
Aku membutuhkan mu di setiap helaan nafas-ku .Aku tanpa mu tak utuh, aku tanpa mu akan runtuh.
Aku membutuhkan mu karena setiap detik tanpa mu hanya akan mendekatkan ku pada ajal-ku.
Divya Veronika Ibrahim -ku.
Aku mencintaimu sepenuh hatiku.
Aku relakan segalanya untukmu .
Hidup ku ,jiwa dan raga ku.
Cinta-i lah aku dengan hati mu.
Cinta-i aku seperti aku mencintaimu .
Haris Santoso -ku
***
Delapan bulan kemudian
Mangawali pagi dengan segala rutinitas yang tiada bedanya.
Bangun, mandi,bersiap , lalu sarapan dan berangkat bekerja .
Seperti sudah menjadi agenda setiap hari -nya tanpa perlu diingatkan lagi.
Hari ini seperti biasa Haris sudah rapih dengan stelan jasnya. Nampak gagah dan berwibawa.
Pria tampan yang sudah memiliki dua anak ini tak kalah mempesona dari bintang film sekalipun.
Sejauh ini tak ada yang meragukannya.
Haris tengah menggendong baby Leo saat ini. Sejenak ia bercengkerama dengan jagoan ciliknya yang sudah mulai belajar berjalan, menyisihkan waktu sebelum berangkat menuju kantor yang membesarkan namanya.
Di saat yang sama bel pintu berbunyi, tanda ada tamu yang datang.
Pagi ini waktu baru menunjukkan pukul tujuh pagi. Siapa gerangan yang datang pagi-pagi begini. Sebelum Haris bangkit dari tempat duduknya di sofa ruang tengah ,pelayan dengan sigap membukakan pintu .
"Siapa yang datang? " tanya Haris begitu si pelayan itu mendekatinya.
"Seorang gadis dan wanita tua, kemungkinan ibunya, Tuan ."
Sudah seperti biasa pelayan akan menundukkan kepala saat melihat atau bicara dengannya atau dengan anggota rumah lainnya.
"Kau tanya siapa mereka? "
Sebelum Haris mendapat jawaban, tamu yang tadi sempat tertahan di luar itu merangsek masuk.
" Hai kak! " sapa seorang wanita yang baru masuk itu.
"Laras ! " seru Haris saat melihat siapa yang datang .
"Aku langsung kesini tadi tante Rahma nelpon." ucap Laras tanpa basa basi apapun lagi.
"Dan sesuai janji aku, aku bakal datang kalau aku sudah berhasil membuat ibu sehat lagi. "
Ibu yang Laras maksud pastilah bu Inah yang kini tengah berdiri di sisi Laras. Matanya sibuk menelisik.
Rumah ini tidak banyak berubah, Inah masih ingat saat ia masuk bersama Marisa putri angkatnya.
Sesaat wanita hampir sepuh itu tertegun. Dalam benaknya ia tidak pernah menyangka jika akan masuk ke tempat ini lagi.
"Mama nelpon kamu? Kok bisa ? Maksud Kakak Mama gak ngomong apa-apa loh kalo dia mau ketemu sama kamu. "
Keadaan Rahma saat ini memang sedang sakit, beberapa kali ia mengutarakan keinginannya bertemu teman ataupun kerabat yang ia kenal. Sekedar melihat atau juga meminta maaf.
__ADS_1
Tapi tidak dengan Laras. Rahma sama sekali tidak mengatakan apapun jika dirinya akan meminta gadis ini datang.
"Kemarin sore kak.Eum~ nelponnya sih ke kak Intan. " jelas Laras sejujurnya.
"Ok. Mama lagi kurang sehat, dia di kamar. Kalau mau ketemu masuk aja langsung, masih apal dimana kamarnya, kan ?"
Haris sekedar memastikan jika gadis ini belum lupa dimana kamar Mama Rahma.
"Kakak nih, aku baru datang, kak .Suruh duduk dulu apa. Kasih minum. Terus nih sapa Ibu. Dia ibu aku sekarang ,"
Laras memberenggut, Ia menyandarkan kepalanya di pundak bu Inah. Manja.
"Ah iya sampe lupa."
Haris menyalami bu Inah yang masih menatap lurus tanpa ekspresi.
Beliau nampak masih bingung dengan keadaan di sekitarnya.
" Ibu apa kabar ? "
Bu Inah masih enggan menjawab. Beliau hanya tersenyum tipis.
Seakan lupa siapa laki-laki di hadapannya.
"Ibu masih kaget kayaknya. Dia baru bisa sedikit berkomunikasi lagi sama orang. Tapi ya lumayan ada kemajuan. "
Laras menjelaskan apa yang terjadi dalam delapan bulan terakhir. Bagaimana perkembangan bu Inah hingga sampai detik ini.
