Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Manja


__ADS_3

Tok..tok...tok


Tangan Haris mengudara,beberapa kali menyentuh pintu kamar Rahma.


Mengetuknya pelan.


Tak terdengar suara sahutan dari dalam.


"Ini Haris Mam.Buka dong pintunya!"


Mam !


Rahma terperanjak,ia segera turun lalu membuka pintu,dilihatnya Haris tengah menunggu dengan tangan terlipat di depan dada.


"Hai Mam !" Dengan halis terangkat Haris seperti sedang menggoda sang Mama.


"Haris,ada apa sayang ? Kamu~ "


Rahma merasa sedikit aneh melihat tingkah Haris,ini persis seperti Haris sebelum tiga tahun lalu,tepatnya sebelum Marisa tiada.


"Kamu kenapa, Ris? Aneh gitu.Ada apa?"


"Aneh ? Apa yang aneh"


Haris menjawab asal sambil berlalu masuk kedalam kamar,lalu merebahkan diri di atas kasur sang Mama.


"Haris,kamu gak lagi sakit kan?"


Rahma masih merasa asing dengan sikap Haris.Namun,meski begitu jujur Rahma merindukan putranya yang manja.Dulu Haris pernah terjerumus karena kurangnya perhatian Rahma sebagai seorang ibu,lalu ia berhasil bangkit karena Marisa wanita yang sangat Haris cintai saat itu.


Kepergian Marisa justru membuat Rahma kembali jauh dengan putranya ini.Sampai sekarang,


Divya berada disisi Haris sebagai pengganti Marisa.


Benarkah apa yang di katakan Nyonya Wiryawan kala itu.


Ia begitu yakin Divya gadis yang baik walaupun baru mengenalnya beberapa bulan saja,bahkan menyebut Rahma begitu beruntung memiliki menantu sepertinya.


Jika saja Divya belum bersuami Nyonya Wiryawan berniat menjodohkan dia dengan putra angkatnya yang tak lain adalah teman dekat Divya.


Sejak hari itu pula Rahma mulai menerima Divya. Ia berpikir tidak ada salahnya selama Haris bahagia.


"Mama nih,Haris manja kayak gini dibilang sakit.Sini Mama duduk sini !"


Haris menepuk sisi tempat tidur meminta Rahma untuk duduk.


Rahma menurut,sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman.


Ia duduk dimana Haris memintanya tadi.Putra yang telah lama ia rindukan meletakan kepala di pangkuannya.


Tangan Rahma terulur mengusap lembut kepala sang anak tercinta.


Rindu ! Bukan hanya Rahma yang merasakan ,Haris nyata-nya jauh lebih merindukan belai lembut Mama.


"Mam"


"Heum...Kenapa sayang ?"


Tanya Rahma tanpa menurunkan tempo pergerakan tangannya,dengan lembut dan kasih sayang ia terus membelai rambut Haris,menyisirnya dengan jari-jari tangan.


"Mam,aku kangen saat-saat seperti ini"


Haris mendongak menatap wajah Rahma.

__ADS_1


"Haris rindu dibelai seperti ini,Haris tidur di pangkuan Mama dan menceritakan apa saja yang terjadi"


Rahma tersenyum mendapati pengakuan Haris yang begitu merindukannya,jika boleh jujur Mama tak ingin melewatkan masa-masa ini barang sedetikpun.


"Dan Mama mendengarkan mu cerita tentang Ma~"


"Gadis itu !" Haris memotong cepat kalimat Mama saat hendak menyebut nama Marisa.


Nampak senyum getir di bibir Haris,yang sukses membuat Rahma merasa terpukul.


"Maafkan Mama Haris "


"Hei Mam,kenapa harus minta maaf ? Kalau bukan karena kejadian itu mungkin Haris gak akan pernah mengenal gadis sebaik Divya,iya kan?"


"Kau sungguh mencintainya?"


Rahma sedikit menghentikan gerakan tangannya kali ini serius menatap Haris.


"Apalagi yang harus diragukan,Haris sungguh mencintainya Mam"


Dia kembali meraih tangan Mama meletakannya di kepalanya ,agar Rahma melanjutkan aktivitas mengusap lembut rambutnya. Haris tersenyum penuh kesungguhan.


"Maafkan Mama ya,Nak ?"


"Untuk ?"


Mama menunduk,menatap lekat putra kesayangannya.


Dengan linangan airmata.


"Mama yang sudah membuatmu kehilangan Marisa"


Menyesali apa yang sudah ia perbuat.


