
Setibanya di depan Ruangan Tuan Haris,Divya mengangkat tangan hendak mengetuk pintu.
Namun,keraguan kembali datang,diturunkannya kembali tangan yang sudah hampir menyentuh diambang pintu.
Aku harus yakin.Pikirnya
Pintu terbuka setelah ketukkan kedua,Rudi yang membukakan pintu menyapanya terlebih dahulu.
"Masuklah,Tuan Haris sudah menunggu.Aku sudah memberitahukan kedatangan mu"
Ucap Rudi mempersilahkan Divya segera masuk ke ruangan Haris.
"Iya Kak "
"Sebenarnya ada apa?"
Rudi yang mengikuti langkah Divya,bertanya penasaran.
"Ada yang ingin aku bicarakan"
Jawabnya singkat.
Rudi yang merasa tidak mendapatkan jawaban yang diinginkannya,hanya bisa pasrah.
Apapun yang terjadi ia hanya berharap Divya tidak berulah di luar batas.
Tuan Haris masih duduk di meja kerjanya,memeriksa berkas terakhir.Sementara
Divya ,ia duduk menunggu di sofa.
"Ada apa ? Malam-malam begini kau datang kesini"
Haris berjalan menuju sofa,ia melemparkan ponsel kearah Rudi,yang di tangkap dengan sigap . Ponsel itu ponsel khusus yang di pakainya untuk di kantor.
"Ada yang ingin saya bicarakan Tuan"
Divya menjawab santai.
"Katakan...!"
Divya mengeluarkan secarik kertas dari dalam tasnya.
Ia menyodorkan kertas tersebut kehadapan tuan Haris.
Rudi yang melihatnya nampak tegang,sorot mata tidak sukanya tertangkap jelas.
Terserah kau akan berpikir apa Kak,aku terpaksa melakukan ini karena kau tidak mampu menolongku sama sekali.Batin Divya.
"Apa ini ?"
Haris mengambil kertas tersebut.
__ADS_1
"Surat perjanjian ?"
Haris tergelak.
"Apa-apaan ini,aku harus membaca dan menyetujuinya? Hah !"
"Kalau kau tidak mau ya sudah,aku tetap akan menolak pernikahan ini.Perduli setan dengan persahabatan Ayahmu dan Paman"
Divya memberanikan diri mengatakan semua itu.Walau jantungnya seakan berdegup lebih cepat .
"Dan lagi,anggap saja simbiosis mutualisme,sama-sama saling menguntungkan , bukan ! Kau menerima ini karena ayahmu dan aku menerima ini karena paman.Jadi setujui saja toh aku tidak meminta yang aneh-aneh.Baca saja!"
Haris membaca surat perjanjian itu.
Yang isinya sebagai berikut.
Pihak pertama Divya Veronika .
Pihak kedua Haris Santoso
Pihak pertama hanya akan menjalankan statusnya sebagai istri pihak kedua tanpa mencampuri urusan pribadi pihak kedua.
Begitupun sebaliknya pihak pertama akan tetap melakukan pekerjaan seperti biasa tanpa larangan dari pihak kedua,tidak mencampuri urusan pribadi pihak pertama.
Pihak kedua
tidak bersikap melampaui batas kepada pihak pertama.
"Hahaha"
Sementara Rudi hanya terdiam tanpa merubah ekspresi wajahnya.
Ia membiarkan adiknya melakukan apa yang dia inginkan.
Sepertinya masih wajar tuan Haris juga tidak terlihat marah sama sekali.Begitu pikirnya.
"Jadi intinya kau mau tetap bekerja setelah menikah,begitu?"
Haris penyimpulkan
"Ya "
Divya menjawab singkat.
"Apa kekayaan ku tidak cukup memenuhi kebutuhan mu ?"
Tanya Haris.
"Apa kau pikir aku tertarik pada kekayaan mu ?"
Jawab Divya tegas.
__ADS_1
Dirinya bukanlah seperti kebanyakan wanita diluar sana yang melihat pria hanya dari meterinya saja.
Divya tidak ingin bergantung lebih dalam lagi pada laki-laki di hadapannya yang belum di ketahui sebatas apa kekejamannya dalam menindas orang lain.
"Untuk apa kau bekerja?"
Tanya Haris lagi.
"Jelas untuk kedua adikku"
Dengan santai Divya menjawab,matanya sedikit melirik Rudi.
Rudi masih terdiam mendengarkan.
Ia hanya akan bereaksi jiga tuan Haris tidak suka dengan apa yang di minta Divya.
Tanpa basa basi Haris menandatangani surat perjanjian itu.
"Kau puas Nona? Ada lagi yang kau inginkan dariku ? "
Haris melempar kertas itu ke hadapan Divya .
Gadis itu sigap mengambilnya,Ia memeriksa sekali lagi tanda tangan Haris sebelum memasukan kembali kertas itu kedalam tas.
"Tidak.Terimakasih Tuan,ternyata kau mudah untuk diajak kerjasama" Divya terlihat mengedipkan sebelah mata nya,diluar dugaan Rudi apalagi tuan Haris.
Ia terpaku sejenak demi melihat apa yang di lakukan gadis itu.
"Pulanglah ini sudah malam.Antar dia Rud !"
Haris menyuruh Rudi mengantar Divya.
"Baik Tuan,tuan muda masih mau disini?"
Tanya-nya memastikan.
"Ya !"
Tuan muda hanya menjawab singkat.Lalu menyandarkan tubuhnya di sofa.
***
"Berani sekali kamu,sama tuan Haris begitu?"
Rudi dan Divya sudah dalam perjalanan pulang.
"Hahaha ! Habisnya kakak diam saja melihatku ditindas si monster itu"
"Sebentar lagi si monster itu akan jadi suamimu"
Rudi mengingatkan yang dijawab dengusan sebal dari Divya.
__ADS_1
Maafkan kakak Divya,
sebenarnya kakak tidak tega melihatmu seperti ini,tapi percaya lah kelak kau akan bahagia.