Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Terlambat


__ADS_3

Sepeninggal tuan Santoso,tuan muda Haris, begitu juga Marisa.


Menyisakan dua orang yang nampak sudah berseteru sedari awal mereka bertemu.


Ada apakah gerangan diantara mereka?


Hal apa yang membuat Rahma seakan takut bertemu dengan wanita bernama Inah?


"Katakan padaku siapa Marisa? Dia bukan anakmu,iya kan?"


Desak Rahma begitu mereka hanya tinggal berdua.


"Anak saya nyonya !"


"Bohong !" Sanggah Rahma cepat.


"Jangan bohong kamu ! Kamu itu berhenti bekerja setelah suami mu menculik seorang bayi.Saya tahu dia tidak akan sekejam itu membunuh bayi yang diculiknya.Ayo ngaku ? Kalian bersembunyi dariku selama ini,untuk menutupi identitas Marisa,iya kan?"


"Marisa itu jelas-jelas putri saya,sementara anak yang diculik suami saya atas perintah nyonya saya tidak tahu menau tentang bocah itu"


Ibu Inah bersikukuh mengakui Marisa sebagai putri kandungnya.


"Hei...shuutt jaga bicara mu itu !"


Wajah Rahma semakin pucat.


"Kenapa nyonya ? Nyonya takut semuanya terbongkar ? Heuh !!!" Ibu Marisa tersenyum sinis.


"Gara-gara nyonya sepuluh tahun pertama saya mengasingkan diri,sampai akhirnya semua terbongkar.


Suami saya di penjara selama lima belas tahun dan baru bisa keluar beberapa bulan terakhir itupun bebas bersyarat,ia tetap jadi tahanan kota karena orangtua kandung si bayi tidak mencabut tuntutannya "


"Anda puas nyonya ?!"


Gertak Bu Inah setengah berteriak.


"Anda puas setelah melimpahkan masalah kepada kami anda bisa hidup mewah seperti ini dengan sangat tenang ,sementara kami ?"


"Kami hidup dalam ketakutan"


"Diam,tutup mulutmu ! Dengar aku tidak akan segan-segan membuat anakmu menderita jika kau berani buka mukut !"


"Cih kau lupa ? Keserakahan suamimu juga yang membuat hidup kalian menderita.Bukankah sudah ku bilang buang anak itu jauh-jauh,jangan lantas merawatnya dengan begitu polisi tidak akan mendapatkan bukti apapun,iya kan?"


Ancam Rahma dengan nada suara bergetar menahan takut dan emosi. Ia juga balik menyalahkan kebodohan Inah dan suaminya.


Rahma juga terlihat gelisah,dengan


kepala terus menengok kanan kiri,takut-takut ada yang menguping pembicaraan mereka.


"Aku akan berikan apapun yang kau minta asal kau bersumpah untuk tutup mulut,dengar Inah ancamanku tidak main main !"


Rahma berlalu meninggalkan wanita bernama Inah itu di ruang tamu.


Tertegun dengan apa yang baru saja ia alami.

__ADS_1


Beberapa kali Inah menepuk pipi,berusaha tersadar dari mimpi buruknya.


Mimpi? Jelas-jelas ini nyata,pipinya saja terasa sakit saat dipukul.


Ia menunduk lesu.


Kesalahan yang tak akan pernah bisa ia tebus,kesalahan yang membuat hidupnya dalam ketakutan.


Seandainya saja ia dan suami tidak terlalu serakah,memilih jalan pintas saat itu,mungkin semua tidak akan seperti ini.


Dulu orang tua Inah sakit keras dan memaksa mereka melakukan kejahatan yang tak semestinya.


Iming-iming imbalan besar membuat suaminya nekat melakukan penculikan seorang bayi berusia delapan bulan.


Bukan hanya itu Darto si tukang kebun yang juga suami bu Inah merauk perhiasan milik ibu dari si bayi.


"Bu,ibu ?!" Sentak Marisa menyadarkan ibunya.Ia melambaikan tangan di depan wajah ibunya,serta bicara setengah berteriak.


"Ibu kenapa ? "


"Ibu sakit? Dari kita pulang ibu ngelamun terus.Ibu masih gak percaya sama kenyataan keluarga Haris? Iya,bu?"


Memang benar jika Marisa terlalu khawatir pasalnya sang ibu sedari tadi terus termenung,entah apa yang mengganggu pikirannya.


Sejak perbincangan di ruang tamu,lalu makan malam,setelah itu pamit pulang ke rumah sewa.Ibu bahkan menolak mentah-mentah tawaran Haris untuk menginap di rumahnya tadi.


Marisa benar-benar dibuat bingung dengan sikapnya.


