
"PRANANDO WIRYAWAN ! Punya nyali juga rupanya kau berani datang kesini setelah membuatku kesal"
Suara berat terdengar menyeramkan itu keluar dari mulut Haris. Saat baru saja pria yang disebut namanya itu hendak duduk.
"Berapa yang kau inginkan? "
tanya Haris to the point.
"Sesuai dengan yang tertera. " jawab Pranando tegas.
"Alasan mu menjual perusahaan itu, untuk apa? "
Haris membuka berkas, ia bertanya tanpa melihat siapa yang ia ajak bicara.
Pranando terdiam. Belum ada jawaban dari mulutnya.Entah ia enggan atau mungkin ini karena ada hubungannya dengan Haris.
" Heum lupakan itu! " senyum miring Haris tercetak.
"Kau mau menghindari ku, menghindari istriku dan perasaan mu.Benarkan?"
Haris menutup berkas itu dan menyimpannya di atas meja.
"Bicara baik-baik dengan ku. Wajah mu jangan tegang begitu.Ayolah aku belum lapar jadi aku tidak akan memakan mu."
Candaan Haris dengan tergelak kecil.
Ia sudah mengintimidasi hanya dengan bersikap dingin. Ya, percayalah jika dia itu memang berkuasa dan menyeramkan. Berbanding terbalik sikapnya ketika bersama Divya. Lembut dan romantis kadang juga aneh, konyol dan manja.
"Begini, " Haris memulai lagi ketika Pranando hanya menanggapinya dengan senyum kecil, nyaris tak terlihat.
"Kau mau pergi jauh. Jauh sekali bukan ? Kau yakin bisa melupakan semuanya. Hati mu itu dibawa kemanapun kau pergi kan ?"
Haris menuding dada Pranando dengan telunjuknya.
"Kau yakin, bisa melupakan perasaan mu itu ?" untuk kesekian kalinya Haris ingin menegaskan.
Hening, untuk sesaat hanya deru nafas mereka yang terlihat tegang namun nyaris tak terdengar.
Suara jemari Haris yang mengetuk-ngetuk meja menunggu jawaban.
"Entah sejak kapan perasaan ku mulai tidak bisa aku kendalikan tuan. Sebelum bertemu Divya dua bulan lalu semua masih baik-baik saja."
Akhirnya Pranando bicara walau untuk itu sedikitpun ia tidak berani menatap Haris.
"Kau hanya belum bisa merelakan dia,bicara dengannya berdua maka kau akan merasa jauh lebih baik !"
Sudah gila kah Haris, apa yang dia katakan? Menyuruh Pranando berbicara dengan istrinya sendiri. Berdua!
Baik Rudi maupun Dimas melongo tak percaya, keduanya saling melempar pertanyaan lewat sorot mata.
"Apa yang kakak ipar ku ini coba buktikan ?" batin Dimas bertanya-tanya.
Sementara Rudi sepertinya sudah mengerti apa yang dipikirkan adiknya itu. Terdengar konyol tapi cukup masuk akal bagi mereka yang masih punya rasa penasaran .
Benarkah apa yang dipikirkannya sama persis dengan apa yang di rencanakan Haris.
Sementara itu Pranando masih terdiam.
Mencoba mencerna apa yang di katakan Haris. Mengapa ia menyuruh dirinya untuk bicara dengan istrinya ?
__ADS_1
Ini siasat atau jebakan?
"Tidak perlu kau jawab ! Aku tahu kau bingung. Ikuti saja saran ku.Akan aku atur pertemuan kalian. "
pungkas Haris.
"Tapi~"
"Aku tidak suka penolakan !" tegas Haris begitu Pranando hendak membantah.
"Ini kesempatan mu atau kau akan melewatkan -nya begitu saja. " imbuh Haris samakin menegaskan bahwa ucapannya tidak main-main.
"Tapi kenapa tuan? "
tanya Pranando yang sepertinya masih curiga.
"Tanyakan itu pada hati mu !" jawab Haris acuh, namun sorot matanya menatap iba pada pria yang empat tahun lebih muda darinya.
"Tanyakan itu pada hati mu,rasanya aku ingin muntah dengan perkataan ku sendiri. Aku mana rela membiarkan Divya -ku dekat-dekat dengan mu. Apalagi bicara soal hati. Cih kalau bukan karena sarannya,aku tidak akan sudi" batin Haris.
***
"Mana bisa sayang, aneh-aneh aja deh kamu! " sewot Divya ketika ia mendengar Haris merencanakan pertemuannya dengan Pranando.
