
Di perjalanan menuju rumah,Haris juga Divya tak henti-hentinya bercanda.
Sesekali di selingi tawa.
"Sayang"
"Heum" Menjawab asal sambil terus fokus memegang kemudi.
"Kenapa?... kenapa gak bilang kalau hari ini kamu..." Ragu-ragu Divya hendak menanyakan itu.
"Ke makam Marisa?" Tukas Haris memotong pembicaraan Divya.
"Ya..."
"Karena aku pikir ini terakhir kali aku ke makamnya.Jadi,aku gak perlu ngomong sama kamu" Jawab Haris .
"Jahat !" Divya lantas mengerucutkan bibirnya.
"Loh kok jahat,beneran.Aku gak mau nyakitin kamu sayang" Tangan Haris terangkat mengusap puncak kepala istrinya.
"Justru itu,kenapa tidak bilang kalau Marisa sudah meninggal,lagi pula aku gak akan larang kamu ke makamnya kok.Kapan pun ! Kalau perlu aku juga ikut
nemenin kamu" Jelas Divya dengan senyum tulusnya.
Yakin.
"Oh ya ! " Senyum Haris mengembang,bangga dengan sikap yang di tunjukkan istrinya.
Sebelumnya ia berpikir jika kejadian ini akan memicu pertengkaran lagi.
"Memangnya kenapa kalau aku tidak mengatakan Marisa sudah meninggal?"
Melirik Divya sekilas,kembali fokus menatap jalan.
"Ya setidaknya aku tidak akan merasa..."
Menjeda kalimatnya,menatap Haris lekat.
"Cemburu sama orang yang bahkan sudah tiada,kan " Sambungnya.
"Kau cemburu?!" Haris bersorak girang demi mendengar pernyataan Divya.
Lantas tergelak senang.
"Malah ketawa,aku serius sayang !."
Sudah mengerucutkan kembali bibirnya.
"Memangnya aku tidak boleh cemburu ya?" Memalingkan wajahnya,menampar jendela.
Suasana malam yang ramai di akhir pekan.
Banyak pasangan muda mudi memadu kasih,keluar untuk sekedar berjalan-jalan.
"Boleh dong,boleh banget malah,Hahaha" Mencubit gemas pipi Divya.
"Kau sendiri,kenapa tidak minta izinku pergi ke pemakaman,Hah?!"
__ADS_1
Sudah dengan sorot mata tajam,bak pisau yang akan siap menusuk bahkan merobek dadanya.
Astaga bagaimana ini ?Harus jawab apa kalau sudah begini ?!
" Eum sayang itu...aku juga gak rencana sih mau ke makam ibu sama ayah .Niat aku besok baru aku kesananya,tapi berhubung pas lagi bareng Ameera sama Dimas,jadi ya...kenapa enggak"
"Aku lupa izin sama kamu,maaf" So merasa bersalah ,memasang wajah memelas,dengan senyumnya yang di buat semanis mungkin.
"Ok ! berarti kita impas,kan ?!" Jawab Haris pendek.
"Impas?" Mengernyitkan dahi,tak mengerti.
Eh dia ini tidak marah,kan?
"Ya...aku tidak mengatakan yang sejujurnya, kau pun sama,kita impas"
"iya ,kan?" Melirik sejenak kearah Divya yang nampak tak percaya jika dirinya tidak marah sedikitpun atas kesalahannya pergi tanpa izin.
"Tapi jangan lupa kau tetap akan menerima hukuman"
"Hukuman apa lagi,sayang ?" Tukas Divya .
"Karena istriku yang cantik ini tidak mau menjawab,Aku atau Rudi yang lebih tampan" Gerakan halis seperti sudah ikon tersendiri dalam hal menggoda pasangannya.
"Ah kamu ini,masih saja deh !" Lebih memilih menyandarkan kepala di bahu Haris sejenak,mengangkat kembali karena di rasa moment nya yang kurang tepat.Haris yang sedang mengemudi saat ini.
"Ya sudah jawabannya apa? aku minta jawabannya !" Lagi-lagi.
Ya ampun masih saja bahas itu!
"Aku gak tahu sayang" Divya malah menahan tawanya.
"Ya sudah kalau aku sama Marisa cantikan mana? Hayo!!" Balik bertanya,berharap Haris juga tidak bisa menjawab.
"Jelas cantikan kamu lah" Jawaban mengejutkan.
"Hahaha,pendusta" Divya malah tertawa tak percaya.
"Eh serius sayang memang cantikan kamu, beneran,sumpah !" Bahkan sampai mengacungkan dua jarinya.
"Haha..ok!"
