Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
bonchap 07


__ADS_3

Namun, apa yang terjadi. Tangis Anita semakin pecah. Ia terus menggelengkan kepala agar Marisa tidak terus membahas hal itu di depan Reno atau semuanya akan hancur.


Cinta dan persahabatan.


Keduanya itu yang akan dipertaruhkan.


" Tapi,Cha .Aku ~aku. "


Reno nampak begitu gugup ia melirik satu persatu teman-temannya di sana. Hendri dan Shintia tengah menunggu. Jawaban apa yang akan ia berikan pada Marisa. Akankah Reno memberanikan diri menyatakan apa yang dia rasakan ?


"Kamu apa Ren, apalagi? Anita baik loh. Selama ini kalian deket, kan? "


Marisa terus mendesak.


"Tapi aku gak bisa,Cha !" Reno bicara dengan sedikit menaikkan volume suara nya. Pun begitu dengan intonasi perkataannya, tegas.


Marisa tersenyum miring menanggapi jawaban Reno. Apa yang membuatnya tidak bisa menerima Anita. Toh mereka sama-sama sendiri,kan ? Mereka berdua juga sangat dekat. Marisa sampai tak habis pikir. Apalagi yang Reno cari sebenarnya ? Menurutnya semua yang seharusnya itu sudah ada pada diri Anita.


Tidak ada yang perlu Reno cari lagi.


"Kenapa ? Kenapa gak bisa, Reno ! " Marisa kembali menaikkan volume suara -nya .Ia merasa tidak ada salahnya jika mereka berdua meresmikan hubungannya.


"Cukup! " bentak Anita.


"Cukup, Cha! Kamu gak perlu perjuangin apapun lagi. Itu cuma buat aku semakin ngerasa gak punya harga diri. Aku~aku~"


Anita memundurkan kakinya.Ia melangkah ke belakang dengan berteriak histeris.


"Nita, lo berhak bahagia, Nit. Gue bakal pastiin kalau nih cowok mau nerima lo. Lo pantes buat dicintai Anita. "


Marisa masih tidak ingin menyerah .


"Cha lo tenang dong. Gue jadi bingung nih mesti gimana. " Shintia merangkul pundak Anita. Menenangkannya.


"Apalagi ! Gue kesel sama mereka berdua,Shin. Apa masalahnya coba, tinggal jadian aja susah amat. Pake acara diem-dieman segala. Geregetan gue apalagi lihat dia nangis. "


tunjuk Marisa pada Anita yang masih terisak pilu.


Anita terlihat menarik nafas dalam, mengumpulkan energi demi kembali membuka suara. Ia menatap Reno ragu. Namun, kekesalannya jauh lebih besar hingga emosinya pun tersulut.


Ia melepaskan tangan Shintia di pundaknya, dan lantas mendorong Marisa dengan kasar.

__ADS_1


"Masalahnya ada di lo, Marisa !" bentaknya dengan mata berkaca-kaca.


"Lo sumber masalahnya, lo sumber masalah hidup gue. " Lagi Anita terus meracau. Mengatakan jika Marisa lah penyebabnya.


Di tengah kebingungan yang dirasakan Marisa, Reno yang terlihat khawatir karena Anita mendorongnya hingga tersungkur ke pinggiran sofa dimana Reno tadi terduduk.Ia pun membantunya berdiri.


" Maksud lo apa, Nit. Maksud lo ngomong kayak gitu tuh apa? "


Marisa kembali bangkit.


"Lo ! Gara-gara lo gue nahan apa yang gue rasain bertahun-tahun. Semata -mata karena gue mikirin perasaan kalian berdua. " tunjuk Anita pada Reno dan juga Marisa. Keduanya nampak saling melempar pandangan.


Terutama Marisa yang tidak mengerti apa apa, ia hanya mampu mengerutkan dahinya lebih dalam lagi.


Gadis berambut panjang dan lurus ,postur tubuh hampir sama dengannya ini dan dengan kulit sawo matang. Seingat Marisa dari sejak mereka masih sama -sama duduk di bangku SMU ,untuk pertama kalinya mereka bertengkar hebat. Bahkan Anita sampai berani mendorongnya.


Apa masalahnya dengan ku. Batin Marisa terus menebak. Nihil ia tak mendapatkan jawaban apapun dari sorot mata Anita.


"Gue akuin gue emang sayang sama Reno .Gue suka sama dia. Tapi gue gak bisa milikin dia Cha! Gak bisa !"


Tangannya terangkat menunjuk Reno, suaranya semakin memelan dan serak.


