Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Memalukan


__ADS_3

Satu minggu sudah berlalu. Ameera sudah dibawa suaminya ke Kota S.


Kota dimana mbok Jum pengasuh Haris tinggal di sana, rencana mengunjunginya setelah pertunangan Ameera tertunda lantaran Divya yang dinyatakan hamil oleh dokter.


Kali ini Haris tak ingin menyia-nyiakan waktu, ia berangkat menuju kediaman mbok Jum ditemani Rudi.Sembari mengantar Ameera. Sementara urusan kantor Dimas yang handle.


Divya tidak bisa ikut lantaran kondisinya di trimester pertama yang masih sangat rentan .


Walau Divya sudah berusaha membujuk Haris tapi nihil, pria yang selalu saja panik itu mana mungkin mengizinkan dia ikut, kalau terjadi sesuatu di sana sudah dipastikan jika tuan muda ini akan mengamuk dan memarahi semua orang yang ditemui, seenaknya.


Lebih parahnya lagi setelah itu dia sama sekali tidak merasa malu ataupun bersalah. Jangankan minta maaf sikapnya saja seolah tidak terjadi apapun.


Dimas juga Adara sudah pindah dari lima hari lalu.


Lima hari tinggal bersama dengan adik bungsu-nya setelah dia menikah.


Dimas pun harus merelakan Ameera pergi jauh tanpa bisa mengantarnya.


Haris kembali setelah tiga hari di Kota S. Sebelumnya Di sana ia menginap di sebuah losmen bernuansa jawa. Desain bangunan dan interiornya penuh dengan barang-barang khas suku Jawa yang kental akan adat dan budaya.


Lantunan musik tradisional mengiringi keduanya begitu masuk ke dalam losmen tersebut.


Dalam benak Haris bertanya-tanya mengapa harus menginap di tempat seperti ini. Tidak adakah hotel di dekat sini? Namun, begitu ia masuk rasanya tak ingin keluar lagi, nyaman dan damai ,sunyi penuh ketenangan yang tidak bisa ia dapatkan di kota besar seperti Jakarta.


Saat dia kembali pulang,


Setibanya di rumah ia langsung dicerca banyak pertanyaan.


Bagaimana keadaan mbok Jum di sana, dia baik-baik saja? Apa dia sehat? Bagaimana dengan anak-anaknya apa mereka menyambut mu dengan ramah? Apa mereka mengurus mbok Jum dengan baik?


Satu per satu Haris berusaha menjawab dengan sabar walau rasa lelah melanda ia tetap meladeni Divya, kalau tidak maka sudah dipastikan ibu hamil ini akan marajuk lantas Haris terpaksa harus tidur di tempat lain dan bukan di kamarnya sendiri. Seperti beberapa hari yang lalu saat keinginan Divya menengok bayi Raisa tak mendapatkan izin.Akhirnya ia terpaksa tidur sendiri di kamar atap.


Haris memang egois kalau sudah dibutakan api cemburu. Ia tidak memberi izin lantaran takut jika Divya akan bertemu Pranando di sana.


Mengingat dia adalah suami Raisa.


Sampai dengan hari ini Divya sudah membujuk Haris dengan cara apapun namun masih tidak membuahkan hasil, ide gila pun muncul entah dari otak bagian mana Divya dapatkan. Ia meminta Raisa agar menginformasikan kapan saja Pranando tidak ada di rumah hingga ia bisa leluasa menengok bayi-nya.


"Hahaha. Kenapa memangnya Vy? "


Suara tawa renyah yang ia dapatkan kala sambungan video call sudah berlangsung beberapa menit dengan Raisa,ia memperlihatkan bagaimana keadaan jagoan ciliknya yang tertidur pulas.


"Kau ini, aku serius Ra"


Divya memberenggut kesal. Bagaimana lagi cara agar ia bisa segera menggendong bayi mungil yang menggemaskan itu.


"Kau tahu kan suami ku aneh-nya seperti apa"


Lagi-lagi Divya cemberut. Ada Haris di sana yang terkekeh. Divya menjulurkan lidah ke arahnya.


"Masih saja gitu sampai sekarang? "


Di sebrang sana Raisa menggelengkan kepala tak percaya.


"Harusnya aku yang cemburu sekarang, apalagi saat tuan mu koma, suami ku lebih sering di tempat mu kan, buat nemenin Marisa putri mu itu"


"Hei"

__ADS_1


Raisa tidak berhenti mengoceh meski Divya sudah mengisyaratkannya untuk diam. Menempelkan telunjuk di bibirnya.


