
Pemakaman berlangsung lebih dari dua jam. Setelah itu semua pulang ke rumah masing-masing. Haris singgah lebih dulu ke rumah Pranando, meski dengan terpaksa karena memang harus menjemput istrinya disana.
Divya yang mendapati kepulangan tuan rumah ini dari pemakaman nampak begitu heran ketika melihat Pranando langsung naik tangga menuju kamarnya tanpa mengatakan apapun,dan parahnya lagi sudut bibir Pranando berdarah.
Raisa.
Wanita itu tertegun menatap Divya yang memerhatikan punggung suaminya menjauh dan menghilang tertelan pintu.
Haris masuk belakangan dan langsung menanyakan keberadaan putrinya.
Ia merangsek ke dalam kamar Melodi begitu tahu Marisa tertidur disana.
Ayah Haris membopong Icha dan membawanya ke dalam mobil.
Divya masih mematung berhadapan dengan Raisa tanpa sedikit pun bersuara.
Raisa nampak menghela nafas berat.
Bingung harus seperti apa. Di satu sisi ia begitu sakit hati. Tapi di sisi lain ia mengenal Divya lebih daripada ia mengenal suaminya.
"Ada apa? "
Divya memecah keheningan.
Melihat Raisa yang tertunduk menatap lantai tanpa ekspresi.
"Aku mengerti perasaan mu, semua ini memang salah ku. Sa. Aku yang minta dia datang ke rumah waktu itu. Tapi kamu jangan salah pa~" Raisa memotong perkataan Divya dengan memeluknya dan terisak.
"Aku tahu, ini ujian ku. Ini takdir ku. Tidak sepantasnya aku membenci mu atau bahkan marah sama kamu,Vy. Maaf !"
Tanpa menjelaskan apapun lagi Raisa hanya menangis. Apa yang baru saja terjadi,entahlah Divya sendiri tidah tahu.
Ia hanya membalas pelukan Raisa dengan erat, mengusap punggungnya dan menenangkannya.
Setelah itu Raisa meminta Divya pulang.
"Tuan Haris pasti nunggu di mobil, Vy. Pulanglah! "
Tanpa berniat mengusir, Raisa mengingatkan Divya jika Haris tidak kembali untuk memanggilnya.
Dia menunggu di depan mobil, menyandarkan tubuhnya disana dengan gelisah.
"Iya. Kamu gimana, Sa. Gak apa-apa aku tinggal? " tanya Divya memastikan apakah Raisa sudah lebih baik.
"Pulanglah sebelum suami mu memukuli Pranando lagi.Aku gak apa-apa, Vy. Aku baik-baik saja. "
jawab Raisa.
Mengejutkan.
Memukuli lagi? Atas dasar apa, apa alasannya?
Dan sampai keluar rumah Wiryawan pun Divya masih tidak mendapatkan jawaban -nya .
***
__ADS_1
.
"Kasihan ya Jeng Riska. Nangkat anak malah jadi penyakit" celetuk salah satu pelayat yang datang ke pemakaman mengantar jenazah ke per-istirahatannya yang terakhir.
"Iya Jeng, bener. Pertama dia bawa lari istri orang,kalian ingat kan? "
Kasak kusuk kian terdengar ketika satu suara terangkat seakan menalu genderang perang.
"Iya bener. Katanya sih begitu. Terus ya, tahu-tahu punya anak dari perempuan ****** di luar negeri. Heum alasannya sih kuliah. Tahu-tahu eh. "
Sekecil apapun volume suara mereka, tetap terdengar di telinga Haris yang memang berdiri tepat di hadapan tiga wanita yang tengah bergosip itu. Mereka mungkin tetangga Riska Wiryawan . Para pengangguran yang tidak punya kerjaan selain menguruasi urusan orang lain.
"Iya anak itu hasil hubungan diluar nikah, ditelantarkan dan tidak diakui pula. Ck !"
timpal satu lagi diantara mereka.
Perkataan wanita itu,
membuat tubuh Pranando memanas.
Ia memang tidak mendengar dari awal, Tapi begitu ia menghampiri Raisa yang berdiri sejajar dengan Haris ia pun mendengarnya.Tangannya sontak mengepal.
"Kamu mau turun ke liang lahat kan, jangan hiraukan mereka " ucap Raisa berbisik.
Ia mencegah Pranando yang sudah siap merobek mulut nyinyir para tetangga tidak punya perasaan itu.Di hadapan jenazah ibunya mereka bisa bergosip, menceritakan keburukan kelaurga dan masa lalunya. Apalagi di belakang.
Mereka yang tidak tahu apa yang sebenarnya, justru dengan mudah menghakimi.
Wahai kamu-kamu mulut maha benar.
