatakan keinginannya itu,bagaimanapun Melodi putri Nando dan Haris bisa saja marah karena hal itu.Tapi,keinginannya menjenguk gadis kecil itu begitu kuat.
"Heum..." Haris menghentikan langkahnya beberapa saat,menjangkau pandangan dengan istrinya.
"Heum apa sayang ? Boleh?"
"Ya.Asal gak usah ketemu sama dia"
Dia yang di maksud adalah ayah dari bayi kecil bernama Melodi,Pranando Wiryawan.
Percayalah Haris selalu tidak suka jika menyangkut pria itu.
"Ok ! Aku gak akan sampe di tempat Melodi kalau ada dia disana,aku janji sayang"
Mengangkat kedua jari tangan meyakinkan.
"Hati-hati,kabari aku kalau ada apa-apa"
"Siap" Hormat bak peserta upacara.
Senyum mengembang di bibir keduanya.Haris mengusak rambut Divya.
"Isshh rusak nih" Divya memberenggut kesal karena rambutnya dibuat berantakan.
***
Sampai di rumah sakit,Shila juga Divya menjalani pemeriksaan sesuai prosedur rumah sakit untuk Shila sebagai ibu hamil,sementara Divya melakukan program kehamilan sesuai yang Mama Rahma inginkan.
Setelah selesai keduanya keluar berjalan menuju ruang perawatan bayi untuk menemui Melodi.
"Divya tunggu !"
Suara yang tidak asing memanggilnya.
Dokter Intan setengah berlari mengejar dari arah belakang.
"Lihat ini !!"
__ADS_1