Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Kamar tidur (Part 1)


__ADS_3

Rencana awal Divya ingin segera mandi dan berganti pakaian setelah ia berada di kamar. Namun, Divya malah asik melamun, menatap bayangan dirinya yang ada di cermin.


Divya tenggelam dalam pikirannya sendiri. Masih dengan gaun putih dan rambutnya yang di sanggul kecil—yang bahkan belum ia lepas.


Melihat sikap ibu mertuanya tadi membuat -nya teringat sosok almarhumah ibu kandungnya sendiri.


Hampir sama seperti itu ketika Divya membawa teman laki-laki ke rumah.


Sorot matanya menyiratkan kebencian. Sampai-sampai sikap tak acuhnya pun sama.


Akan seperti apa kehidupan ku di sini nanti? Ayah Ibu ... sebenarnya aku takut.


Aku hanya berusaha kuat demi Ameera dan juga Dimas. Demi ayah juga yang memintaku untuk menuruti kata-kata paman.


Tanpa sadar airmata Divya pun sudah merembes, membasahi pipi.


Divya masih terdiam di tempatnya, di depan meja rias, saat Haris masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu.


Tuan Muda itu berdecak tak percaya.


"Bagus ... sudah berapa lama kau terduduk seperti itu?"


Gertakkan- nya membuat Divya terperanjak hingga refleks terbangun dari posisi duduk.Sampai-sampai kursi yang semula ia tempati terpental ke belakang.


Dengan cepat Divya menghapus airmata yang mengalir di pipinya. Ia juga


mengembalikkan posisi bangku


sebelum berbalik ke arah laki-laki yang baru saja siang tadi sah menjadi suaminya. Laki-laki yang tiba-tiba datang mengagetkannya.

__ADS_1


"Kau bahkan masih memakai pakaian itu. Astaga ... saya pikir kau sudah rapih mandi. Dasar pemalas, bodoh! Cepat siapkan air mandiku!"


Haris melempar jas yang ia pegang sedari tadi ke hadapan Divya.


"Tapi tuan, saya ganti baju dulu," kata Divya seraya mengangkat menunjukkan gaun yang masih dikenakannya.


"Tidak mungkin ke kamar mandi pakai ini 'kan?" Divya berusaha tersenyum semanis mungkin.


"Dari tadi kerja-mu apa? Melamun, menangis, iya? Tas yang kau bawa saja masih teronggok di bawah." Haris menunjuk tas di samping kaki Divya yang masih belum juga di simpan isinya oleh gadis itu. "Belum kau rapikan pakaianmu." Haris berdecak, ia menggelengkan kepala tak percaya, jika satu jam Divya di kamar hanya untuk melamun saja.


"Maaf Tuan."


Divya hanya bisa pasrah, ia tertunduk lesu saat sorot mata tajam Haris menghujamnya.


"Cepat ganti baju!"


"I-iya, Tuan." Divya meraih tas dan mengambil satu pakaian-nya. Ia bahkan sudah akan melangkah ke ruang ganti,


"Mau ke mana?" Seraya tersenyum menyeringai. "Kalau kau mau ganti baju di ruang ganti, untuk apa mengeluarkan pakaian di sini, kenapa kau tidak bawa saja tas mu ke sana."


"Ah, iya, Tuan, benar juga. Hehe." Dengan gugup Divya kembali meraih tas itu.


"Sudah! Kelamaan ganti baju di sini saja!" titah Haris tanpa berpikir panjang.


Ia memang sengaja ingin menguji gadis sok pemberani di hadapannya itu.


Bagaimana harus mengganti pakaian di sini,dan kau saja masih berdiri di hadapanku. Pikir Divya.


"Tapi Tuan?"

__ADS_1


"Sudah cepat! Aku mau mandi."


Saat Divya baru saja ingin menolak Haris justru berteriak semakin kesal.


Mandi, ya, tinggal mandi, biasanya juga mandi sendiri 'kan? Mau kumandikan sekalian kusiapkan keranda, Tuan?


*Ah ... kau pasti selalu menyuruh mbok Jum menyiapkan air mandi. Dasar seperti bocah, begitu saja musti orang lain yang kerjakan.


Kedua tanganmu itu untuk apa, Tuan.


Ya, ya, aku tau anda orang kaya. Sultan mah bebas*.


"Hei ... malah bengong!" Haris menjentikkan jari di hadapan wajah Divya.


"Eh, iya, iya,ganti baju di sini. Ok!" Siapa takut, pikir Divya.


Harus berganti baju di hadapan laki-laki yang bahkan tidak menyukai wanita. Apa masalahnya. Divya tersenyum-senyum menahan tawa karena spekulasi yang muncul begitu saja di kepalanya.


*H*ua ... dan masalah -nya sekarang aku tidak bisa membuka resleting ini


bodoh! Bodoh!


Harusnya aku tadi minta tolong mbok Jum sebelum dia pergi. Huaa ... bagaimana ini?


Haris yang melihat gadis di hadapannya sedang berusaha membuka resleting pun mengerti. Ia seketika mendekat dan membukakan resleting tersebut dari belakang.


Tindakannya yang tiba-tiba jelas membuat Divya yang berdiri membelakanginya kaget bukan main. Sejenak ia menatap Haris dari balik cermin.


Sementara Haris, ia masih tertunduk menatap resleting yang ia buka.

__ADS_1


Kulit putih mulus terpampang di hadapan matanya. Hingga tanpa disadari ia kesulitan menelan saliva.


Setelah terkesima dengan apa yang terjadi, sekian detik kemudian Divya dengan cepat membuka gaun dan menggantinya dengan mini dress, sedikit di atas lutut. Modelnya simple tanpa lengan, masih dengan warna yang sama yaitu, putih. Dan beraninya ia melakukan itu semua tepat dihadapan tuan muda.


__ADS_2