Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Kenyataan


__ADS_3

Haris tak menepati janjinya,ia sama sekali tidak menceritakan apapun tentang anak itu,gadis kecil bernama Amanda yang ia temui di restauran.


Si Tuan Tampan menjengkelkan ini malah tertidur pulas setelah puas menunggangi istrinya.


Gilaaa.


Apa dia tidak bisa melihat wajah Divya yang sudah tertekuk gara gara memikirkan anak kecil itu.


Lihat dia malah tersenyum menggoda begitu,seperti bocah mendapatkan mainan baru.


Dan lagi Haris malah membisikkan sesuatu di tengah aktivitas nya malam tadi.


"Aku suka wajah cemburu mu sayang"


Divya semakin mengeratkan cengkraman di pundak laki-laki itu.


"Apalagi saat kau menduga-duga siapa Amanda kecil"


Tawa khasnya yang menyebalkan.


"Kau akan tahu siapa dia asal mau melayani ku malam ini sampai aku puas"


Sinting,memangnya malam-malam sebelumnya apa.Sama saja kan? Dia yang puas sendiri sedangkan Divya harus bangun keesokkan paginya dengan badan terasa remuk semua.


"Enak sayang?"


Suara serak Haris di tengah sesi genjotannya yang ah tak bisa Divya pungkiri itu.


Surga dunia.


Dan entah dengan sadar atau tidak mungkin Divya terlalu terbawa suasana sampai ia dengan ikhlas menganggukkan kepalanya.


Takluk !


Tidak ada wanita yang bisa menolak perlakuan Haris yang seperti ini.Garang namun merangsang.Sentuhannya lembut walau ia seperti kerasukan.


Mencecap setiap inci dari tubuh molek istrinya,


tak terlewatkan.


Gundukkan bulat sintal yang menantang,hampir habis dilahapnya .


Divya meletakkan amplop coklat di dada Haris setelah pria itu benar-benar merasa puas .


"Buka dan baca ! Itu dari Mama,aku harap kamu mau memaafkan Mama dan menerima semua yang sudah dia lakukan"


"Apa ini?"


"Aku tidak tahu"


"Bagaimana kamu ini sayang,harus nya kamu tanya apa ini?"


Menunjukkan kembali amplop itu ke hadapan wajah istrinya,mata Divya baru saja terpejam sekian detik yang lalu tapi dia tak lagi bersuara.


"Ah kau lelah ya rupanya "


Mengusap helai rambut yang menutupi wajahnya,menyelipkan itu ke belakang telinganya.


"Tidurlah,bidadari ku"


Mencium kening serta menggigit kecil telinga Divya hingga ia kembali menggeliatkan tubuhnya.

__ADS_1


Tersenyum membelakangi Haris,dia masih bisa mendengar apa yang diucapkan suaminya itu.


Bidadari


Selanjutnya yang Haris lakukan adalah kembali duduk di tepian ranjang dan membuka amplop itu perlahan.


( Disini tertulis pernyataan Mama yang mungkin bukan hal mengejutkan lagi untukmu,Ris.


Mama seperti pengecut yang lari dari kenyataan.


Lari dari masalah yang mama buat sendiri.


Mama tahu mama salah,dan terlalu takut mengakui ini langsung kepadamu


anakku.


Marisa adalah sumber kebahagiaan mu.


Padahal Mama tahu itu, tapi Mama mengingkari keyakinan Mama sendiri hanya karena ego di hati Mama.


Haris anakku satu kebenaran yang tidak pernah Mama ungkapkan kepadamu,nak.


Ini tentang Marisa,nama sebenarnya adalah Clarisa gadis delapan bulan yang Mama pisahkan dari orangtuanya.


Risa dibesarkan bi Inah tanpa sepengetahuan Mama,tapi Mama tahu bi Inah tidak mungkin memiliki anak kandung karenanya mama menanyakan statusnya kepada mu, nak.


Mama minta maaf untuk itu,jikapun Mama harus mempertanggungjawabkan semuanya Mama ikhlas sayang,asal Haris mau memaafkan Mama.


Laras datang lagi nak dan dia mengancam Mama.


Jadi tolong jaga Divya,dia bukan hanya sumber kebahagiaan mu tapi juga keluarga ini.


Jika pagi ini kau tidak melihat Mama,mungkin Mama sembunyi di balik rasa bersalah Mama.


