Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
80.Hari sabtu


__ADS_3

Tak dapat dipungkiri jika rasa bahagia mampu membuat orang yang berada di dalamnya ikut terlena,hingga terkadang bisa melupakan sesuatu hal yang sebelumnya di anggap sangat penting.


Seperti saat ini rasa bahagia yang dirasakan Divya menantu konglomerat,Tuan Santoso, mungkin sudah begitu sempurna,hingga ia lupa tentang rasa penasarannya terhadap apa yang menjadi penyebab suami dan ibu mertuanya berselisih paham .


Pertanyaan yang sebelumnya ia layangkan terhadap Haris pun menguap begitu saja.


Ia bahkan lupa jika di balik kebahagiaannya kini ada hati yang terluka.


"Pagi Ma...". sapaan Divya terhadap Mama mertuanya,seperti biasa.


setiap pagi di meja makan.


Mama duduk sendiri pagi ini,Papa Santoso masih belum pulang dari mengurus pekerjaannya di luar kota.


"Pagi sayang" senyum hangat yang nampak tulus tanpa dibuat-buat.


Eh kok? tumben. sampe nyengir kuda dibuatnya,Divya seakan gugup menerima sikap Mama mertuanya yang tiba-tiba memanggilnya


sayang.


Sayang?


Biasanya setiap Divya datang menyapa paling juga di jawabnya "Heum pagi" sudah ,begitu !


Walaupun sedikit acuh namun itupun sudah cukup bagi seorang Divya Veronika.


Daripada harus mendapati keacuhan yang teramat sangat seperti saat ia baru datang ke rumah ini .


Menyedihkan.


"Haris mana Nak ? dia belum turun" tanya Mama sebagai pembuka perbincangan mereka.


Mbok Jum yang melihat keakraban mulai terjalin di antara mereka pun ikut tersenyum.


Semoga ini terus seperti ini selamanya ya Tuhan,pemandangan yang saya harapkan sejak dulu.


Nak Haris pasti sudah sangat bahagia.


Tuan besar tidak salah memilih menantu.


Bisik hati Mbok Jum.


"Belom Ma..tadi masih di kamar mandi"


"Oh ya ! tumben"


"Mungkin karena sekarang hari sabtu Ma.. " Menyendok makan,memasukannya ke dalam mulut.Sudah suapan yanb ke tiga kalinya.


"Kan memang begitu biasanya"


"Iya sih,tapi hari ini..." Mama menjeda kalimatnya,terlihat menimbang apa kata yang tepat diucapkan selanjutnya "beda"


"Eum..." masih sambil mengunyah


" Beda gimana maksud Mama?" Penuh selidik.


"Beda aja..." Ragu,


Sepertinya Haris masih belum cerita apa-apa. Mama


Beda apanya sih. Divya.


"Gak usah dibahas,Kamu gimana sama anak saya?" Mengalihkan pembicaraan.


"Gimana? eum... gak gimana-gimana Ma,kami baik-baik saja" terang Divya.

__ADS_1


Mama melirik sedikit tanda kissmark di leher menantunya,walau sudah ditutupi bedak masih tetap terlihat.


Ya jelas kalian baik-baik sekarang,saya bisa lihat itu.


"Kamu sayang sama Haris?"


"Tentu Ma"


"Kamu bisa menerima Haris dengan segala kekurangan juga kelebihannya?"


Mama masih belum puas.


"Divya rasa Mama agak sedikit terlambat menanyakan ini pada Divya.Tentu saja dari awal Divya bisa terima anak Mama apa adanya,sungguh.Justru mungkin saya yang tidak pantas bersanding dengannya" Meletakkan sendok di piring,lalu meraih gelas berisi air,meminumnya hingga tinggal separuh.


"Ya..." Rahma tahu jika dia memang terlambat menanyakan ini.Tapi,bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.


"Jaga dia baik-baik" Menatap serius "jaga putraku"


Akhirnya itulah yang terucap dari bibir ibu mertuanya.Sudah tegang Divya saat beliau melayangkan pertanyaan pertamanya tadi.


Apa kamu sayang sama Haris?


Oh ya ampun. bernafas lega.


"Iya Ma...pasti Divya jaga baik-baik" tersenyum tulus .


"Baguslah,buktikan jika apa yang dikatakan Rudi memang benar" Rahma kembali menyantap sarapannya.


"Kak Rudi?" gumam-gumam kecil.


"Memang apa yang dikatakan kak Rudi pada Mama ?" tanyanya kini penuh selidik.


