Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
bonchap 21


__ADS_3

Antara Reno dan Fadlan


Setelah sampai di Jakarta Fadlan berusaha menghubungi Marisa. Mengajaknya bertemu karena ada hal yang ingin ia sampaikan.


Marisa yang tengah berada di tempat kerja saat Fadlan menghubunginya pun mengiyakan. Ia menyetujui ajakan Fadlan. Makan siang nanti keduanya akan bertemu di sebuah cafe tak jauh dari rumah sakit. Marisa sudah bersiap dari setengah jam sebelumnya. Gadis itu sudah duduk dengan segelas avocado juice di hadapannya.


Marisa sengaja datang lebih cepat karena ia juga sudah ada janji dengan seseorang di tempat itu.


Lima menit kemudian seseorang yang Marisa tunggu pun akhirnya datang. Wanita dengan pakaian semi formalnya melenggang mendekati meja di mana Marisa berada.


"Hai, " sapa dia begitu mendapat jarak terdekat dari Marisa.


"Hallo, sayongku. " Marisa pun menyambutnya dengan agak lebay serta begitu antusias.


"Lama gak ketemu kita," imbuhnya merangkul perempuan itu.


"Iya, Cha. Kamu apa kabar? Makin cantik saja sih. " ucapnya.


"Baik, sangat baik. Bisa saja kamu, makasih. Oh ya kamu sendiri bagaimana keadaan mu sekarang, Nit? "


Nit, Anita. Ya! Dialah sahabat Marisa yang selama ini menghilang dari hidupnya.


"Eum ,aku ? Seperti yang kamu lihat. Aku baik-baik saja, Icha sayang. " Anita, untuk pertama kalinya lagi setelah empat tahun dia bertemu Marisa. Kebiasaannya mencubit pipi sahabatnya yang menggemaskan itu tak bisa ia lupakan. Bertingkah seperti anak SMU yang masih alay.


Setelahnya Anita pun duduk di kursi yang berada di hadapan Marisa. Memesan minuman dan kembali berbincang. Marisa memulai dengan menanyakan kabar dan bagaimana kehidupan Anita selama ia tinggal di Malaysia. Anita yang ia ketahui pergi ke negara tetangga Indonesia itu untuk mendapatkan peluang kerja sekaligus memghindar dari cinta yang dianggapnya salah.


"Kamu tahu, aku kangen banget sama kamu, Nit. Kamu gak pernah ada kabar sama sekali. Makanya pas tadi pagi email aku kamu balas, aku seneng banget,sumpah !" tutur Marisa begitu berbinar,ia bahkan mengacungkan kedua jarinya meyakinkan apa yang ia katakan.


" Uuhh sorry. Kamu tahu, kan masalah aku di sini rasanya terlalu berat, sampai-sampai aku merasa gak sanggup sekedar mendengar suara kalian. " ucap Anita, sesungguhnya ia pun menderita dengan keadaan seperti itu.

__ADS_1


"Iya sih aku paham, itu juga yang mau aku bahas sama kamu di sini. Karena itu aku minta kamu datang. "


tutur Marisa yang sebenarnya ia ingin membahas tentang rencana pernikahannya dengan Reno.


"Soal? " Anita mengkerut bingung. Mencoba menerka apa yang hendak Marisa katakan pada dirinya.


"Soal Reno, Nit ! " jawab Marisa ragu, ia takut jika Anita akan merasa canggung saat nama itu kembali disebut.


"O, kenapa sama Reno? " tidak sesuai perkiraan Marisa,Anita justru meresponnya datar,seakan Anita tahu kemana arah perkataan Marisa, ia pun meraih dan menggenggam erat punggung tangan Marisa mentrasfer keyakinannya agar Marisa tidak ragu mengatakan apa yang hendak ia sampaikan .


Sedangkan tanpa Marisa sadari di jari manis Anita sudah melingkar cincin, dia sudah menikah?


Sedetik kemudian Marisa baru menyadari hal itu.


" Tunggu ! Ini? " Marisa meraih jemari Anita, menunjuk jari manisnya.


"Iya Cha, aku udah nikah. Baru dua bulan ini di Malaysia ,suamiku asli orang sana. Maaf aku gak bilang, tapi justru itu aku datang ke Indo buat acara resepsi di rumah orangtua ku pekan depan. "


"Kamu gak lagi bohong, kan? " Marisa sampai meragukan penjelasan panjang Anita.


"Masa soal nikah aku bercanda sih, Cha ! Gak mungkin lah. " jawab Anita memberenggut, berpura-pura kesal.


