Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Misteri pernikahan Dimas


__ADS_3

"Sudah berapa lama kamu menikah?"


"Tiga bulan kak" jawab Dimas singkat.


"Kenapa ? Maksud kakak apa kalian saling mencintai ?"


Pertanyaan itu menguap begitu saja karena Dimas masih enggan menjawab.


"Lupakan saja ! "


Haris mengerti arti dari sikap bungkam Dimas.


"Ini sudah malam"


Waktu memang sudah menunjukkan pukul delapan malam.


"Kita pulang?"


Haris mengajak Divya untuk segera pulang.Sementara Divya hanya saling melempar pandangan dengan adiknya.


Kenapa kamu masih tidak mau terbuka Dimas.Setidaknya itulah yang terbesit di dalam benak Divya.


Karena aku tidak tahu harus seperti apa mengatakannya.Dimas bungkam bukan karena enggan,tapi lebih mengarah ke hatinya sendiri.Bagaimana pun menikahi Adara adalah keputusannya.


Terlebih ia mencintai gadis itu atau tidak.Tidak perlu semua orang tahu.


Ia ingin menjaga perasaannya sendiri dan juga perasaan gadis yang ia nikahi.


"Kita masih belum selesai,kan?"


Masih ada banyak laporan yang belum mereka bahas.Walaupun memang Divya sudah merasa lelah dan lapar.


"Lanjutkan lagi besok,kan bisa"


Haris sudah membereskan berkas-berkas itu memasukkannya ke dalam tas untuk di bawanya pulang.


Ia berniat melanjutkan pekerjaan itu di rumah lagi nanti.


"Kau masih enggan cerita,Dim"


Divya membujuk Dimas,bagaimana lagi adiknya memang tidak pernah ingin terbuka kepadanya apalagi kepada Haris.


Saat Haris tengah sibuk dengan ponselnya,saat itulah Divya mencoba memberi pengertian.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi pada adikku sendiri,aku merasa gagal sebagai seorang kakak,Dim~"


"Kak !"


sergah Dimas yang merasa kakaknya mulai mengeluh lagi .


"Ini hidup ku.Aku akan membaginya jika aku mau"


terang Dimas tetap pada pendiriannya.


"Baiklah.Tapi belajarlah dari hidup kakak.Adara gadis yang baik belajarlah mencintainya.Ok !"


Pesan Divya menutup perbincangan.


Tidak ada lagi yang bisa ia katakan selain itu.


Saat Haris menanyakan kenapa ia terlihat sedih.


Dimas hanya mengatakan jika dirinya siap menikahi Adara tiga bulan lalu.Ia sedih bukan karena menyesali pernikahannya melainkan karena dia baru saja kehilangan calon bayi-nya.


Bayi Dimas?


Bahkan baru tiga bulan ia menikah sedangkan usia kandungan Adara sudah empat bulan menurut perhitungan dokter.Lalu apa itu juga yang membuat Dimas tidak ingin terbuka?


Sedikit mengusik kembali hidupnya di awal pernikahan yang begitu berat.

__ADS_1


Mengapa ini juga harus terjadi pada adiknya.Lagi-lagi Divya merasa takut jika Dimas akan menyakiti hati orang lain .Walau Dimas bukan lagi anak kecil,tapi ia masih begitu labil.


Malam yang larut mereka isi dengan keheningan sambil menyantap beberapa menu makanan di sebuah resto.


Haris sengaja mengajak istri dan adik iparnya singgah sebelum pulang ke rumah.


Tak ada obrolan lain selain membahas kelucuan Marisa kecilnya Haris.


Ia selalu antusias membicarakannya mungkin karena Haris tidak pernah tahu bagaimana Marisa terlahir dan tumbuh hingga seperti sekarang ini.


"Kita balik duluan ya,Dim"


ucap Divya sebelum meninggalkan Dimas yang masih menghisap sebatang rokok di tangannya.


"Kamu langsung pulang ! Jangan mampir kemana-mana,ngerti !"


Lagi-lagi Divya over protektif terhadap Dimas.


Ia sudah tahu kebiasaan Dimas jauh sebelum menikah.


Tepatnya sebelum Divya mengajaknya bekerja di Santoso group dua tahun lalu.


"Iya,kak.Bawel !"


Haris hanya tersenyum tipis melihat itu.