"Kalau gitu tampanan kamu sayang, tapi kak Rudi juga.Hahaha" Divya tergelak senang melihat ekspresi wajah Haris.
Dan
Sampai juga akhirnya perjalanan mereka selama tiga puluh menit dari rumah paman Fram,kini mereka sudah berjalan bergandengan menaiki tangga.
Tak ada Mama Rahma maupun Papa Santoso disana.
Mungkin mereka sudah tidur.Karena waktu yang sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih.
Haris sudah mandi dan memakai baju tidurnya seperti biasa.
Sekarang giliran Divya yang beranjak menuju kamar mandi.
Membasuh tubuhnya yang terasa lengket.
__ADS_1
Selesai mandi ia bergegas keluar,namun baru saja di ambang pintu Haris sudah berdiri menunggunya disana,dengan senyum mencurigakan.
"Sayang ya ampun bikin kaget saja" Divya nampak tegang di tatap seperti itu.
Haris menahan tubuhnya di dinding,mengapit dengan kedua tangannya.
Jemari Haris sudah mulai bermain-main di tubuh Divya.
Memiringkan kepala dan mencium bibirnya sekilas.
M******* kedua buah sintal di balik handuk.
******* kembali bibirnya penuh gairah ,lidah mereka saling membelit satu sama lain.
Beralih menyusuri leher jenjang Divya.
Meninggalkan beberapa jejak merah di atas kulit putihnya.
Lenguhan makin keras makin menambah suasana hangat penuh hasrat.Kali ini ia sudah merebahkan tubuh polos istrinya itu di atas tempat tidur,menindih dengan tubuh kekarnya.
Kembali dengan aktivitasnya,menciumi seluruh bagian tubuh Divya.
Haris yang memang sudah candu akan kenikmatan yang via dapat dari Divya, seakan melupakan segalanya ketika bersama dia.Tak perduli sekeras apa erangan yang keluar dari mulut Divya ,
Ia justru semakin terpancing gairah.
Pun sebaliknya Divya,entah dari mana asalnya rasa itu namun ia begitu menikmati sentuhan yang Haris berikan,sentuhan lembut penuh cinta.
Sentuhan yang memabukkan.
Sentuhan yang selalu berhasil membuatnya merona malu setiap kali mengingatnya.
"Sayang....Aaaghh" Begitu keduanya mencapai puncak kenikmatan,beradu dalam pelukan hangat.
Divya mengusap punggung Haris beberapa kali,dan Haris menciumi pipi juga kening Divya sebelum akhirnya ia melepaskan pelukan dan merebahkan diri di samping istrinya.
Menarik selimut menutupi tubuh polos mereka.
Haris sudah tertidur pulas memeluk tubuh Divya.
Setelah lelah dengan pergulatan malam.Namun, hingga dini hari Divya masih tak dapat memejamkan mata.
Pikirannya terus berkeliaran mengingat kembali apa yang di katakan adiknya,Ameera.
Jika saja saat itu Rudi tidak menguping pembicaraan mereka dan memperingatkan mungkin saat ini Divya tidak akan ada disini bersama Haris ,rencananya mencari tahu kebenaran tentang pria bernama Nando di urungkannya demi menuruti nasihat Rudi.
Ya Rudi yang melihat gurat kegelisahan Haris saat itu paham jika ia memintanya untuk mengecek apa yang dibicarakan Divya bersama Ameera di kamar.
Meski Haris tidak mengatakannya secara langsung.
"Kenapa Vy?" Tanya Rudi saat memiliki kesempatan bicara berdua pada adiknya itu sebelum pulang dari rumah Fram.
"Kau masih penasaran tentang surat itu?" Kemudian,membuat bola mata Divya membulat sempurna.Kaget dan juga tak mengerti arah pembicaraan kakaknya .
"Maksud kakak apa ya? Vya gak ngerti?" Jawabnya yang memang tidak paham maksud kata-kata Rudi.
"Jangan kamu pikir kakak tidak tahu kamu ngomongin apa sama Ameera tadi di atas" Terang Rudi,sudah bisa dipastikan bagaimana ekspresi Divya saat ini.
__ADS_1
"Jangan macam-macam Vy ! masih untung kakak gak bilang masalah ini pada Haris,kalau sampe Haris tahu entah kakak bisa menolongmu atau tidak"
"Dan soal Dimas ,Kau tidak perlu khawatir biar kakak yang urus dia nanti,sekarang pulanglah dan hidup tenang bersama suamimu itu,jangan pernah buat kesalahan .Kau mengerti !!" Peringatan terakhir Rudi sebelum ia pergi dari rumah Fram.