
Pagi ini Divya bangun dengan keadaan yang sama seperti kemarin.
Mengenakan selimut yang menutupi bagian tubuhnya.
Setelah hari minggu kemarin seharian di kamar ,tanpa melakukan aktifitas di luar,bahkan makan pun mereka lakukan di kamar. Huh benar-benar membosankan.
Dan semalam Divya baru bisa memejamkan mata setelah dini hari.
Benar-benar dia ini.Ancamannya bukan main-main.Ah remuk rasanya tubuhku ini. Tertatih ia masuk kamar mandi.
Haris masih terlelap bahkan setelah Divya selesai Mandi.
"Sayang bangun" Divya mengusap lembut kepala Haris.
"Eumm" gumaman kecil yang terdengar disertai gerakan menggeliat .
"Hei bangun ,lihat ini sudah jam berapa kau tidak ke kantor?" Divya menggoyang tubuh suaminya itu.
Mata Haris perlahan terbuka,dilihat istrinya yang masih memakai handuk di kepalanya,ia meraih dan menarik pinggang Divya hingga ia terjatuh di atas tubuhnya.
"Hei..." Divya terlonjak.
"Kamu mau apa sayang,ayo bangun !!"
"Apanya yang bangun? aku atau..." Haris sengaja menggoda .Halisnya terangkat naik turun.
"Sayang kamu gak cape apa semalam kan ...Ah sudah ayo bangun !!" Divya berusaha melepaskan diri,ia memukul-mukul dada Haris yang terlihat tanpa sehelai benang.
"Semalam apa ?! baru tiga kali,sekali lagi sebelum aku ke kantor" pinta Haris semakin mengeratkan pelukannya.
"No...Sayang aku sudah mandi ok !! Nanti malam lagi" Refleks mengigit bibirnya,menyesali perkataannya sendiri.
"Kalau nanti malam itu sudah pasti,aku pengennya Sekarang" sedikit penekanan di kata Sekarang.
__ADS_1
"Aduh kamu tuh,aku harus ke kantor kan"
Dengan tiba-tiba Haris melepaskan pelukannya mendorong tubuh istrinya sampai ia terduduk ,Haris pun bangun dari posisinya berbaring duduk di hadapan Divya.
"Apa ! Apa tadi? Kantor" Tatapan membunuh kali ini yang tertangkap di matanya.
"Kau masih mau pergi kantor setelah semuanya? Kau pikir aku mengizinkan mu,tidak !!"
"Sayang dengar dulu..." belum selesai Divya bicara Haris sudah kembali menyela.
"Apa! dengar apa Hah? kau tidak boleh pergi ke kantor.Kalau perlu jangan keluar kamar" Peringatan Haris membuat Divya pusing,Di dalam kamar ? seharian? Kau pikir tidak bosan apa hah?
"Aku harus urus surat Resign kan?"
Akhirnya Divya memilih mengatakan itu sambil berlalu meninggalkan suaminya di atas tempat tidur,ia berjalan mengambil pakaian dari dalam almari.
Haris mengikutinya sambil terus mengoceh.
"Aku baik-baik saja sayang,lagi pula Nando pasti gak akan macam-macam kalau di kantor" mengatakan itu sambil terus memakai satu persatu pakaiannya dihadapan Haris.
Marah lagi kan? Dia ini...!
Tak habis pikir Divya .Ayo Tersenyum !,hanya tersenyum manis yang bisa menyelamatkan dirinya saat ini.
" Maaf" Ia lantas menunduk.
"Kau mau ke kantor? untuk resign?"
"Ya" jawab Divya singkat,karena memang itulah tujuannya.
"Lihat aku ! " Haris menangkup kedua pipi Divya. " Siapkan saja surat pengunduran dirimu dari rumah biar aku yang antar"
"Tapi sayang,ada beberapa barang milikku di kantor,yang harus aku ambil"
__ADS_1
"Nanti akan ku suruh orang mengambilnya ,aku tidak izinkan kau keluar rumah.Aku takut dia nekat sayang" Haris hanya terlalu khawatir.
"Justru itu yang aku takutkan jika aku terus menghindar ,setidaknya izinkan aku hari ini,aku harus menjelaskan baik-baik padanya bukan.Walaupun itu sebenarnya tidak perlu.tapi..."
"Tapi apa?" timpal Haris.
"Kau masih mengingatnya ? masih mengkhawatirkan keadaannya?perasaannya? begitu?" menatap lekat kedua mata istrinya itu mencari jawaban yang sejujur-jujurnya.
"Aku...aku hanya berpikir tidak sepantasnya dia bersikap seperti itu.
Apalagi kalau bukan karena salah paham.
Masalah bukan untuk di hindari,kan? setelah ini aku janji,tidak akan pernah menemuinya lagi .
Selain aku ini pernah mengenalnya dengan baik,dia juga bos di kantorku,Sayang. Aku harus mengajukan surat pengunduran ku sendiri.Langsung ke hadapannya"
"Apa kau bisa menjaga diri ? " Haris mengusap wajahnya kasar "mengingat dia yang sudah berani menciummu saja rasanya aku masih belum bisa terima"
"Sayang" Divya sebenarnya merasa tak enak hati,tapi itulah yang harus dilakukannya jika tidak ingin masalah ini terus berlanjut.
Apalagi jika sampai mengganggu kehidupannya dimasa depan.
Apapun reaksi yang akan diberikan Nando nanti dia harus tetap berani bicara padanya dan mungkin untuk terakhir kali.
"Baiklah " akhir dari keputusan Haris .
Menghela nafas panjang demi mengatakan itu.
"Janji padaku untuk berhati-hati,jaga jarak dengannya,aku tidak akan mengampuni dia kalau sampai berani menyentuh mu barang sedikitpun"
Baru saja Divya hendak mengatakan ya, haris sudah kembali angkat suara.
"Langsung pulang setelahnya,mengerti !"
__ADS_1
"Ok sayang.Thanks You" Tidak terduga satu ciuman mendarat di pipi Haris,membuatnya terdiam mematung.