
Flashback
Postur tubuh memang tak bisa dijadikan penilaian, muda atau tua. Remaja atau dewasa. Itulah yang terjadi. Baik Fadlan maupun Hazlan sama-sama memiliki postur tubuh yang membuat orang akan salah menebak usianya.
"Jadi kamu baru lulus SMU? " tanya Marisa begitu keduanya duduk di bangku taman.
"Iya teh, " Hazlan tersenyum malu-malu.
"Saya memang baru lulus tahun ini. "
imbuhnya.
"Aku pikir kita seumuran,kamu tinggi."
ucap Marisa mengingat saat tadi mereka berjalan berdampingan. Tinngi Marisa bahkan hanya sebatas pundak Hazlan.
"Haha.Iya teh emang banyak yang bilang seperti itu. Banyak yang ngira aku ataupun Fadlan itu udah 20'an ke atas. Maklum lah tampang kita memang boros. "
Haz, pria itu terkekeh.Dan sumpah Marisa melihat itu sangat menarik.
Tunggu. Perasaan apa ini.
"Kamu jangan panggil aku teteh dong, panggil Icha saja, ya? Kedengerannya tua banget, aku." Marisa ikut terkekeh.
"Oh ya soal tadi pagi, aku minta maaf, ya. Aku gak tahu kalau kamu~"
"Kembar, " tukas Haz memotong perkataan Marisa.
Marisa menoleh ke arah pemuda bernama Hazlan itu . Mereka berdua duduk di bangku yang sama namun dengan jarak yang agak berjauhan. Jangan tanya kenapa, karena ini pesantren. Untuk berbincang berdua saja dilarang jika suasan disana sepi.
"Iya, sorry banget. Aku bener-bener gak tahu kalian kembar. "
"Gak apa-apa, udah biasa juga aku dituduh begitu. " jawab Hazlan,pasrah.
"Loh, kenapa? " Marisa semakin tertarik untuk tahu lebih banyak lagi tentang kehidupan dua anak manusia yang terlahir dari rahim yang sama dan waktu yang hampir berdekatan .
"Ya karena seperti itu. Aku dan Fadlan berbanding terbalik. Jadi kalau dia berbuat onar, pasti aku yang kena tuduhan. " senyum yang terkesan getir nampak jelas di bibir pemuda itu. Membuat Marisa semakin merasa bersalah.
" Gak perlu merasa bersalah teh ! "
sekali lagi Haz, dia seakan tahu apa yang Marisa pikirkan.
" Panggil Icha ih, " protes Marisa.
"Gak ah, gak enak teteh kan lebih dewasa dari aku. Aku gak bilang teteh tua loh. Dewasa !" Haz semakin menekankan kata 'dewasa ' seranya dengan mengulas senyum.
"Ok ! " terserah apa yang diinginkan Haz, yang jelas selama dia nyaman. Apapun itu panggilan yang dia berikan.
Satu hal yang Marisa simpulkan, pemuda itu cukup nyambung diajak berbincang.
__ADS_1
" Hazlan ! " Marisa tersipu saat mengingat nama itu. Berbaring di sofa panjang menatap langit. Sendiri.
Shintia dan Hendri tengah asik dengan drama yang mereka tonton berdua.
Sesekali tertawa. Menjerit girang. Bahkan terisak pilu mengikuti adegan yang diperagakan para aktor dan aktris di dalamnya.
Sementara Reno dan Anita, duduk bersebrangan tanpa ada yang berbicara.Keduanya tengah asik dengan pikiran masing-masing.
Sama halnya dengan Marisa.
Pun begitu bagi Shintia maupun Hendri tak ingin moment mereka terganggu oleh ketiga sahabatnya.
Dunia bagai milik mereka berdua. Lihat saja bagaimana mereka asik bercumbu tanpa merasa terganggu padahal Marisa ada di sofa sebelahnya. Ya, ya yang sebentar lagi mau menikah bebas, hati-hati kebablasan.
***
Sore hari menjelang ashar terik matahari mulai menyurut. Dan di tempat yang sama ada beberapa santri tengah menghafal beberapa bacaan ,do'a-do'a, maupun surat surat pendek.
Tidak hanya ada Hazlan dan Marisa.
Sedikit jauh dari tempat mereka duduk. Reno memerhatikan keduanya.
Anita yang datang mengantarkan alat medis tadi siang pun ikut menemani kesendirian Reno di bawah pohon rindang.
Mata mereka menatap lurus ke depan dimana ada dua insan tengah berbincang hangat.