"Oow dia ada disana? "


Raisa tergelak. Haris pun juga mendelik.


"Iya iya sorry .Kesini saja besok. Pranando juga bakal pergi keluar kota untuk dua hari ,kalau perlu menginap di sini. Itupun jika diizinkan oleh tuan mu. Hehe"


"Oh ya dia ada di sini ,ayah dari anakku siapa tahu kamu mau ngobrol Vy"


Raisa terkekeh geli.


"Matikan ponsel mu!!! "


teriak Haris begitu ia mendengar suara tawa Pranando di sebrang sana .


Ah memalukan.


"Sayang! "


"Heum"


Haris hanya menjawab itu, bahkan tanpa mendongak,keterlaluan.


Apa dia tidak bisa bersikap lebih dewasa ? Cemburu macam apa itu !


"Kau dengar, kan tadi. Dia tidak akan ada di rumah besok jadi izinkan aku menengok bayi Raisa. Ok ! "


Divya masih tidak menyerah sejauh ini, dia akan lakukan apapun agar bisa keluar rumah menemui sahabatnya yang baru saja melahirkan itu.


"Dia bilang apa tadi? "


"Apa? "


"Tadi dia mengatakan apa, coba


ulangi! "


Bukan saja keterlaluan, pertanyaan yang ia minta pun cukup membingungkan.


Apa yang tuan muda ini tanyakan,tidak jelas.


"Cemburu ada batasnya tuan! Kau pikir memangnya aku ini secantik apa sampai kau cemburui mati-matian seperti itu .Benar-benar memalukan"


Jeritan hati Divya bahkan sampai ke telinga langit di sana.Malaikat mendengarkannya sambil tertawa.


"Dia lebih sering disini menemani kau dan putri kita saat aku sakit, dia mengabaikan istrinya demi


diri mu? "


Astaga tuan, kalau pun iya apa itu mungkin? Apa mungkin Raisa masih mau bicara dengan Divya. Aneh!


"Marisa putri kita kan? "


Pertanyaan Haris nyata menggores hati Divya. Serendah itu kah dia di matanya.


Walaupun Haris mengatakan itu tidak dengan serius tapi tetap saja membuat Divya kecewa.

__ADS_1


"Apa maksud mu sayang? Kau meragukan ku? Kau meragukan Marisa kita? "


Dengan jengkel Divya menghentakan kaki dan pergi ke tempat tidur meninggalkan Haris yang masih terpaku dengan Laptop di hadapannya.


Bagaimana Haris bisa mempertanyakan hal itu sekarang?


"Tidak bukan begitu sayang"


sergah Haris langsung berdiri dari tempat- nya yang tadi terduduk santai sambil mengecek kinerja Dimas selama dia pergi.


"Sayang "


Divya langsung menutupi tubuhnya dengan selimut begitu Haris


mendekat.


"Sayang"


Haris menyingkab selimutnya, memegang pundak Divya. Menempelkan dagunya di sana.


"Kau marah? "


Desir nafas Haris terasa hangat di leher Divya.


"Kau pikir apa? "


sentak Divya menggedikkan bahu.


"Marisa itu anak mu! "


sentaknya lagi ketika Haris baru saja akan bicara.


"Kau masih meragukannya?"


Divya bangun dan duduk di tepian ranjang.


" Tanya Mama sana apa yang Pranando lakukan kalau dia kesini. Karena Mama yang selalu mengundangnya datang ke rumah ini.Dia bahkan tidak pernah bicara padaku kalau bukan aku yang memulai"


cerocos Divya, tanpa memberi kesempatan pada Haris .


"Iya iya ok aku percaya, aku hanya bercanda tadi"


Haris sudah merentangkan tangannya meminta Divya masuk kedalam pelukannya.


"Bercanda mu tidak lucu"


Divya melipat tangan di dadanya.


"Jadi kau tidak mau memelukku ? Tiga hari tidak ada aku disini kau tidak merindukan ku? "


"Heum" Divya mendengus.


"Empat tahun aku kuat hidup sendiri apalah artinya tiga hari"


"Baiklah aku akan mengantar mu besok menemui Raisa" ucap Haris mengalah terus berdebat dengannya hanya memperburuk keadaan .


Divya pun menghamburkan diri ke pelukan Haris.

__ADS_1


"Jangan bersikap seperti itu, aku malu"


"Jangan cemburu berlebihan begitu,aku malu "


__ADS_2