Bagaimana tidak, selama ini Haris selalu tidak suka saat Divya bertemu laki-laki itu meski tidak sengaja. Tapi sekarang tidak tahu ada angin apa dan darimana tiba-tiba Haris memintanya bicara baik-baik dengan Pranando.
Waw !!
Kesambet setan apa, Haris ?
"Turuti saja apa rencana ku toh ini demi kebaikan kita"
Dan malam ini juga dia membawa istrinya itu ke sebuah tempat makan,
meja makan mewah dihias sedemikian rupa. Lampu dan bunga-bunga di sekitarnya menambah suasana indah.
Aneh bukan, adakah di dunia ini suami yang rela melakukan hal sekonyol Haris. Pria super emosional itu kini duduk di pojokan bersama dua wanita.
Memerhatikan Divya yang tengah duduk sendiri menunggu kedatangan Pranando. Dua wanita di samping Haris sengaja Haris hadirkan sebagai saksi.
Saksi jika perasaan Pranando untuk Divya bukan hanya sekedar cinta melainkan rasa penasaran belaka.
Rudi dan juga Dimas ikut pula memerhatikan di sudut lainnya.
Tak lama berselang Pranando datang ia berjalan dengan ragu. Melihat sekeliling dengan tatapan curiga.
Beberapa langkah di depannya sudah duduk wanita yang selama ini membuatnya gila. Wanita dengan perut besar tengah mengandung buah cintanya dengan Haris.
Gila kah ia berani bertemu dengan wanita yang bukan istrinya, sedang hamil pula. Pranando berdiri mematung.
Ia berdehem dengan halis terangkat.
"Kau lihat ! Begitu mereka bertemu sudah seperti bocah SMU yang lagi kasmaran tapi malu-malu kucing."
ucap salah satu wanita yang duduk bersama Haris.
Haris sendiri, ia tengah geram menatap keduanya. Jika saja tangannya tidak di tahan sudah dipastikan jika Haris akan lari menghampiri mereka.
"Ikuti saja saran ku, setelah ini kalian bisa hidup dengan damai. "
__ADS_1
wanita yang masih memakai seragam putih itu tersenyum meyakinkan.
"Lalu bagaimana jika saran mu ini salah, Tan? Aku tidak mau ambil resiko. "
ucap Haris pada Intan. Ya ! Dialah yang menyarankan agar Pranando bertemu dengan istri Haris.
"Iya benar, aku juga tidak mau kalau suami ku justru semakin tergila-gila sama Divya" ujar satu wanita lagi yang tak lain ialah Raisa, istri Pranando.
Sementara Rudi terlihat santai, menatap ke arah Divya tanpa ekspresi.
Dimas menganggap ini lelucon.
Cukup seru juga batinnya. Tontonan yang tidak akan pernah ia temui dimanapun juga.
Setelah lama hanya bertanya dalam diam. Pranando akhirnya mulai bicara.
"Vero, kamu apa kabar? "
Divya hanya mendelik dengan senyum tipis. Canggung.
"Aku tidak tahu mengapa Haris menyuruh ku kesini menemui mu"
Pranando membuka percakapan.
"Aku juga tidak mengerti. "
ucap Divya datar.
"Apa ini gila menurut mu? "
"Sangat gila! " seru Divya.
Setelahnya mereka mengobrol satu sama lain tidak tahu jika ada lima pasang mata tengah memerhatikan.
Divya selalu menilai Pranando laki-laki yang baik. Terbukti itu masih bisa dia lihat saat ini.
"Aku boleh tanya sesuatu? "
"Apa? "
"Apa kamu pernah sedikit saja memiliki perasaan lebih terhadapku, Vero?"
Sejenak Divya mencoba mencerna apa yang di tanyakan Pranando.
Pertanyaan yang sudah Haris tegaskan agar Divya menjawabnya dengan jujur.
Sejujur-jujurnya.
Adakah suaminya itu disini?
Divya mencoba mencarinya, mata ia menelisik sekitar sebelum akhirnya ia menjawab.
"Aku harus jawab apa ? Apa aku harus jujur lalu bagaimana kalau kamu kecewa. Atau justru berharap lebih? "
Divya masih ragu akan menjawabnya seperti apa.
"Jawab saja, kalau iya aku akan senang kalaupun tidak aku akan tetap menerimanya." tegas Nando meyakinkan.
Hidup di bawah bayang -bayang memang menyakitkan.
__ADS_1
Apakah setelah Pranando bicara dengan Divya ia akan merasa jauh lebih baik. Entahlah.