
" Kau akan kembali ke tempat itu? " tanya Haris begitu sampai di parkiran.
"I iya tuan ," jawab Laras ragu.
"Panggil Kakak, aku sudah melupakan semuanya. Bukankah selama ini aku sudah menganggap mu adikku terlepas dari perasaan mu pada ku."
Haris tersenyum, berbicara dengan Laras seperti ini. Ia melihat kembali gadis itu seperti dulu. Lugu dan cantik. Haris menganggapnya adik karena Antonio kakaknya adalah sahabatnya. Dulu Ia tidak pernah menyangka jika gadis itu justru menyimpan rasa untuknya.
"I iya Kak! " Laras nampak gugup.
"Aku harus memenuhi tugasku, aku sudah berjanji akan menebus semua kesalahan ku. Mengembalikan lagi Bu Inah seperti dulu. " jawab Laras yakin.
Seyakin tekadnya untuk sembuh. Dan setelah berhasil Laras mengabdikan dirinya di rumah sakit tempat dimana ia dirawat selama ini.
Laras juga berjanji akan membawa bu Inah ke arah yang lebih baik.
"Baguslah, aku menunggu saat kau membawa bu Inah kembali seperti dulu. Saat itu aku akan memberikan sesuatu untukmu. " ucap Haris menjanjikan sesuatu, apa itu?
Hanya Haris saja yang tahu.
Bagi Laras kata maaf darinya sudah lebih dari cukup.
Bisa kembali menjalani hidup selayaknya manusia. Laras mensyukuri semua itu. Istiqomah setelah segala kekeliruannya.
"Oh ya kak, dimana dia~?"
Laras baru menyadari satu hal,tidak ada istrinya Haris disana.
"Dia siapa? " tanya Haris bingung.
"Istri kakak, "
Dengan tatapan lurus dan keberanian yang ia paksakan, Laras menanyakan keberadaannya. Keberadaan Divya.
"Kakak ipar mu ? Dia di rumah, bersama dua keponakan mu yang lucu."
ucap Haris, halisnya ikut terangkat naik.
"Ah iya, kakak ipar ku." Laras pun tersenyum haru.
"Temui dia nanti ,sekalian mengambil hadiah mu dariku. Kau paham !"
tegas Haris. Mengingatkan.
Gadis itu tersenyum dan mengangguk. Mengiyakan apa yang dikatakan Haris.
Ia lalu pamit setelahnya.
Laras berjalan menuju mobil, kedua suster pria itu tengah menunggunya kembali membawa pasien ke rumah sakit.
Biarkan Laras menerima segala hukumannya dengan yang lebih pantas.
Kesempatan kedua selalu datang pada mereka yang berniat menjadi lebih baik.
Lupakan vonis pengadilan yang menjatuhi -nya hukuman seumur hidup .
Haris akan membantunya lepas dari semua itu, jika benar Laras sudah berubah.
Dan sekali lagi takdir tidak pernah berbohong. Karma dan hukuman selalu datang ,semua itu ada ,semua itu nyata.
Katakanlah jika Inah dan suaminya itu telah mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatan mereka di masa lalu. Hanya demi uang mereka gelap mata.
Lalu apakah karma itu berlaku untuk Rahma ? Dalang dari semua yang telah terjadi. Kita akan lihat nanti, semua adil dalam hidup, semua adil dalam cinta dan peran.
__ADS_1
***
Surabaya
Meninggalkan keramaian Jakarta, disinilah Ameera berada, kembali setelah menghadiri pemakaman ayah mertua dari kakaknya, Divya.
Ameera menghirup nafas dalam, sejuk terasa udara yang masuk melalui rongga dada-nya. Kehidupan rumah tangganya bersama Erik berjalan cukup baik. Meski satu tahun berlalu masih nampak harmonis, nan romantis.
Perhatian mereka satu sama lain semakin keduanya tunjukkan.
Satu hal yang berbeda saat tuntutan datang dari pihak ketiga.
Anak !
Pertanyaan demi pertanyaan tak pernah ada habisnya di muka bumi ini.
Hidup bersosialisasi pastilah menuntut pemeran - nya untuk selalu berkomunikasi dengan banyak orang.
Seperti hal-nya yang terjadi pada hidup Ameera dan Erik.
Dulu saat sebelum menikah,pertanyaan
kapan menikah? Banyak terlontar dari berbagai pihak. Teman, saudara, kerabat dan terutama para tetangga.
Sekarang pun sama, setelah menikah mereka masih melempar pertanyaan yang akan sulit dijawab.
Serba salah. Kita menjawabnya pun masih saja salah karena kita tetap merasa sakit hati, diam .Apalagi !
Kapan hamil, kenapa belom isi?
Sudah satu tahun usia pernikahan kalian, bukan?
