
Malam-malam begitu sunyi,semilir angin terasa sejuk menerpa tubuh pria tinggi tegap dengan balutan piama berwarna krem melekat di tubuhnya.
Haris tengah berdiri menatap layar persegi panjang itu di bawah langit gelap bertabur bintang.
Layar yang menunjukkan pemandangan seorang gadis yang pernah atau bahkan selalu tersimpan di bagian lain dari hatinya.
Di tengah lamunan Haris tiba-tiba saja ada dua tangan melingkar di perutnya.
"Aku mencarimu di kamar ternyata kamu disini,sayang"
Divya menyembunyikan wajahnya di ceruk punggung Haris .
"Kau sedang benar-benar merindukan dia rupanya"
Ia berjingjit demi menampakkan wajahnya disisi wajah Haris,bertopang dagu pada bahu Haris,tersenyum ikut menatap foto Marisa.
Sekilas Divya mencium pipi suaminya.
"Maaf sayang"
Ucap Haris sambil menekan tombol di layar itu.
"Jangan di hapus !"
Bisik Divya di telinganya, "Jangan !"
Haris berbalik,kini mereka berdua berhadapan,saling bersitatap .
"Maafkan aku sayang"
"Hei !" Divya menutup mulut Haris dengan jemarinya.
"Kenapa minta maaf terus"
Ia menggelengkan kepala.
"Tidak perlu meminta maaf,aku mengerti"
Divya melabuhkan wajahnya di dada bidang Haris,melingkarkan tangannya di pinggang laki-laki itu.Begitu juga Haris tangannya tak lagi memegang ponsel,sekarang yang ia lakukan ialah membalas pelukan Divya.
Memegang pundak serta mengusap lembut mahkota indah yang tergerai itu.
Sekilas mencium keningnya.
Divya mendongak , ia tersenyum menatap Haris yang menatapnya.Haris
menunduk demi meraih madu manis yang ada di bibir wanitanya.
Menelusupkan lidah di antara bibir itu adalah keahliannya.
Perlahan aksinya mendapatkan balasan dari Divya.Ia sekarang begitu lihai memainkan tempo,saling ******* dan membelit satu sama lain.
Menggigit-gigit kecil bibir manis itu menimbulkan sensasi luar biasa yang keluar begitu saja seiring lenguhan yang terdengar nyaring di taman atap,di bawah langit malam yang sangat indah,bulan serta bintang yang menyaksikan.
Semilir angin yang mengiringi cinta mereka berlabuh.
Setelah lama saling beradu,pagutan mereka terlepas.
Saling melempar senyum,dan Divya kembali menghambur ke pelukan Haris dengan wajah meronanya.
"Mengapa bisa ada dua orang begitu mirip di dunia ini sayang ? "
Haris mempertanyakan,walau entah ada yang bisa menjawabnya atau tidak.
"Aku dan Marisa maksudmu?"
__ADS_1
"Ya !"
"Mungkin kami ini kembar yang terpisah ibu dan ayah ,Hhii"
Dengan tawa kecilnya,merasa lucu dengan kata-katanya sendiri.
"Atau mungkin kalian ini memang kembar ?"
Haris terperanjak lantas melepas pelukan Divya,mengambil sedikit jarak di antara mereka agar dapat melihat wajah Divya.Lama ia tenggelam di matanya hingga suara kembali membawa Haris pada daratan kenyataan.
"Mana mungkin sayang"
"Mungkin saja,karena dia itu tidak tahu siapa ayah dan ibu kandungnya"
Divya mengernyit tidak mengerti,mulutnya hampir terbuka hendak mengucapkan kalimat.Namun,
"Seseorang menculiknya saat Marisa masih bayi"
Timpal Haris cepat,terlihat kedua bola matanya berbinar penuh harap.
"Apa !"
"Ya !"
"Bahkan aku masih berusaha mencari siapa kedua orangtua kandungnya"
Setelah kecelakaan hari itu,Marisa tertidur tanpa membuka mata, kurang lebih tiga bulan lamanya ia menyiksa batin Haris.
Bersumpah demi apapun tidak ingin lagi memanggil wanita yang telah melahirkannya dengan sebutan 'Mama'.
Berdosakah Haris ? Mungkin.
Tapi rasa sakit yang ia alami tak akan bisa sembuh hanya dengan kata maaf,terlebih saat Marisa terbangun dari tidur panjangnya ia tak banyak memiliki waktu.