Mendengar hal barusan membuat Raisa semakin geram. Namun sebisa mungkin ia menahan segala emosi dalam benaknya. Tidak ingin ada keributan. Tidak ingin mencari-cari masalah yang hanya akan merugikan dirinya sendiri .
Raisa sudah menyayangi Melodi dari sejak ia bayi. Membantu merawat serta membesarkannya.Dan itulah mengapa Raisa seakan marah ketika ada yang berani menghinanya.
Pranando saat itu sudah masuk ke dalam liang lahat, menerima Jenazah yang diturunkan langsung ketangannya. Bersama dua orang ustadt melakukan prosesi pemakaman yang layak. Mengadaninya sebelum jenazah benar -benar di kubur tanah.
"Gara-gara anak itu juga jeng Riska sampe sakit terus sekarang meninggal"
"Iya jeng kasihan ya anaknya itu bisa-bisanya sudah punya anak istri masih mikirin mantannya"
Seketika wajah Raisa memerah, malu dan marah dirasakannya. Dari mana mereka tahu permasalahan yang menimpa Raisa dan Pranando sebelum ibu sakit
Haris pun sama, ia paham apa yang tengah para ibu -ibu itu katakan.Ia tahu arah dari perkataan mereka.
Namun begitu baik ia maupun Raisa tetap diam.
"Eh emang iya jeng. Si Nando itu kan emang gak bisa melupakan masa lalunya. Kasihan ya istrinya" timpal satu lagi diantaranya.
Mereka itu kurang kerjaan. Batin Haris.
Tapi apa maksud dari perkataan mereka itu tadi. Apa sama seperti yang aku pikirkan. Pria itu masih mencintai istri ku.
Kepalan tangannya menguat dan tanpa menghiraukan keadaan, saat sebagian orang telah pergi meninggalkan tempat.
Makam Riska Wiryawan sudah selesai.
__ADS_1
Hanya ada mereka bertiga.
Pukulan telak mendarat di wajah Pranando hingga menyebabkan sudut bibirnya robek.
Raisa mencoba meleray keduanya. Hingga hanya satu pukulan yang berhasil tanpa perlawanan.
Raisa menarik Pranando menjauh dari Haris saat itu atau dia akan habis dipukulinya.
Itulah saat Divya melihat sudut bibirnya yang mengeluarkan darah, karena ulah suaminya sendiri.
***
"Sudah selesai? " tanya Haris begitu melihat Divya keluar.
"Aku sengaja tidak menyusulmu agar kau puas berlama-lama di dalam. Kau tahu kenapa? "
"Karena ini terakhir kalinya aku kasih izin kamu bertemu mereka. " jelas Haris menjawab pertanyaannya sendiri.
Divya yang mendengar itu hanya menyipitkan matanya.Ia selalu paham jika sudah ada ultimatum seperti itu maka telah terjadi sesuatu yang membuat tuan muda ini marah.
"Kamu pukul Pranando ,sayang. Kenapa? "
Pertanyaan yang justru terlontar dari mulut Divya begitu mereka masuk ke dalam mobil. Berharap suaminya itu akan menanggapinya tanpa emosi. Divya melirik putrinya yang tertidur pulas di bangku penumpang.
Tidak lagi bertemu Pranando bukan masalah baginya.
"Kau pikir? "
Haris sudah memasang sabuk pengaman, begitu juga Divya.
"Kau pikir aku akan diam saja jika aku tahu ada laki-laki yang terang-terangan masih menyimpan perasaan pada istriku ,begitu? "
Haris sudah menstater mobil, melajukannya meninggalkan kediaman Pranando.
"Seharusnya bukan hanya aku yang memukulnya sebagai peringatan. Kau dan Raisa juga perlu menamparnya agar dia sadar. "
imbuhnya lagi dengan raut wajah penuh kekesalan.
"Kamu tahu? Dua bulan ini dia seperti tidak waras kembali tergila-gila lagi pada mu. "
"Aku tahu! " jawab Divya cepat.
Haris menginjak rem mendadak. Di depan sana lampu lalu lintas berwarna merah. Jalanan sepi karena ini tengah malam . Hanya ada beberapa pengendara saja. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul satu dini hari.
Tapi patuh terhadap peraturan itu penting demi keselamatan.Meski ada diantara mereka yang mengabaikannya.
Haris tapi dia berhenti karena tanggapan Divya.
"Kau tahu, tapi tetap diam? "
"Aku baru tahu tadi. " ucap Divya jujur.
"Melodi yang cerita." tegasnya lagi.
"Anak sekecil itu tahu jika perubahan Papa-nya di mulai ketika dia datang ke rumah kita."
__ADS_1
Divya menatap lurus. Di depan sana gelap. Mobil kembali melaju cepat. Secepat emosi Haris yang masih tertimbun di ubun-ubun.