
Rudi menatap lekat Adik sepupunya.
"Apa kau bahagia Divya ...?" tanyanya dengan mimik wajah seakan merasa bersalah.
"Kakak ini bicara apa ... tentu saja!" Divya memaksakan senyumnya.
"Tentu aku bahagia." Divya sendiri tidak mengerti padahal sebelumnya dia sudah bertekad akan mengakhiri drama pernikahan ini, ketika Rudi bertanya.
Divya yakin kak Rudi akan menanyakan ini padanya akan tetapi setelah pertanyaan itu keluar dari mulut pria yang sudah seperti kakak kandungnya sendiri, ia malah menjawab hal yang berlainan dengan apa yang sudah menjadi tekadnya. Ia berbohong dengan perasaannya sendiri, perasaanyang sesungguhnya bahwa ia tak pernah merasa bahagia.
Namun, mengapa Divya sampai berbohong?
Divya hanya tidak ingin semua berakhir kacau, janjinya pada ayah,paman ,tuan Santoso dan baru saja ia kembali berjanji pada mbok Jum untuk terus mendampingi Haris.
"Kau yakin ...?" tanya Rudi meragukan kesungguhan hati adiknya.
Rudi tahu betul bagaimana kerasnya sikap Haris terutama setelah di tinggalkan Marisa.
Walau ada sedikit kemiripan antara Divya dan Marisa, baik secara fisik maupun sifat, mereka sama-sama wanita berhati malaikat. Rudi hanya bisa berharap jika suatu saat nanti Haris bisa membuka hatinya untuk Divya. Serta bisa pula melupakan Marisa untuk selamanya.
"Iya Kak. Kakak tidak usah khawatirkan aku di sini baik-baik saja, aku sudah cukup bahagia. Jika mungkin sampaikan itu pada paman." Divya tersenyum lebar demi mengucapkan kalimatnya itu. Ia pun berharap jika nanti akan ada saatnya ia bahagia dengan semua takdir hidupnya.
"Ya sudah. Kakak tenang kalau kau bahagia dan baik-baik saja di sini." Rudi memegang pundak Divya lalu mengelus kepala seperti yang biasa ia lakukan.
Haris yang menyaksikan drama melow itu di ujung tangga teratas sambil berdecak.
__ADS_1
Menggeleng-gelengkan kepala.
Tangannya bersedekap, dengan tubuh miring bersandar pada pegangan anak tangga.
"Kakak pulang dulu kalau begitu," ucap Rudi berpamitan "Sampaikan salam Kakak pada Haris, dia masih belum turun." Seranya mendongakan kepala ke arah tangga, dilihatnya Haris tengah memperhatikan dia dan juga Divya.
"Ah, itu dia ...."
"Kakak tidak makan malam dulu disini?" tanya Divya.
"Tidak Dek.Mba mu, Shila pasti sudah menunggu," jawab Rudi menolak tawaran adiknya. "Kakak pamit ya."
"Tuan saya pulang." Rudi pamit pulang pada Haris, ketika tuan mudanya itu sudah berdiri di sisi sofa.
"Ya. Ya pergi sana!" usir Haris namun tidak terlihat serius "Istri mu pasti sudah menunggu." Haris tergelak kecil.
Hei kau pikir aku sejahat itu.
Haris mendengus sebal.
"Ayo makan!" ajak Haris kemudian kepada Divya setelah Rudi pergi meninggalkan mereka berdua di ruang tengah.
Mereka kini duduk bersebelahan di meja makan, tanpa tuan Santoso dan juga nyonya Rahma Santoso.
Mbok Jum pun sudah berdiri di samping Haris, menyiapkan beberapa makanan di piringnya .
__ADS_1
"Papa mana mbok?" tanya Haris pada mbok Jum.
"Tuan besar sedang keluar kota Tuan,ada urusan penting katanya." Mbok Jum sigap menjawab sambil menuangkan minuman ke dalam gelas dan meletakkannya di hadapan Haris dan istrinya.
"Oh, begitu ... Mbok sekalian makan bareng kami ya," ajaknya kemudian meminta mbok Jum untuk makan bersama satu meja dengannya dan Divya. Kali ini si mbok tidak membantah, ketika melihat senyum terukir dari bibir kedua majikannya itu. Ia duduk di bangku berhadapan dengan Divya.
Haris nampak menikmati makan malamnya. Beberapa kali ia menunjuk makanan yang dengan sigapnya diambilkan Divya. Ia meletakannya di atas piring makan suaminya tanpa ragu.
Sementara dia sendiri terlihat lesu tak bersemangat. Makanan di hadapannya hanya diaduk-aduk saja sedari tadi. Sambil sesekali ia melirik Haris dan Mbok Jum bergantian.
"Kenapa ...? Tidak enak?" tanya Haris saat Divya kedapatan sedang menatapnya.
"Ah tidak Tuan,eum ...enak kok." Dengan gugup Divya menjawab pertanyaan Haris yang tiba-tiba.
"Apa tadi ? Tuan?" Haris mendelik tajam.
"Eh iya suamiku ... maaf." Divya berusaha tersenyum samanis mungkin. Meleburkan amarah yang tersirat di mata Haris.
Melihat Divya tak berselera Haris pun berinisiatif menyuapinya. Diraihnya sendok di tangan Divya.
Ia menyendok makanan dan menyodorkannya ke depan mulut gadis itu.
"Karena kau sudah tersenyum ... Ayo buka mulutmu!" titahnya kemudian membuat Divya melongo tak percaya.
Hah apa ini, dia mau menyuapi ku?
__ADS_1
Ragu-ragu Divya membuka mulut.
Mbok Jum tersenyum bahagia saat melihat semua yang terjad di hadapannya.