Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Keajaiban Tuhan


__ADS_3

Hari ini keadaan Melodi si gadis kecil


berangsur-angsur membaik,ia sudah bisa menjalani perawatan di luar box inkubator.


Divya ditemani Shila melihat ia tertidur pulas.Baru saja dokter menyatakan jika Melodi dinyatakan sehat,kondisi jantungnya semakin kuat dan dalam beberapa hari ini ia sudah bisa dibawa pulang.


"Apa ayahnya sering kesini,dok?"


Divya tahu ia tak pantas menanyakan hal ini,tapi mengingat ia yang membawa bayi mungil itu ia merasa bertanggungjawab apalagi jika terbukti Nando lalai akan janjinya merawat Melodi.


"Sering Nona,bahkan beliau sampai menginap berhari-hari disini"


"Sekarang saja dia masih belum datang mungkin karena kondisi putrinya yang sudah lebih baik,dan juga sudah dipindahkan ruangannya.Tapi tetap pak Nando menugaskan perawat yang di bayar khusus untuk menjaga Melodi"


Begitulah penuturan sang dokter spesialis jantung di rumah sakit tempat Divya dirawat beberapa waktu yang lalu.


"Oh ! Baguslah,saya rasa dia cukup bertanggungjawab atas putrinya jadi saya tidak perlu merasa khawatir."


"Apa yang kau khawatirkan,memangnya? Kau pikir aku akan mengulang kesalahan yang sama? Tidak Divya !"


Sontak Divya menengok sumber suara yang tiba-tiba menyela perbincangan ia bersama dokter.


Nando sudah berdiri di ambang pintu,masih memegang handle pintu tersebut.Seseorang di belakangnya terlihat sebatas rambut,tubuhnya tertutup oleh postur tinggi besar Pranando.Siapa gerangan yang bersamanya?


"Raisa ?"


Begitu kedua orang itu masuk,Divya mendapati Raisa sang sahabat datang bersama ayah si bayi,Melodi.


"Hai Vy"


Nampak berbinar ia menatap Divya setelah sekian lama hanya bisa melepas rindu saat di telpon saja,kini sahabat satu kantornya dulu itu ada di hadapannya.Tak pelak ia merangkul Divya yang masih menatapnya dan Nando bergantian.


"Aku kangen,Vy.Kamu gimana keadaannya sekarang?"


Divya masih terdiam,ia terlihat mengernyitkan dahi.


"Aku tahu kamu di rawat seminggu lalu disini,aku bahkan melihatmu langsung.Tapi,saat itu kamu belom sadar"


Seakan mengerti apa yang dipikirkan Divya,Raisa memperjelas kalimatnya.


"Oh itu iyaa...aku baik-baik saja,serius kamu datang waktu itu, Maaf aku gak tahu soalnya" Jawab Divya,melepas pelukan demi menjangkau pandangan dengan gadis berambut lurus sebahu itu.


"iya gak apa-apa,yang penting kamu sekarang udah sehat,Vy"


"Kalian~"


Tunjuk Divya kepada Raisa dan Nando bergantian ,yang di respon cepat oleh Raisa.


"Kita gak ada apa-apa,kok.Cuman bos sama sekretarisnya"


Gadis itu terkekeh.


"Iya kan bos?" Lalu meminta persetujuan Nando.


Yang hanya menjawabnya dengan senyuman.


"Ada apa-apa juga gak masalah kali,iya kan Vy" Shila ikut menimpali.


Raisa tersenyum malu-malu melirik Shila,ia ingat wanita disamping Divya itu istri tuan Rudi,si sekertaris tampan.

__ADS_1


"Iya dong sekalian jagain Melodi " Ucap Divya.


"Ya sudah kita mau pamit ya,sudah sore juga.Kasian mba Shila kelamaan disini takutnya pegel"


"Ayo mba"


"Ok ! By Raisa"


" Daaah" Gadis itu melambaikan tangan.


Pranando Wiryawan laki-laki itu menatap kepergian Divya dan Shila,sampai di dekat pintu saat divya memegang handle pintu tersebut,ia baru bersuara.


"Thanks,Vy"


Divya menoleh,Nando yang sedari tadi hanya terdiam membuat Divya merasa tidak nyaman dengan situasi canggung yang tiba-tiba saja tercipta diantara mereka,ditambah pula perkataan Haris tadi pagi yang melarangnya bertemu Nando.Membuat ia bergegas pulang tak ingin berlama-lama disana.


"Iya,sama-sama.Kamu jaga Melodi "


Balasnya tersenyum.


Keajaiban memang selalu datang pada mereka yang tuhan kehendaki,meski dinyatakan tak akan memiliki harapan hidup panjang,nyatanya gadis kecil Melodi mampu melewati rintangan hidup diumurnya yang baru beberapa bulan saja.Tuhan memang adil terkadang rencananya selalu tak terduga. Takdirnya tak dapat diprediksi.


