
Ada pepatah yang mengatakan jika kita tertawa ada baiknya jangan terlalu berlebihan,nanti bisa nangis.
Benarkah? Tapi terkadang itu memang nyata adanya.
Dering suara ponsel sudah kembali terdengar,entah sudah yang keberapa kalinya tapi Rahma masih belum mau mengangkat.Nomor yang menghubunginya bukan nomor yang ia kenal.Ragu dia menjawab,tapi ini sudah puluhan kali dan sukses membuat Rahma penasaran.Siapa yang menelponnya? Dan untuk kepentingan apa?
"Hallo"
Akhirnya Nyonya Santoso itu membuka pembicaraan.Ia duduk sendiri di teras rumah yang menghadap langsung ke kolam renang.
"Hallo tante"
Suara di sebrang sana memanggilnya tante.
"Masih inget aku ?"
Percayalah wajah Rahma sudah berubah pucat hanya dengan mendengar suara itu,suara yang nyaris menghilang selama kurun waktu tiga tahun ini kembali mengusik gendang telinganya.
"Tentunya tante Rahma tidak akan lupa dengan suaraku ini,bukan?"
"Oops ! Apa aku menganggumu nyonya Rahma Santoso ? Aku hanya mau mengingatkan jika urusan diantara kita belum selesai"
"Kamu !" Rahma bahkan sudah menggeser posisi duduknya yang tadi tengah bersandar di sofa,dengan majalah di tangannya.
"Iya tante ini aku" Jawab suara seseorang di balik ponselnya,suara yang memang tak asing di telinga Rahma.
"Mau apa kamu !"
Gertak Rahma sedikit berbisik namun penuh penekanan di setiap nada bicaranya.
"Mau aku? Tante nanya mau aku apa? Bukankah tante sudah tahu mau aku yang sebenarnya apa?"
Bahkan suara itu sukses mempermainkan emosi lawan bicaranya.
"Tidak usah berbelit-belit,kamu tidak akan pernah mendapatkan apa yang kamu mau.MENGERTI !"
Rahma benar-benar tersulut ia bangkit dari posisinya terduduk,berusaha meredam emosinya tapi justru ia terlihat gelisah.
"Bagaimana Haris tante?"
"Dia sudah menikah !"
Rahma menjawab cepat,sambil terus berpikir mau apa gadis ini kembali mengusik ketenangannya.
Rahma pikir dia sudah di penjara dan tidak akan keluar dalam kurun waktu yang masih lama.
"Kenapa tante? Tante masih syok denger suara aku.Hahaha"
Tawa perempuan di sembarang sana memang membuat siapa saja yang mendengarnya akan merinding ketakutan.Tawa sarkas penuh ledekan.
"Kamu jangan macam-macam ya atau~"
"Atau apa tante? Heum !"
"Kamu~"
"Aku akan pastikan jika aku tidak bahagia maka keluarga tante juga tidak akan pernah mendapat kebahagiaan.Dengar tante Rahma,aku yang memegang kartu As-mu.Aku tahu semuanya dan aku bisa saja membongkar kedokmu kalau aku mau"
Gadis itu mengancam,dulu dia dihancurkan tapi kali ini dia yang akan menghancurkan.
"Kita tunggu saja tanggal mainnya tante,by !!"
Sambungan telpon terputus sepihak.
__ADS_1
"Laras.Hallo Laras !!"
"Kurang ngajar !"
Rahma dengan kesalnya membanting ponsel itu ke sofa.
"Mau apa dia sebenarnya? Kenapa dia harus ganggu hidupku lagi.Bocah ingusan itu bahkan berani mengancamku "
Rahma masih gelisah,bersungut-sungut sendiri setelah mendapat teror ancaman dari gadis yang diketahui bernama Laras.
"Hai Ma...!"
Tiba-tiba saja Rahma tersentak kaget begitu mendapati menantunya sudah berdiri disana.
"Ya..."
"Mama kenapa kaget gitu? Muka mama juga pucat,Mama sakit?"
Tanya Divya khawatir,melihat gelagat ibu mertuanya yang nampak terkejut dengan kehadiran dia disini atau mungkin ada sesuatu yang sedang Mama pikirkan.
"E-enggak kok,Mama gak sakit,Mama baik-baik saja.Kamu sendiri ngapain kesini,mana Haris?"
"Aku kesini iseng aja Ma,habis bosen di kamar terus.Tuan Haris ,dia di ruang kerja Ma,sama Papa juga"
"Heum.ok !"