"Pagi Ma...!" Tiba-tiba Haris datang dari arah belakang tempat Mama duduk.Divya yang memang melihatnya


Satu kecupan hangat mendarat di pipi kiri Mama.


Mama Rahma yang nampak kaget ,dengan sorot mata penuh binar pun balik menyapa.


"Pagi sayang " Tangan kiri mengusap lembut pipi anak semata wayangnya.


Haris memutar arah menuju bangku di sebelah Divya .


"Pagi sayang" Sebelum duduk ia mencium kening istrinya.


"Pagi..! " Tak lupa senyuman manis tersungging di bibirnya.


"Maaf ya aku sarapan duluan"


Sudah meraih piring,menyendok beberapa makanan dan menyodorkannya kehadapan Haris.


"Ya sayang gak apa-apa " Meraih sendok dan mulai dengan sarapannya.


"Kau mau ke rumah Om Fram?"


"Iya sayang,hari sabtu memang jadwal ku nengokin Ameera juga Dimas kan?"


"Heum.." Sibuk mengunyah


"Kau mau ikut sayang?"


"Kenapa?"


"Kok kenapa sih" Mulai deh keluar jurus mengerucutkan bibir "ya ikut saja kan hari sabtu,kamu gak pergi ke kantor kan? temenin aku.Sekalian Ameera juga pengen ketemu sama kakak iparnya"


"Iya sayang temenin istri kamu sekali-kali" Mama ikut menimpali

__ADS_1


"Wah kau sudah punya pendukung rupanya.Sejak kapan kalian berdua kompak"


"Sayang" Mencubit pelan lengan suaminya."Gak boleh gitu,memangnya gak senang lihat aku sama Mama akur"


"Luar biasa ! aku senang" Tergelak juga akhirnya.


"Bagus" Mengangkat jempol kirinya.


"Tapi,aku tidak bisa ikut.Ada urusan" imbuh Haris. "kalau mau Mama saja yang ikut Divya"


"Kok Mama sih,Memangnya kamu mau kemana?" Menatap lekat putranya itu.


"Kau masih mau kesana..."


"Ma...please" Haris menyela pembicaraan Mama.


"Ok!" Walau Mama nampak tak suka,tapi ya begitulah Haris tak dapat dibantah lagi kalau sudah berkehendak.


Selesai sarapan mereka kembali ke kamar masing-masing.


Divya yang sudah bersiap ,menatap Haris yang juga sedang bersiap,mengenakan pakaian semi formalnya,dengan warna serba hitam.


"Kamu mau kemana sih sebenarnya?" Tanya Divya.


"Ada urusan" Masih dengan jawaban yang sama seperti saat di meja makan tadi.


"Kata Mama hari ini beda,beda apanya sih" Menggerutu.


"Aku ada urusan,kamu ke rumah Om Fram diantar sopir ya,jangan membantah..!"


"Iya.iya."


Siapa yang mau bantah.


Mereka pun berjalan beriringan menuju ,mobil yang hendak mereka naiki.


Sudah ada Rudi disana yang menunggu untuk pergi bersama Haris.


Satu kecupan di kening Divya sebelum gadis itu masuk kedalam mobilnya.


"Aku akan menyusul jika urusan ku sudah selesai,Ok !"


"Ya sayang" senyum pun mengembang di wajahnya.


Satu per satu mobil keluar pekarangan rumah Santoso.


Melaju keluar gerbang dengan tujuan yang berbeda.


Epilog...


Divya naik ke kamar terlebih dahulu,meninggalkan Haris dan Mamanya di meja makan.


"Kau masih belum cerita soal Marisa pada istri mu?" Mama Rahma mulai bertanya setelah dirasa menantunya sudah benar-benar meninggalkan mereka berdua,memastikan jika ia tak mendengar apa yang mereka obrolkan.


"Belum" Jawab Haris Acuh.


"Kenapa sayang? kau masih mengingatnya?"


"Mama tahu seperti apa dulu perasaan ku padanya,kan?"


menatap lekat ibunya.


"Mama minta maaf sayang,Mama tahu Mama bersalah pada kalian dulu"


"Sudahlah tidak usah dibahas,Mama tahu aku sekarang bahagia bersama Divya ,setidaknya hargai itu dan terima Divya sebagai istri ku dan menantu Mama" Setelah mengatakan itu Haris lantas berlalu meninggalkan Mama di meja makan,tanpa mendengarkan lagi jawaban darinya.

__ADS_1


__ADS_2