
"Ternyata sikapmu itu masih seperti dulu, Vero.
Masih suka menyembunyikan kesedihan dari orang lain"
"Sok kuat dan tegar padahal rapuh.BODOH! Kau itu butuh laki-laki setegar baja untuk menopang beban hidup mu,sayang nya aku sudah tak berkesempatan lagi"
Gumam Pranando bergantian menatap punggung Divya yang masuk kedalam rumah dan telapak tangannya sendiri ,tangan yang telah menyelamatkan wanita bodoh itu dari kegilaannya.
Setelahnya ia memarkirkan mobil,lalu pergi menelisik jalanan menuju kediamannya di Ibukota setelah mengantar Divya pulang dari danau senja itu.
***
"Haris ! Cari istrimu nak,bawa dia kesini Mama mau minta maaf "
"Mama mau minta maaf pada Divya"
Saat itu,saat Rahma baru mengetahui Divya adalah putri Ahmad mantan suaminya ia tak lagi mempermasalahkan asal dia kembali dan mau memaafkan kesalahannya.
Haris pergi terburu-buru, memarkirkan mobilnya dengan tergesa .Mengemudi ala Tuan Haris yang tidak bisa di katakan baik.Mantan pembalap jalanan itu melajukan kendaraannya dengan sangat cepat.Menyalip beberapa kendaraan lain di depannya dengan tidak menghiraukan keselamatannya sendiri.
"Kamu pergi pasti karena mengira kita ini saudara,kan"
Bergumam sendiri di belakang kemudi,mencengkram erat pegangan itu sambil terus menelisik sisi kiri kanan jalanan yang ramai.
Lalu lalang para manusia dengan tujuan mereka masing-masing.
Adakah istrinya diantara kerumunan ?
Berharap tak terjadi apapun padanya.
"Kenapa kau harus seperti Marisa,pergi tanpa mencari kebenaran"
"Bukankah kau berjanji tidak akan meninggalkanku ?"
Memukul kemudi lagi,menekan tombol klakson dengan tidak sabar menunggu lampu lalu lintas berpindah warna.
"Kamu dimana sayang ?"
Haris terus mendial nomor ponsel Divya,berkali-kali namun tak mendapat jawaban.
"Angkat telpon ku !"
"Balas chat ku Divya !"
Melempar benda pipih tak berdosa itu dengan kesalnya ke samping.
Tempat duduk itu,biasa ada senyum disana.Biasa ada canda tawa disana.
Ada wajah cantik uang selalu berubah merona setiap ia menggodanya.
Sementara itu Rudi masih diam mematung,begitupun Fram.Duduk tertunduk .
Rahma masih terisak,Rita dan Shila mengusap punggung demi menenangkannya.
Santoso berdiri membelakangi mereka,menatap pantulan sinar matahari dari air kolam yang begitu tenang.
Wajah-wajah tak berdosa ini harus menanggung kebodohannya.
Kebodohan Santoso yang tak mengetahui masa lalu istrinya sendiri.
Bagaimana mungkin waktu tiga puluh tahun tak berpihak kepadanya ?
Bayangan dua sosok anak manusia yang suci itu nyata menari-nari di atas air kolam.
"Verocil kau mau ice cream,aku bawakan untukmu ada dua kau pilih yang mana ?"
Tangan mungil nan kokoh itu menyodorkan dua cup ice cream pada gadis yang di panggilnya Verocil.
"Strawberry atau coklat"
Pemuda kecil berusia tujuh tahunan itu sudah nampak tampan di usianya.
"Aku suka strawberry tapi aku mau coklat"
Gadis kecil itu bimbang,menyebut rasa strawberry dengan mulut cadelnya.
"Kalau begitu kau ambil saja semua"
__ADS_1
"Kalau aku ambil semua kakak bagaimana?"
Vero kecil yang polos itu memang menggemaskan.
"Aku bisa mencicipi sedikit darimu,kan.Kau mau berbagi denganku?"
Haris kecil yang tampan tersenyum manis.
"Tidak mau !"
Gadis yang lucu itu memberenggut,merebut ice cream dari tangan Haris.
"Ya sudah,anggap itu hadiah terakhir ku"
Berjalan membelakangi gadis tiga tahun yang mulai menikmati ice cream nya.
"Kenapa ? Kakak mau pelgi lagi ya?"
Verocil atau Vero kecil atau juga Divya putri Om Ahmad sahabat Papa Santoso itu cemberut.Menghentikan suapan ke mulutnya.
