
Dua pekan sudah Divya menikah dan tinggal bersama keluarga Santoso.
Selama itu pula ia banyak memperhatikan sikap Haris, suaminya.
Ia selalu ramah terhadap Mbok Jum dan sikapnya itu berbanding terbalik terhadap Nyonya Santoso yang notabene -nya adalah Mama dari tuan Haris sendiri.
Entah mengapa itu yang menjadi alasan Divya semakin penasaran dan tetap bertahan pada hubungan yang tidak memiliki kejelasan ini.
Hubungannya dengan tuan Haris sendiri masih tetap sama. Keduanya masih saling menahan diri.
Jika Divya takut tidak bisa menguasai hati dan perasaan -nya karena ia tidak mungkin berharap lebih dengan pernikahannya. Meski dia sendiri memang mengagumi ketampanan Haris.
Sementara itu Haris, dia sendiri tahu betul bagaimana Divya. Dia gadis yang baik ,hanya saja ia tidak ingin menunjukkan perasaannya saat ini, sebelum Divya benar-benar menerimanya sebagai suami.
Sama-sama seperti ini dan itu akan terjadi entah sampai kapan.
Haris selalu merasa tersiksa setiap kali tidur bersama Divya dalam satu tempat.
Satu ruangan saja sudah membuat -nya sesak dan frustasi ,apalagi harus tidur satu ranjang.
Bagaimanapun nalurinya sebagai seorang laki-laki akan keluar begitu saja.
Hanya dengan melihat penampilan cantik gadis yang sudah sah menjadi istrinya itu.
Karena hal itu pula lah terkadang Haris lebih memilih tertidur di sofa ruang kerjanya, atau di studio mini miliknya yang berada di sebelah kamar mereka. Atau terkadang Haris juga berpindah tempat saat tengah malam.
__ADS_1
Sikap Haris yang seperti inilah yang justru membuat Divya makin sakit hati, ia berpikir jika Haris tidak menyukai -nya sama sekali,bahkan mungkin merasa sangat hina.
Lalu untuk apa dia menikahiku jika hanya memberikan kekecewaan. Untuk apa aku di sini. Untuk apa aku bertahan.
Aku ingin pergi tapi hatiku menahanku tetap berada di sini. Aku harus apa Tuhan.
Namun ia tidak serta merta mundur begitu saja.
Melihat sikapnya,
membuat Divya bertanya-tanya.
Hingga akhirnya ia memutuskan menyelidiki tentang Haris lewat Mbok Jum.
"Tapi Non ... si mbok tidak berani cerita apapun soal Tuan ... ," ucap mbok Jum.
"Si mbok takut .... " Mbok Jum yang saat itu datang membawa minuman yang diminta Divya.
Gadis itu sengaja memanggil untuk ditemani mengobrol
disela waktu menunggu kepulangan tuan Haris dari kantornya.
"Takut sama siapa si Mbok ... jelas-jelas Divya lihat Tuan sayang banget sama Mbok ... Papa sama Mama juga tidak ada di rumah kan ? Ayo cerita sebelum Tuan muda datang ! Please," ucap Divya di sertai wajah memelasnya memohon agar pengasuh Haris itu mau menceritakan sedikit saja tentang siapa tuannya.
"Tuan Muda itu anak asuh si mbok sejak usia 9 tahun, Non ... " si Mbok mulai bercerita.
__ADS_1
"Lalu ..."
"Tepatnya setelah kesuksesan Tuan Besar di mulai, si mbok sudah bekerja di sini, mengurus rumah dan juga Tuan muda. Rumah Tuan yang dulu tidak semegah ini ." Mbok Jum menjeda kalimatnya.
"Perusahaannya terus berkembang pesat, Haris tumbuh menjadi anak yang pintar . Namun, seiring kesuksesan Tuan besar, Nyonya besar samakin terlena ... ia jadi lebih sering pergi tanpa peduli pada Tuan Muda."
Si mbok terlihat menyeka air mata
Divya yang mendengarkan hikmat dengan sigap memberinya tisu.
Ia menunggu kembali cerita si mbok dengan sabar, sambil menikmati segelas es Cappucino kesukaan -nya.
"Non~ si mbok mohon jangan singgung masalah ini pada Tuan muda," pinta si mbok dengan tatapan sayu.
"Iya mbok, mbok tenang saja Divya tidak akan cerita pada siapapun, Divya cuman penasaran kenapa Tuan muda seperti tidak pernah menghiraukan ibunya sendiri ... maaf banget kalo Divya salah, cuman ya itu yang Divya lihat,Mbok. Tuan muda justru seperti lebih sayang sama si mbok,iya kan? Bahkan sama saya saja tidak pernah bersikap lembut." Divya menunduk meratapi kenyataan yang terjadi dalam hidupnya.
"Non yang sabar ya,Haris itu sebenarnya anak yang baik, dia sudah seperti anak bagi si mbok,hanya saja~dia ... " Mbok Jum terlihat menggantung kata -kata nya. Hal yang membuat Divya semakin penasaran.
"Haris kenapa Mbok ? Cerita saja siapa tahu Divya bisa bantu buat balikin sikapnya seperti yang si Mbok bilang, dia baik sebenarnya, iya 'kan? Itu yang selalu mbok katakan padaku beberapa kali."
Divya memang selalu mendengar kata-kata itu keluar dari mulut wanita di hadapannya ini. Wanita yang hampir renta di usianya saat ini.
Beliau juga sebenarnya tidak terlalu banyak bekerja. Hanya saja untuk pensiun tuan besar masih belum memberinya izin.
Ia di sini terus menjadi kepala pembantu, sekaligus untuk menemani Haris.
__ADS_1