Disaat itu pula Divya turun dari arah kamarnya di lantai dua. Berjalan beriringan dengan Marisa putrinya.
Sampai di anak tangga terakhir, entah karena apa bu Inah lari mendekatinya lalu memeluk Divya erat.
Divya yang kaget pun hanya mampu terdiam tanpa membalas pelukannya.
Ia menatap Haris bingung, juga mengira-ngira siapa wanita yang tengah duduk di hadapannya.
"Marisa sayang, kamu masih hidup
nak? "
Suara Inah tersedu-sedu, ia melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi Divya penuh haru.
"Kamu sehat,nak ? Kamu baik-baik aja sayang? "
Bukan hanya Inah sebenarnya yang terperanjak, Laras juga. Meski dia pernah melihat Divya di restoran dan di pengadilan dulu namun itu dari kejauhan dan Laras tidak terlalu memerhatikan Divya sepenuhnya. Tidak dapat di bantah jika wanita yang sudah hampir tujuh tahun mendampingi Haris itu memang mirip dengan Marisa, mantan kekasihnya.
"Nenek! Nenek ini siapa? Aku Marisa bukan dia, dia itu bunda aku. " ucap Icha yang tidak terima ketika Inah memanggil bundanya dengan nama dirinya.
"Sayang gak boleh gitu, ayo salam dulu sama nenek. " bujuk Divya meminta putrinya bersikap sopan.
"Ibu, dia ini Divya istri saya "
Haris mencoba memberi penjelasan pada bu Inah yang masih memegangi
bahu istrinya.
"Haris ! Kamu Haris ? "
Bu inah menunjuk Haris bingung.
Ia baru menyadari semuanya sekarang.
"Iya bu, saya Haris.Ibu ingat? " Haris tersenyum.
"Jadi bu, ini istri Haris. Namanya Divya, terus yang ini anak kami, Marisa. "
"Marisa ! "
__ADS_1
"Ya namanya memang Marisa bu. " Divya yang melihat wanita itu masih kebingungan ikut menjelaskan.
"Sebenarnya ibu ini siapa, sayang? " tanya Divya kemudian ia juga menoleh ke arah dimana ada Laras disana.
"Jadi gini sayang. "
Haris pun menceritakan segalanya, tentang siapa Laras dan siapa ibu ibu yang datang bersamanya.
"Oh iya, pantesan kayak pernah lihat dimana gitu, ternyata kamu Laras. Beda banget sekarang. Pakai hijab pula. Makin cantik." puji Divya saat iya baru mengingat siapa wanita berhijab itu.
" Iya kakak ipar. Eum~" Laras terlihat ragu.
"Aku boleh panggil kakak ipar, kan? "
Laras akhirnya meminta, memutus rasa canggung. Laras juga meminta maaf pada Divya atas kelakuannya di masa lalu.
"Iya gak apa-apa. Selama kamu nyaman panggil saja begitu"
ucap Divya pada gadis yang usianya justru dua tahun di atasnya.
Gadis itu mengakui bagaimana istri Haris itu seperti malaikat. Baik hati dan ramah.
"Oh ya, si kecil ini Leo ? " tanya Laras mengalihkan fokus mereka .
"Iya itu Leo, putra kakak, Ras. " jawab Haris.
Setelah itu mereka mengobrol, pukul sembilan dokter Intan datang bersama salah satu dokter keluarga Haris lainnya.
Haris sendiri ,ia membatalkan jadwalnya masuk kantor .Semua ia serahkan pada jajaran sekretaris -nya termasuk Dimas.
Hari ini jadwal chek-up Mama Rahma .Untuk kesekian kalinya dokter datang ke rumah Haris.
Pasalnya Mama Rahma sudah mulai merasakan kondisi tubuhnya kurang baik akhir -akhir ini. Di usianya penyakit memang rentan menyerang.
Setelah pemeriksaan dokter selesai
Laras menemui Rahma seperti niatnya di awal kedatangannya. Ia juga mengajak serta Inah karena Rahma sangat ingin bertemu dengannya.
Rahma ingin meminta maaf untuk segala kesalahannya dimasa lalu.
Dengan segala kesadaran akhirnya mereka saling memaafkan.
Baik Divya maupun Haris sama-sama terharu melihat semua itu.
Segala dendam dan amarah semoga tidak ada lagi di benak ini.
Hidup damai dan rukun.
***
Hari demi hari terlewati . Siang berganti malam dan malam beranjak pagi.
Matahari dan bulan silih berganti.
Rahasia demi rahasia terkuak tak mengubah cinta diantara Divya dan Haris.
Abadikah cinta mereka?
Masih adakah rahasia di antara mereka?
***
"Kak Haris hadiah ku mana? "
Ini tuntutan atau apa?
"Nanti kalau kamu sudah bawa adik ipar ke hadapanku. "
__ADS_1
" KAK HARIIIS !!!"