"Kenapa? "


Anita bisa melihat dengan jelas bahwa kini tatapan tajam Reno mengarah padanya. Ia menggelengkan kepala. Seakan meminta Anita untuk diam.


" Karena Reno~"


"Nita ! " sergah Reno.


"Dia~"


"ANITA!!!" bentaknya.


" Dia sukanya sama lo, Cha! Dia cintanya sama lo. Cuman sama lo. "


Tengisan Anita kembali Menggema. Pun dengan Marisa. Pernyataan Anita membuat dadanya sesak. Reno memalingkan wajah saat dia menatapnya.


"Lo suka sama gue, Ren? " tatapan datar Marisa seakan masih tidak percaya untuk ia bisa menerima kenyataan itu.


Sesederhana cinta tumbuh, seperti itu pula persahabatan mereka kini, di ujung tanduk. Di ambang kehancuran.

__ADS_1


"Semua salah gue, semua ini gue yang nyebab'in. Kalau gue gak bodoh, buat terus terang ke Reno semua gak bakal kayak gini. "


Marisa yang masih dalam keadaan terkejut pun memilih keluar mencari udara sejuk. Di dalam pengap dan sesak oleh kenyataan.


Shintia mencoba menenangkan Anita, sementara Hendri membawa Reno menjauh darinya karena dirasa Reno masih memendam emosi pada Anita.


"Reno suka sama gue. Dia cinta ke gue. Sejak kapan? Kenapa gue gak bisa lihat itu. Dia selalu ada, nolongin gue. Ngelindungin gue. Tapi apa balasan gue ke dia, MARISA!! Kenapa lo gak bisa memahami sahabat lo sendiri. " Jerit hati Marisa menyalahkan darinya sendiri.


***


Sementara itu di tempat lain ayah dan bundanya tengah khawatir.


Marisa masih belum kembali sejak satu pekan terakhir. Bagaimana gadis itu melanggar kesepakatan. Jika ia hanya akan liburan setidaknya lima hari. Dan ini sudah malam ke delapan ia masih juga belom pulang. Di tambah nomor ponsel Marisa yang tidak aktif menambah gurat kegelisahan di wajah ayah Haris dan juga bunda Divya.


Divya terus mencoba menghubungi nomor putrinya. Sementara Haris sibuk menyalahkan dirinya sendiri.


Bagaimana ia bisa ceroboh mengizinkan putrinya keluar tanpa pengawalan. Ia hanya mempercayakan keselamatan Marisa pada Reno.


Hanya karena Reno cucu mbok Jum mantan pengasuhnya dulu. Haris bahkan lupa jika Reno juga laki-laki dan normal saja jika ia melakukan hal tidak diinginkan pada putrinya itu.


"Tenang dong, bunda yakin Reno anaknya tidak seperti itu. Coba deh telpon lagi, kali aja sekarang dijawab. "


Divya menyarankan agar suaminya itu terus menghubungi teman-teman Marisa. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh tiga puluh malam.


Sedari tadi tak satu pun dari nomor teman-teman Marisa menjawab panggilannya. Pun dengan Marisa nomornya bahkan tidak bisa dihubungi.


Terakhir Haris menelepon jika putrinya itu baik-baik saja dan disana ada Dimas juga. Menginap di pesantren milik iparnya. Dimas sendiri pun sudah mengonfirmasi kebenaran bahwa dirinya ada bersama Marisa. Itu yang membuat Haris tenang-tenang saja selama satu pekan ini.


Namun, baru tadi sore ia mendapati Dimas yang datang mengunjungi kediamannya bersama istri dan anaknya. Ia sudah kembali dari berlibur sementara Marisa masih betah di sana. Bagaimana bisa ia lupa akan tugasnya.


Baru beberapa hari saja ia mengikuti praktik kedokterannya dan sekarang malah meminta libur lebih dari batas waktu yang Haris dan pihak rumah sakit berikan.


Ada apa dengan anak itu ?


"Leo, lo bakal punya calon kakak ipar seumuran kita. "


"Heum.. iya kakak lo, kak Icha dapet gebetan baru. Anak tante gue, tante Nara sama om Yunus pemilik pesantren itu loh. Om Haris juga tahu. Cuman yang bikin gue ikut galau sepupu gue tuh kembar. Tahu deh kak Icha mau pilih yang mana, pasti dia bingung. "


Apalagi sore tadi Rio terus mengoceh seperti itu pada Leonard putra keduanya.


Semakin menambah beban kekhawatiran di benak Haris.

__ADS_1


__ADS_2