"Jadi, serius kamu udah nikah, Nit. " Marisa kembali menatap cincin dan wajah Anita bergantian. Ia masih belum merasa yakin. Bagaimana mungkin Anita menikah bahkan tanpa mengabarinya.


" Aku yakin, Marisa ku sayang. Nih aku bawa ini buat kamu. " Anita mengeluarkan lembaran kartu undangan dari dalam tasnya.


"Ini undangan buat kamu sama keluarga mu, Cha. Datang ya hari sabtu depan. Awas kalau enggak, aku ngambek nih !" ancamnya sambil menyerahkan undangan itu ke tangan Marisa.


"Waktu di Malaysia, kami cuma akad saja. Maklum lah kondisi di sana. Tapi,ya aku bersyukur bisa mendapatkan laki-laki sebaik suami ku. Aku pikir aku bakal sulit lupain Reno tapi tenyata enggak tuh. " sekali lagi Anita menuturkan apa yang terjadi pada hidupnya selama ia jauh dari tempat di mana ia dilahirkan.

__ADS_1


"Ok, aku pasti datang. Tapi ngomong -ngomong suami kamu gak ikut kesini ya? " tanya Marisa kemudian, ia menyadari Anita yang tidak datang bersama suaminya jika memang dirinya sudah menikah .


"Kebetulan kami baru datang pagi tadi, jadi aku gak ngajak dia, kasihan masih capek,Cha. Aku juga sebenarnya masih capek , tapi berhubung udah rindu berat sama kamu begitu kamu email aku langsung meluncur ke sini deh. Hehe, " ujar Anita sambil terkekeh pelan.


"Oh ya kamu mau ngomong apa tadi?" kini Anita kembali mengingat bahwa dirinya dipanggil Marisa ke tempat ini untuk membicarakan sesuatu.


Ada apa gerangan?


Marisa pun mulai menjelaskan jika ia dan Reno bermaksud meresmikan hubungan mereka. Awalnya Marisa ragu hendak mengatakan hal itu. Namun, saat Marisa mengetahui bahwa Anita sudah melanjutkan hidupnya,ia pun yakin.


"Wah bagus dong, Cha! " seru Anita ikut berbahagia mendengar kabar itu.


"Itu baru sahabat aku." Anita pun bangkit dan menghambur kepelukan Marisa.


"Eh tapi tunggu! " ia mengambil jarak pandangan dari temannya yang berprofesi sebagai dokter anak itu.


" Si kembar gimana ? Oops, maksud aku Hazlan .Kamu ~" Anita ragu.


"Dia udah ada calon, Nit. Sia-sia aku nunggu dia. Tapi emang bener kata kamu, laki-laki yang jauh lebih muda kadang berubah pikiran tanpa memikirkan perasaan wanita seperti kita. " Marisa menunduk,malu.


Malu rasanya mengingat kebodohannya sendiri.


" Udah ah, jangan bahas dia. Ngapain sih. Mending bahas kamu, gimana suami kamu ? Ganteng gak? " ucapnya mengalihkan pembicaraan.


"Iya dong, nih fotonya dia lima tahun lebih dewasa dari aku." ujar Anita menunjukkan foto pria dan dirinya di galeri ponsel.


" Lumayan bisa ngertiin aku yang kadang manja. Kamu kalau ketemu dia jangan naksir, ya? " telunjuk Anita mengudara, mengingatkan Marisa agar ia tidak khilaf sambil terkekeh geli Anita bergurau.


"Enak aja, ya gak mungkinlah. " keduanya pun lantas tergelak.

__ADS_1


Tanpa Marisa dan Anita sadari sepasang mata dan telinga tengah memerhatikan mereka. Setiap gerak gerik keduanya tak luput dari pandangan matanya. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya tertangkap jelas oleh telinganya.


Pemuda itu nampak begitu kecewa, ia pergi sebelum sempat menyapa orang yang hendak ia temui. Fadlan, dia datang ke tempat di mana Marisa menjanjikan untuk bertemu dengan dirinya. Ia pergi setelah tahu jika Marisa akan menikah dengan pria bernama Reno itu. Sakit yang Marisa rasakan seminggu lalu kini ia pun merasakannya. Fadlan menyadari hadirnya sama sekali tidak berarti apa-apa. Pemuda tampan dengan tubuh berotot dan sorot mata tajam itu melangkah gontay keluar cafe tanpa ia menyadari dua pasang mata melihatnya keluar dengan wajah heran penuh tanda tanya.


__ADS_2