
Haris sudah menunggu ,duduk bersandar di sofa saat Divya masuk kedalam kamar malam itu.
malam setelah pertemuan mereka di restauran.
Ia sudah rapih mandi dan berganti pakaian dengan pakaian tidur seperti biasa nya.
Suara tepukkan tangan Haris terdengar memenuhi sudut ruangan
ketika Divya baru saja membuka pintu.
"Bagus...!!!" haris berucap dengan nada sedikit mengintimidasi,ada amarah yang memuncak terdengar dari suaranya itu.
"Istri pulang larut malam.pergi bersama seorang pria yang bukan suaminya" dengan masih duduk bersandar ,kaki nya naik keatas meja. dengan kedua tangannya menopang kepala.
Divya sama sekali tidak ingin menanggapi perkataan Haris.Dia tahu dia salah,sudah pasti haris marah,melihat sikap lelaki itu tadi di restauran saja Divya sudah menduga akan terjadi hal ini di rumah,baik ia pulang cepat seperti biasa ataupun terlambat seperti sekarang ini.Haris tetap akan menudingnya macam-macam.
Ia memilih tetap masuk ,menyimpan tasnya di tempat biasa.membuka sepatu,lalu berjalan menuju ruang ganti .
mengambil pakaian tidurnya.
"Mau kemana kamu...!!" Haris sudah berdiri menjulang,menghadang langkah gadis itu.
"Aku mau mandi" jawab Divya.
__ADS_1
"Mau membersihkan sisa tangan kotor pria kurang ajar itu,iya...?!!!" Marah benar-benar marah Haris.
Ia mencengkram rambut istrinya dengan kasar.menarik kunciran rambutnya itu sampai terlepas,melemparnya entah kemana.
menjambak kembali rambut panjang istrinya yang kini terurai.saat Divya hanya mampu tertunduk,membuat gadis itu mau tidak mau mendongah keatas.tatapan mereka bertemu.
"Kenapa diam..! menyentuh tubuhmu bagian mana saja dia.Cih" tatapan mata yang bisa di artikan Divya,menjijikan.begitu pikirnya.
"Apa maksudmu,siapa yang kau maksud?" berusaha mengendalikan diri,Divya menghela nafas berat.
"Siapa lagi kalau bukan bosmu itu,si kurang ajar itu.Apa tadi ?! Vero...VEROO..." suara haris menggema di udara demi menyebut nama itu.
"Veronika suamiku,itu memang namaku kan,apa masalahnya? Kau juga bisa memanggilku itu kalau kau mau" jawab Divya.
"Tapi sedekat itu kau,sampai dia berani memanggil nama yang bahkan bukan nama panggilan mu,Hah...?!" Mata nya melotot tajam. "Ayo jawab jangan diam saja,kau pikir aku tidak tahu"
"Lepaskan dulu ! sakit.." Divya meringis memegangi tangan haris dibelakang kepalanya.
"Jawab" makin menguat suara baik tindakan tangannya.
sampai tak terasa airmata mulai mengalir membasahi pipi putih nan mulus gadis itu.
"Aku memang mengenalnya dulu,dia teman ku...." akhirnya Divya menjawab dengan lemah.
__ADS_1
tak ada lagi yang harus disembunyikan,Haris tentu sudah tahu segalanya dari kakaknya Rudi,kan.
"Teman..?" tersenyum sinis " teman atau kekasih?"
"Hanya teman,aku tidak pernah memiliki hubungan selain teman,dengannya atau dengan laki-laki manapun" sedikit berkurang rasa sakitnya ketika haris mengendurkan cengkramannya.
"Lalu dari mana saja kau,sampai baru pulang jam segini ?! pergi bersamanya tanpa seizinku Hah?, bernostalgia bersama,mengenang masa lalu,Iya !!.Bukankah sudah aku katakan lupakan perjanjian kita...! aku peduli padamu, apa kau tidak mengerti itu...! " Haris sudah benar-benar melepaskan cengkraman nya sekarang,ia mengacak rambutnya frustasi.membelakangi Divya sambil terus berujar.meluapkan rasa kesalnya. "Aku peduli padamu Divya,aku peduli " lirih ia mengucapkan itu,terdengar begitu tulus.
sejenak keheningan tercipta,sampai akhirnya Divya menjawab semua pertanyaan suaminya itu.
"Aku memang pergi bersamanya untuk makan malam,ibunya mengundangku.aku tidak bisa menolaknya.maaf ...maaf karena pergi tanpa seizin mu,aku minta maaf..." dengan mata terpejam dan kedua tangan terkatup di dada.
"Maafkan aku.." tangisnya pun pecah.
"Karena dia kau menolak ku?" bertanya sambil tetap membelakangi lawan bicaranya,kali ini wajahnya yang ia usap kasar.
"Bukan...tidak bukan itu alasannya..." Divya berusaha membantah.
Ia memeluk haris dari belakang.
"Maafkan aku" lirihnya...
Dan untuk beberapa saat mereka hanya terdiam tak ada yang mengeluarkan suara.
__ADS_1