Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
bonchap 19


__ADS_3

Bukankah Leo pernah mengatakan itu. Kakaknya terlalu buta hingga tidak bisa berpikir logis. Sekarang airmata Marisa harus Leo balas dengan yang setimpal. Tangan Leo terkepal saat ia menggeram kesal.


" Hazlan ! Gue habisin lo. "


Bahkan gigi Leo terdengar beradu menahan amarah tatkala Marisa menceritakan apa yang telah ia alami.


"Gak usah lah ,Leo. Buat apa, " desah Marisa lemah.


" Buat apa kak? Kakak nanya buat apa !


Ya jelas buat ngasih tuh anak pelajaran lah. Berani berurusan sama keluarga kita. Sebelum ayah yang bertindak. Gue yang bakal urus dia. " amarahnya semakin memuncak. Bercerita kepada Leo sama saja menambah masalah.


Marisa bisa mengerti adiknya hanya menunjukkan simpati. Leo yang jahil tapi juga penyayang. Marisa bukan seperti kakak ,tapi seperti ia yang mempunyai kakak yang bisa melindunginya.


" Thanks you ! Tapi gak perlu, lah. Cuman bikin malu. Kamu tahu kan kakak yang terlalu berharap, " ucapan Marisa melemah. Jujur, itu hanya agar Leo tidak berbuat hal yang merugikan nantinya, bagaimanapun Marisa tak ingin menyakiti keluarga Abi Yunus yang sudah begitu baik. Walaupun Marisa kecewa bukan berarti dia membenci mereka semua.


Tanpa mereka berdua sadari, sepasang mata dan telinga tengah memerhatikan. Melihat dan mendengar apa yang mereka berdua bicarakan.


Fadlan yang menatap nanar tangannya sendiri ketika tangan Leo mengusap airmata Marisa.


"Seharusnya aku yang melakukan


itu. "


batinnya berucap.


Apalagi sebelumnya saat Marisa menghambur kepelukan Leo. Ia merasa sangat bersalah.


"Seharusnya aku yang bersamamu Marisa. " bibir Fadlan bergetar, tatkala hatinya terus berharap.


"Ngomong-ngomong kamu kenapa bisa ada di sini ,Leo? Kenapa kamu tahu kakak di sini ?" Marisa baru bertanya setelah lama Leo berdiri di hadapannya.


Waktu semakin beranjak malam.


Tapi, Marisa masih enggan pulang. Apa yang harus ia katakan pada ayah bundanya nanti.


" Fadlan yang nelpon aku, kak. "

__ADS_1


"Heum.. " Marisa mendongak


"Dia tadi ke sini ?" Kakaknya itu mengangguk.


"Jauhi dia, Kak ! Kalau kembarannya yang so alim saja bisa nyakitin lo, apalagi dia. " solot Leo.


"Heum ,"


Jawaban Marisa yang membuat Fadlan takut. 'Heum' apa maksudnya. Walaupun tidak mengangguk ataupun menggelengkan kepala, tapi jawaban itu. Dia setuju dengan Leo ? Untuk menjauhinya.


Dan tadi saat Leo begitu emosi, ada rasa khawatir terhadap Hazlan di benak Fadlan . Apa yang akan putra mahkota itu lakukan pada saudara kembarnya.


" Kita pulang sekarang ? " ajak Leo kemudian. Membuat Fadlan pun segera beranjak.


Marisa mengendarai mobilnya sendiri setelah ia merasa yakin sanggup melakukannya. Leo dengan mobilnya mengikuti Marisa dari belakang. Serta Fadlan,dia juga mengikuti kedua mobil itu dengan menunggangi sepeda motor kesayangannya.


Seharusnya perjalanan ke rumah Marisa dapat di tempuh dalam waktu dua puluh lima menitan saja. Karena jalananan pun cukup lengang, entah kemana para penggunanya yang biasa memadati ruas jalan dengan kendaraan mereka. Marisa menyetir dengan kecepatan sedang. Pikirannya yang kalut membuat konsentrasinya terganggu. Ia sempat tiba-tiba berhenti di tengah jalan, untunglah Leo mengikuti tidak jauh dari kendaraan Marisa. Ia sampai turun dan menanyakan apa ada masalah, atau kakaknya tidak sanggup lagi melanjutkan perjalanan pulang menuju rumah mereka.


"Ada apa, kak ? Kenapa berhenti di tengah jalan seperti ini. " tanya Leo yang turun dari mobilnya menghampiri mobil sang kakak.


"Gak, Le. Kakak ~" bahkan untuk menjelaskan apa yang ia rasakan saja terasa sulit.


Cukup lama Marisa termenung, hingga ada suara klakson yang riuh. Beberapa di antaranya pun saling menggerutu.


