
"Aku mau kuliah bu!! aku mau ambil jurusan ini.setelah itu aku mau bekerja,aku mau membelikan ibu sesuatu dari gaji pertamaku.Ayah juga.
Aku tidak ingin menikah muda.Apalagi dengan laki-laki yang tidak aku kenal.Ayolah bu,dukung aku.Ayah kenapa ayah diam saja bela aku ayah"
Tiba-tiba perkataan itu muncul di pikiran gadis yang masih tertunduk lesu di depan cermin.
Airmatanya menetes,menulusuri pipi.
Bayangan di masa lalunya terlintas begitu saja.
" Ibu sudah tidak tahan lagi,kau selalu pulang bersama laki-laki,pakai motor pula !! Sekalinya ada yang bawa mobil,sudah butut begitu !! Kalau kau menikah ibu tidak akan kuatir lagi nanti.Lulus SMU itu sudah pas untuk seorang perempuan menikah,dulu juga ibu seperti itu.soal kuliah nanti-nanti juga bisa biar ibu yang bicara pada calon suami mu supaya diizinkan kuliah setelah menikah"
"Mereka hanya teman sekolah bu,
lagi pula kalau aku
tidak di izinkan bawa mobil sendiri,
ya seperti itulah yang terjadi ,
teman-teman ku tidak
akan tega melihat ku pulang jalan kaki,kan"
Ayah hanya tersenyum menanggapi jawaban putrinya.Divya memang sudah pintar bicara sejak dulu,tak kalah pintar ia selalu menjawab
bahkan berdebat dengan ibunya.
"Pintar sekali anak ini menjawab,Urus dia Ayah ! dari tadi sibuk saja dengan koran-koran itu apa tidak bosan ! Setiap hari bekerja,di akhir pekan bukannya bantu aku. Nasehati putri mu!!"
Ibu malah meluapkan emosinya pada Ayah.
"Memangnya putri kita mau
dinikahkan dengan siapa?
sudah punya calon?
Ada-ada saja ibu mu ini Divya,"
jawab Ayah yang bicara masih dengan mata tak berpaling dari koran yang dibacanya .
" Biarkan saja. putri kita ini bisa jaga diri,iya kan nak?!"
__ADS_1
"Betull !!"
Divya lantas mengangkat kedua jempolnya.
"Yang mengantarnya pulang kan teman-temannya juga,Divya masih belum cukup umur jika di nikahkan tunggu sampai dia lulus kuliah nanti"
Ayah bicara perlahan agar ibunya Divya mengerti.
"Baiklah,tadinya aku mau kenalkan Divya pada anak sahabatmu itu."
Belum sempat ibu menyebut nama sahabatnya ,ayah sudah memotong perkataannya.
"Jangan sekarang!"
Ayah sudah meletakkan koran diatas meja.
"Dua atau tiga tahun lagi kita akan mengenalkannya"
***
Airmata tak berhenti saat Divya kini mengenakan gaun pernikahan,gaun sederhana berwarna putih melekat di tubuhnya.
Pikirannya berlarian mengingat masa lalu yang ia lewati bersama ibu dan ayahnya.
Dengan seseorang yang entah menghargai ku atau tidak.
Dua kali aku menolak di jodohkan dengan orang yang tidak ku kenal.
Dan kali ini.~
mungkin kalau aku tidak menolaknya dulu tidak akan jadi seperti ini.
Divya meratapi penyesalannya dulu dia hendak di kenalkan pada sahabat ayahnya.
Namun menolak karena ingin
menyelesaikan kuliah,dan bekerja.
Pada akhirnya dia di jodohkan juga dan kali ini pamannya yang memilih calon.
Pria kasar,dingin ,galak dan sombong
dimata Divya
__ADS_1
seperti itulah laki-laki yang akan menikahinya sekarang,laki-laki bernama Haris.Ia di kenal sebagai orang paling berkuasa di kerajaan bisnis,namun fakta itu sama sekali tidak menyilaukan matanya.
Mungkin jika wanita lain ada di posisinya mereka akan sangat senang dengan situasi ini,tapi tidak bagi seorang Divya.
"Permisi nona !" Suara seorang perempuan,masuk ke kamar Divya.
"Loh Nona kenapa menangis,lihat make-up nya jadi berantakan kan ?!"
Perempuan yang tadi meriasnya kembali masuk untuk menjemput mempelai wanita.
Ia memoleskan kembali sedikit bedak yang luntur karena tangisan si pengantin.
"Pengantin itu seharusnya bahagia,tersenyum ,bukannya menangis seperti ini.Memang apa yang di pikirkan nona?"
yanya sang juru rias sambil terus membenarkan makeup di wajah Divya.
"Tidak ada apa-apa"
seranya menjawab dengan memaksakan senyumnya.
"Nah gitu kan cantik,senyumnya manis begitu di sembunyikan.Nona itu cantik loh,di makeup sedikit saja sudah terlihat sempurna"
Wanita itu memuji Divya yang memang sudah terlihat cantik alami meski tanpa polesan makeup tebal.
"Ah ibu bisa saja"
Divya yang di puji pun tersipu malu.
"Sudah siap ?! Ayo semuanya sudah menunggu"
Bibi Rita tiba-tiba muncul dari balik pintu yang sedikit terbuka,di ikuti Ameera di belakangnya.
"Iya bibi,sebentar lagi aku turun"
Divya berusaha tersenyum lagi.
"Ya sudah bibi turun duluan, kamu jangan lama-lama, ya " ucap bibi Rita.
" Ameera sayang temani kakakmu !" titahnya pada Ameera yang berdiri di belakangnya.
"Baik bi ,!"
Ameera pun patuh dengan perintah sang Bibi,ia menunggu sampai Divya siap untuk turun dan menghadapi kenyataan.
__ADS_1