Haris tidak pernah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi,ia hanya tahu jika Mama lah penyebab Marisa pergi hari itu.


"Mama juga sering mendesak Divya untuk segera hamil"


"kalau soal Divya itu gak apa-apa,Divya bilang itu tandanya Mama sudah benar-benar menerima dia sebagai menantu Mama.Tapi kalau soal Marisa Haris tidak tahu dan mungkin tidak mau tahu kenapa Mama melakukannya.Semua sudah terlanjur,seandainya saja saat itu Marisa mendengar penjelasan Haris mungkin kecelakaan tidak akan pernah terjadi"


Setetes airmata keluar begitu saja di pipi Rahma begitu mendengar nada keikhlasan lewat penuturan Haris.


"Sekarang Haris tanya,Mama bener udah nerima Divya?"


Rahma mengangguk yakin.


"Seratus persen?"


"Lebih dari itu..."


Rahma kembali meraup udara banyak-banyak.Seperti Ia merasa lega dengan pengakuannya sendiri.


"Apa salahnya ? Kau benar ,Divya gadis yang baik.Tapi Ris,apa kamu tahu siapa orangtuanya?"


"Heum..tentu.Haris pernah ke makam mereka "


"Orang tua Divya sudah tidak ada?"


Rahma kembali terperanjak kaget.


"Iya Mam,dua duanya ,kasihan kan?"


"Terus kamu tahu siapa nama orang tua nya Divya"

__ADS_1


Haris menggelengkan kepala.


"Gimana sih kamu katanya tahu !" Rahma mencebik kesal.


"Aku tahu makamnya Mam,bukan orangnya"


"Namanya sayang,pasti ada kan di nisannya?"


"Oh iya lupa Mam,aku lupa siapa namanya"


Haris menepuk jidat menyesali kebodohannya.


Saat ia berkunjung ke makam Marisa saat itulah ia tahu bahwa orang tua Divya juga di makamkan disana.Namun,saat ia bersama adik-adiknya Divya, Haris seakan kehilangan fokusnya untuk sekedar tahu siapa nama mereka,nama yang tertera di nisan itu ia tak sempat melihatnya.


"Gimana sih nih mantu masa gak tahu nama mertuanya,haduh" Rahma M****** gemas rambut Haris.


Hening !


Untuk sejenak hanya terdengar hembusan nafas keduanya.


"Anak Mama nih,ganteng ya ternyata"


Mama terkekeh sembari mengusap kasar sisa airmata di pipinya.


''Hidungnya mancung" Mencubit hidung putranya.


"Siapa wanita yang bisa menolaknya coba kalau begini" Rahma kembali terkekeh melihat Haris meringis.


"Aw...Sakit "


"Ya emang ,Mama kemana aja baru nyadar anaknya setampan ini" Mengusap-usap hidung .


"Oh ya Mam,Mama kenapa?"


Rahma nampak mengernyitkan dahi.


"Mama kenapa tadi,mukanya pucat gitu.Ada masalah?"


Butuh waktu lama untuk Mama Rahma menjawab pertanyaan Haris.


Sesuatu yang ia takutkan selama ini mungkin akan terkuak dengan kembalinya gadis bernama Laras.


Haruskah ia menceritakan pada Haris,ataukah membiarkan semua terkuak dengan sendirinya.


Bayang-bayang masa lalu kembali mengusik pikiran Rahma hanya dengan mendengar suara gadis itu.


Laras bagai ancaman,tentu saja karena jika dia datang dan mengungkap rahasia terbesar Rahma,maka ia akan kehilangan keluarga yang selama ini ia jaga.Baik keutuhan serta reputasinya.


"Mam !"


"Kenapa malah bengong"


Haris bangkit duduk di hadapan Mama,khawatir dengan sikap Mama yang aneh.


"Gak sayang,Mama gak apa-apa"


Tidak mungkin tidak apa-apa,setahu Haris Mama Rahma selalu terlihat cuek dengan hal apapun,lebih sering mengalihkan masalah dengan pergi keluar rumah,menyibukkan diri.


Tapi kali ini ia menangkap raut gelisah nampak jelas di wajahnya.


"Haris" Sejenak Mama menghela nafas.


" Jika sesuatu terjadi,apapun itu Mama minta maaf"

__ADS_1


Haris semakin dibuat bingung ,sikap Mama Rahma aneh benar-benar aneh di mata Haris.


__ADS_2