
"Malam Mama ku yang cantik" Satu kecupan sayang mendarat di pipi wanita paruh baya,yang masih nampak anggun dengan ulasan senyum di bibirnya.
"Malam sayang!"
Mama seperti biasa tersenyum penuh kebahagiaan mendapati putranya yang sudah kembali normal.What Normal ?
Ya ! Bukan lagi Haris si pemabuk dan si rusuh.
Ini Haris Santoso Presdir tampan Santoso Group.
Rahma kembali mengulas senyum begitu melihat seseorang di belakangnya,ia lah gadis yang semalam diceritakan Haris.
Untuk kali pertama Haris membawa seorang wanita ke rumah ini,mengenalkannya pada keluarga.
Gadis cantik bernama Marisa,dengan senyumnya yang manis,terlihat sederhana dari segi penampilan.
Rahma tentu menerimanya dengan tangan terbuka ia menyukai Marisa di pertemuan pertama dengan gadis itu.
Di mata Rahma,Marisa adalah sosok pembawa cahaya di hidup putranya,karena Marisa putra manjanya kembali.
"Malam tante " Sapa gadis berambut panjang dan bergelombang itu,tinggi sebahu Haris dengan manik coklat,hidung mancung ,pipi tirus ,dagu lancip serta tahi lalatnya sebagai pemanis .
Senyum ramahnya sukses menyihir Rahma.
Malam ini keluarga Haris sengaja mengundang Marisa untuk makan malam.
Perkiraan Rahma sebelumnya
Marisa akan datang bersama orangtuanya,namun ternyata ia datang sendiri.
"Ayah ibumu tidak ikut,Nak ?"
Tanya tuan Santoso membuka pembicaraan di depan meja makan.
Hidangan sudah tertata rapih di sana.
Mbok Jum,pembantu sekaligus pengasuh Haris sejak kecil nampak tersenyum penuh binar menatap kedatangan Marisa,Haris selalu menceritakan gadis itu padanya.
"Tidak t-Tuan !"
Jawab Marisa singkat.
"Kok Tuan,panggil saja Om !"
Ucap Santoso menyakinkan.
"Iya om"
Marisa mengulas senyum.
"Nah gitu dong"
Timpal Rahma. "Ayo silahkan nak Marisa dinikmati hidangan ala kadarnya"
Mereka menikmati makan malam penuh suasana ceria,sesekali terdengar tawa Marisa dengan dengusan Haris saat di goda Mama Papa nya.
Begitu juga Mama Rahma bisa cepat akrab dengan gadis yang diketahui sudah selama tiga bulan ini mengisi relung hati putranya.
Menemani keseharian Haris,mengubah kebiasaan buruknya menjadi lebih positif.
Sampai malam yang mulai larut diisi dengan obrolan ringan di ruang keluarga.
__ADS_1
Marisa pamit pulang setelah waktu menunjukkan pukul 11.30 tengah malam.
Haris mengantarkannya ke sebuah rumah sewa tempat Marisa tinggal.
Marisa gadis pekerja keras,ia tinggal di ibukota untuk bekerja sebagai manajer pemasaran di sebuah perusahaan ternama di Jakarta.
Perusahaan yang masih di bawah naungan Santoso group itu menerimanya bekerja setengah tahun sebelum ia mengenal Haris.
Orangtua Marisa tinggal di Desa,di sebuah Kota kecil masih di Pulau Jawa.
Setiap libur akhir pekan setidaknya dua bulan sekali Marisa pulang menengok Ayah dan Ibu yang telah membesarkannya.
Haris sendiri baru sekali bertemu dengan ibunya.
Sang Ayah, Marisa masih enggan menceritakan tentang beliau pada Haris.
Si gadis pencari jati diri,ia berangkat ke kota untuk dua tujuan,pertama bekerja demi menebus semua kebaikan orangtua angkatnya dan yang kedua untuk mencari dimana keberadaan orangtua kandungnya.
Sementara cinta hanya sebagai bonus baginya.
Pertama kali ia bertemu Haris di tepi Danau buatan di pusat kota.
Di sanalah awal cerita cinta mereka dimulai.
Hari-hari Haris berubah 180 derajat setelah mengenal gadis itu.
Bisa di cintai laki-laki hebat seperti Haris bagaikan mimpi indah yang menjadi kenyataan.
Mimpi yang selalu hadir saat dia kecil,pangeran berkuda putih yang tampan yang akan membawanya pada kehidupan yang lebih baik.