Maafkan Mama !


Ada foto Orangtua Marisa disana.


Lihat dan carilah mereka,jelaskan apa yang semestinya mereka tahu.


Ayahnya adalah mantan suami Mama yang meninggalkan Mama dulu.


Tapi untuk itu ia sudah meminta maaf hanya saja Mama tidak pernah bisa melupakan kejadian itu.


Tolong Mama,Ris !


Tolong Mama dari rasa bersalah Mama.)


Begitu selesai Haris membaca isi dari kertas putih bertuliskan tinta hitam yang diberikan Divya kepadanya.


Gores luka di hati ibunya tak bisa ia mengerti namun tindakan nya yang di luar batas sungguh bukan hal yang bisa ia maklumi.


Sekali lagi, selalu ada penjelasan dibalik setiap kejadian.


Haris meremas kertas itu dan meletakkannya asal di atas nakas bersama dengan selembar foto orangtua Marisa.


Setelahnya ia menarik selimut menutupi tubuh Divya dan tubuhnya,berbaring menatap langit kamar.


Perlahan rasa kantuk mulai menyergap hingga ia pun terlelap memeluk guling bernyawa di sampingnya.


Apa ini bahkan ia tidak berniat menjelaskan apapun padaku.

__ADS_1


Divya terbangun demi merasakan tangan kekar melingkar di pinggang nya,hembusan nafas Haris tepat menerpa pundaknya.


Keesokkan paginya Divya terbangun,jarum jam menunjukkan pagi hari pukul lima subuh masih terlalu dini untuk mereka yang baru bisa memejamkan mata setelah lewat tengah malam.


Divya terduduk di tepi ranjang menatap punggung putih mulus milik lelakinya yang tidur terkurap.


Ia berjinjit masuk ke dalam kamar mandi,hasrasnya buang air kecil malah ia meneruskannya dengan ritual mandi.


Selesai mandi ia berganti pakaian lalu duduk di depan cermin.


Divya melihat pantulan seonggok kertas dari balik cermin.Ia melangkahkan kaki mendekati meja nakas,diraihnya kertas itu dan membacanya dengan seksama.


Setelah selesai ia merasa terharu karena ternyata Mama Rahma meminta Haris untuk menjaganya.


Linang airmata tak terasa menetes di pipi Divya,ia beralih pada sebuah kertas tepat di bawah onggokan surat yang sudah kusut itu.


Kertas berukuran 4 x 3 dan itu nyatanya adalah foto orangtuanya.


Kembali ia menelisik setiap kata pada surat Mama Rahma.


Disana beliau menyatakan jika ada foto orangtua Marisa.


Tapi begitu ia terperanjak saat yang ada di dalam foto itu ialah ibu dan ayahnya,Ahmad Ibrahim serta Nika Ningtyas.


Reflek kedua benda itu jatuh di atas lantai,kaki Divya gemetar menahan ketakutan yang serta merta merasuk dalam jiwanya.


"Ini gak mungkin. Ini gak mungkin !"


Jerit Divya dalam diam.


Ia melangkah cepat membuka almari serta mengambil tas dari dalamnya.


Mengeluarkan beberapa lembar foto yang tersimpan rapih di dalam tas.


Divya kembali menyamakan salah satu foto dengan yang diberikan Mama Rahma.


"Ini betul-betul ayah dan ibu"


Menutup mulutnya sendiri menahan isak tangisnya yang sudah pecah.


"Bagaimana pendapat mu ketika kau mengandung anak dari laki-laki yang teramat kamu cintai,lalu mertuamu meminta mu meninggalkan putranya.Dan menyaksikan ayah dari anakmu menikahi gadis lain"


Ingatan itu kembali berputar-putar di kepalanya seakan menertawakan keadaannya sekarang ini.


Tangis pecah begitu saja sementara Haris masih terlelap di atas tempat tidurnya.


***


"Mama !"


Haris ,dia setengah berlari menuruni anak tangga.


"Mama !"


Wajahnya terlihat panik.


"Mbok Jum Mama mana?"


Tanya Haris ketika mendapati mbok Jum tengah menata makanan di atas meja .


"Nyonya di teras samping,Tuan "

__ADS_1


"Ada apa?"


Tak mendapat jawaban apapun Haris berlari menghampiri tempat dimana Rahma berada.


__ADS_2