
"Kau masih menyangkal atas kebodohan mu! " sentak Haris.
"Tidak ! Itu bukan kebodohan kak Rudi, tapi itu kebodohan ku"
Suara Divya yang terdengar menjawab. Ia sedari tadi menunggu di depan pintu masuk, mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
"Ada apa kamu kaget sayang, itu kebodohan ku ,benar kan? Karena aku yang menyerahkan proyek itu ke tangan pak Andri. "
Divya berjalan mendekat. Ia menatap suaminya yang terheran melihat kedatangannya.
"Kak Rudi tidak tahu apa-apa bahkan dia sudah tidak disini saat semua terjadi"
ucap Divya lagi.
"Tapi dia lengah sayang, kalau saja dia bereskan pria itu dulu tidak akan kejadian seperti ini"
Haris masih tidak bisa menerima kenyataan,ia tetap menyalahkan Rudi atas semua yang menimpanya sekarang .
"Jadi kau menyesali semua kerugian ini dan memilih meributkannya dengan kakak mu sendiri.Tidak ! Dia kakak ku juga, ingat itu"
Divya merasa geram, mengapa Haris sampai semarah ini pada kakaknya sendiri hanya karena masalah uang. Uang itu memang sangat besar jumlahnya hingga siapa saja akan merasa kesal jika harus kehilangannya sebanyak itu. Tapi ini Haris apa dia tidak bisa berpikir jernih dan mencari solusi.
Bukan dengan cara marah-marah dan menghina Rudi.
" Bukan itu yang aku pertanyakan .Kau tahu kan Rud, bagiku kehilangan uang tidak pernah masalah. Tapi kelalaian mu membuat semuanya jadi runyam"
Rudi masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Haris.
"Kematian mbok Jum! Kau masih belum bisa menerka jika semua ini ada kaitannya"
Benar sekarang Rudi paham, Andri lah di balik semua ini.Di balik kematian mbok Jum.
"Mbok Jum hanya sebagai gertakkan karena yang sebenarnya dia incar itu aku. Perusahaan ku. Keluarga ku. Pria kurang ajar itu memang tidak pantas di kasihani"
Haris menyesali semua ini karena kebodohannya juga, andai ia tidak termakan airmata buaya pria itu saat mengulang kata maaf.Andai ia bisa lebih tegas lagi dan tidak membiarkannya lolos begitu saja dulu.
Semua tidak akan jadi seperti ini.
Dan sekarang keselamatan keluarga-nya lah yang di pertaruhkan.
Haris berbalik menatap Divya. Ia baru tersadar keberadaan istrinya yang datang sendiri.
Sendiri !
"Tidak sayang, aku bersama pengawal, mereka menunggu di depan"
Divya tahu itulah yang Haris pikirkan.
"Icha? "
__ADS_1
Haris menanyakan putrinya.
"Dia di rumah.Aku kesini untuk mengajakmu makan siang, tapi yang ku lihat justru hal seperti ini "
Divya sengaja datang untuk memberi kejutan tapi sebaliknya justru dia sendiri lah yang dikejutkan dengan kejadian ini.
Rudi tetaplah Rudi Insting -nya masih sama seperti dulu. Tanpa banyak berpikir lagi ia melancarkan instruksi.
Rudi menelepon seseorang. Terdengar nada penuh penekanan di balik setiap perkataannya.
"Kau ingat pria itu? "tanya Rudi pada seseorang di seberang sana.
"Ya, tutup semua akses ,jangan biarkan dia keluar dari Ibukota. Jangan biarkan dia lolos ! Ingat bawa dia kehadapan ku sebelum kau menyeretnya
ke penjara. Kau paham! "
Bagus sekali sandiwara mu tuan Andri .
Kau berhasil mengelabuiku. Memperdaya aku hingga aku percaya pada semua perkataan mu. Ternyata itu hanyalah trik mu dalam melancarkan aksi pembalasan mu terhadap Haris. Jangan lupa selama masih ada aku kau tidak akan bisa menyentuh Haris walau seujung jari pun. Tegas Rudi dalam benaknya.
Rudi lantas menutup sambungan teleponnya dan Haris pun tersenyum. Selama ada Rudi dia tidak perlu mengotori tangannya hanya untuk menyelesaikan masalah.
Dia tidak pernah salah, Rudi mampu melakukan segalanya.Hanya saja insting -nya sedikit melemah sejak dia hengkang dari samping Haris.