Seperti kehidupannya sekarang rumit dan berliku.


***


Di tempat lain,sesosok gadis tengah bersandar di sofa kamarnya.Kepala menengadah langit-langit kamar menerawang jauh.Entah apa yang membuatnya terlihat begitu lusuh.


"Aku gak bisa diem aja kayak gini.Aku harus bisa balas semua perbuatannya padaku.


Pertama tante Rahma,dia yang sudah menghancurkan hidupku.Membuatku harus terasing di tempat seperti ini"


Gumaman disertai erangan frustasi keluar dari mulutnya.Ia lantas melempar gelas yang digenggamnya erat sedari tadi,hingga hancur berkeping-keping.


Berteriak histeris mengusak rambutnya sendiri,lantas beranjak pergi keluar kamar,membanting pintu keras-keras.


***


"Meera tunggu !"


Erik mencekal lengan Ameera yang hendak menaiki anak tangga.


"Kamu kenapa sih?"


Setengah berbisik dengan kepala menengok kanan kiri,takut-takut ada yang mendengarkan mereka.


"Ikut aku !"


Ameera yang tertegun hanya mengikuti langkah pria di depannya,dengan tangan yang masih di pegang erat.


"Ada apa sih kak? Kita mau kemana?"


Ameera yang merasa langkahnya berburu cepat seakan terseret oleh langkah besar Erik.


"Pelan-pelan jalannya,ini tangan aku sakit"


Berusaha melepaskan diri.


"Sorry !"

__ADS_1


Erik dengan cepat melepas cengkraman tangannya begitu melihat Ameera merintis kesakitan.


"Maaf,maaf sakit ya"


Ameera menatap tidak suka.


"Sorry !"


Dengan wajah memelasnya,sumpah demi apapun jika bukan Ameera yang polos mungkin akan menilai bahwa laki-laki di hadapannya begitu menggoda.


Sayang Ameera terlalu lemah untuk sekedar menyadari hal itu.


"Aku harus balik ke kamar,kak.Besok hari terakhirku ujian"


Ucapa gadis itu mengeluhkan tindakan Erik yang membawanya ke taman belakang secara paksa.


"Oh ya ? Kenapa gak bilang aku kalau kamu ujian ? Kenapa gak minta ajarin,biasanya kamu minta aku buat temenin kamu belajar,kan?!"


Erik memborong semua pertanyaan,sudah berhari-hari Ameera mengacuhkannya tanpa alasan.


Satu alasan yang ia tahu tapi untuk itupun Erik sudah mendapat jawaban dari permintaan maafnya.


Lantas apalagi? Pikirnya menebak isi hati gadis di depannya,menatap lekat sampai ia mau membalas tatapannya.


Mana bisa Kak,mana bisa Meera belajar bareng kamu.Aku malu.Lebih parahnya lagi aku gak akan bisa fokus.


Mendapati tatapannya bertemu dengan pemuda itu Ameera lantas kembali menunduk,menyembunyikan wajahnya.


Sepatu yang ia kenakan rasanya jauh lebih enak dipandang jika dibandingkan harus menatap sorot mata Erik,yang entah mengisyaratkan apa.


"Meera,Kaka sudah minta maaf loh soal kejadian itu,kamu juga udah maafin,kan?"


Menyentuh dagu Ameera berusaha menjangkau pandangan dengan gadisnya.


What gadisnya?!


"Aku tahu,kak"


Ameera hanya sanggup menjawabnya lemah.Menepis pelan tangan Erik.


"Lantas apalagi? Kamu ngehindar terus dari aku.Aku salah apa lagi sama Meera?"


Erik menghempaskan tubuhnya diatas bangku taman,di belakang rumah paman Fram.


"Gak ada yang salah,cuman ~"


"Cuman apa?"


"Meera pengen fokus belajar,Meera udah pernah bilang ini,kan ke kakak.Maaf"


"Ok ! Tapi apa kamu kepikiran sama pertanyaanku tempo hari?"


Erik mungkin sudah bisa menebak jika Ameera sekarang sedang bimbang memikirkan hal itu.


"Kamu gak usah bingung,apalagi sampe ganggu pikiran kamu.Aku di tolak juga gak apa-apa asal kamu gak ngehindar terus,kalau kayak gini kakak justru makin ngerasa bersalah,loh"


Erik tahu ini terlalu cepat,bahkan Ameera masih polos dan sama sekali tidak mengenal apa itu cinta.


Tapi,benarkah ia tidak tahu apa itu cinta ? Atau ia hanya terlalu takut dengan hal-hal semacam itu.

__ADS_1


Sepertinya Erik harus lebih bersabar lagi menanti kapan kedewasaan Ameera datang.


Semoga saja ada lampu hijau yang menyertai mereka.


__ADS_2