Sibuk kerja ya?
Buruan mumpung masih muda.
Itulah segelintir pertanyaan yang sering kita dengar. Masih banyak lagi selain semua itu.
Selalu salah kita menanggapinya,bukan?
Ameera Veronika Ibrahim, dia bukannya menutup telinga dari semua itu. Ia hanya tak ingin ambil pusing. Hari-harinya ia jalani dengan penuh suka cita. Tak peduli apa kata mereka. Bekerja, bukan penghalang keromantisannya bersama suami.
Sementara masalah anak, itu rezeki. jika sudah saatnya tuhan percayakan mereka untuk menjadi orang tua, maka semua itu akan terjadi.
Toh baik Erik dan kedua orang tuanya menerima semua itu.Tak pernah menuntut apapun pada Ameera.
Ibu serta ayah mertua Ameera sangat baik. Mereka taat beragama dan mereka tahu jika anak bukanlah barang yang wajib dimiliki semua orang.
Anak adalah titipan, pemberian. Tuhan akan mempercayakan itu pada setiap orang yang ia kehendaki.
"Sayang sedang apa? "
tanya Erik begitu melihat istrinya tengah asik mengobrol dengan seseorang di ponselnya.
Siapa yang tengah malam begini meneleponnya. Batin Erik.
"Heum," Ameera menoleh.
"ini aku lagi ngobrol sama temen
sayang "
jawab Ameera dengan senyum khasnya yang selalu sukses membuat Erik terpesona.
__ADS_1
"Owh ok, sudah malam memangnya belum mengantuk? "
tanya Erik lagi, ia mendekati Ameera dan memeluk -nya dari belakang.
"Apasih, "
bisik Ameera bergerak -gerak kegelian dengan apa yang dilakukan suaminya itu.
"Eh udah dulu ya, udah malem juga. Aku ngantuk." ucap Ameera pada seseorang yang masih mendengarkan mereka di sebrang sana.
"Ok ,By, See you tomorrow !!" tutup Ameera mengakhiri perbincangannya di ponsel .
Setelah itu ia berbalik menatap Erik yang masih bergelayut manja di pundaknya.
" Apa sih kak, aku lagi nelpon, tahu !" Ameera memberenggut, memajukan bibirnya dengan lucu.
Membuat Erik semakin gemas.
" Maaf sayang, tapi lihat dong sudah hampir jam sebelas sudah waktunya 'bobo', kan ? " ucap Erik mencubit gemas pipi istrinya.
Jemari -nya mulai menari-nari di wajah Ameera, menatap kedua bola matanya lekat. Meraih dan merengkuhnya tanpa perlawanan perlahan Ameera mengikuti setiap gerakan Erik yang lihai.
Beberapa detik kemudian pagutan diantara keduanya terlepas. Sejenak mereka mengatur nafas.
Saling memandang. Melempar senyuman.
" Siapa yang nelpon tadi, " Erik memainkan rambut panjang Ameera yang terurai.
" Andra ! Kamu inget kan cowok yang datang terakhir pas kita nikah dulu. "
jawab Ameera spontan.
"Yang meluk kamu ? "
Ameera mengangguk.
Percayalah,raut wajah Erik seketika berubah pias demi mendengar nama itu di sebutkan istrinya. Apalagi saat dia mengangguk yakin.
"Yang ngusak rambut kamu, begini ! "
Lagi-lagi Erik menebaknya dengan sinis, menirukan apa yang pria itu lakukan saat menghadiri pernikahan mereka.
Bukan hanya karena itu, Erik tahu dia sahabat dekat Ameera .Bahkan mungkin yang paling dekat dengannya.
Bagaimana tidak saat ia datang terlambat, naik ke atas pelaminan dan langsung memeluk wanita yang kala itu sudah sah menjadi istrinya.
Semua itu masih terbayang di kepala Erik.
Hanya dengan mendengar namanya ia merasa gerah. Wajahnya kini merah padam menahan emosi.
"Iya, dia tuh emang kebiasaan ngusak-ngusak rambut aku. Lucu ya? Tapi aku suka loh. Kakak juga dong. Kayak gini "
Ameera dengan polosnya meraih tangan Erik dan menempatkannya di puncak kepalanya.
"Suruh aja dia yang lakuin itu, kenapa musti aku !" dengus Erik kesal.
"Hei, Meera bercanda, kak. Kalau gak mau ya udah sih gak apa-apa gak usah jutek gitu" Ameera juga ikut kesal melihat perubahan sikap Erik yang tiba-tiba.
"Kenapa? Cemburu ya ! "
"Nggak ! " jawab Erik cepat.
"Iya cemburu tuh, bilang aja iya kenapa sih ! " Lagi-lagi Ameera mencoba menggoda Erik.
__ADS_1