***
Bugg... Bugg... Bugg
Rudi pria itu tidak sedikit pun memberi kesempatan pada lelaki yang sudah lemah tidak berdaya.
Kemarahannya memuncak kala ia menyaksikan sendiri kebenaran tentang dia. Andri pria yang sudah menyewa pembunuh bayaran demi meneror keluarga Santoso.
Apa motif di balik semua ini?
Setelah puas membuatnya babak belur, Rudi dengan gagah melenggang pergi setelah ia kembali meraih dasi dan ponsel yang ia lempar ke tangan asistennya tadi.
"Urus dia dan pastikan jika dia tidak akan bisa keluar dari penjara. Biarkan dia membusuk disana ! "
Kata terakhir yang Rudi ucapakan sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan gedung kosong itu.
Di luar gedung sudah berdiri Haris yang sedari tadi mendengarkan apa yang terjadi di dalam.
"Bagus ! Kau masih seperti Rudi yang dulu"
Dia menepuk bahu Rudi.
"Jadi kau apakan pria itu? "
Baru saja Rudi hendak menjawab, tiga orang pengawal keluar dan kembali menyeret seorang pria yang sudah tak bisa lagi di kenali wajahnya.
__ADS_1
"Tuh ! " Rudi menunjuk dengan sudut bibirnya.
"Kau lihat sendiri ! "
Haris tergelak puas.
"Itu akibatnya bermain-main dengan ku"
Haris mencengkam wajah Andri dan menepisnya kasar.
"Aku tidak perlu mengotori tanganku hanya untuk membereskan sampah seperti dirimu"
Dia menepukkan kedua tangannya, seakan sedang membersihkan kotoran setelah menyentuh wajah pria itu.
"Bawa dia ! " Haris memberi komando.
Pengawal pun sigap kembali menarik Andri hingga masuk kedalam mobil dan membawanya ke kantor polisi.
Haris dan Rudi pun pulang bersama menggunakan mobil Haris, sementara mobil Rudi di bawa oleh asistennya.
***
"Bagaimana kau bisa tahu semuanya, Ris? "
Dua minggu sudah berlalu dan pertanyaan itu baru muncul dari mulut Rudi sekarang ?
Selama ini dia menganggap Haris bodoh atau apa?
"Kau manganggapku bodoh"
Haris menutup lembaran berkas terakhirnya dan menyerahkan itu ketangan Dimas, lalu menyuruhnya keluar.
"Anak buahku berhasil menangkap salah satu pembunuh bayaran yang di sewa Andri. "
jelas Haris yang sebenarnya terjadi sebelum ia menghubungi Rudi dan memintanya datang ke kantor dua minggu lalu.
"Sebelumnya kau mengatakan jika dia sudah berubah ,bukan? Aku tidak percaya begitu saja "
"Dulu aku memberi perusahaan kecil padanya secara cuma-cuma, aku mengasihani mereka. Tapi apa balasannya. Seperti ini ? Cih ! "
Haris benar-benar tidak menyangka jika pelakunya pria yang sama yang mengkhianati perusahaannya beberapa tahun silam.Sudah di pastikan jika ini motif dendam terselubung.
Menurut informasi yang ia dapatkan.
Andri menjadi psikopat setelah ia keluar dari penjara dulu. Ia sering menyiksa ibu serta istrinya. Bahkan sampai ibunya meninggal. Lalu setelah kabar kematian Luna putri semata wayang Andri, istrinya juga mulai sakit-sakitkan dan akhirnya meninggal pula karena overdosis obat-obatan.
Sejak itulah ia berusaha bangkit dari keterpurukan. Ia membangun bisnis hingga bisa memiliki keuntungan besar, dan menggunakan itu untuk tujuan kejahatan. Kecelakaan Haris saat mencari Divya yang membuatnya koma selama empat tahun itupun bagian dari aksinya.
Ia sudah akan merayakan kemenangan jika saja Haris tiada, tapi keajaiban yang datang pada Haris membuat pria itu gigit jari. Namun, sebelum Haris sadar ia sudah berhasil memengaruhi Divya agar mempercayakan proyek besar kepadanya.
__ADS_1
Bagaikan mendapat kucuran air di tengah gurun, tanpa harus repot kerja keras ia bisa mendapatkan tambang emas. Dia menjalankan proyek semestinya untuk mendapatkan kepercayaan Divya dan juga Rudi.
Dan untuk menutupi segala kejahatan-nya selama ini.