"Ren, " panggil Anita saat sekian lama hanya saling termenung.
"Heum. " Reno masih tak bergeming, tatapannya tetap berpusat pada satu titik. Dimana ia bisa melihat dengan jelas Marisa tengah tertawa bahagia.
Tawa yang tak pernah ia lihat saat Marisa bersamanya.
"Kenapa sih Ren. Kenapa kamu masih bertahan dengan perasaan itu. Empat tahun kamu selalu ada buat Marisa. Padahal kamu tahu Marisa berbeda, dia lebih nyaman dengan yang lebih muda. Lihat tuh! " sejenak Anita tersenyum tipis. Senyum itu seakan mengolok Reno yang bodoh dengan perasaannya sendiri.
"Dia bisa sedekat itu dengan bocah yang bahkan baru dia kenal. "
Reno masih terdiam, membiarkan Anita mengoceh apa yang dia suka. Gadis itu memang terkadang ceplas ceplos tanpa memikirkan perasaan orang lain yang ia ajak bicara.
"Sudah sejak SMU Marisa sering dekat dengan adik kelasnya sendiri, sebagai sahabat aku sudah sering mengingakannya untuk hati-hati bila berhubungan dengan pria yang jauh lebih muda. Tapi tetap saja Icha gak pernah mau dengar. " tutur Anita, tanpa bantahan sedikit pun dari Reno.
"Kamu mau sampe kapan begini. Kalau kamu gak berani ngomong sama Icha. Seenggaknya buka hati kamu buat orang lain. Masih ada yang tulus mencintai-mu Ren. Masih ada yang bisa sayang sama kamu daripada terus mengharapkan Icha. "
"Oh ya! Siapa? " Reno tersenyum miring.
Siapa yang bisa tulus cinta dan sayang pada pemuda miskin seperti Reno.Itulah yang ia pikirkan. Butuh seribu kali berpikir hanya untuk mengungkapkan perasaan pada sosok putri raja seperti Marisa.
"Aku !" jawab Anita singkat.
Ada aku di sini Ren, sampai kapan kamu menutup mata. Lihat aku!
__ADS_1
Aku yang bisa mencintai mu sepanjang aku mengenalmu.
" Bercanda kamu, Nit. "
Reno tergelak kecil.
"Aku serius. "
Entah darimana kesedihan itu tiba-tiba muncul, namun Anita bisa merasakan jika kini matanya mulai berkaca-kaca.
Keberanian dari mana ini, Tuhan.
Kenapa bisa aku mengatakan itu.
Reno balik menatap, gadis di sampingnya memang terlihat serius. Tapi itu mustahil. Anita menyukai-nya,kenapa? Kenapa bisa ? Sejak kapan?
Reno akhirnya hanya mampu beranjak, berdiri memunggungi Anita.
Tak ingin menyakiti Anita dengan tanggapannya. Ia memilih bungkam.
Sampai sebelum hal ini terjadi baik dirinya maupun Anita sama-sama dekat.
Tidak ada rasa canggung diantara keduanya. Saling berbagi perasaan.
Anita tahu Reno sudah menyukai Marisa sejak mereka sama-sama kuliah di tempat yang sama. Dan disaat itu pula Anita pun memendam rasa pada Reno. Pria berdarah Jawa.
Dia yang gigih membiayai kuliahnya sendiri hingga lulus.
Bukan hanya sekedar rasa kagum yang Anita tunjukkan, seharusnya Reno bisa melihat itu.
Namun, semua tertutup oleh cinta-nya yang begitu besar pada sosok Marisa.
Dan setelah ini entah akan ada berapa jarak diantara mereka. Pastilah Anita akan merasa canggung, begitupun dengan Reno.
Ia menghela nafas berat.
Baru saja Reno hendak beranjak, Marisa datang dan mengajaknya kembali ke Villa. Benar saja kecanggungan itu nampak tertangkap jelas oleh Marisa Saat ketiganya menaiki mobil bersama.
Anita yang terpaksa duduk di depan hanya terdiam menampar jendela.
Padahal itu bukan kali pertama bagi Anita duduk berdampingan dengan Reno.
"Kalian berdua ini kenapa sih? " Marisa yang merasa aneh pun melempar pertanyaan.
Ia yang sengaja ingin duduk di bangku belakang demi bisa selonjoran. Merasa terganggu dengan sikap yang ditunjukkan Anita dan Reno.
Sampai ke depan pintu Villa.
Namun, pertanyaan itu menguap begitu saja tanpa adanya sebuah jawaban.
__ADS_1