"Mama mau minum?"
Divya menilai jika ibu mertuanya tidak sedang baik-baik saja pasti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
"Heum boleh" Jawab Rahma mengangguk.
"Bentar ya Ma ,Vya ambilkan minumnya dulu"
Divya sempat melirik ponsel Rahma tergeletak asal di atas sofa.
Ia kembali dengan segelas air putih,memberikannya kepada Rahma yang langsung diminumnya hingga tandas.
Tidak ada obrolan kecuali desahan Rahma yang terdengar gelisah,walau Rahma berusaha menyembunyikannya dengan kembali membuka majalah yang tadi dia baca namun gurat itu tak dapat ia sembunyikan,Rahma hanya membuang waktu saja dengan terus membolak balik setiap halaman majalah bahkan tanpa ia baca,sekedar melihat gambarnya pun mungkin tidak.
Beberapa menit kemudian Haris datang menghampiri mereka yang tengah termenung dengan pikirannya sendiri.
Dengan isyarat halis ia seakan bertanya apa yang sedang terjadi.
Divya yang paham hanya mengedikkan bahu.
"Ma..."
"Hai..Ma.Mama hallo !"
Haris sampai harus melambaikan tangan di depan wajah sang ibu,demi menyadarkan dia dari lamunannya yang entah menerawang apa.
"Heum.Apa ? Ris"
Rahma yang tersentak kaget mengerjapkan mata beberapa kali.
"Mama ngelamun ya ?"
"Ada apa?"
Tuan Santoso yang baru datang pun menyela pertanyaan pada istrinya.
"Ah tidak ! Tidak ada apa-apa"
__ADS_1
"Jangan berbohong !" Ucap Santoso lagi.
"Iya,gak ada apa-apa.Bener.Mama ke kamar dulu ya"
Pamit Rahma kemudian,ia tak ingin menceritakan hal apapun pada semua orang.Lebih baik ia menghindarinya dengan pergi ke kamar.
"Kau sakit Rahma?" Tanya Santoso mengkhawatirkan kondisi istrinya.
"Tidak,aku baik-baik saja"
Jawab Rahma sambil berlalu meninggalkan teras rumah berjalan masuk ke kamarnya.
"Sayang,ada apa sama Mama? Dari tadi
kamu disini,kan?"
Haris balik bertanya pada Divya yang memang mengetahui jika istrinya tersebut sudah lebih dulu berada di teras bersama sang Mama.
"Aku juga gak tahu sayang,tapi pas aku kesini Mama udah kayak gitu,mukanya juga pucat ,pas aku tanya Mama cuma bilang gak kenapa-napa terus minta aku ambilin air minum"
Jelas Divya dengan menunjuk gelas di atas meja bekas Rahma minum tadi,tanpa ada yang ditutupi,dan memang benar ia sendiri tidak mengerti mengapa Mama mertuanya tiba-tiba bersikap aneh.
"Ok aku cek ke kamar ya Pah?"
"Heum!"
Sementara Santoso kembali membuka koran bisnisnya,Haris menyusul Rahma ke kamar.
"Divya "
Santoso sedikit melirik menantunya yang masih tertegun menatap Haris.
"Ah,iya Pa "
Dia pun menoleh sang Papa mertua,lalu duduk di sampingnya.
"Kau yakin tidak tahu apa-apa,Nak?"
Seakan masih meragukan jawaban Divya tadi,Santoso kembali bertanya.
"Iya pa,tadi pas saya kesini Mama sudah dalam keadaan berdiri disitu~"
Divya menunjuk arah dimana Rahma tadi tengah berdiri saat dia menghampirinya.
"~Wajahnya pucat"
"Terus~"
"Terus apa,katakan Nak !"
Santoso kini bertanya lebih serius lagi,ia menutup koran dan meletakkannya di atas meja.Sedikit membalikkan tubuh menghadap menantunya .
"Ponsel Mama tadi tergeletak di sofa sini Pa" Menunjuk sisi sofa dimana ponsel Rahma berada tadi.
"Sepertinya Mama habis terima telpon"
Santoso mengangguk tanda paham dengan penjelasan Divya barusan.
"Itu juga dugaan Divya Pa,benar atau tidaknya Divya juga gak yakin"
"Iya kau benar,mungkin memang itu yang mengganggu pikiran Rahma"
Tapi siapa yang menelpon Rahma sampai dia syok seperti itu ya.
__ADS_1