Setelah satu tahun berlalu sejak hari dimana keluarga Haris mengundangnya makan malam,sejak saat itu Marisa sering datang mengunjungi sang calon mertua.
Rahma menerimanya dengan baik meski ia masih dibuat penasaran tentang asal usul Marisa.
Ia juga sangat menyukai kepribadian Marisa.
"Marisa, kau masih belum mau mengenalkan kami pada orangtua mu nak ? Ajaklah mereka kesini.Atau kami yang harus datang kesana,dengan seserahan sekalian"
Canda Mama Rahma ditengah perbincangan kami.
"Iya tante.Nanti saya ajak ibu saya kesini.Tapi~"
Gadis itu nampak ragu.
"Tapi apa sayang,heum ?"
Haris yang terus menempel,bertanya di sisi kanan tepat di samping telinganya,suara serta hembusan nafasnya membuat bulu kuduk merinding.
"Issh kamu tuh,malu"
Mendorong pelan kepala Haris yang bergelayut manja di pundaknya.
Melihat wajah Marisa merona merah adalah hal yang paling ia suka.
"Saya takut tante dan keluarga tidak bisa menerima orangtua ku yang miskin"
"Hei...ngomong apa sih ! Jangan ngaco"
Kata-kata Marisa membuat Haris mendelik tidak suka.
"Aku sudah pernah bertemu ibunya,Mam,Pa.Dia wanita sederhana yang baik hati,rumah mereka mungkin kecil tapi nyaman.Kita gak akan mempermasalahkan hal itu,kan?"
__ADS_1
Ucap Haris meyakinkan kedua orangtuanya.
"Lagi pula kalau Mama sama Papa gak bisa terima keadaan kamu aku tetep bakal nikahin kamu dengan atau tanpa restu mereka"
Ancam Haris sebelum orangtuanya benar-benar menjawab penuturan calon menantunya tadi.
"Dengar ! Anak Mama sudah mengeluarkan jurus"
Rahma terkekeh geli.
"Kamu pikir kami seperti ini apa? Dapat lotre atau dapat harta karun?Tidak nak.Semua berawal dari bawah,Papa tadinya tidak punya apa-apa loh waktu nikahin Mama-nya Haris"
Santoso ikut terkekeh.
"Hampir ditolak mentah-mentah"
Imbuhnya sedikit berbisik,disambut pukulan kecil dari Rahma di lengannya.
"Tuh,kan sayang.Mama Papa restuin kita.Tinggal orangtua kamu sekarang,ajak mereka kesini"
"Heum.Iya sayang"
"Aku boleh jujur sesuatu ?"
Marisa masih nampak ragu.
"Aku takut ini ganggu ,tapi kalaupun aku terus menutupi ini juga tidak akan baik"
"Apa sayang ?"
Haris menatap lekat Marisa yang tertunduk lesu,seakan berat menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya.
"Ayahku "
"Dia mantan Napi,walau untuk hal yang bukan sepenuhnya salah beliau,tapi tetap saja narapidana tetaplah narapidana selalu buruk dimata masyarakat,iya kan"
Pasrah sudah sekalipun Haris dan keluarganya tidak suka ia akan menerima itu dengan lapang dada.
Kejujuran memang pahit tapi itu seribu kali lipat lebih baik daripada sebuah kebohongan yang hanya akan menyiksa pelakunya seumur hidup.
"Mantan napi ?"
"Jadi ini alasan mu tidak mau menceritakan tentang ayahmu, sayang?"
"Ya! Maafkan aku"
Marisa kembali tertunduk.
"Pa~"
"Ma !"
Rahma nampak hendak mengucapkan sesuatu namun segera Santoso menghentikannya dengan isyarat mata.
"Kami mau kenal siapa orangtua mu,kedepannya biarlah takdir yang menentukan .Toh kami tidak pernah masalah dengan masa lalu seseorang.
Semua masa lalu itu adalah pembelajaran bagi setiap manusia.Banyak Ustadt yang berawal dari seorang preman,atau kiyai yang dulunya residivis.Itu lebih baik.
Lebih baik mantan napi jadi manusia yang lebih baik daripada mantan ustadt yang justru jadi narapidana"
Begitulah akhirnya penuturan bijak dari Tuan Santoso.Meski Marisa sempat melihat gurat ketidaksukaan calon ibu mertuanya.Namun,Rahma kembali tersenyum.
__ADS_1
Entah itu tulus ataukah sebuah keterpaksaan.