" Mas sama mbak -nya kalau punya masalah selesaikan di rumah, jangan di pinggir jalan begini. Ganggu ketertiban umum saja. " ucap salah satu pengendara.


Sementara Leo hanya menanggapi perkataan mereka dengan tatapan dingin.


"Tuh kan,Kak. Kita dikira sepasang kekasih yang lagi berantem ,tahu !"


Leo memberenggut kesal.


" Ayo pulang ,kak. Malu kan di tengah jalan begini , " bujuk Leo. Ia yang sekarang sudah membukakan pintu kemudi agar Marisa berpindah tempat.


Dengan gontay akhirnya Marisa menuruti apa yang Leo katakan.


Sebelum membuka pintu Marisa kembali terhenti.

__ADS_1


"Gimana kalau ayah sama bunda nanyain aku kenapa, nanti? "


tatapannya seakan sedang memeras hati Leo,ia membuang nafas kasar.


"Nanti aku yang jelasin ke mereka, ayo masuk ! "


Setelah sebelumnya Leo menepikan mobil dan menelpon supir di rumah. Ia pun duduk di belakang kemudi,mulai melajukan mobilnya hingga masuk ke halaman istana mereka.


Perjalanan pun akhirnya menempuh waku hampir satu jam lamanya.


Fadlan terhenti di depan gerbang utama rumah besar itu. Beberapa kali ia pernah masuk ke dalamnya bersama Marisa. Walaupun saat pertama ia menginjakkan kaki di kediaman tuan Haris Santoso ini karena sebuah kebetulan.


Fadlan pergi meninggalkan tempat itu setelah yakin Marisa aman sampai di rumahnya.


Di dalam rumah.


Malam ini, biarkan airmata Marisa tumpah ruah. Sepanjang malam, agar ia merasa lega dan puas. Setelah itu kebahagiaan yang akan datang. Dan tidak ada yang akan membiarkan Marisa menangis lagi. Walaupun kedua orangtuanya tengah sibuk bertanya-tanya. Apa yang terjadi pada putri mereka yang datang dengan wajah ditekuk serta mata yang sembab.


" Jadi anak itu sudah pulang dari Kairo,Leo ?" tanya bunda Divya pada putranya. Leo terpaksa menceritakan semuanya saat Marisa berlari masuk ke dalam kamar.


" Seperti apa dia, sampai tega menyakiti putri bunda. " Divya tak pernah sekalipun melihat anak itu. Hazlan yang ternyata putra dari pemilik pesantren yang selama ini sering Haris kunjungi, hanya untuk sekedar berbagi dan lagi Divya tahu jika ustadt Yunus adalah kakak ipar Dimas, adiknya sendiri.


"Ya seperti kembarannya yang tempo hari bunda bawa ke sini,"


Beberapa waktu lalu, bunda Divya memang membawa Fadlan ke rumah. Itupun tidak sengaja. Baik Fadlan maupun bunda Divya sama-sama tidak mengetahui jika masing-masing sudah mengenal Marisa. Lebih-lebih sebagai putrinya.


Hari itu di mana Fadlan menolong bunda yang hampir kecopetan di sebuah supermarket . Karena hal itulah akhirnya Fadlan diajak main ke rumah.


Saat bunda Divya hendak meminta Fadlan berkenalan dengan ketiga putra putrinya. Justru mereka bertiga sudah sangat mengenal Fadlan, termasuk si kecil Anna.


Sejak hari itu Fadlan lebih sering bertemu dengan keluarga Marisa. Bundanya yang ramah memang berbanding terbalik dengan ayah yang dingin. Fadlan mengerti itu, semua orangtua ingin anaknya berada dalam lingkungan yang aman. Karenanya tuan Haris begitu memerhatikan siapa-siapa saja yang berhubungan dengan anak-anaknya.


Divya yang kagum pada sosok Fadlan,pemuda yang usianya di bawah Marisa dan justru teman kuliah Leo itu terlihat dewasa. Fadlan yang berandalan namun memiliki prestasi yang bagus, melampaui prestasi Leo, putranya sendiri.


Pun dengan Leo, selama mengenal Fadlan sebagai sahabat kakaknya, ia tak punya keluhan . Pertengkaran di bar tempo hari menutup semua permusuhan mereka.


Terkecuali hari ini, Leo benar -benar merasa jengkel dengan kedua kembar bersaudara itu.

__ADS_1


" Akan ayah paksa dia menikahi Reno. Mau sampai kapan anak itu menolak. Reno pilihan terbaik, walaupun dia bukan dari keluarga terpandang. "


Haris beranjak naik berniat menemui putrinya.


__ADS_2