Hanya ucapan maaf,sayang,lalu meminta Haris menemukan keluarganya.Itu saja yang sanggup gadis itu katakan setelahnya ia kembali menutup mata untuk selama-lamanya.
"Eum , dua puluh sembilan tahun ini"
"Tuh kan ! Usianya saja beda tiga tahun dari ku,mana mungkin kami kembar"
Seru Divya,ia sedikit memukul dada Haris menertawakan kekonyolannya yang terlalu berharap.
"Kau benar sayang,mana mungkin"
"Dia lebih pantas ku sebut sebagai kakak daripada saudara kembarku"
Tanpa Divya sadari ia kembali memunculkan harapan di mata Haris.Cahaya yang tadi redup kembali bersinar lagi.
"Apa kau punya kakak?"
"Aku tidak tahu sayang,yang aku tahu aku terlahir sebagai anak sulung dengan kedua adikku,Dimas dan juga Ameera.Itu saja yang aku ketahui selama ini"
"Sudahlah kenapa kau terua berharap aku ini saudara atau kerabat Marisa,banyak di dunia ini orang yang mirip,dua orang bahkan lebih. Iya kan ?"
Terang Divya berusaha meredam harapan pada suaminya.Harapan yang hanya akan sia sia saja menurutnya .
Ia tak ingin melihat Haris pada akhirnya kembali kecewa .
"Tapi tidak ada yang semirip kalian"
Divya hanya menjawabnya dengan senyuman.
"Ekheumm"
Selanjutnya yang terdengar hanya deheman keluar dari mulut Divya,satu tangannya sekilas memegang pipi Haris dan yang satu menari di atas dada bidang suaminya itu.
__ADS_1
"Daripada memikirkan sesuatu yang tidak mungkin,kenapa kita tidak ciptakan Marisa baru yang terlahir kembali,Marisa yang akan selalu ada diantara kita"
"Apa? "
Haris yang tidak paham hanya menatap istrinya bingung.
"Ya ! Marisa, kalau kita punya anak perempuan nanti, kita bisa memberinya nama ,Marisa"
Halisnya terangkat nakal,menggoda.
"Kau setuju sayang?"
Haris tergelak senang,ia tidak pernah melihat Divya sebegitu menggoda sebelumnya.Dengan balutan helai tipis berenda berwarna salem yang lembut dipandang mata.Senyum nakal serta gerakan halisnya.Belum lagi wajahnya yang mulai memerah.
"Tunggu apa ini istriku ?"
"Heum"
Divya menggedikkan bahu masih dengan senyum di bibirnya.
"Nakal"
Haris mencubit gemas hidung Divya.
Menarik pinggangnya hingga menempel tepat di tubuh kekarnya.
Dua gundukan kembar di dada istrinya begitu menantang seiring hembusan nafas Divya yang semakin cepat.
"Kita bikin New Marisa !"
"Sekarang !"
Bisik Haris di telinga Divya yang disambut cubitan kecil di perutnya.
Saat keduanya masih tergelak Haris sudah mengagetkannya,membawa Divya dalam gendongan berjalan menuju kamar ,kamar kaca di taman atap.
Begitulah cinta mereka,berawal dari sebuah rencana, pertemuan,ketidak sengajaan,lalu perjodohan.
Entah berapa banyak lagi alasan dibalik semua ini.Hanya si pembuat rencana dan tuhan yang mewujudkan semuanya yang tahu.
Akankah mereka kelak bahagia,dengan segala rintangan yang ada.
Bukan hidup namanya jika jalan kita mulus dan lurus,karena mimpi saja penuh teka teki.
Maka kenyataan jauh lebih tak terduga.
Malam yang samakin sunyi menyaksikan kedua insan yang saling memadu kasih.
Si pria dengan sejuta luka dan si wanita dengan sejuta harapan di matanya,membawa kehidupan yang jauh lebih baik bagi Haris.
"Kau sungguh tidak marah sayang ?"
Divya menggeleng cepat.
"Walau aku terus mengingatnya"
Divya mengangguk dan tersenyum.
"Kau manusia atau malaikat"
Divya menggedikkan bahu,
"Mungkin bidadari"
"Kau benar !" Mencubit hidung gemas,
__ADS_1
"Kau memang bidadari ku"
Bidadari yang tuhan kirim untuk menghapus luka di hati Haris.