
Marisa masih melongo tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.
Pemuda berandalan itu sama persis seperti pemuda sholeh di hadapannya.
Tidak sesopan si sholeh,ia yang tadinya dikira hendak menyapa justru melengos keluar pesantren begitu saja.
Dimas yang melihat itupun memanggilnya agar ia mendekat .
"Fadlan, mau kemana kamu? "
Fadlan.
"Oh Om sama tante, kapan datang? Maaf aku gak lihat kalian tadi. "
Entah itu hanya pura-pura atau memang dia yang Dimas sebut namanya 'Fadlan' benar-benar tidak melihat begitu ramainya depan pesantren. Ada sembilan orang yang tengah berdiri namun ia melewatinya begitu saja.
Dengan santai -nya berjalan sambil bersiul.
Dengan acuh Fadlan berbasa basi seperti itu. Ia menyalami Dimas dan Adara, dengan senyumnya yang terkesan dipaksakan. Pun juga pada Rio, lain halnya mereka terlihat akrab. Ia menyapa sepupunya dengan duel 'tos' ala anak muda.
" Fadlan saudara ku apa kabar? Makin ganteng aja dirimu. " seru Rio diiringi tawa -nya yang terdengar menyebalkan di telinga Marisa.
Dia yang tengah menatap tajam ke arah pemuda bernama Fadlan itu.
" Elo !"
Begitu Fadlan melihat ada sosok yang tengah menatapnya dengan pandangan tidak suka.
"Minta maaf Lan, gara-gara kamu aku yang kena. Si teteh ini nyalahin aku dia pikir aku tuh kamu. Kamu apain dia sih sampe marah-marah gitu? " cerocos pemuda sholeh yang masih belum menyebutkan namanya.
"Tunggu tunggu kalian ini kembar? "
begitu Marisa tersadar dari keterkejutannya, ia pun bertanya.
Pertanyaan yang mungkin tidak harus dijawab karena jelas-jelas mereka sangat mirip. Apalagi namanya kalau bukan kembar.
"Iya sayang, keponakan tante memang kembar. Ini Fadlan dan ini adiknya Hazlan." ucap tante Adara menjelaskan.
Sekali lagi Adara meminta mereka masuk untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi.
Marisa yang tidak tahu, ia menyalahkan Hazlan atas apa yang diperbuat saudara kembarnya, Fadlan.
Dengan terpaksa Fadlan pun akhirnya meminta maaf pada Marisa. Ia masih nampak acuh dan tidak bersahabat.
Lain halnya dengan Hazlan meski dia tadi disalahkan namun ia tetap bersikap sopan.
__ADS_1
"Ya udah lah gak apa-apa. "
Marisa dengan pasrahnya meloloskan Fadlan begitu saja. Entahlah, tapi Marisa merasa malu dengan apa yang terjadi. Ia yang tidak tahu jika mereka kembar malah menyalahkan Hazlan,yang jelas -jelas tidak tahu apa-apa.
Baru saja Marisa hendak meminta maaf, seorang santriwati remaja berlari keluar terburu-buru.
"Kak Haz, " ia terengah-engah mengatur nafas.
"Ya ada apa? " tanya Hazlan terheran-heran.
"Kak, itu. Itu si Doni. Itu ~" dia bicara dengan tidak jelas.
"Sakit kak, " sesaat kemudian ia baru bicara dengan benar setelah Hazlan memintanya untuk tenang.
"Dia harus di bawa ke dokter kak. " ucapnya lagi sambil melirik pada Marisa dan yang lainnya,mungkin dia heran begitu banyak orang di sini. Terlebih lagi mungkin melihat pakaian yang dikenakan Marisa dan teman-temannya yang tidak sesuai dengan tempat ini.
"Memangnya dia kenapa? "
Marisa yang notabene-nya memang seorang dokter merasa ikut peduli.
Namun, pertanyaannya justru dijawab acuh oleh santriwati tersebut.
"Gini maksud aku dia sakit apa, ciri-ciri sakitnya seperti apa?"
Saat semua itu terjadi Fadlan sudah meninggalkan tempat sedari tadi.
"Ah iya Haz, Marisa ini keponakan Om. Dia baru lulus kuliah kedokteran. Juga sudah mulai praktek beberapa minggu ini. Iya kan Cha?"
Marisa pun mengiyakan.
"Oh ya udah, bisa minta tolong periksa Doni kalau begitu? " tanya Hazlan.