Mau bagaimana lagi ia sendiri bingung karena tak tahu apa-apa.


***


Pukul sembilan malam Divya dan Haris tiba di rumahnya.


"Ah lelahnya"


Divya membanting tubuh di sofa tepat di sebelah Mama Rahma.


"Kalian darimana saja baru pulang jam segini"


"Tuh !"


Divya menunjuk dengan mulutnya.


"Introgasi hasil kerjaan aku"


imbuhnya.


"Lalu bagaimana?"


tanya Rahma lagi.


"Begitulah"


jawab Haris singkat.


"Istri mu hebat kan? Putri Mama ini memang pintar"


ucap Rahma yang membuat Haris mendelik.


"Apa ! Putri ?"


"Ya selama kamu tidur Mama cuman punya Divya yang selalu menguatkan Mama.Jadi dia ini memang putri Mama"


Beruntunglah menjadi Rahma saat dirinya tidak memiliki anak perempuan justru Divya hadir sebagai pelengkap,Rahma sudah bisa menerima Divya saat dia mulai menginginkan cucu darinya.Dan ya.


Marisa kecil pun hadir membawa kebahagiaan.


"Ok ,putri Mama tersayang ini habis ngerjain aku.Bikin aku sport jantung"


tutur Haris mengadukan apa yang baru saja terjadi.

__ADS_1


"Sport jantung ? Kenapa ?"


Papa Santoso yang baru saja datang pun langsung ikut menimpali.


"Jangan dengarkan Haris pa,ma.Dia tuh aneh"


"Keterlaluan kamu Ris begitu saja kamu cemburu? Gimana kalau kamu lihat waktu kamu koma dulu hampir setiap hari Pranando anak angkatnya om Wiryawan itu datang kesini"


Mama Rahma menuturkan begitu Divya selesai menceritakan apa yang terjadi di kantor tadi,tentang Haris yang salah paham mengenai Sekretaris barunya.Namun,


kalimat Mama Rahma di rasa Divya justru makin menyulut api cemburu di hati Haris putranya yang aneh itu.


"Aduh Mama,kenapa malah cerita soal dia,eum masalah ini mah"


gerutu Divya yang masih bisa terdengar oleh semuanya.


"Divya !"


Suara kesal Haris kembali berdengung di telinga Divya.


Menyeramkan sekali saat dia memanggil namanya seperti itu.


"Mam,Ica dimana?"


Divya berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Dia sudah tidur sayang,kenapa?"


jawab Mama balik bertanya.


"Yah,padahal aku mau minta dia tidur di kamar ku Ma,supaya aku bisa selamat dari anak Mama ini"


Divya berjalan mundur hingga tepi tangga,lalu berbalik dan menaiki anak tangga dengan cepat.


"By Ma,Pa goodnight "


seru Divya setengah berlari sambil terkekeh sepanjang menapaki tangga.


"Ok aku juga mau ke kamar"


ucap Haris beranjak dari sofa .


"Mau kemana ?"


"Mau bikin adek buat Marisa ,Mama sama Papa mau punya cucu lagi kan,iya kan?"


Tanpa rasa malu sedikit pun Haris berbicara seperti itu di hadapan orangtuanya.Ia lantas ikut naik ke lantai atas dengan terkekeh melihat ekspresi wajah Mama dan Papanya.


"Haris !!!"


"Anak itu !"


Mama Rahma menepuk jidatnya sendiri demi menyaksikan tingkah anak dan menantunya .


"Kalau kata anak zaman sekarang itu mereka lagi pada 'bucin' ,Pa"


ledek Mama Rahma yang sepertinya baru saja menemukan istilah baru dalam dunia percintaan anak muda.


"Kayak gak pernah muda aja Mama"


timpal Santoso terkekeh.


***


Keesokan paginya Divya sudah bersiap mengenakan stelan formal seperti biasanya.


Haris bahkan sampai menatapnya heran.Mau kemana Divya sebegitu rapihnya pagi-pagi sekali padahal ia sudah melarangnya pergi ke kantor semalam.


"Hari ini aku akan tetap bekerja walaupun bukan sebagai presdir"

__ADS_1


Divya menatap pantulan dirinya sendiri di cermin,lalu ia berbalik menatap Haris di belakangnya begitu kalimat terakhirnya ia sebutkan.


"Lalu ?"


__ADS_2