"Tidak Marisa.Ibu hanya~"


"Hanya~"


Marisa mulai merasa makin aneh.Ibu yang biasanya selalu bisa membuat ia tertawa dengan tingkah konyol yang lucu dan sedikit kampungan itu seperti bukan ibunya, sekarang.


"Risa ! "


"Ya !"


"Apa Haris tahu kalau kamu bukan putri ibu?". Tanya ibu kemudian.


"Iya Haris tahu kok,Risa gak sembunyikan apa-apa dari Haris termasuk status Ayah yang mantan narapidana"


"Astagfirullah..Ya Tuhan,pie iki ?!" Batin ibu menjerit.


"Kenopo si bu? Ono opo? Jangan bikin Risa tambah bingung deh"


"Rapopo ndo,wis aja dipikiri"


"Tidur sana !!". Masih dengan logat jawanya yang khas.


"Risa mana bisa tidur kalau ibu nda mau cerita,ono opo to bu ?"


Marisa semakin penasaran .


"Gak apa-apa Risa,wis tidur sana !!"

__ADS_1


Pinta ibu lagi,beliau masih bingung bagaimana cara menjelaskannya pada Marisa,jika calon ibu mertuanya lah yang membuatnya tak mengenal siapa ibu kandungnya.


Jangankan Marisa,jika saja ibu atau bapa tahu siapa mereka.ibu dan bapa ikhlas mempertemukan Marisa dengan orangtuanya itu.


Darto tak paham betul siapa orang yang telah ia dzalimi ,yang ia ingat hanyalah alamat rumahnya saja.


Enam bulan lalu Inah mencari tahu dengan mendatangi rumah tersebut namun sayang semuanya sudah berbeda orang yang dulu tinggal disana sudah pindah dan menurut informasi si wanitanya sudah meninggal.Mungkinkah yang meninggal itu ibu kandung Marisa,hanya tuhanlah yang tahu.


Pada akhirnya,Inah harus pulang dengan tangan kosong.Padahal saat itu ia berharap bisa bertemu dengan orangtua Marisa dan mengakui jika anak mereka masih hidup dan tinggal bersamanya.


Dulu saat suaminya ditangkap polisi,mereka sengaja menyembunyikan Marisa dan berdalih jika putri yang di culiknya telah tiada.


Inah juga berharap jika suaminya akan terbebas dari jerat hukum yang sudah belasan tahun ia terima setelah berhasil menemukan orangtua kandung Marisa.


Hanya bermodalkan alamat,bahkan nama mereka pun Inah tak tahu.Bertanya kepada Rahma Santoso bukanlah solusi yang baik,ditambah keberadaannya juga tidak diketahui setelah puluhan tahun,dan sekarang.


Sekarang setelah enam bulan perjuangan Inah mencari identitas Marisa ia kembali bertemu dengan wanita berhati iblis seperti Rahma Santoso.


Wanita ambisius yang seumur hidupnya hanya menyimpan dendam saja.


Marisa menuruti apa mau ibunya,ia pergi ke kamar lantas ikut termenung.


Mengapa sang ibu tiba-tiba membahas perihal dirinya ? Haris sudah menerima apapun tentang dirinya.


"Tunggu ! Atau jangan-jangan Mama Haris tahu jika ia bukan putri kandung ibu? Dan dia tidak setuju akan hal itu.


Ya,Papa Haris tadi bilang kalau ibu sulitbpunya keturunan,kan.Itu artinya mereka tahu aku bukan putri kandung ibu"


"Astagfirullah,benarkah itu yang membuat ibu bersikap aneh?"


Batin Marisa bergumam ,ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan nanar.


Keesokan pagi,ibu mengatakan niat ingin secepatnya kembali ke Desa.


Padahal ibu sebelumnya mengatakan ingin menemani Marisa satu sampai dua pekan.


"Kenapa buru-buru sih bu ? Katanya mau nemenin Risa dua mingguan disini"


Rengek Marisa yang tidak terima keputusan ibu.


"Ibu sudah janji loh sama Risa,bu"


"Jangan ya ,jangan pulang sekarang please !"


"Bu !!"


"Sekarang,Risa.Ibu gak bisa lama-lama,bapa kamu gak ada yang ngurus dia itukan suka sakit-sakitan,ndo"


"Yo wis,besok tapi"


"Risa,kan harus cuti dulu"


"Kenapa mesti cuti,ndo?"


"Lah pie,kan arep nganteri ibu pulang to?"

__ADS_1


"Ra usah ibu balik kampung sendiri,bisa ibu,bisa !"


Jawab ibu sambil berlalu masuk kamar,diikuti Marisa di belakangnya,mengekor ,merengek sambil menghentak-hentakkan kaki tidak terima keputusan ibu yang ingkar janji.


__ADS_2