"Tentu, tapi ~"
Marisa menilik apa yang ia pakai, celananya memang celana olahraga panjang yang menutupi kaki jenjangnya. Namun,ia memakai kaos polos tipis dan pendek yang memperlihatkan lengan putihnya.Belum lagi bagian bawah jika ia sedikit saja mengangkat tangan perut putih nan rata itu terpampang nyata.
"Gak apa-apa kamu masuk pake jaket aku aja." ucap Reno yang mengerti kebimbangan Marisa, ia menyodorkan jaket padanya.
Sementara Reno yang memakai celana trening panjang, cukup dengan kaos warna hitam saja. Ia akan menunggu di luar jika pakaiannya itu dianggap tidak sopan.
Marisa menerima jaket Reno, ia segera memakainya. Sekali lagi ia bingung dengan bagian kepala. Rambutnya yang ikal bergelombang hanya dikuncir asal.
Adara yang memakai selendangpun membuka mobil dan memberikan satu selendangnya untuk Marisa pakai.
Setelah itu ia masuk dan mulai pemeriksaan awal, walau tanpa peralatan medis.
__ADS_1
Sebelumnya karena Shintia dan Anita merasa tidak pantas masuk dengan pakaian minim ,mereka pun pamit kembali ke Villa bersama Hendri .
Sementara Reno akhirnya ikut masuk ke dalam pesantren.
Marisa juga meminta agar ketiga temannya kembali dengan membawakan peralatan medis yang ia bawa dari rumah.
Dengan cekatan dan lihai Marisa memberi pertolongan pertama pada pasien bernama Doni, usianya sekitar tujuh tahun. Ia yang ternyata santri baru yang beberapa pekan ini mondok di sini.
"Jadi dia baru di sini? " tanya Marisa setelah nafas pasien kembali normal.
Doni mengalami sesak nafas, Marisa mencoba melakukan pertolongan pertama dengan menekan-nekan dadanya perlahan.
Marisa juga memberikan resep obat untuk diberikan kepada Doni.
"Umi, Abi " begitu Marisa diminta memanggil pada ustadt dan ustadzah yang tak lain orangtua Fadlan dan Hazlan.
"Kalau boleh saya sarankan. Jika menerima siswa eum maksud Icha santri baru dimintain surat keterangan kesehatannya. Soalnya kan kita gak tahu apa dia punya riwayat kesehatan yang buruk. Atau yang lain-lainnya ,seperti yang terjadi sama Doni. Dia asma dan gak bisa kena angin malam. Mungkin pesantren ini ada kegiatan malamnya kan? Dia gak bisa ikut kalau kondisinya seperti itu. "
panjang lebar Marisa menjelaskan serta mengutarakan pendapatnya.
Umi dan Abi Hazlan nampak kagum dengan apa yang di ucapkan Marisa,memang benar seharusnya seperti itu. Kelalaian pihak pesantren yang ke depannya akan di perbaiki lagi.
Setelah semua itu, kegiatan di pesantren kembali normal. Marisa juga nampak betah ada di tempat itu. Ia bersama Reno berkeliling melihat-lihat sekitaran pesantren ditemani Hazlan dan Rio.
Hazlan terlihat mudah akrab dengan Reno, berjalan berdua di depan sementara nasib sial bagi Marisa yang harus berjalan berdampingan dengan sepupu menyebalkan,Rio di sampingnya.
Walau begitu Rio sebenarnya memang asik diajak bicara, ia justru lebih cerewet dari perempuan manapun.
Pembicaraan pun di mulai dengan Rio yang terus menggoda Marisa.
"Kak, kakak suka ya sama Hazlan? "
"Apasih? " untung saja jarak diantara mereka cukup jauh,kemungkinan kecil bagi Hazlan mendengar perkataan Rio.
"Ngaku aja! " Rio menyenggol lengan Marisa.
"Shuutt diem ! " menempelkan jari telunjuk agar Rio berhenti mengoceh yang bukan-bukan.
"Dia seumuran aku loh. Nasib kakak selalu jatuh cinta sama yang lebih muda."
Ucapan Rio yang sukses membuat Marisa tercengang hebat. Tubuh tinggi Hazlan dan saudara kembarnya seakan menutupi usia mereka yang sebenarnya.
Marisa pikir dari awal jika keduanya itu seumuran dengan dirinya.
Namun justru ia tahu jika mereka baru lulus SMU.
__ADS_1
Benarkah begitu?
Atau Rio berbohong ?