"Aku sudah mulai sekolah besok dan mungkin aku akan jarang menemui mu"
Mengusak rambut Verocilnya.
"Kakak akan melindukan ku nanti?"
"Tentu saja"
"Jangan lupakan aku ya kak !"
"Kau juga"
Santoso menitikan airmata demi mengingat hari itu,hari terakhir Haris putranya menemui Ahmad dan putrinya, Divya.
Lembar album foto di tangannya ia dekap erat di dada.
Moment yang seharusnya indah,saat kedua anak itu dipersatukan.Kedua keluarga saling menatap penuh kebahagiaan.Hal yang tidak terjadi saat ini.Dan justru sebaliknya sesuatu yang tak pernah ia duga, kenyataan itulah yang ada dan harus ia terima.
"Jadi Rudi putra-ku?"
Rahma terisak lagi,ia selalu merasa dekat dengannya dan ternyata dia adalah putranya bersama Ahmad,hati dan ikatan batin antara ibu dan anak memang tak pernah bisa dibohongi .
Rudi yang selalu bisa membuatnya tersenyum saat sedih.
Membuatnya tenang dikala gundah.
Membuatnya bahagia dikala bimbang.
Selalu meyakinkan apapun yang Rahma ragukan.Selalu membenarkan apa yang keliru.Rudi,dialah putra Rahma yang ia lahirkan dalam keadaan terpuruk.
Dia yang
setampan Haris dan segagah Haris.
"Apa Mama boleh peluk putra Mama?"
Rudi menatap Fram dan Rita bergantian.
Kedua orang yang selama ini menjadi orangtuanya.
Ia baru menjawab setelah Mama dan Papa nya itu mengangguk.
Rudi mendekati Rahma dan memeluknya.
Mama Rahma mengusap lembut rambut putranya yang selama ini ia cari.
Tangispun kembali pecah.
Rahma meminta Rudi untuk senantiasa
membantu Haris,menyatukan kembali cintanya bersama Divya.
***
Malam ini setelah kedatangan Rudi yang menjemputnya Divya diam termenung di samping Rudi.
Menampar jendela dengan perasaan gelisah.
__ADS_1
Ia memegangi perutnya sendiri.
"Sakit perut ?"
"Nggak !"
Jawab Divya melengos melempar pandangannya,menerka kemana arah mobil ini melaju.
"Kak "
"Heum"
"Aku lapar"
Divya semakin mengeratkan tangan di perutnya.
"Kau mau makan apa?"
"Siomay kayaknya enak"
Divya tersenyum memelas.
"Ngidam kamu ?"
"Laper bukan ngidam !"
Wanita hamil itu memberenggut kesal.
Setelah menelisik mencari penjual siomay di pinggir-pinggir jalan akhirnya mobil berhenti di depan deretan ruko yang sebagian sudah tutup karena malam yang mulai larut.
Rudi kembali dengan bungkusan plastik di tangannya.Dua porsi siomay serta dua botol air mineral.
"Ini cukup?"
Tanya Rudi begitu kembali duduk di bangku kemudi,menyodorkan kantong belanjaannya pada Divya.
"Eum,cukup !"
Divya tersenyum tangannya sudah mulai membuka bungkusan plastik itu.
"Bukain !"
Ia menyodorkan air mineral,meminta Rudi membukakan penutupnya.
"Dasar manja"
Rudi mengusak rambut Divya seperti kebiasaannya.
"Pelan-pelan nanti tersedak !"
"Kakak tidak makan?"
"Buat kamu aja,kakak gak laper"
"Ini kan ada dua kak"
"Sengaja ku belikan dua,untuk calon keponakan kakak satu"
Menunjuk perut Divya dengan sudut matanya.
"Eum" Divya mengangguk paham.
Entahlah ia merasa rindu jajanan pinggir jalan seperti ini.
Menikmati siomay yang di jual di emper toko,rasanya enak terakhir Divya menikmatinya kala masih bekerja di perusahaan Wiryawan Group.
Selesai makan Divya duduk bersandar tak ada obrolan lagi diantara mereka.
Mobil melaju bukan ke arah rumah Santoso yang di tuju.
Entah Rudi akan membawanya kemana,Divya masih belum bisa menebak.
Matanya sudah mulai mengantuk hingga ia pu. tertidur pulas.
"Sepertinya mulai saat ini aku akan direpotkan dua ibu hamil"
Gumam Rudi pelan setelah memarkirkan mobilnya.
__ADS_1